"Mira!" Suara Amanda yang memanggilnya terdengar seperti petir yang menggelegar di telinga Mira. Ia tersentak, menyadari bahwa mereka telah tiba di panti tempat ia dibesarkan.
"Kamu ngelamun aja. Kita udah sampai," ujar Amanda, sedikit mengernyit.
"Maaf, aku agak pusing," jawab Mira lemah. Memang, sejak mendonorkan darah untuk Eve dua minggu lalu, tubuhnya sering terasa lemas dan pusing.
"Karena kamu abis donor darah buat cewek sialan itu!" Amanda menggerutu, sorot matanya tajam.
"Mungkin," sahut Mira, berusaha menutupi kekhawatirannya. Mereka turun dari mobil dan melangkah masuk ke panti.
Mira langsung menghampiri Bu Rima, wanita yang sudah seperti ibu baginya. Kerinduan terlihat jelas di mata Mira, sementara Amanda dan Kean menyapa anak-anak panti yang bermain di taman.
"Ya ampun, wajahmu pucat sekali. Kamu sakit, Nak?" Bu Rima menatap Mira dengan cemas ketika mereka sudah duduk berdua.
"Enggak kok, Bu. Mira cuma kurang tidur karena tugas dan kerjaan di cafe," sangkal Mira dengan senyuman tipis, mencoba menenangkan wanita yang sangat ia hormati itu.
"Ibu buatkan teh ya," tawar Bu Rima lembut.
"Gak usah, Bu. Mira cuma butuh ini!" Mira langsung merebahkan kepalanya di pangkuan Bu Rima, merasakan kenyamanan yang sudah lama ia rindukan.
"Ada apa, Nak?" tanya Bu Rima sambil membelai lembut kepala Mira, penuh kasih sayang.
"Gak ada apa-apa," jawab Mira dengan mata terpejam. Namun, hatinya berkata sebaliknya. Kerisauan yang ia pendam tak bisa ia sembunyikan dari wanita yang mengenalnya luar dalam.
"Ibu tahu kamu berbohong. Ibu tahu kebiasaan anak-anak Ibu walau kita gak sedarah!" senyum tipis muncul di bibir Mira. Bu Rima selalu bisa membaca hatinya.
"Aku khawatir sama Ibu dan adik-adik di sini. Aku khawatir mereka kekurangan dan..."
"Kamu gak perlu khawatir, Nak. Kebutuhan adik-adikmu terpenuhi, terutama sejak Keluarga Kusuma dan papinya Amanda menjadi donatur. Kita gak pernah kekurangan," sela Bu Rima, mencoba menenangkan.
"Syukurlah, Bu. Jadi, Keluarga Kusuma masih jadi donatur di sini?" tanya Mira, mencoba memastikan.
"Iya, bahkan ada donatur besar lagi dari salah satu keluarga miliarder di kota ini. Alhamdulillah, rejeki kita bertambah," sahut Bu Rima dengan senyum bangga.
"Ibu masih ingat sama Kak Arvan gak?" tanya Mira, mengingat masa lalu.
Bu Rima terdiam sejenak, mencoba mengingat. "Nak Arvan anaknya Pak Derdi Kusuma itu kan? Dulu dia sering main ke sini, paling senang main sama kamu."
"Iya, Bu!" Mira tersenyum tipis, mengenang masa-masa indah itu.
"Kamu kangen ya sama dia? Terakhir dia ke sini hampir dua belas tahun yang lalu," ucap Bu Rima penuh pengertian.
"Ibu tau gak kalau dia punya kembaran?" tanya Mira lagi, mencari jawaban atas kebingungannya.
"Kayaknya enggak tuh. Pak Derdi sama Bu Yuna sering ke sini cuma sama Arvan. Ibu gak pernah lihat mereka bawa anak kembar!" Bu Rima tampak yakin. Mira menghela napas panjang, merasa kebingungannya belum terjawab.
"Kenapa tanya soal itu?" tanya Bu Rima penasaran.
"Tadi, Mira lihat orang yang mirip Kak Arvan tapi kayaknya bukan dia, makanya Mira tanya ke Ibu," jawab Mira dengan nada ragu.
"Mungkin kamu kangen banget sama dia, makanya kamu ngira orang itu Arvan. Yang Ibu tahu, keluarganya menetap di Swiss sekarang," jelas Bu Rima.
"Mungkin," sahut Mira lirih, lalu bangkit dari pangkuan Bu Rima.
Mira membuka tasnya dan mengeluarkan amplop coklat berisi uang yang ia kumpulkan dari hasil kerja di cafe. "Ini untuk keperluan panti, Bu."
"Uang ini kamu gunakan saja untuk keperluan kamu. Mulai hari ini kamu gak perlu lagi kasih uang kamu ke Ibu. Panti ini sudah ada beberapa donatur besar jadi kebutuhan adik-adikmu sudah terpenuhi!" Bu Rima menolak tegas.
"Tapi, Bu..."
"Sudah, Nak. Gunakan saja uang ini untuk keperluanmu. Ibu sangat berterima kasih atas bantuanmu. Sekarang, sudah saatnya kamu memikirkan diri kamu sendiri!" tegas Bu Rima, matanya lembut namun penuh ketegasan.
Mira langsung memeluk Bu Rima. "Terima kasih, Bu!"
"Sama-sama, Nak. Dengan kamu tidak melupakan Ibu dan keluarga di sini pun sudah membuat Ibu senang. Suatu saat nanti kalau kamu sudah berkeluarga, Ibu berharap kamu masih bisa terus berkunjung ke sini, mungkin nanti dengan suami dan anak kamu," ucap Bu Rima dengan harapan di matanya.
"Sebisa mungkin Mira wujudkan keinginan Ibu," janji Mira, tersenyum lembut.
"Oh iya, Bu. Aku ke sini sama Amanda dan Kak Kean," ujar Mira tiba-tiba teringat.
"Kamu ini, asik ngobrol sama Ibu sampai lupa sama temannya!" Bu Rima tertawa kecil. Mira ikut tertawa lalu berlari menghampiri Amanda dan Kean.
Setelah puas melepas rindu dengan Bu Rima, mereka pulang. Namun Mira dan Amanda harus pergi ke cafe dulu. Menjelang malam, Mira kembali ke apartemen milik Arvan yang mereka tinggali bersama, meskipun Arvan jarang pulang dan lebih sering menginap di apartemen Eve.
Ting.
Mira yang baru selesai mandi meraih ponselnya yang berdering di atas kasur. Dilihatnya notifikasi chat dari Arvan. Nafasnya terasa berat ketika membaca pesan bahwa Arvan tidak akan pulang dan akan menemani Eve di apartemennya.
"Sampai kapan kayak gini, Kak," lirihnya pada diri sendiri.
Mira berdiri di depan cermin besar, mengingat ucapan Amanda. Pandangannya mulai kabur oleh keraguan yang semakin menghantuinya. Bayangan Arvan, atau seseorang yang mirip dengannya, terus berputar di benaknya, menyulut percikan kebingungan yang tak kunjung padam.
"Apakah mungkin?" bisiknya, suara hampir tak terdengar di tengah keheningan malam. Setiap kali mencoba mencari jawaban, pikirannya selalu kembali ke momen-momen kecil yang membuatnya ragu.
Senyuman hangat Arvan yang dulu ia kenal kini terasa berbeda, seolah mengandung rahasia yang tak terungkapkan. Senyuman itu mengaburkan batas antara kenyataan dan ilusi.
Mira memejamkan mata, mencoba mengingat lebih jelas. Tatapan mata Arvan, meski sekilas sama dengan yang dulu, memiliki kedalaman berbeda yang membuatnya merinding. Setiap gerak-gerik, setiap tawa, seolah menyimpan teka-teki yang menunggu untuk dipecahkan.
Jantungnya berdetak lebih cepat, tanda ketidakpastian yang merayap semakin dalam. Bayangan Arvan berputar di pikirannya seperti pusaran air, menariknya semakin jauh ke dalam lautan keraguan. Satu pertanyaan terus menghantui: apa mungkin Arvan punya kembaran yang tak pernah ia ketahui?
Dengan tangan gemetar, Mira meraih ponselnya. Jari-jarinya menari di atas layar, mengetik pesan penuh kebimbangan dan harapan akan jawaban. Namun sebelum mengirim pesan itu, ia berhenti, ragu apakah ia benar-benar siap mengetahui kebenarannya. Namun, hati kecilnya berharap bahwa Arvan yang menjadi suaminya bukanlah Arvan yang ia kenal dulu, agar Mira tidak membenci lelaki yang ia cintai begitu dalam karena semua perlakuan buruknya selama ini.
Di dalam keheningan malam yang dingin, Mira tetap terjaga, bertanya-tanya tentang misteri yang kini menggantung di antara mereka. Hanya waktu yang bisa menjawab, namun ketidakpastian itu terus menghantui, mengisi hatinya dengan keraguan yang tak berkesudahan.