Dari dalam mobilnya Nathan tersenyum puas, memandangi seorang gadis yang tengah diganggu oleh dua orang preman. Gadis itu adalah Inara—kembaran Naya.
"Berhenti! Lepasin gue!" Inara berteriak pada preman yang melempari mobilnya dengan telur busuk, sembari berusaha melepaskan diri dari preman satunya lagi yang tengah menahan tangannya saat ini.
"Siapa kalian? Kenapa kalian ganggu gue!" seru Inara dengan mata berkaca-kaca, dia berusaha menahan tangis. Gadis itu sudah berusaha meminta tolong, tapi tempat itu sepi dan tidak ada yang datang menolongnya.
Salah satu preman itu lalu memecahkan telur dari atas kepala Inara. Tidak hanya sampai di situ, dia lalu menyiram wajah Inara dengan sebotol air mineral sembari tertawa.
Tidak dapat ditahan lagi, gadis itu akhirnya menangis. Nathan tertawa dari dalam mobilnya. Akhirnya dendamnya sudah terbalaskan. Inilah akibatnya jika ada orang yang berani melawannya. Cowok itu lalu turun dari mobilnya.
"Cukup!" ucap Nathan kepada kedua preman itu.
Mata Inara terbelalak. Raut wajahnya terlihat terkejut melihat Nathan ada di sini dan kedua preman itu menuruti perkataan Nathan. Gadis itu tidak menyangka ternyata preman tersebut adalah suruhan iparnya sendiri.
"Jadi lo yang nyuruh mereka melakukan ini ke gue!" seru Inara dengan rahang menegang dan napas memburu. Gadis itu hendak menghampiri Nathan untuk menamparnya.
"Pegang dia!" perintah Nathan pada kedua preman itu sebelum Inara berhasil mendekatinya. Ia tidak ingin bau amis telur menempel di bajunya. "Gue nggak mau baju gue kotor jika dipegang sama cewek amis ini."
Kedua preman itu memegang tangan Inara.
"Apa yang lo mau dari gue? Lepasin gue!" teriak Inara.
"Gue cuma pengen ngasih lo pelajaran. Lo ingat, lo pernah nyiram gue. Ini akibatnya jika lo berani cari masalah sama gue."
"Sialan! Lo memang pantas nikah sama Naya. Istrinya pembawa sial, sedangkan lakinya b******n. Lihat saja, gue bakal laporin lo ke polisi!" ancam Inara.
"Silahkan lapor! Orang tua gue punya banyak uang untuk bebasin gue. Justru lo yang harus khawatirin diri lo, karena setelah itu gue bakal lakuin hal yang lebih sadis ke lo. Gue denger abang lo maneger di Wijaya Company. Gue bisa bikin abang lo dipecat dari perusahaannya dengan tuduhan korupsi dan gue juga bisa bikin usah toko bunga nyokap lo bangkrut. Lalu setelah itu kalian akan jadi gembel dijalanan!"
Ancaman Nathan membuat Inara tidak bergeming. Raut wajahnya seketika terlihat ketakutan. Dia tidak bisa membayangkan jika keluarganya benar-benar jatuh miskin.
"Gue minta maaf atas kesalahan gue. Gue nggak akan laporin lo ke polisi. Gue juga nggak akan cerita apa yang gue alami sekarang ke orang-orang. Tolong, jangan bikin keluarga gue bangkrut," mohon Inara.
"Berlutut di kaki gue! Baru gue maafin lo," tantang Nathan sambil tersenyum smirk, membuat mata gadis itu terbelalak. "Kenapa masih diam? Atau lo mau gue kirim orang sekarang buat hancurin toko bunga nyokap lo!"
"Jangan! iya, gue akan lakuin."
Kedua preman itu melepas Inara. Gadis itu lalu berlutut di kaki Nathan. "Tolong maafin gue," lirihnya sambil meneteskan air mata. Nathan tertawa, ternyata sangat mudah memberi Inara pelajaran. Tidak butuh banyak gertakan, gadis itu langsung melakukannya.
***
Nathan sampai di rumah. Ketika turun dari mobil cowok itu melihat Naya yang juga baru pulang. Nathan memperhatikan wajah Naya yang tampak sembab seperti orang yang baru selesai menangis.
Merasa diperhatikan, Naya lalu memalingkan wajahnya. Tak ingin Nathan tahu kalau dirinya habis menangis. Dirinya baru saja kembali dari rumah pohon.
"Lo baru pulang?" tanya Naya, basa-basi.
Nathan tidak menjawab. Cowok itu mengabaikan Naya dan pergi memasuki rumah. Sesampainya di kamar ia langsung mengganti pakaiannya dengan setelan kantor. Mulai hari ini setelah pulang dari kampus ia akan ke kantor. Papanya menyuruhnya untuk mulai belajar mengurus perusahaan. Nathan mendengus, ini semua gara-gara Naya. Andai saja ia tidak menikahi gadis itu mungkin saat ini dirinya masih bebas dan tidak banyak dituntut oleh orang tuanya. Bayangkan, setiap hari Nathan selalu dikirim pesan oleh mamanya, mengingatkannya untuk menjadi kepala rumah tangga yang baik dan selalu memperhatikan Naya.
Berbicara tentang Naya membuat Nathan teringat perkataan Inara yang menyebut Naya pembawa sial. Ia jadi kepikiran saat dirinya mengunjungi rumah Naya. Nathan sama sekali tidak melihat foto gadis yang berstatus istrinya itu terpajang di dinding. Wajah Naya bahkan juga tidak ada di dalam foto keluarganya. Hal itu sangat aneh menurut Nathan. Apa gadis itu tidak dianggap keluarga sehingga fotonya tidak ada di terpajang satu pun di rumah? Apa dia dibenci keluarganya?
Seketika Nathan berdecak. Untuk apa ia memikirkan itu. Ia seharusnya tidak perlu peduli pada Naya. Entah kepahitan apa yang dialami gadis itu, itu bukanlah urusannya.
Setelah rapi dengan pakaiannya cowok itu lalu keluar dari kamar. Ia kembali berpapasan dengan Naya di lantai bawah. Gadis itu kini tengah duduk melamun di sofa.
Naya tersadar dari lamunan saat melihat Nathan menuruni tangga. Gadis itu bangkit dari duduknya.
"Lo mau ke kantor, Kak?" tanya Naya. Mama mertuanya kemarin mengatakan padanya jika hari ini Nathan mulai bekerja di kantor papanya.
Nathan menghembuskan napas jengah. "Bisa nggak lo berhenti nanya-nanya. Gue muak dengernya!" bentak Nathan.
"Maaf," tutur Naya lalu menunduk. Padahal dirinya hanya sedang berusaha untuk akrab dengan Nathan, tapi sepertinya cowok itu memang tidak mau membuka diri pada Naya. Padahal Naya adalah istrinya, tetapi ia memperlakukan gadis itu seperti orang lain, bahkan masih menganggapnya babu. Entah di mana letak hati cowok itu yang sama sekali tidak berperasaan.
Naya tidak sanggup membayangkan entah sampai kapan ia akan hidup begini, menjalani pernikahan tanpa cinta. Belum lagi setiap hari ia harus menghadapi sikap Nathan yang selalu membentaknya.
Nathan mengeluarkan amplop coklat dari dalam tas kerjanya. "Ambil, nih!" seru cowok itu ketus seraya menyodorkan amplop tebal.
"Apa ini?"
"Uang bulanan lo. Nanti lo ngadu ke mama kalau gue gak ngasih lo uang bulanan. Pasti lo bahagia, kan, sekarang. Tinggal nunggu duit dari gue dan gak perlu kerja di cafe lagi," cibir Nathan. Setelah menikah dengannya, mamanya melarang Naya untuk bekerja di cafe.
Naya terdiam mendengar perkataan Nathan yang sangat menyakitkan. Apakah dirinya benar-benar terlihat buruk di mata suaminya itu? "Lo nggak perlu ngasih gue uang bulanan. Gue juga nggak akan ngadu ke mama, jadi lo nggak usah cemas. Lagian, nyokap gue masih ngirim gue uang bulanan," bohong Naya, padahal semenjak dirinya lulus SMA ia tidak pernah mendapatkan uang bulanan lagi dari mamanya. Naya hanya tidak mau harga dirinya direndahkan jika menerima uang dari Nathan.
"Oh iya? Lalu kenapa selama ini lo kerja di cafe nyokap gue sementara kembaran lo kelihatannya hidup enak? Udah, terima aja uang dari gue. Gak usah pura-pura nolak kalau sebenarnya lo mau. Kapan lagi lo ngerasain jadi istri orang kaya dan punya uang sebanyak ini," balas Nathan, perkataannya sungguh pedas seolah menganggap Naya perempuan matre.
Nathan meraih tangan Naya dan meletakkan amplop tersebut di telapak tangan gadis itu. "Gue nggak mau buang-buang waktu ngobrol sama lo, jadi lo terima aja uang ini. Lagian ngasih uang ke lo juga gak bakal bikin gue bangkrut. Jangankan lo sendiri, seratus orang kayak lo juga sanggup gue nafkahin kalau gue mau," ucap cowok itu sombong. Dia lalu pergi.
Naya memandangi amplop coklat itu. Harga dirinya baru saja diinjak-injak barusan, tetapi ia tak bisa melawan. Apakah dirinya terlihat seperti perempuan yang gila uang? Naya bertekad tidak akan memakai uang tersebut. Ia masih punya tenaga untuk bekerja dan mencari uang sendiri. Setidaknya walaupun sedikit, tetapi uang dari hasil keringatnya tidak akan membuatnya merasa direndahkan.
***
Pukul dua belas malam Naya masih duduk di sofa, menunggu Nathan pulang kerja agar dirinya bisa membukakan pintu untuk cowok itu. Naya tidak mau nanti Nathan marah-marah jika dirinya telat membukakan pintu karena ketiduran.
Naya menyentuh pundaknya. Tinggal di rumah yang sangat besar dan luas itu sendirian, kadang membuatnya takut dan merinding. Setiap sore gadis itu selalu memastikan semua lampu di rumah itu sudah menyala dan semua pintu serta jendela terkunci.
"Kenapa Kak Nathan belum pulang, ya?" Naya berguman. Entah berapa lama lagi ia harus menunggu. Matanya mulai terasa mengantuk. Gadis itu akhirnya mengirim pesan pada Nathan.
[ Kak, pulang jam berapa? ]
Pesan yang Naya kirim langsung centang dua. Akan tetapi, Nathan masih belum membacanya.
Tiba-tiba sebuah telpon masuk dari nomor tidak dikenal. Naya pikir itu adalah Nathan yang menghubunginya dengan nomor baru sehingga ia langsung mengangkatnya.
"Halo," sapa Naya lebih dahulu.
Hening.
Tidak ada jawaban dari seberang sana. Naya memandangi nomor tersebut. Entah kenapa perasaannya tiba-tiba tidak enak. Sepertinya nomor itu bukanlah nomor Nathan.
"Kamu Pembenuh...," lirih seseorang di seberang sana yang membuat mata Naya terbelalak. Naya langsung berteriak ketakutan dan mematikan panggilan tersebut. Ia juga memblokir nomor orang itu. Wajah gadis itu seketika terlihat sangat pucat. Badannya keringat dingin. Air matanya luruh membasahi pipi.
Gadis itu mencoba menghubungi nomor Nathan berkali-kali, tetapi tidak diangkat. Nathan justru malah menolak teleponnya. Tangis Naya makin deras.
Naya lalu mencoba menelepon nomor abangnya, memintanya agar bisa menjemputnya ke sini. Ia tidak berani sendirian di rumah itu.
"Please, angkat telepon Naya Bang. Sekali ini aja ... tolong anggap Naya adik. Naya takut ...," isak Naya. Nomor abangnya tidak bisa dihubungi, sepertinya ia diblokir. Tiba-tiba Naya teringat perkataan mamanya bahwa ia tidak boleh kembali ke rumah, jadi percuma ia menelepon abangnya. Bang Gilang tidak akan mau menjemputnya.
Naya berlari ke kamarnya dan mengunci pintu. Dia berbaring di ranjang dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Tubuh gadis itu bergetar hebat. Pelipisnya sudah basah oleh keringat. Dia berdoa agar Nathan segera pulang.
~Bersambung~