Intan mendapatkan pesan masuk dari nomor ponsel yang tidak tertera di dalam kontaknya. Saat membukanya, dia langsung bisa menebak siapa pengirimnya.
“Jihan….,” gumam Intan lirih, kala membaca pesan yang diterimanya.
Jihan mengirim surat undangan pernikahan yang akan digelar sekitar dua hari lagi kepadanya dengan kata yang membuat Intan sedikit tersentil. Selain itu, Jihan pun mengirim sebuah foto dan video preweddnya.
For Intan Maharani…
‘Aku mengundang khusus acara akad dan resepsi pernikahan untukmu, yang akan digelar pada hari sabtu ini, pukul tujuh malam sampai dengan selesai. Jangan sampai tidak datang, ya! Aku akan membahagiakan Mas Burhan dengan segenap hatiku, yang tak pernah didapatkan darimu, Intan Maharani.’
From Jihan Kirana…
Intan bergeming cukup lama, sekelebat bayangan masa lalu kembali muncul dalam benaknya. Persahabatan, pengkhianatan dan kekecewaan yang berakhir dengan kesakitan yang masih menganga di hatinya.
Rasa ingin menjerit dan memaki setelah membaca pesan dari Jihan, tertahan dalam kerongkongannya. Dia sadar saat ini sedang berada di mana. Tangan kirinya mengepal kuat untuk menahan diri.
“Tan…, Intan…!” sapa salah satu rekan Intan yang bernama Rani, sambil menjentikkan jemari di hadapannya.
Intan tersentak lirih dari lamunan, sadar dengan panggilan rekannya tersebut. “Eh, iya. Ada apa, Ran?”
Rani nampak menggeleng lirih sambil tersenyum kecil. “Ngelamun ajah kerjaan loe, Tan,” slorohnya sambil melipat kedua tangannya dengan tatapan heran.
Intan pun sontak meringis malu, sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Tahu ajah, loh,” sembur Intan kemudian.
“Tahulah, apa sih yang nggak gue tahu tentang loe, huem?” Rani menaikkan sedikit dagunya sambil memainkan alisnya.
“Aish….” Intan menyunggingkan bibirnya, tak membalas ucapan Rani. Hal itu membuat Rani terkekeh dan senang melihat Intan yang tak bisa berkutik.
Ya, Intan memang sudah mengenal Rani sebagai rekan kerja di kantor hampir satu tahun belakangan ini. Mereka cukup dekat setelah satu bagian divisi staf manager yang bisa saling membantu satu sama lain dalam hal apa pun mengenai pekerjaan.
Hampir tiga bulan ini Ranilah yang selalu memberikan support dan motivasi kepada Intan dalam berbagai hal, terlebih lagi hal yang menyangkut keretakan rumah tangganya karena Jihan, sesama rekan kerjanya.
Tidak banyak yang tahu, jika penyebab Intan menjadi janda untuk sekarang ini adalah Jihan. Terlebih lagi di perusahaan tempatnya bekerja, hanya Rani dan managernya saja yang tahu. Pasalnya, Intan harus sering izin cuti untuk bolak-balik ke pengadilan, dan dia pun sering meminta Rani untuk menghandel pekerjaannya.
“Ngomong-ngomong ini hari pertama loe jadi JAMU, ‘kan? Btw, selamat ya!” ucap Rani sambil menjulurkan tangan kanannya di depan Intan.
“JAMU…? Maksud, loe?” tanya Intan tak mengerti, nampak mengernyitkan dahinya bingung.
“Janda Muda, Tan. Masa gitu ajah nggak ngerti? Kocak, loe,” ucap Rani sambil tertawa geli.
Intan pun seketika kaget dan langsung melotot ke arah Rani yang sedang tertawa geli dan cukup keras. Pasalnya suara tawa Rani bisa mengundang pusat perhatian rekan kerja yang lain di ruangannya. Bisa heboh satu ruangan kalau sampai yang lain tahu status dirinya saat ini. “Ra…niii….” Intan menggerakkan bibirnya tanpa suara sambil menggertakkan gigi-gigi grahamnya.
Seolah mengerti dengan isyarat kedua bola mata Intan dan gerakan bibirnya, buru-buru Rani langsung membekap mulutnya sendiri untuk meredam tawanya. “Ups, sorry....,” ucapnya setengah berbisik.
“Heem….,” gumamnya sedikit kesal, lalu bangkit menarik lengan Rani. “Ikut aku!” ucapnya sambil berjalan menuju pintu ke luar ruangannya.
“Mau ke mana, Tan?” tanya Rani, dia begitu penasaran. Langkah kakinya diseret cepat oleh Intan, membuat Rani kebingungan.
“Ikut saja, jangan banyak tanya!” sembur Intan tanpa menghentikan langkahnya. Rani pun langsung menurut dengan apa yang dikatakannya.
“Okay… okay!”
***
Di kantin kantor.
“Lah, kok ke sini, Tan? ‘Kan belum waktunya istirahat?” tanya Rani kebingungan sesampainya di ruang kantin yang nampak kosong. Terlihat hanya beberapa orang yang bertugas sebagai pekerja kantin yang sedang sibuk melakukan aktivitasnya.
Intan tak menimpali pertanyaan Rani, dia malah menarik kursi untuk diduduki olehnya sendiri. “Duduk, Ran!” seru Intan pada Rani yang nampak keheranan.
Rani pun lantas menarik kursinya untuk duduk menghadap ke arah Intan. “Heem…,” gumamnya lirih.
Sebelum berbicara kepada Rani, Intan memesan minuman dingin dan camilan ringan terlebih dahulu. Sambil menunggu pesanan datang, Intan pun mulai bercerita tanpa ada yang ia tutup-tutupi.
Rani nampak mendengarkan dengan seksama perihal yang disampaikan oleh Intan. Sesekali dia pun bertanya tentang kondisi mentalnya saat ini. Rani cukup terkejut dengan rencana Intan yang menerima mutasi ke Semarang. Dengan perginya Intan ke Semarang, itu artinya dia akan kehilangan dan tak lagi melihat Intan di ruang kerjanya.
“Loe seriusan, Tan? Apa gue nggak salah denger, hah?” tanya Rani, shock.
“Ya, gue serius.” Intan mengangguk kecil dengan raut wajah serius.
“Pantesan dari tadi melamun,” ucap Rani sadar akan hal itu. “Terus, kedua anak loe, gimana? Nyokap loe?” tanya Rani, membuat Intan tersenyum kecut.
“Si kembar, gue bawa ke Semarang. Nyokap gue, tetap di sini.”
“Kalau mantan suami loe nyariin si kembar, gimana? Gak mungkin ‘kan dia nggak pengen ketemu sama mereka?”
“Gue nggak mau dia ketemu lagi sama si kembar. Lagi pula dia juga akan punya anak dari Jihan nantinya, kan. Gue rasa dia akan lupa bahwa dia punya anak kembar sama gue.” Kedua bola mata Intan nampak berkaca-kaca. Mulutnya seolah berbicara dengan tegas, kendati dadanya begitu sesak dan sakit.
Intan pun kembali melanjutkan ucapannya yang terdengar kuat dan tegar di telinga Rani. Namun, kedua bola mata dan raut wajahnya tak bisa berbohong, ada kerapuhan dan kesedihan yang Rani bisa lihat di sana.
“Gue akan selalu mendukung keputusan loe, Tan. Jika ini memang terbaik buat loe, lakukanlah! Sebagai teman, gue hanya bisa support dan berdoa untuk kebaikan loe,” ucap Rani tulus sambil menggenggam kedua tangan Intan untuk menyalurkan keperduliannya.
“Terima kasih, Ran. Loe emang benar-benar teman yang terbaik untuk gue,” ucap Intan cukup tersentuh dengan apa yang dikatakan oleh Rani kepadanya.
Rani lantas bangkit dari duduknya, kemudian merangkul dan memeluk tubuh Intan dengan perasaan yang menyedihkan. “Menangislah, Tan! Keluarin semua sesak yang menghimpit d4da loe. Dengan begitu, loe akan merasa jauh lebih baik,” ucap Rani sambil menepuk pelan pundaknya.
Intan pun meluapkan tangisannya di dalam pelukkan Rani, yang sedari tadi ditahannya.
Hikks….
***
Hotel Grand Swiss.
Intan berjalan dengan langkah ragu, ketika memasuki ball room hotel yang cukup megah dan mewah tersebut. Para tamu undangan yang lain pun sudah nampak berdatangan dan memenuhi ruang kosong yang telah tersedia.
Pesta pernikahan mantan suami dan mantan sahabatnya itu pun begitu mewah dengan hiasan dekorasi yang elegant. Bahkan dibandingkan dengan pesta pernikahan saat bersamanya, tidak ada separuhnya sama sekali.
Intan datang bersama Rani dan rekan kerja yang lainnya. Namun, Rani selalu berdiri di sampingnya untuk menjadi garda terdepan menjaganya.
Awalnya Intan tidak berniat untuk datang ke acara pernikahan Burhan dan Jihan. Namun, dia teringan akan ucapannya saat terakhir bertemu dengan mantan suaminya di ruang sidang. Akhirnya, dia pun memenuhi janjinya untuk datang ke acara pernikahan ini, meski bukan Burhan yang mengundangnya.
Antrian para tamu cukup panjang, satu persatu memberikan ucapan selamat untuk kedua mempelai.
“Tan….” Rani menahan lengan Intan untuk menghentikan langkahnya ketika semakin dekat ke atas pelaminan.
Intan menoleh dengan senyuman tipis. “Gue sudah siap, Ran!”
“Okay!” Rani mengangguk pelan.
Intan dan Rani pun kembali melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga untuk sampai di atas pelaminan. Dengan senyum merekah dan tenang, Intan menjulurkan tangannya di depan kedua orang tua Burhan, alias mantan mertuanya. “Selamat ya Pak, Buk!” ucapnya.
Raut wajah kedua orang tua Burhan pun nampak memerah dan tertunduk malu. Namun, mereka langsung menerima uluran tangan Intan dengan cepat, ketika sadar banyak tamu yang lain mengantri di belakang Intan. “T-terima kasih, Nak!” ucap keduanya gugup.
“I-intan….”
Betapa terkejutnya Burhan dengan kedatangan Intan, mantan istrinya yang masih sangat ia cintai itu. Dia tidak merasa mengundang Intan, akan tetapi mengapa Intan saat ini ada di hadapannya.