Bab 4: Bimbang

1155 Words
Jeff, dengan wajah tegang dan napas terburu-buru, melapor kepada tuannya, "Adik Anda tidak bisa dihubungi, Tuan!" Sang Tuan, yang baru saja tiba dari perjalanan panjang, menatap Jeff dengan sorot mata penuh tanya. "Cari dia! Apakah dia tidak tahu aku sudah kembali?" suaranya penuh ketegasan dan kekhawatiran yang terselip. Jeff mengangguk cepat, lalu melanjutkan dengan nada putus asa, "Sebelumnya saya sudah mencoba menghubunginya berkali-kali, tapi dia tidak menjawab telepon saya." Ia menghela napas panjang, memijat keningnya yang mulai berdenyut, seolah mencoba mengusir rasa sakit yang kian menekan. Kepala sang Tuan dipenuhi dengan pikiran tentang kemungkinan kekacauan yang mungkin ditimbulkan oleh adiknya di perusahaan keluarga mereka. Matanya yang biasanya tajam kini memancarkan sedikit kekhawatiran. "Lalu, bagaimana kabar dia?" tanyanya, berusaha menenangkan dirinya dengan senyum tipis yang dipaksakan. Jeff ragu sejenak sebelum menjawab, "Dia sudah kuliah dan bekerja di salah satu kafe. Tapi, ada sesuatu yang harus saya sampaikan kepada Anda." Sang Tuan mendekatkan dirinya pada Jeff, wajahnya berubah serius. "Katakan, jangan bertele-tele!" titahnya, suaranya mendesak. Jeff menelan ludah, lalu dengan suara yang nyaris berbisik, "Saya sering melihat dia bersama dengan... adik Anda." Mata sang Tuan membelalak, terkejut dan bingung mendengar pengakuan Jeff. "Segera cari tahu apa hubungan mereka!" serunya, nada suaranya berubah menjadi perintah yang tak terbantahkan. "Baik, Tuan!" Jeff bergegas keluar, meninggalkan sang Tuan yang masih terperangkap dalam pikirannya sendiri, dia sungguh tidak rela jika apa yang dia pikirkan benar-benar terjadi. *** Pagi itu, matahari masih enggan menampakkan wajahnya sepenuhnya di ufuk timur, namun Mira sudah bergelut dengan aroma bumbu dapur. Tangannya cekatan memotong sayuran dan mengaduk masakannya menciptakan aroma pagi yang menggugah selera. Meskipun hatinya sering tertoreh oleh perlakuan Arvan, suaminya, Mira tetap setia menjalankan tugasnya sebagai istri. Setiap pagi, ia menyiapkan sarapan dengan harapan yang sama, meski kerap kali diakhiri dengan penolakan dingin dari pria yang diam-diam masih ia puja. "Kak!" sapa Mira lembut ketika Arvan muncul di ambang pintu dapur. "Jam berapa Kakak pulang tadi malam?" tanyanya penuh perhatian, namun yang didapat hanya tatapan sinis yang membekukan hatinya. "Air hangat sudah siap, Kak," lanjut Mira, mencoba menawar sedikit kenyamanan. "Tidak perlu. Urus saja dirimu sendiri!" Suara Arvan terdengar tajam, mengiris harapan Mira. Dengan nafas berat, ia menatap punggung suaminya yang menghilang di balik pintu kamar. "Sarapannya sudah di meja, Kak. Aku harus berangkat ke kampus pagi ini!" teriak Mira, meski tahu jawaban mungkin tak akan datang. Dia hanya ingin memastikan tugasnya selesai dengan baik, apapun balasan yang diterima. Mira lalu merapikan makanannya ke dalam kotak makan. Ia memutuskan untuk menikmati sarapan di kampus bersama Amanda, sahabatnya yang selalu memuji masakannya. Mira tak ingin pagi itu dirusak oleh dinginnya sikap Arvan. Sebelum pergi, Mira menulis memo singkat dan meletakkannya di meja makan. "Aku pulang terlambat hari ini." Sebuah catatan kecil, berharap setidaknya pesan itu terbaca. Dengan langkah mantap, Mira meninggalkan rumah tanpa berpamitan lagi pada Arvan. Di balik pintu yang tertutup, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap kuat, mencari kebahagiaan di tengah badai kehidupan yang tak menentu. 'Kenapa kau selalu memperlakukan dia dengan buruk, Arvan? Apa tidak ada sedikitpun rasa pedulimu sebagai suami kepada gadis itu. Sampai kapan kau akan menyembunyikan semua ini dari dia?' Pikir Arvan, hatinya bergejolak saat memandangi bayangan dirinya di cermin. Di balik ketegasan wajahnya, ada guratan penyesalan yang tak terelakkan. Mira, perempuan yang dia nikahi dalam diam, tanpa sepengetahuan keluarga dan kerabat, sering menjadi korban sikap dinginnya. Arvan menghela napas panjang, meresapi segarnya udara pagi dari balkon apartemen. Pandangannya menerawang jauh, menembus langit biru yang mulai berwarna jingga. Perasaan tentang Mira dan Eve terus berkecamuk di dalam dadanya. Eve. Wanita yang pernah menyelamatkannya dari jurang kematian. Kenangan tentang Eve selalu mengaduk-aduk hatinya, antara rasa syukur dan hutang budi yang seakan tak terbayar, serta rasa bersalah yang menggerogoti nuraninya karena telah memanfaatkan ketulusan Mira, gadis lugu yang mungkin benar-benar mencintai. Waktu bergulir. Lima belas menit terasa seperti seabad bagi Arvan yang tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia menyudahi renungan paginya dan memutuskan untuk bergegas ke kantor. Saat mengenakan kemejanya, Arvan merasakan perutnya keroncongan. Semalam, ia tidak makan apapun setelah pertengkaran sengit dengan Eve menghilangkan selera makannya seketika. Dengan langkah berat, Arvan menuju dapur, berharap menemukan sesuatu yang bisa mengganjal perutnya. Keberuntungan ternyata masih berpihak padanya. Di atas meja, sepiring nasi goreng seafood kesukaannya sudah tersaji, disertai memo kecil. "Padahal aku nggak peduli sama kamu!" gumam Arvan setelah membaca memo dari Mira. Namun, ada sesuatu dalam hatinya yang berdenyut, seakan-akan ada yang mencoba mencairkan kebekuan sikapnya selama ini. Ia duduk dan mulai menikmati nasi goreng buatan Mira. Rasanya begitu enak, menghangatkan tubuh yang lelah dan hati yang gundah. Dalam keheningan pagi itu, untuk pertama kalinya, Arvan benar-benar menikmati masakan istrinya, meresapi setiap suapan dengan perasaan yang campur aduk. Selesai sarapan, Arvan bergegas menuju kantor. Tumpukan pekerjaan telah menantinya, dan ia tahu, hari ini akan menjadi hari yang sangat melelahkan. Namun, ada sesuatu yang berbeda dalam hatinya saat melangkah keluar. Sebuah perasaan yang belum sepenuhnya ia pahami, tapi cukup kuat untuk membuatnya bertanya-tanya tentang masa depan dan hubungan yang selama ini ia abaikan. *** “MIRAAAA!” Suara itu menggelegar seperti petir yang memecah keramaian di antara para mahasiswa yang berlalu-lalang. Mira mendesah panjang, melepas helm ojek online dengan perlahan. “Astaghfirullah, kenapa dia selalu teriak sih!” gumamnya sambil berusaha menenangkan diri. “Terima kasih, Mas,” ucapnya kepada driver ojol dengan senyum ramah. Mira melangkah cepat menuju sahabatnya yang sudah berdiri dengan tangan berkacak pinggang, tatapan mata menusuk bagai panah. “Tenggorokan kamu gak sakit tiap hari teriak-teriak gitu?” tanya Mira sambil menyunggingkan senyum mengejek, berusaha menyembunyikan tawanya. “Gak! Abisnya kamu nyebelin, kenapa gak balas chat aku!” sungut Amanda, bibirnya mengerucut kesal seperti anak kecil yang marah karena tidak diberi permen. Mira menarik napas dalam-dalam, mencoba tetap tenang. “Kan aku lagi di jalan, hpku di tas.” Amanda mendengus, masih belum puas. Namun, sebelum ia sempat melanjutkan omelannya, Mira menyodorkan kotak makanan. “Udah sarapan belum? Aku bawa makanan nih!” serunya, matanya berbinar-binar seperti anak kecil yang baru saja menemukan harta karun. “Aku udah makan roti sih di rumah, tapi perut aku selalu ada ruang kosong buat terima masakan kamu!” Amanda tersenyum lebar, melupakan kekesalannya seketika. Tawa mereka pecah, mengisi udara dengan kebahagiaan yang sesaat. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. “Wah, beruntung banget, Eve!” suara salah satu teman mereka membuat Mira dan Amanda menoleh. Di sana, Eve baru saja turun dari mobil Mercy mewah milik Arvan. Hati Mira seakan diremas-remas melihat pemandangan itu. Suaminya, yang seharusnya bersamanya, malah mengantar wanita lain. Senyum getir terlukis di wajahnya. “Harusnya kamu yang datang sama cowok sialan itu, Mir. Bukan si vampir,” gerutu Amanda, suaranya penuh amarah. Mira menelan ludah, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang. “Ayo pergi, Manda!” ajaknya dengan suara serak. Ia tidak ingin hatinya semakin tercabik-cabik dengan menyaksikan kebahagiaan orang lain di atas penderitaannya sendiri. Dengan langkah berat, Mira dan Amanda meninggalkan tempat itu, Mira tidak ingin berlama-lama menyaksikan kemesraan Arvan dan Eve di depan matanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD