"Bye, Sayang. Nanti jangan lupa jemput aku ya!" Eve bergelayut manja di pundak Arvan, suaranya lembut tetapi penuh harap.
Arvan menarik napas panjang. "Aku sibuk!" jawabnya singkat, ketus. Amarah masih menyala dalam dirinya, sisa dari pertengkaran semalam yang belum padam.
Pagi itu, dengan terpaksa, Arvan mengantarkan Eve ke kampusnya. Wanita itu menunggunya di basement apartemennya, tak memberinya pilihan lain.
"Kamu masih marah gara-gara semalam?" Tatapan Eve melunak, mencoba mencairkan suasana yang dingin.
Arvan mengepalkan tangannya kuat, matanya menatap lurus ke depan. "Gak usah dibahas lagi, gak seharusnya kamu menyinggung hal sensitif antara aku dan Mira," suaranya bergetar, penuh amarah terpendam.
Eve menghela napas, mencoba mencari kata yang tepat. "Maaf, aku cuma ingin tau sejauh mana hubungan kamu dengan istri gendutmu itu. Aku takut kamu benar-benar luluh sama dia karena dia selalu baik dan selalu mendonorkan darahnya buat aku."
Mata Arvan membara. "Kamu yang memaksaku untuk menikahi dia dan membuat dia menjadi pendonor darah untukmu seumur hidup. Aku gak ada perasaan apa-apa sama dia. Jika kamu terus curiga, lebih baik aku akhiri saja pernikahan ini."
"Kalau kamu cerai sama dia lalu nasibku bagaimana?" suara Eve meninggi, penuh kekhawatiran. "Gak akan ada orang yang mau menggantikan dia untuk mendonorkan darahnya seumur hidup buatku."
Arvan menatap tajam, matanya menyipit penuh ancaman. "Kalau begitu, kamu jangan terus membahas masalah pernikahanku dengan Mira!"
Eve terdiam, suaranya tenggelam dalam lirihan. "Maaf."
Arvan menghela napas panjang, mencoba meredakan amarahnya. "Aku pergi ke kantor. Hari ini aku sangat sibuk, jadi jangan ganggu aku jika tidak ada hal yang sangat mendesak."
"Oke, Sayang. Hati-hati!" Eve tersenyum kecil, meski dalam hatinya berkecamuk perasaan campur aduk.
Arvan masuk ke mobilnya dan melaju pergi menuju kantor, meninggalkan Eve yang berdiri terpaku, menatap kepergiannya dengan pandangan kosong.
Begitu mobil itu menghilang dari pandangannya, Eve mengepalkan tangan, amarah terselubung di wajahnya. "Perempuan itu sudah mulai berulah!" gerutunya, dengan suara yang dipenuhi kebencian.
***
"Masakan kamu bener-bener enak. Gak nyesel aku mempercayakan kafe ke kamu," puji Amanda, sambil masih menikmati suapan terakhir makanannya. Namun, Mira hanya terdiam, tenggelam dalam lamunannya. Amanda menghela napas panjang, lalu menyimpan sendoknya, menatap sahabatnya yang wajahnya nampak pucat pasi.
"Mira!" panggil Amanda dengan nada lebih tegas.
Mira terkejut, nyaris tersedak. "Kamu tuh suka banget ngagetin aku, sih!" seru Mira dengan tatapan kesal, mencoba menyembunyikan kegelisahannya.
"Abisnya kamu ngelamun terus. Masih kepikiran dua manusia sialan itu?" tanya Amanda, matanya memancarkan kekhawatiran.
"Enggak," sangkal Mira dengan suara yang terdengar dipaksakan.
"Atau kamu sakit? Wajah kamu pucat banget," desak Amanda, makin cemas.
"Aku baik-baik aja," jawab Mira, memaksa senyum yang nyaris tak meyakinkan.
Amanda mengangguk pelan, berusaha menghibur. "Ayo makan, mumpung belum banyak orang yang datang."
"Oke!" Dalam diamnya, Mira mencoba menikmati makanannya, namun hatinya terasa perih setiap kali ingatan tentang Arvan dan Eve melintas di benaknya.
Sekelebat kenangan masa lalu antara dirinya dan Arvan kembali menghantuinya. Arvan, yang saat itu datang menghampirinya ketika dia sedang bersedih karena dibully oleh teman-temannya.
"Kalau lagi sedih, coba deh makan coklat biar gak sedih lagi," kata Arvan sambil menyodorkan sebatang coklat kepada Mira kecil.
Mira yang baru berusia lima tahun, menatap Arvan yang berusia dua belas tahun duduk di sampingnya. "Kakak siapa?" tanyanya dengan polos.
"Arvan!"
"Ck... Mama sama Papa kenapa ganggu sih!" gerutu Arvan, terdengar kesal.
"Jadi nama Kakak, Arvan?" tanya Mira lagi, memastikan.
Arvan tersenyum lembut, "Adik manis, nanti kita main lagi ya. Sekarang Kakak harus pulang, mama sama papa sudah panggil. Dimakan coklatnya biar gak sedih lagi!" Arvan pun segera pergi.
Mira tersenyum melihat binar di mata Arvan saat mereka bertemu, perasaan hangat yang baru pertama kali dia rasakan membuatnya bahagia.
Sejak pertemuan itu, Arvan sering datang ke panti asuhan tempat Mira dibesarkan. Mereka sering bermain bersama, orang tua Arvan juga sangat menyukai Mira karena kelucuannya dan sikapnya yang penurut. Sering kali, orang tua Arvan mengajak Mira pergi ke mall untuk bermain.
Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Tiga tahun yang penuh kenangan indah harus berakhir ketika Arvan pergi tanpa berpamitan. Mira merasa kehilangan malaikat pelindungnya, terpuruk karena sering dibully oleh teman-temannya karena tubuhnya yang gemuk.
'Apa aku sudah kehilangan semuanya, Kak? Bahkan aku tidak melihat lagi pancaran mata bahagia ketika Kakak melihat aku,' gumam Mira dalam hatinya. Matanya mulai berembun, tapi dia segera menghapus air matanya, tak ingin Amanda melihatnya menangis.
***
Arvan memandang tajam kakaknya, Raffa, yang berdiri di ambang pintu. Wajah mereka begitu mirip, seperti dua sisi koin yang berbeda.
"Apa yang kau lakukan di sini!" sergah Arvan dengan nada tajam.
Raffa mengabaikan teguran itu, melemparkan beberapa dokumen ke atas meja. "Tidak tahu diri," ujarnya penuh kebencian.
"Jelaskan kenapa perusahaan bisa sekacau ini!" Raffa menatap adiknya dengan mata berkilat-kilat, penuh kemarahan.
Arvan mendesah berat, lalu menjatuhkan diri ke kursi kebesarannya. "Aku bisa mengatasinya, kau urus saja rumah sakit itu," katanya dengan nada dingin.
"Perusahaan ini tanggung jawabku juga, Arvan! Kau tidak bisa seenaknya mengaturku!" Raffa berseru, tapi Arvan hanya sibuk dengan laptopnya, seakan tak mendengar.
"Jeff!" panggil Raffa. Jeffrey, asisten setia mereka, segera masuk dengan sigap.
"Bantu dia menyelesaikan kekacauan ini," titah Raffa, matanya tak lepas dari Arvan. "Sudah kubilang, dia tidak bisa mengurusnya sendirian."
Arvan menggeleng, malas mendengar ceramah kakaknya. "Jika semuanya sudah selesai, langsung berikan laporannya kepadaku. Aku sibuk di rumah sakit hari ini, ini hari pertamaku mengambil alih," jelas Raffa tegas.
"Baik, Tuan. Ada lagi yang bisa saya bantu?" tanya Jeff.
"Hubungi Lian, aku akan segera ke sana sekarang," titah Raffa tanpa ragu.
"Baik, Tuan!" Jeff mengangguk patuh. Raffa kembali memandang Arvan, yang masih asyik dengan pekerjaannya.
"Jangan macam-macam lagi jika tidak ingin aku mengatakan semuanya kepada keluarga kita!" ancam Raffa sebelum berbalik meninggalkan ruangan.
"Sial!" Arvan memukul meja dengan kesal. "Jeff, kenapa kau tidak mengatakan kalau dia sudah kembali!"
"Sejak kemarin saya sudah mencoba menghubungi Anda, tapi Anda tidak menjawab teleponku," jawab Jeff, nadanya penuh penyesalan.
Arvan mendengus, matanya menyipit. "Kenapa dia mengancamku seperti itu?" gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.
"Apa maksud Anda, Tuan?" tanya Jeff, bingung.
"Lupakan saja," ujar Arvan dengan nada dingin. "Segera lakukan perintah bosmu itu!"
Jeff masih tertegun, matanya tak lepas menatap Arvan, apa yang direncanakan oleh pria itu. Dalam hatinya, ia berharap apa yang baru saja ia ketahui hanyalah kekeliruan semata. Kekhawatiran menggerogoti pikirannya, menggumpal menjadi bola kecemasan di perutnya. Jika semua ini benar, badai konflik yang tak terelakkan akan segera pecah antara Raffa dan Arvan. Bayangan pertengkaran itu seolah sudah nyata di pelupuk matanya. Raffa yang biasanya tenang, tidak akan mampu mengendalikan amarahnya jika semua kebenaran ini terungkap dan Jeff tahu ia takkan mampu mencegahnya.