Naya kini sedang berada di markas Nathan untuk bersih-bersih. Hanya ada dia sendiri di sana. Gadis itu kini tengah memunguti kemasan makanan ringan yang berserakan. Markas itu kini terlihat seperti kapal pecah.
"Siapa lo?" Naya tiba-tiba terlonjak kaget saat melihat seorang cowok yang tidak di kenal masuk ke markas tersebut. Gadis itu berdiri tegak lalu melangkah mundur. Bagaimana jika cowok yang masuk itu adalah orang jahat.
Cowok itu juga terlihat terkejut. "Justru gue yang nanya itu ke lo. Ngapain lo di sini? Kalau Nathan tahu lo bisa habis sama dia," tutur cowok itu dengan nada yang sopan. Dari cara berbicaranya, terlihat dia adalah orang baik-baik.
"Justru Nathan yang nyuruh gue ke sini buat bersih-bersih," balas Naya.
"Jadi, lo cewek yang dijadiin babu sama Nathan. Kenalin gue Kenzo dari prodi hukum, teman akrab Nathan."
Mendengar itu Naya jadi tenang. Gadis itu membulatkan bibirnya membentuk huruf O. Ia pernah mendengar tentang Kenzo dari teman kelasnya, tapi belum pernah melihat wajah cowok itu secara langsung. Nathan dan teman-temannya memang sangat populer di kampus tersebut. Di mana pun Naya lewat, tidak jarang ia mendengar cewek-cewek di kampusnya membicarakan tentang Nathan dan teman-temannya.
"Gue Naya," balas Naya.
"Lo butuh bantuan?" tawar Kenzo. Tanpa menunggu persetujuan, dia lalu membantu Naya memunguti sampah yang ada di ruangan tersebut.
"Eh, enggak usah, Kak. Gue sendiri aja," tolak Naya halus.
"Nggak papa gue bantu, biar cepat selesai."
"Terima kasih," ucap Naya seraya tersenyum simpul. Ternyata masih banyak orang baik di kampus ini.
"Kenz–" teriakan seorang gadis terhenti, bersamaan dengan langkah kakinya. Dia adalah Sasha. Tadinya dia pikir di markas tersebut tidak ada orang selain Kenzo, karena mengingat Nathan, Alex, dan Devan sedang ada di kelas.
Mendengar suara tersebut Kenzo menghembuskan napas jengah. Muak karena gadis yang baru saja tiba itu sejak tadi terus mengikutinya.
"Hai Naya." Sasha melambaikan tangan ke arah Naya sembari tersenyum menanpakkan deretan giginya yang putih. Naya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, membalas sapaan Sasha.
"Lo bisa berhenti ngikutin gue gak, sih?" Nada bicara Kenzo terdengar sangat kesal, membuat Sasha terlonjak kaget. Sasha terdiam, tidak bisa menjawab. Hatinya sedikit terluka, apakah Kenzo tidak bisa bicara baik-baik padanya karena di sana sedang ada Naya.
"Maaf, kalau gitu gue pergi." Sasha lalu berlari pergi di sana. Raut wajahnya terlihat sendu.
"Lo nggak mau ngejar dia?" tanya Naya ketika melihat Kenzo yang tiba-tiba terdiam sambil memandangi kepergian Sasha. Kenzo hanya membalas dengan gelengan.
Cowok itu berdiri, lalu masuk ke salah satu ruangan terkunci yang ada di markas tersebut. Naya berpikir itu pasti ruangan Kenzo karena cowok itu memiliki kuncinya. Nathan dan masing-masing temannya memang memiliki ruangan pribadi di markas itu.
Naya kembali fokus pada pekerjaan. Setelah selesai gadis itu memutuskan untuk pulang. Namun, sebelum itu gadis tersebut mampir dulu ke indomaret untuk membeli minum.
Ketika keluar dari indomaret Naya berpapasan dengan seseorang. Baik Naya dan orang itu sama-sama menghentikan langkah, mereka terdiam sambil saling tatap.
"Kak Adit," lirih Naya. Raut wajah gadis itu seketika terlihat murung.
"Lo sendiri aja, Nay?" tanya Kak Adit. Naya hanya mengangguk lalu menunduk.
"Gue minta maaf karena waktu itu gak jadi ke cafe," ucap Naya dengan mata tidak berani menatap Adit.
"Iya, nggak papa. Gue bisa ngerti, lo pasti sibuk."
Keduanya lalu sama-sama terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Entah kenapa rasanya mereka terlihat canggung sekarang, padahal sebelumnya mereka adalah sahabat akrab.
"Kalau gitu gue pamit dulu, Kak."
"Tunggu, Nay." Kak Adit mencengkal lengan Naya. Namun, tiba-tiba cowok itu melepaskannya.
"Maaf," tutur Adit yang merasa sikapnya telah kelewatan.
Entah kenapa Naya merasakan ada yang aneh pada tingkah Kak Adit saat ini.
"Inara bilang ke gue katanya lo udah nikah. Selamat atas pernikahan lo. Semoga lo hidup bahagia bersama suami lo."
Mata Naya membola, tubuhnya membeku seketika. Padahal keluarganya dan keluarga Nathan telah sepakat untuk merahasiakan pernikahan tersebut. Namun, kembarannya malah membocorkannya.
"Lo tenang aja gue gak akan bilang ke siapa-siapa tentang hal ini. Gue juga pengen ngasih tahu lo kalau gue dan Inara sedang menjalin hubungan," ucap Kak Adit.
Tenggorokan Naya rasanya tercekat. Dadanya terasa seperti ada yang menghantam ketika mendengar kalimat terakhir Kak Adit.
"Makasih atas doa lo. Selamat juga buat hubungan lo dan Inara. Jangan pernah sakiti hati kembaran gue," pesan Naya, berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Padahal sebenarnya hatinya sedang terluka saat ini.
"Tidak akan. Gue janji akan selalu mencintai Inara dan menjaga perasaannya," balas Adit. Mata Naya tiba-tiba terasa panas.
"Kalau gitu gue pergi dulu. Suami gue mungkin udah nungguin gue di rumah."
Naya buru-buru melangkah pergi. Ketika sudah jauh dari indomaret air mata gadis itu luruh. Kenapa rasanya sakit sekali mendengar pria yang selama ini ia cinta menjalin hubungan dengan kembarannya. Selama ini Naya kira Kak Adit mencintainya, tapi ternyata ia salah, cintanya bertepuk sebelah tangan.
***
Di sebuah rumah pohon terdapat seorang anak perempuan berusia sembilan tahun yang tengah duduk meringkuk. Kepalanya ia benamkan di kedua lututnya. Wajahnya kini sudah dibanjiri air mata.
Matahari semakin naik, panasnya mulai terasa sangat terik. Sudah hampir tiga jam gadis kecil itu di sana. Perutnya sejak tadi sudah keroncongan, tapi tidak ada yang bisa ia makan. Jika kembali ke rumah, ia takut akan dikurung lagi di gudang. Dirinya takut tikus dan ...
mamanya.
"Kamu nangis?"
Anak perempuan itu memelankan suara tangisnya. Dia masih membenamkan kepalanya dan memeluk tubuhnya erat-erat. Akan tetapi, tetap saja remaja laki-laki yang masih berdiri di tangga itu tidak tertipu. Ia bisa melihat punggung anak perempuan itu masih bergetar.
"Pergi!" teriak anak perempuan itu parau.
Akan tetapi, bukannya pergi laki-laki yang baru memasuki usia remaja itu malah naik ke rumah pohon. Dia mengambil duduk perlahan, takut-takut kalau anak perempuan itu nanti mengamuk.
"Kamu kenapa nangis?"
Anak perempuan itu tidak menjawab, dia menggeser duduknya, menjauh dari anak laki-laki itu.
"Kamu nggak usah takut. Aku nggak bakal ejek kamu, karena sebenarnya aku juga cengeng," ucap anak laki-laki itu. Telingnya lalu tidak sengaja menangkap perut anak perempuan itu berbunyi.
"Kamu lapar ya?"
Orang yang ditanya justru tak menjawab. Anak laki-laki itu lalu mengeluarkan roti dari tasnya.
"Aku punya roti. Nih, kamu makan aja biar gak lapar lagi."
Perlahan anak perempuan itu menegakkan kepalanya. Ia mengambil roti dari tangan anak laki-laki itu. Perutnya benar-benar lapar karena sejak pagi belum makan. Ia kabur dari rumah lewat jendela karena tak tahan dikurung mamanya di gudang. Sudah seminggu semenjak kematian papanya, mamanya masih sering mengamuk seperti orang gangguan jiwa, dan masih sering menyalahkan dirinya.
"Uhuk!"
Anak laki-laki bergegas mengeluarkan sebotol air mineral dari dalam tas dan memberikannya kepada anak perempuan yang tersedak itu.
Setelah anak perempuan itu selesai menyantap rotinya, anak laki-laki itu kembali bertanya.
"Kamu kenapa nangis di sini?"
"Papa aku baru aja meninggal," jawab anak perempuan itu dengan suara masih tersedu-sedu.
"Kamu yang sabar, ya. Mama aku bilang Allah sayang sama anak-anak yang sabar. Kalau kamu sedih terus, papa kamu pasti juga sedih di atas sana melihat kondisi kamu sekarang."
"Kenalin nama aku Adit. Aku baru aja pindah ke kota ini dan belum punya teman. Kamu mau nggak jadi teman aku?" Bocah laki-laki itu mengulurkan tangannya.
"Nama aku Naya. Iya, aku mau," jawab Naya seraya membalas jabatan tangan Adit.
Sejak pertemuan itu, keduanya berteman dan sering berjumpa di rumah pohon. Adit juga sering membawakan Naya makanan. Setiap hari sepulang sekolah, keduanya akan menghabiskan waktu bermain di sana.
"Tangkap Naya!"
"Yahh, Kak Adit lemparnya jangan terlalu kencang, Naya nggak bisa nangkap," ucap Naya kecil seraya mengerucutkan bibirnya. Adit terkekeh melihat ekspresi Naya yang menurutnya lucu.
"Iya, maaf." Adit lalu pergi mengambil bola. Kali ini ia melemparnya dengan pelan agar Naya bisa menangkapnya.
***
Naya dewasa duduk di rumah pohon sambil meneteskan air mata. Sekelebat bayangan masa kecilnya di rumah pohon tersebut berputar di kepalanya. Rumah pohon tersebut adalah tempat dirinya pertama kali bertemu dengan Kak Adit. Sejak saat itu mereka semakin dekat. Perlakuan Kak Adit yang sangat baik dan peduli padanya, membuat rasa suka itu perlahan tumbuh di hati Naya dan berpikir Kak Adit juga mencintainya.
Naya benar-benar rindu masa itu. Semenjak dirinya dewasa rasanya bertemu Kak Adit semakin sulit. Ia hampir tidak punya waktu karena setiap hari sibuk bekerja.
Hati Naya kembali merasakan pedih kala mengingat perkataan Kak Adit di indomaret. Rasanya Naya malu pada dirinya sendiri. Ia telah salah menyangka bahwa Kak Adit mencintainya, tetapi nyatanya pria itu mencintai kembarannya.
"Andai sejak awal aku berani ngungkapin perasaan aku, apa kakak akan jadi pacar aku? Dan aku juga tidak akan terjebak pernikahan dengan Nathan," lirih Naya, menyesali semuanya.
Bersambung