Chapter 7. Bersitegang

1379 Words
Apa yang dilakukan Intan, membuat Rani benar-benar kagum. Ketabahan dan kekuatan hati Intan, sangat luar biasa. Mungkin, kalau Rani yang berada di posisi seperti Intan, beribu-ribu kali berpikir. Saat ini Intan sedang berdiri di hadapan sang mantan suami yang nampak tegang. Wajahnya memucat hingga bibirnya terkunci begitu rapat, hanya sekedar untuk menyebut kata terima kasih atas ucapan yang dilontarkan Intan kepadanya pun, ia tak mampu. Intan tersenyum hambar, melihat ekspresi wajah Burhan yang begitu jelas gugup di matanya. Kemudian diisusul oleh Rani yang memberikan ucapan selamat, seperti apa yang diucapkan oleh Intan. Sementara wajah sumringah Jihan yang berdiri di samping Burhan, semakin angkuh dan bangga. Nampak sekali dia merasa telah memenangkan hati Burhan untuk seutuhnya menjadi miliknya dengan menjadi orang yang paling berbahagia di pesta pernikahannya tersebut. “Terima kasih ya, Intan Maharani. Suatu kehormatan sekali untuk aku dan Mas Burhan, atas kehadiranmu di pesta pernikahan kami yang sangat super istimewa ini. Aku tidak pernah menyangka loh, kamu mau datang untuk memberi restu pernikahan kami, ” ucap Jihan dengan nada sombong, sambil mengulas senyuman mengejek. Namun, Intan tetap berusaha mengulas senyum dengan anggukkan. Jihan kembali melontarkan kata-kata yang menyakitkan untuk Intan, seolah belum puas dengan apa yang baru saja diucapkannya. Jihan ingin mempermalukan Intan di depan semua orang, seolah dirinya wanita paling beruntung mendapatkan Burhan. “Coba kamu lihat, Intan! Banyak sekali tamu undangan yang datang, bukan? Hampir semua tamu undanganku berasal dari kalangan atas. Bahkan pesta pernikahanku bersama Mas Burhan, jauh lebih mewah dan megah dibandingkan dengan pesta pernikahanmu dulu, ‘kan?” Jihan menelisik raut wajah Intan yang tak berekspresi atas ucapannya untuk beberapa saat. Dia pun tersenyum lebar mendapati semua rencananya berjalan mulus untuk mempermalukan Intan, sang mantan istri dari suaminya saat ini. Intan masih terdiam dengan semua yang dilontarkan oleh Jihan, mantan sahabatnya tersebut. Ia berusaha meredam emosi untuk tidak membalasnya. Akan tetapi wajahnya memerah dengan kedua tangannya mengepal sangat kuat. Seulas senyuman getir dia berikan sebagai isyarat dirinya merasa baik-baik saja. Burhan ingin membungkam mulut istri barunya yang seolah membanding-bandingkan pesta pernikahannya dengan pesta pernikahan Intan dulu. Jelas Burhan merasa kesal dan tak enak hati saat mendengarnya. Pernikahannya bersama Intan dulu, jelas dia yang mengeluarkan modal untuk semuanya. Karena dia yang memang mencintai dengan segenap perasaan dari hatinya. Sementara pernikahannya dengan Jihan saat ini terpaksa terjadi, sebab untuk menutupi kandungan Jihan yang semakin lama akan semakin membesar. Karena itu, mau tak mau Burhan harus bertanggung jawab untuk menikahi Jihan dengan syarat semua modal dan biaya pernikahan ditanggung oleh Jihan dan keluarganya. Tak tega melihat mantan istrinya yang diperlakukan seperti itu, ingin sekali rasanya dia membawa mantan istrinya pergi dari pesta pernikahannya yang baru beberapa jam berlalu itu. Akan tetapi jiwa p3ngecutnya tak mampu untuk melakukannya. Kedua orang tua Burhan yang sudah cukup dekat mengenal Intan sebagai mantan sang menantu, hanya bisa menatap sedih dan pilu dengan perkataan menantu barunya itu. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa, karena putra mereka yang telah bersalah dengan membuang berlian seperti Intan Maharani. Sedangkan kedua orang tua Jihan yang selama ini tinggal di Semarang, nampak bingung dengan apa yang diucapkan oleh putrinya. Mereka tidak cukup dekat dengan Jihan selama ini, karena Jihan selalu tertutup dengan persoalan pribadinya. Apa lagi sejak kuliah di Jakarta, Jihan semakin jauh dan berjarak dengan keluarganya sendiri. Jihan menelisik raut wajah intan yang tak merespon ucapannya. Padahal sudah sangat jelas dia memancing emosinya dengan telak. “Kenapa kamu diam ajah, Intan?” tanya Jihan dengan raut wajah mengejek. “Apakah kamu mendadak bisu dan tuli, hah?” hinanya tanpa perasaan. Sontak Burhan menoleh kesal ke arah Jihan yang sudah berkata tak pantas terhadap mantan istri yang masih sangat dicintainya itu. Dia begitu marah dan malu dengan kelakuan istri barunya, padahal banyak tamu undangan yang pasti mendengar dan melihatnya. “Jihan…, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu berkata kasar seperti itu, hah?” Jihan tersenyum mengembang sambil mengusap lengan Burhan dengan santainya. “Aku hanya bertanya kepadanya, Mas. Tapi, dia tak menjawab semua pertanyaanku. Itu artinya, dia bisu dan tuli, kan?” sahutnya sambil menunjuk ke arah Intan dengan tatapan penuh kemenangan. Rani yang sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya mendengar ucapan Jihan, langsung memasang badan di hadapannya. Dia tak terima dengan sikap dan apa yang dikatakan oleh Jihan, dengan telak dia menyahuti ucapannya. “Heh…, P3lakor! Jaga ucapan mulut kotor loe itu, ya! Jangan hin4 Intan dan dibanding-bandingin sama loe! Apa loe masih kurang puas dengan apa yang loe lakuin ke Intan, hah?” bentaknya dengan nada keras sambil menunjuk wajahnya emosi. Intan cukup terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Rani, begitu juga dengan Burhan dan semua orang yang melihat ke arah mereka. Di atas pelaminan saat ini seolah sedang menonton sebuah pertunjukan drama yang seru dan cukup menegangkan. Jihan menyunggingkan bibirnya ketika mendapati ucapan Rani yang telah lancang mencampuri urusannya. “Heh, siapa loe berani-beraninya bentak-bentak gue? Loe itu cuman kacungnya dia, jangan sok-sok’an belain dia deh!” sembur Jihan sambil melototi Rani. Rani terkekeh kesal seperkian detik, kemudian menatap wajah Jihan dengan tatapan taj4m. “Apa loe bilang, hah? Kacung? Apa loe udah bosen hidup, hah?” geram Rani sambil mencekal tangan kanan Jihan. Sontak saja Jihan meringis kesakitan, bersamaan hal itu juga semua orang riuh mendapati perdebatan mereka berdua. “Lepasin tangan gue, kacung!” sentak Jihan sambil menepis tangan Rani. Sepontan Rani hendak melayangkan tangannya ke arah wajah Jihan, tak terima dengan penghinaan yang menjatuhkan harga dirinya. Dadanya naik turun dengan hembusan napas yang tak beraturan, kemarahannya benar-benar sudah memuncak. Dia bukan Intan yang diam saja ketika mendapatkan cacian dan hinaan, ia tak terima. “Loe…” “Cukup, Ran! Jangan diteruskan lagi!” Intan menghentikan ucapan Rani sambil menarik lengannya untuk turun dari atas pelaminan dengan langkah cepat. Dia sudah tidak tahan dan sanggup lagi berada di atas pelaminan yang menjadi pusat perhatian ribuan pasang mata para tamu undangan. Malu, Intan benar-benar sangat malu dengan apa yang terjadi. Karena dirinyalah penyebab terjadinya pertengkaran antara Rani dan Jihan saat ini. “Tapi, Tan….,” tahan Rani masih ingin melanjutkan niatnya tadi. “Please, Rani!” mohon Intan dengan wajah sedihnya yang sudah dipenuhi air mata. Intan sudah tak mampu lagi membendung air matanya. Akhirnya Rani pun pasrah dan menurut saja dengan permintaan Intan. “Aku kecewa sama kamu, Jihan,” ucap Burhan bernada marah, sambil menyusul langkah Intan dan Rani yang turun dari atas pelaminan. “Tunggu, Intan!” serunya berteriak keras. Namun, tangan Jihan menahan lengan Burhan untuk menghentikan langkah kakinya. “Mas Burhan….!” Jihan berteriak keras menyusul langkah suaminya. “Lepasin tanganku, Jihan!” Burhan bersikukuh untuk melepaskan tangan istrinya, lalu melanjutkan langkahnya untuk menyusul Intan dan Rani. Melihat Burhan yang hendak menyusulnya, Intan pun bergegas mempercepat langkahnya. Otomatis Rani pun mengikuti langkah cepat Intan. “Intan…., tunggu aku!” Burhan kembali berteriak memanggil wanita yang masih dicintainya itu. Di mata Burhan, Intan adalah cinta pertamanya yang paling cantik, lembut dan baik hati. “Copot heels loe, Ran,” ucap Intan sambil mencopot heels miliknya sendiri. Intan tidak mau sampai Burhan berhasil menyusulnya. “What, dicopot?” Rani sampai keheranan dengan apa yang dikatakan oleh Intan. “Iya.” Intan mengangguk cepat. Mau tak mau Rani pun langsung melakukan apa yang dikatakan oleh Intan. Tidak mau berurusan dengan Jihan dan Burhan lagi, Intan berjalan setengah berlari menarik lengan Rani untuk ke luar dari kerumunan lautan manusia yang memenuhi ruangan pesta pernikahan tersebut. PRANKKK…. Intan menubruk seorang waitress tanpa sengaja hingga nampan yang berisi beberapa gelas minuman di tangannya pun berjatuhan ke lantai. Tak hanya itu, air minuman yang tumpah pun telah mengenai salah satu tamu yang hadir sedang berdiri tak jauh dari posisi waitress tersebut hingga kemeja putihnya terkena noda warna merah dari minuman. “D4mn it!” ump4t seorang pria ketika sadar kemeja putihnya terkena noda. Intan yang sadar sebagai penyebab noda merah di kemeja pria itu pun langsung buru-buru meminta maaf. “M-maafkan saya, Pak! Saya tidak sengaja menumpahkan minuman tadi hingga mengotori kemeja Bapak,” ucap Intan dengan rasa sesal sambil menangkup kedua tangannya di depan d4da. “Kamu harus tanggung jawab, Nona!” ucap pria itu bernada dingin. “Dan…., jangan pernah sekali-kali lagi panggil aku Bapak! Aku tidak pernah menikah dengan Ibumu.” Pria itu memperingati Intan dengan tegas dan mengintimidasi. Sontak saja raut wajah Intan seketika memerah sekaligus menegang dengan ucapan pria tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD