"Eve, lihat! Gila, ganteng banget!" seru Talia, matanya berbinar penuh kekaguman.
"Gue udah punya Arvan, tapi siapa takut? Asal gak ketahuan, boleh lah gue deketin juga!" sahut Eve, matanya terpaku pada pria yang baru tiba itu, pandangannya penuh antusiasme.
"Enak aja, itu buat gue. Gak usah maruk, semua laki-laki lo embat!" gerutu Talia, wajahnya cemberut.
'Kayaknya dia bukan orang sembarangan,' pikir Eve, jantungnya berdegup lebih cepat.
Pria yang baru datang itu memang mencuri perhatian. Mahasiswa-mahasiswa di kampus ternama itu tak bisa mengalihkan pandangan. Bagaimana tidak, dia tiba dengan mobil sport mewah limited edition, mengenakan pakaian dari brand ternama, jam tangan berkilauan, dan sepatu yang harganya jelas tak terjangkau oleh kantong kebanyakan orang.
"Mir, kayaknya dia ngeliatin kamu deh," bisik Amanda, mata Mira tetap terpaku pada pria itu yang kini juga menatapnya.
"Mira!" Amanda mengguncang bahunya.
"I-iya, kenapa?" Mira tergagap, wajahnya memerah.
"Dia..." Sebelum Amanda sempat melanjutkan, pria itu sudah berjalan mendekati mereka.
"Aaa dia nyamperin kita!" Talia nyaris melompat, berharap pria itu menghampirinya dan Eve. Namun, dia malah menuju ke Mira dan Amanda.
"Kenapa cewek gendut itu yang dia samperin?" sungut Talia, nada suaranya penuh rasa tak terima.
"Maaf, ruang dekan di mana?" tanya pria itu dengan suara baritonnya, mata tajamnya menyapu wajah Mira.
"Di-di sana, Kak!" jawab Amanda gugup, matanya tak bisa berpaling dari pria itu.
"Oke, terima kasih!" Pria itu tersenyum tipis, membuat jantung Amanda berdegup lebih kencang. Dia kembali menatap Mira yang masih membeku di tempatnya, merasakan getaran aneh di hatinya.
"Ngomong-ngomong, nama kalian siapa?" tanyanya lagi, kali ini dengan nada lebih santai.
"Amanda," jawab Amanda sambil mengulurkan tangannya.
"Lo?" Pria itu menatap Mira, menunggu jawaban.
"Mir!" Amanda menyikut Mira, membangunkannya dari lamunan.
"Kenapa?" tanya Mira, tersadar.
"Tuh, ditanya namanya siapa," jawab Amanda dengan senyum lebar.
"Oh, saya Amira, panggil aja Mira," jawab Mira sambil berjabatan tangan dengan pria itu.
"Zeil," pria itu memperkenalkan diri, senyum tipisnya membuat hati Mira berdebar. Seakan Mira sudah mengenal lama pria itu, tapi dia benar-benar tidak tau siapa dia.
"Salam kenal, Kak Zeil!" ucap Amanda, sementara Mira hanya tersenyum canggung.
"Gue ke ruang dekan dulu, lain kali kita ngobrol lagi," kata Zeil sebelum beranjak.
"Oke, Kak!" jawab Amanda, sementara Mira hanya bisa tersenyum tipis, matanya tak bisa lepas dari sosok Zeil yang semakin menjauh.
"Heh, gendut! Apa-apaan lo cari perhatian sama cowok gue?!" seru Talia, suaranya melengking hingga Amanda menjauhkan telinganya dari suara Talia yang membuatnya risih.
Mira mengangkat alis, terkejut. Amanda, di sampingnya, menatap Talia dengan tatapan bingung.
"Siapa cowok lo?" Amanda bertanya, suaranya tenang namun penuh tantangan.
"Yang barusan, dia itu udah gue paten. Jadi jangan tebar pesona sama dia!" Talia menjawab dengan penuh kebanggaan, seakan dia sudah memiliki hak penuh atas pria tersebut.
Amanda tertawa kecil, sinis. "Nama cowok itu siapa?"
Talia terdiam sejenak, mukanya memerah. "Ya, ya sekarang gue belum tau. Tapi, sebentar lagi dia pasti deketin gue, secara gue dan Eve kan primadona kampus," jawabnya dengan percaya diri yang palsu.
Amanda memutar mata, berpura-pura muntah. "Huweeek, pengen muntah gue dengernya!"
Tiba-tiba, Eve maju. "Kamu jangan macam-macam ya, Mira. Aku bakalan bilang ke Arvan kalau kamu...," ancamnya, tapi Mira memotongnya.
"Katakan apapun yang mau kamu katakan sama Kak Arvan, aku tidak peduli. Lagipula sejak kapan Kak Arvan peduli sama aku?" kata Mira, suaranya dingin dan tajam.
Eve terkejut, namun tidak mau kalah. "Oh jadi kamu gak takut kalau aku bilang ke Arvan bahwa kamu selingkuh?"
Mira tertawa, mengejek. "Aku selingkuh? Bukannya selama ini Kak Arvan yang selingkuh sama perempuan murahan kayak kamu?"
Wajah Eve memerah marah. Dia mengangkat tangannya, hendak menampar Mira, tapi Mira dengan cepat menahan tangan Eve.
"Satu tamparan akan aku balas dua tamparan, dan kamu ingat baik-baik. Mulai hari ini, aku tidak akan mendonorkan darah lagi untukmu. Sudah cukup selama ini kamu dan Kak Arvan hanya memanfaatkan aku!" Mira melempar tangan Eve dengan kuat, membuat gadis itu terhuyung hampir terjatuh.
"Berani sekali kamu memperlakukan aku seperti ini!" jerit Eve, wajahnya penuh kebencian.
"Tentu, memangnya kenapa aku harus takut?" tanya Mira, tatapannya penuh ketegasan.
"Aku akan adukan semua perbuatanmu kepada Arvan!" ancam Eve lagi.
Mira tersenyum dingin. "Bagus, katakan saja kepada dia bahwa aku sudah menganiaya kamu, agar aku lebih mudah bercerai dengan dia!" Setelah berkata demikian, Mira berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Eve dan Talia yang termangu.
"Lagi sekarat aja belagu!" Amanda mengejek dengan senyum sinis, kemudian berlari menyusul Mira.
"Sial!" maki Eve, wajahnya semakin merah karena marah.
Talia, yang masih bingung, bertanya, "Emangnya lo sakit apa sampai lo butuh donor darah dari Mira?"
Eve menggeram, "Bukan apa-apa!" Tapi jelas terlihat dia masih marah karena ancamannya tidak dihiraukan.
"Mira!" panggil Amanda, suaranya melengking di tengah keheningan kelas yang dipenuhi suara pengetikan.
"Hmm?" gumam Mira tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
"Liat sini, dong!" seru Amanda, nada cemas dan tak sabar melingkupi setiap kata.
Mira hanya menoleh sejenak, lalu berbisik, "Jangan ngobrol dulu, nanti dimarahin dosen!" Amanda memanyunkan bibir, merasa frustasi.
"Pulang kuliah kita langsung ke kafe!" ucap Amanda dengan penuh semangat.
"Biasanya juga gitu!" Mira tetap fokus pada pekerjaannya, tak tergerak sedikitpun oleh ajakan Amanda. Amanda menghela nafas panjang, rasa tak sabar merayap di dalam dirinya.
Tiga puluh menit yang terasa seperti seabad berlalu. Begitu dosen melangkah keluar, Amanda segera merapikan bukunya, menarik tangan Mira tanpa ampun.
"Tunggu dulu, Manda. Kenapa gak sabaran banget sih!" gerutu Mira, mencoba mengimbangi langkah sahabatnya yang hampir berlari.
"Kita harus cepat-cepat ke kafe. Ada yang mau aku omongin sama kamu!" desak Amanda, matanya bersinar dengan kegelisahan.
"Soal apa?" tanya Mira.
"Banyak. Jangan banyak tanya, cepet masuk mobil!" perintah Amanda. Mira menghela nafas panjang, masuk ke mobil Amanda tanpa menyadari gelang yang dia pakai terjatuh saat tangannya ditarik.
Di kafe, mereka langsung menuju ruangan khusus, tempat mereka biasa berbagi cerita.
"Duduk!" titah Amanda, suaranya mengandung nada otoritas yang tak biasa. Mira menuruti, duduk dengan tatapan bingung.
"Sampai kapan kamu kayak gini?" Amanda menatap tajam, matanya berkilat dengan emosi yang tak tertahankan.
"Maksudnya?" tanya Mira, keningnya berkerut dalam ketidakmengertian.
"Kalau kamu gak mau cerita semuanya sama aku, persahabatan kita selesai!" Amanda mengucapkan ancamannya dengan tegas. Mira terkejut, dadanya berdegup kencang. Apa yang sebenarnya terjadi dengan sahabatnya ini?