Bab 16: Informasi Tidak Memuaskan

1029 Words
"Ibu, aku pulang ya!" seru Mira dengan nada ceria, namun matanya menghindari pandangan Bu Rima. "Pulang ke mana?" tanya Bu Rima dengan alis yang terangkat. "Ke kosan lah, Bu. Emangnya ke mana lagi," jawab Mira, mencoba menyembunyikan kegugupan dalam suaranya. "Sejak kamu pindah ke kosan, Ibu belum pernah ke sana. Boleh Ibu ikut?" Wajah Mira menegang seketika. Bagaimana mungkin ia bisa menjelaskan semuanya kepada Bu Rima, wanita yang sudah dianggapnya seperti ibu kandung sendiri? "Bu, kamar kosku cuma satu. Ibu mungkin nggak akan nyaman di sana," kilah Mira, mencoba mencari alasan. Mata Bu Rima meneliti wajahnya yang tiba-tiba tampak pucat. "Ibu hanya ingin tahu bagaimana lingkunganmu di sana, pemilik kosnya baik atau tidak, lalu..." "Sebentar lagi Mira harus kerja, Bu. Nanti Mira ke sini lagi ya!" potong Mira buru-buru, membuat Bu Rima menghela nafas panjang. "Ya sudah, hati-hati," ujar Bu Rima, suaranya bergetar sedikit. Mira tersenyum lemah, menganggukkan kepala, lalu pergi menemui Raffa yang sudah menunggunya. "Berapa lama lagi kamu akan menyembunyikan semuanya dari Ibu, Nak?" gumam Bu Rima pelan, tatapannya menerawang, penuh kesedihan yang mendalam. Di tengah perjalanan, Mira hanya terdiam, membuat Raffa yang fokus mengemudi sesekali meliriknya dengan kekhawatiran terselubung. "Mira!" Suara Raffa memecah keheningan, sedikit menggoyahkan Mira dari lamunannya. "Iya, Dokter?" sahut Mira, suaranya nyaris berbisik. "Kenapa melamun?" tanya Raffa, berusaha mencairkan suasana yang membeku. "Aku gak melamun, Dok!" jawab Mira, mencoba menampilkan senyum yang meyakinkan. Raffa tidak terpuaskan, "Gak melamun, tapi dari tadi diam terus." Mira menoleh, menatap Raffa dengan mata yang penuh pertanyaan. "Dokter kenapa sih pakai masker terus? Aku gak nyebarin virus loh, Dok!" Raffa tersenyum di balik maskernya. "Bukan gitu, tapi aku ini sensitif sama hal-hal disekitar, apalagi aku gampang kena alergi kalau kena debu. Kan gak lucu kalau malah aku yang nyebarin virus penyakit ke orang lain." Mira mengernyit, meneliti wajah yang tersembunyi di balik masker itu. "Bukan karena dokter jijik dekat-dekat aku?" tudingnya. "Enggak lah, ngawur aja kamu ini. Masa aku jijik sama kamu," jawab Raffa dengan nada lembut. Mira menunduk, mengingat seseorang. "Ya siapa tau aja, kayak Kak Arvan yang..." Ucapannya terhenti, pandangannya beralih ke luar jendela. "Kenapa?" Raffa penasaran melihat Mira terdiam lama. "Ah... gak apa-apa, Dokter!" jawab Mira dengan senyum canggung, seolah menyembunyikan sesuatu yang berat. Mata Raffa tertumbuk pada gelang di pergelangan tangan Mira, "Gelang kamu bagus!" pujinya, memperhatikan permata merah muda yang berkilauan. "Oh ini," Mira tersenyum tipis, "ini gelang hasil karya anak-anak." Raffa mengerutkan alis, "Masa sih? Tapi kayaknya itu permata mahal dan langka." Mira tertawa kecil, "Ngaco Dokter ini, mana ada permata mahal dan langka. Ini tuh permata mainan yang dirangkai sama anak-anak, terlihat mengkilap karena masih baru." Raffa tersenyum, meski dalam hati ia tahu gelang itu bukan mainan. Gelang itu bisa jadi kunci untuk mengungkap identitas Mira. Ia teringat pembicaraan Bu Rima dan Mira yang ia dengar di balik pintu, suara mereka berbisik namun jelas menyampaikan kerinduan akan keluarga kandung. 'Aku akan berusaha membantu kamu untuk bertemu dengan keluarga kandung kamu, Mira!' Ucap Raffa dalam hatinya, menatap jalan di depan dengan tekad yang menguat. *** "Ada apa, Jeff?" tanya Raffa tajam, di tengah pagi yang sibuk di rumah sakit. Kegelisahan tampak di wajahnya, namun dia berusaha tetap tenang mengingat ia harus mempersiapkan diri untuk operasi yang akan segera dilakukan. Tapi penampilan Jeff yang tergesa-gesa membuat suasana menjadi lebih tegang. "Saya sudah mendapatkan semua informasi tentang pernikahan Tuan Arvan dan Mira!" jawab Jeff dengan napas tersengal. "Lalu?" tanya Raffa, mengangkat alisnya dengan rasa ingin tahu yang mulai tersulut. "Kemarin saya bertemu dengan Amanda, dia mengatakan semuanya kepada saya!" Raffa terdiam, menatap Jeff dengan tatapan tajam seperti pedang yang siap memotong. "Mereka menikah siri karena...," suara Jeff mulai bergetar. "Aku sudah tahu hal itu," potong Raffa dingin, suaranya sangat tidak bersahabat. "Kenapa kau memberiku informasi yang tidak berguna!" makinya, bahkan sebelum Jeff sempat menyelesaikan kalimatnya. "Tuan, Amanda pun tidak tahu apa alasan mereka menikah. Awalnya Mira hanya ingin menolong Eve yang saat itu membutuhkan donor darah, namun tiba-tiba Tuan Arvan malah ingin menikahi Mira!" Jeff mencoba bertahan, menjelaskan apa yang diketahuinya, meskipun ia merasa sedang berjalan di atas tali yang sangat tipis. Raffa menyipitkan matanya, mengamati Jeff seolah-olah mencoba menilai kebenaran dari setiap kata yang keluar dari mulut asistennya. "Jeff, sudah berapa tahun kau bekerja denganku. Apa kau tidak mengerti juga bahwa aku tidak suka pekerjaanmu lambat seperti ini!" Suaranya meninggi, amarahnya semakin nyata. "Maaf, Tuan!" Jeff merasa nyalinya ciut, menyadari bahwa amukan Raffa bisa berakhir buruk untuknya. "Pergilah!" perintah Raffa, suaranya seperti palu yang mengakhiri perdebatan. Jeff bergegas keluar dari ruangan Raffa, meninggalkan aura ketegangan yang menggantung di udara. Raffa berdiri sejenak, merenung. "Rupanya tidak cukup jika hanya mengandalkan Jeff!" gumamnya pelan, sebelum mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang, rencana baru mulai terbentuk dalam benaknya. *** "Kenapa pagi-pagi sudah di kampus?" canda Mira, senyum kecil menghiasi bibirnya saat melihat sahabatnya sudah menunggunya di parkiran. "Setelah kemarin jalan sama Dokter Raffa, kamu sampai lupa sama aku!" keluh Amanda, suaranya penuh kekecewaan. "Jalan?" Mira mengernyitkan dahi, mencoba memahami maksud Amanda. "Iya, kemarin kamu pergi sama Dokter Raffa ke panti, aku sama Bang Ke liat kalian," Amanda menatap Mira tajam, matanya penuh tuduhan. "Oh, itu kebetulan aja. Dokter Raffa juga donatur di panti," kilah Mira, berusaha santai meski hatinya berdebar. "Bukannya lagi PDKT?" Amanda mengangkat alis, menyelidik. "Siapa yang PDKT sama Dokter Raffa? Lagian, mana mungkin dia mau sama...," Mira terhenti, enggan melanjutkan kalimatnya. "Mira, lihat deh!" Amanda memotong dengan tatapan tertuju ke arah gerbang kampus. "Mau nunjukin Eve sama Kak Arvan lagi? Males ah," tolak Mira, merasa muak dengan pemandangan yang sama setiap hari: Arvan mengantar atau menjemput Eve. "Bukan, kamu lihat dulu ke sana!" Amanda mendesak, suaranya semakin menggebu. "Enggak!" Mira berkeras, enggan mengalihkan pandangannya. "Ya ampun, ganteng banget. Ini mah udah kayak malaikat yang turun ke bumi!" Amanda berseru, membuat dahi Mira berkerut. "Kamu lihat apa sih?" tanya Mira, penasaran. "Makanya lihat dulu ke sana. Cewek-cewek lain aja udah pada histeris, masa kamu enggak?" jawab Amanda. Dengan enggan, Mira akhirnya berbalik. Saat matanya menangkap sosok pria di dekat mobil sport mewah, waktu seakan berhenti. Pria itu berdiri dengan gagah, tatapannya tajam menembus kaca mata hitamnya. Ketika dia melepaskannya, mata mereka bertemu dan jantung Mira berdetak lebih kencang, seolah dia pernah bertemu dengan pria itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD