“Intan…” Suara Burhan semakin terdengar mendekati posisi Intan dan Rani yang sedang terkena masalah sedikit dan harus berurusan dengannya.
Sontak Intan dan Rani pun saling berpandangan, sadar apa yang hendak mereka lakukan dengan isyarat anggukkan kepala dan kedipan mata.
Kabur….! Itulah jalan paling aman untuk mereka lakukan. Untuk masalah pria yang terkena noda minuman tadi, Intan pun tak mau ambil pusing. Toh, dia juga tidak sengaja melakukannya, begitulah yang saat ini ada di benaknya.
“Eh…, mau ke mana kalian? Kalian harus tanggung jawab. Jangan kabur, ya!” Pria itu nampak kesal ketika melihat Intan dan Rani pergi terburu-buru tanpa pamit dan belum menjalankan tanggung jawabnya. Dia pun hendak menyusulnya, akan tetapi segera ditahan oleh asisten pribadinya.
“Tuan Dirga, mau ke mana? Biarkan saja mereka pergi! Lebih baik kita kembali ke kamar hotel untuk mengganti pakaian Tuan yang kotor,” ucapnya sambil menunjuk noda kotor di baju bosnya.
“Aish….,” dengus pria yang bernama Dirga itu sambil menatap noda kotor bajunya nampak jijik.
Sang asiten pun terkekeh pelan melihat tingkah bosnya tersebut. Kemudian mengikuti langkah kakinya menuju kamar hotel, akan tetapi langkah mereka terhenti ketika suara Burhan begitu keras terdengar di belakang.
“Permisi…, tolong beri jalan untuk saya!” ucap Burhan dengan wajah panic sambil mencari keberadaan Intan dan Rani. “Intan…!” Burhan kembali berteriak memanggil nama mantan istrinya dengan keras.
Dirga dan asistennya pun mau tidak mau memberi jalan untuk Burhan yang hendak lewat.
“Mas Burhan…., tunggu! Mas Burhan…, jangan pergi!” teriak Jihan sambil berlari dengan susah payah mengejar langkah lebar suaminya. Jihan tidak mau sampai suaminya berhasil menyusul Intan, hingga ia pun mengabaikan kondisi perutnya yang mulai terasa nyeri. Padahal ia sadar betul dengan kondisi tubuhnya yang sedang berbadan dua tersebut.
Burhan mendengar panggilan istrinya yang berada di belakang punggungnya. Namun, dia berpura-pura tak mendengar. Tiba-tiba saja suara Jihan mengaduh kesakitan, sepontan langkah kaki Burhan pun terhenti. “Awwh…., perutku sakit sekali….,” rintihnya merengek sambil memegangi perutnya dengan tubuh yang tidak seimbang.
Haap….
Jihan nyaris hampir jatuh, berutung kedua tangan Dirga refleks dengan cepat menangkap tubuh Jihan yang limbung.
Teriak histeris dari sebagian orang nampak shock ketika melihat Jihan yang hampir jatuh. Selain itu banyak juga yang berbisik-bisik untuk bergosip kondisi Jihan yang tengah berbadan dua. Bersamaan hal itu, Burhan pun memutar tubuhnya untuk melihat kondisi istrinya.
“Hati-hati, Nona Jihan!” ucap Dirga sambil menyeimbangkan tubuh Jihan. “Apakah Nona Jihan, baik-baik saja?” tanyanya menelisik wajah pucat Jihan.
Jihan hanya mengangguk kecil mendengar pertanyaan salah satu tamunya itu. Setelah itu ia melihat ke arah suaminya dengan tatapan sedih. Namun, di dalam hatinya ia begitu senang ketika mendapati suaminya masih perduli dengan kondisinya.
“Mas Burhan…..,” ucapnya lirih sambil berjalan menghampirinya dengan langkah tertatih.
Burhan pun jadi tak tega melihat kondisi Jihan yang meringis kesakitan, mau tak mau ia pun menggandeng tangannya.
Kedua orang tua Burhan dan Jihan yang juga menyusul mereka pun nampak khawatir dengan kondisi Jihan. Sebenarnya mereka sangat malu sekali dengan para tamu undangan yang hadir atas kejadian tersebut. Namun, apa mau dikata semua sudah terjadi di luar perkiraan.
“Terima kasih ya, Mas,” ucap Jihan dengan anggukkan saat menoleh ke arah Dirga yang sudah menolongnya. Sementara Burhan terlihat diam saja tanpa ekspresi dengan pikirannya yang masih sembraut.
Dirga hanya membalas dengan anggukkan kecil sebagai isyarat, kemudian tersenyum ramah kepada kedua orang tua Jihan yang memang sudah sangat mengenalnya.
“Terima kasih banyak atas pertolongannya, Nak Dirga. Kalau tidak ada Nak Dirga, Jihan pasti sudah jatuh ke lantai tadi,” ucap ayah Jihan sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman, kemudian disusul oleh istrinya yang juga mengucapkan hal yang sama.
“Ya. Sama-sama, Pak Ardian dan Bu Ambar,” ucap Dirga saat menerima uluran tangan keduanya dengan sopan.
Tak lama berselang, kedua orang tua Jihan pun kembali menyusul putri dan menantunya untuk memastikan jika kondisi putrinya baik-baik saja sambil berpamitan kepada Dirga.
Sementara para tamu undangan yang riuh menyaksikan semua kejadian tersebut, bisa teratasi dengan baik oleh para petugas keamanan berlangsungnya acara pesta pernikahan tersebut.
“Tuan Dirga, jadi ganti bajumu tidak?” tanya sang asisten mengingatkan.
“Jadi,” sahutnya.
“Heem…., aku pikir sudah nyaman dengan bajunya yang kotor itu,” ucap sang asisten meledek dengan kekehan.
“Ish…, diam kamu!” Dirga mendengus kesal teringat akan bajunya yang kotor menjijikan di matanya.
Sang asiten pun refleks menutup mulutnya agar kekehannya bisa diredam.
***
Di rumah.
Intan baru saja sampai di rumahnya setelah diantar oleh Rani menggunakan mobilnya. Rani tak bisa mampir, ia pun langsung pamit untuk pulang.
“Makasih ya, Ran,” ucap Intan sambil melambaikan tangan.
“Sama-sama, Tan. By…, assalamu’alaikum,” ucap Rani dengan senyuman sambil meninggalkan pekarangan rumah orang tua Intan.
“By juga, Rani…, waalaikumu’salam,” sahut Intan dengan senyuman.
Widya yang mendengar suara mobil dari dalam kamarnya pun segera ke luar untuk melihat siapa gerangan. Nampak wajah lusuh putrinya yang baru saja masuk ke dalam rumah setelah dibukakan pintu oleh asisten rumah tangganya.
Melihat hal itu, Widya sudah bisa menebak apa yang telah terjadi. Namun, dia tak mau menambah beban pikiran putrinya. Ia pun sebelumnya sudah mengingatkan untuk melarangnya pergi ke acara pernikahan mantan suaminya itu.
“Nak….,” ucap Widya berjalan menghampiri Intan dengan senyuman getir.
“M-mama…..,” ucap Intan terbata dengan bibir bergetar masuk ke dalam pelukkan ibunya.
“Menangislah sepuasmu, Nak,” ucap Widya sambil meneteskan air mata kepedihan melihat nasib putrinya yang seperti ini.
Hikks…
Intan pun langsung menumpahkan tangisan pecahnya di dalam pelukkan ibunya. Dia menyesal tak mendengarkan peringatan ibunya yang tidak mengizinkannya untuk datang ke pernikahan mantan suaminya tersebut.
“Maafkan Intan, Mah,” sesal Intan di sela tangisannya.
“Ya sudahlah Nak, semua sudah terjadi,” ucap Widya sambil mengusap bahu putrinya dengan sayang.
Intan pun tersenyum getir melihat raut wajah ibunya yang juga sedih melihat kondisinya. Ia tahu bahwa ibunya tidak menginginkan dirinya terluka hati dengan datang ke pesta pernikahan mantan suami dan sahabatnya itu. Namun, ia keras kepala tidak mau mengikuti apa yang dikatakannya itu.
Setelah puas menumpahkan tangisan di dalam pelukkan ibunya, Intan pun sudah merasa lega dan lebih baik dari sebelumnya.
“Mau bercerita?” tanya Widya penasaran sambil mengusap air mata putrinya dengan lembut.
Intan menggeleng lirih, sebagai isyarat menolak. Ia malu kalau harus bercerita dengan apa yang sudah terjadi di pesta mereka tadi.
“Ya sudah kalau tidak mau bercerita,” ucap Widya nampak tersenyum kecewa.
Intan yang sadar dengan sikap ibunya yang nampak kecewa, mau tidak mau pun akhirnya bercerita tanpa satu pun yang terlewati.
Namun, ada satu hal yang menarik perhatian Widya ketika mendengarkan cerita putrinya tersebut. “Aku tidak pernah menikah dengan Ibumu!”
“Hahahaha…….” Widya tertawa lepas sambil membayangkan wajah kesal laki-laki yang diceritakan oleh putrinya. “Kebiasaan ceroboh kamu itu tidak hilang-hilang, Nak,” ucapnya sambil geleng-geleng kepala teringat sering kali putrinya melakukan hal yang tidak seharusnya terjadi.
Intan pun nampak meringis malu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.