Setelah resmi menjanda, Intan berjanji pada dirinya sendiri akan focus merawat dan membesarkan kedua anaknya si kembar Dewa dan Dewi. Dia tidak mau menoleh ke belakang lagi, perihal rumah tangganya yang telah kandas atas pengkhianatan mantan suami dan sahabatnya itu.
Perlahan tangannya menghapus jejak air mata yang masih tersisa di kedua pipinya yang putih mulus kemerahan itu. Bibirnya berusaha tersenyum, meski kegetiran dalam hatinya masih belum sepenuhnya pergi. Jiwa yang rapuh, hati yang tersayat, Intan mencoba untuk menutupinya dari semua orang.
“Aku tahu ini sangat berat. Tapi, aku harus kuat dan bertahan. Ya Allah, berikanlah selalu kemudahan untukku menjalani hidup yang masih panjang,” gumam Intan penuh harapan.
“Nak, kita sudah sampai. Ayo turun!” seru Widya, ibunya. Dia nampak tak tega melihat putrinya yang melamun sambil memeluk erat surat cerainya.
Intan tersentak lirih, nampak sekali kebingungan. Sambil mengangguk kecil, dia pun segera bangkit dari duduknya untuk ke luar dari dalam mobil taxi online.
Setelah membayar ongkos taxi, Widya menggandeng lengan putrinya untuk berjalan memasuki rumah peninggalan suaminya. Meskipun tak terlalu mewah, dirinya tetap bersyukur atas apa yang dimilikinya.
Tak henti-hentinya Widya memberikan semangat dan dorongan kepada putrinya untuk tetap kuat dan tegar. Intan hanya menyahut dengan anggukkan kecil dan senyuman hampa.
Kepulangan Intan dan ibunya, langsung disambut hangat oleh si kembar Dewa dan Dewi yang duduk di atas stroller. Keduanya nampak antusias, begitu lucu dan menggemaskan.
“Nah…. Bunda dan Nenek sudah pulang,” ucap suster Dina sambil mendorong stroller mendekat ke arah Intan dan Widya.
Mendengar dan melihat hal itu pun, Intan langsung tersenyum lebar menghampiri si kembar sambil mengajak bicara keduanya dengan riang.
“Assalamualaikum, pangeran dan putri Bunda yang tampan dan cantik ini. Uhh…., wangi sekali kalian,” ucap Intan sambil mengecup lembut kedua pipi mereka, dia berusaha menutupi rasa sedihnya ketika memikirkan nasib mereka ke depannya.
Sementara Dewi dan Dewa nampak begitu bahagia, tersenyum dan tertawa riang saat mendapatkan kecupan hangat dari sang bunda. Keduanya nampak merentangkan kedua tangan untuk minta digendong olehnya.
Intan menggeleng lirih, sambil mengusap lembut kedua puncak kepala anaknya. “Bunda mandi dulu, sayang. Nanti digendongnya, ya!”
Suster Dina yang langsung tanggap pun, dengan cepat mengajak si kembar menjauh dari Intan. “Permisi, Bu! Saya izin ajak jalan-jalan si kembar di depan rumah sebentar,” pamitnya sambil mendorong stroller si kembar. Intan pun mengangguk kecil, tanda setuju atas izin suster Dina.
Dewa dan Dewi pun terdengar menangis sebentar, namun langsung ditenangkan oleh suster Dina. Intan pun hanya tersenyum tipis, melihat kedua anaknya menurut apa yang dikatakan oleh pengasuhnya itu.
Sementara Widya nampak tersenyum getir melihat pemandangan tersebut. Dengan lembut, tangannya terulur untuk mengusap punggung putrinya yang sedang menatap kepergian suster dan kedua cucunya.
“Nak!”
Intan menoleh ke arah ibunya yang nampak berkaca-kaca di kedua bola matanya, dengan refleks dia masuk ke dalam pelukkan ibunya sambil membenamkan wajahnya. Dia pun sesegukkan, tak mampu menahan air matanya yang dengan lancang ke luar.
“Mama…., apakah aku bisa melihat tumbuh kembang mereka tanpa figure seorang ayah? Apa yang harus aku lakukan, untuk menjawab berbagai pertanyaan yang dilayangkan mereka nanti ketika mencari sosok ayahnya?”
Widya terus mengusap punggung putrinya sambil membelai lembut puncak kepalanya. Pertanyaan itu pun langsung dijawabnya dengan bijak. “Kamu tidak sendiri, Nak. Mama akan selalu membantu dan mendukung keputusan dan usahamu. Si kembar masih kecil, untuk ke arah sana tentu masih lama. Bukankah ayahnya masih berhak untuk melihat mereka, Nak?”
“Tidak, Mah! Aku tidak akan mengizinkan mereka bertemu dengan ayahnya,” ucap Intan sambil melepaskan pelukan, lalu mengepalkan kedua tangannya.
“Kenapa, Nak? Hak asuh yang jatuh ke tanganmu, bukan berarti membuat ayahnya tidak boleh bertemu dengan kedua anaknya, bukan?” Widya nampak shock dengan ucapan putrinya.
“Aku akan ke Semarang dalam waktu dekat ini, Mah. Mungkin, sekitar dua atau tiga hari lagi. Aku dipromosikan oleh Perusahaan tempatku bekerja untuk pergi ke sana. Semoga di tempat yang baru, aku bisa menata kembali hidupku bersama si kembar tanpa bayang-bayang masa lalu, Mah,” jelas Intan dengan tegas.
Intan seketika teringat beberapa hari yang lalu ketika pimpinan di kantornya memberikan tawaran dirinya untuk dimutasi ke Semarang dalam waktu dekat.
“Tapi, apakah Burhan akan menerima semua itu, Nak? Mama rasa, sulit.” Widya merasa tidak yakin mantan menantunya akan diam saja, mengingat Burhan bersikukuh dalam persidangan cerai untuk mengambil hak asuh Dewa dan Dewi.
“Mas Burhan tidak akan pernah tahu, Intan akan membawa mereka ke mana,” sahut Intan dengan yakin. “Kalau dia bertanya keberadaan Intan dan si kembar, Mama tinggal jawab tidak tahu saja,” pinta Intan.
Meskipun ia tidak begitu yakin jika mantan suaminya akan percaya semudah itu dengan ibunya berucap tidak tahu menahu keberadaan ia dan si kembar. Namun, ia berusaha meyakinkan ibunya.
Widya nampak terdiam untuk beberapa saat setelah mendengarkan ucapan sang putri yang sedikit mengejutkannya. Namun, tiba-tiba dia mengambil keputusan yang tidak pernah terduga oleh Intan. “Apakah Mama boleh ikut bersamamu, Nak?”
Intan sontak terkejut, sambil menggeleng lirih. “Mama serius? Mama mau ikut denganku ke Semarang?” tanya Intan meyakinkan.
“Heem…., ke mana pun kalian pergi, Mama akan selalu ikut.” Widya mengangguk mantap.
“Tapi, rumah peninggalan Papa, bagaimana? Bukankah Mama telah berjanji untuk menghabiskan sisa umur Mama di rumah ini?” Intan teringat dengan janji Widya di pusaran mendiang ayahnya dulu.
Widya pun seketika bergeming, seluruh tubuhnya mendadak beku. Dia pun teringat janjinya kepada mendiang suaminya yang baru saja diucapkan oleh Intan.
Intan meraih kedua tangan Widya dengan lembut, sambil menciumi kedua punggung tangannya tersebut. “Mama tidak usah khawatir dengan kondisi Intan dan si kembar. Intan akan mengerahkan semua kemampuan untuk menjaga dan membesarkan Dewa dan Dewi dengan tangan ini. Intan akan memberikan semua yang terbaik untuk mereka berdua. Intan yakin, Intan pasti bisa!”
Widya nampak menggeleng lirih, dia tidak rela melepas putri dan kedua cucunya berada jauh dari pandangannya. Bibirnya ingin mengucapkan sesuatu, namun seperti tertahan dalam kerongkongan.
Intan tersenyum kecil sambil meyakinkan ibunya. “Kapan pun Mama ingin melihat Intan dan si kembar, Mama bisa video call, bukan?” bujuknya.
“Tapi….” Widya berusaha menahan.
“Please, Mah! Intan mohon….” Intan menghentikan ucapan ibunya dengan wajah memelas.
Widya tak sanggup menolak permintaan putrinya, sambil memejamkan kedua matanya dia pun terpaksa mengangguk pelan. “Baiklah,” ucapnya lirih.
***
Di kantor.
“Permisi, Pak! Selamat pagi,” ucap Intan dengan santun ketika memasuki ruang staf atasannya.
“Pagi juga, Bu Intan. Silahkan duduk!” sahut atasan Intan dengan ramah, sambil menunjuk ke arah kursi di hadapannya.
Intan pun tersenyum kecil dengan anggukan,”terima kasih, Pak.” Intan menarik kursinya untuk ia duduki. Kemudian, ia pun membuka percakapan mengenai pembahasan promosi dirinya yang beberapa hari lalu ditawarkan kepadanya.
Atasan Intan pun nampak tersenyum senang mendengar apa yang diutarakan olehnya. Namun, kedua bola matanya nampak berkaca-kaca. Dengan setujunya Intan dipromosikan ke Semarang, itu artinya dia akan kehilangan staf Asisten Manager kepercayaannya selama ini.
Setelah selesai berbicara, Intan pun menunggu jawaban sang atasan. Dia tidak menyadari jika wajah atasannya nampak bersedih, karena Intan tidak berani untuk menatap wajah atasannya tersebut.
“Apakah Ibu Intan sudah mantap untuk keputusan ini?” tanya atasan Intan untuk memastikan sekali lagi.
“Sudah, Pak!” sahutnya mantap.
“Baiklah, kalau memang itu keputusan terbaik untuk Bu Intan. Saya yakin dengan Ibu Intan berada di sana, Perusahaan akan semakin berkembang dan maju. Terima kasih atas kerja samanya selama ini, Ibu Intan akan selalu menjadi staf terbaik di mata saya.”
Atasan Intan bangkit dari tempat duduknya sambil menjulurkan tangan kanan ke arah Intan untuk bersalaman. Intan pun segera bangkit, sambil menerima uluran tangan atasannya tersebut. “Terima kasih kembali, Pak,” ucapnya dengan senyuman ramah.
Setelah selesai pembahasan mutasi, Intan pun lantas meninggalkan ruangan atasannya dengan hati lega.
***
Di sela aktivitas kerja di ruangannya yang tinggal menghitung hari, Intan mendapati keriuhan sesama rekan kerjanya. Dia tidak terlalu tertarik akan hal itu, seperti bagaimana biasanya. Namun, telinganya samar-samar menangkap satu nama yang cukup jelas.
“Bu Jihan, akan menikah.”