Bab 18: Amarah Mira

1063 Words
Amanda mengerutkan keningnya dan memandangi Mira dengan tatapan tajam. "Kamu malu ya temenan sama aku, jadi..." "Mira!" bentaknya, penuh kekecewaan yang tak bisa ditahan lagi. Mira menunduk, matanya berkaca-kaca, seakan mencari kata-kata yang tepat. "Buat apa kita sahabatan kalau kamu gak terbuka sama sekali sama aku? Selama ini kamu gak anggap aku sahabat. Sahabat itu biasanya berbagi banyak hal bersama, tapi kamu malah menyembunyikan semuanya dari aku!" "Sorry!" Mira menjawab dengan suara lirih, nyaris tak terdengar. Amanda, dengan tangan gemetar, mengeluarkan ponselnya dan menyalakan perekam suara tanpa sepengetahuan Mira. "Jadi?" tanyanya tajam. Mira menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya mengungkapkan rahasia yang selama ini disembunyikannya. "Aku mau menikah dengan Kak Arvan karena aku menyukainya sejak kecil," ucapannya membuat dahi Amanda berkerut, mencoba mencerna kenyataan yang baru saja terungkap. "Aku dan Kak Arvan berteman sejak kecil karena keluarganya menjadi salah satu donatur besar di panti. Bahkan sampai sekarang..." Mira melanjutkan ceritanya, mengingat kembali masa-masa saat Arvan tiba-tiba pergi tanpa pamit, lalu dia kembali dengan Eve di sisinya. "Jadi, menurut kamu, dia Arvan yang kamu kenal sejak kecil?" tanya Amanda, matanya menyipit menahan amarah. "Iya, dia memang Kak Arvan. Tapi, dia benar-benar berubah. Dulu dia sangat peduli sama aku, tapi sekarang..." Mira menghela napas panjang, rasa sakit di hatinya terasa semakin dalam. "Apa karena Eve yang membuat Arvan berubah?" desak Amanda. "Mungkin. Dia bertemu dengan Eve lebih dulu, jadi dia melupakan aku," jawab Mira, suaranya terdengar semakin lemah. "Lalu kenapa kamu masih bertahan sama dia?" tanya Amanda dengan nada frustrasi. "Semenjak aku dirawat kemarin, aku sedang mencari cara agar aku bisa bercerai dengan Kak Arvan," jawab Mira. Amanda bergumam, "Kayaknya aku ragu deh Eve mengidap penyakit talasemia." "Aku juga mulai ragu sama dia, soalnya keadaan dia kayak gitu cuma di saat-saat tertentu," sahut Mira. "Kita bongkar kebohongan siluman vampir itu, Mir!" seru Amanda dengan bersemangat, matanya berkilat-kilat. "Harus," sahut Mira dengan tegas. Amanda menatap Mira dalam-dalam, mencoba memahami setiap kata yang keluar dari bibir sahabatnya. "Aku mau tanya satu hal lagi sama kamu," ujarnya pelan. "Soal apa?" tanya Mira. "Kalau misalnya ada pria yang mencoba mendekati kamu apa kamu mau terima dia?" tanya Amanda. "Kamu tanya kayak gini pasti disuruh sama Kak Kean," tuding Mira, namun Amanda segera mengibaskan tangannya dengan ribut. "Enggak, Bang Ke gak nyuruh aku tanya kayak gini sama kamu," jawab Amanda. "Aku pikir kamu disuruh Kak Kean," gumam Mira. "Ya walau sebenarnya aku juga mau kamu jadi kakak ipar aku, tapi aku lebih kasihan kamu menghadapi kelakuan abang aku yang rese itu!" Amanda mencoba menyunggingkan senyum, namun senyumnya tak sampai ke mata. Mira tertawa kecil mendengar ucapan Amanda, tapi tawa itu cepat lenyap. "Kamu ini beruntung punya kakak, sedangkan aku? Keluarga aja gak tau malah aku sengaja dibuang!" ucapannya begitu getir, membuat Amanda terperanjat. "Emangnya anak kucing main buang-buang aja!" seru Amanda, matanya membulat karena kaget. "Memang kenyataanya begitu. Tiga hari yang lalu Bu Rima menjelaskan semuanya sama aku," lirih Mira, air matanya mulai mengalir. Amanda beralih duduk di samping Mira, menggenggam tangan sahabatnya erat-erat. "Mir..." "Udah lah, aku gak mau ingat-ingat lagi soal itu. Mungkin kalau orang tua aku gak buang aku di panti, aku gak akan ketemu sama Kak Arvan dan..." Mira menghentikan ucapannya, menelan ludah pahit. "Kamu cinta sama Arvan, Mir?" tanya Amanda, namun Mira hanya terdiam. "Jawab aja, gak usah sungkan," lanjut Amanda, menunggu dengan sabar. "Aku cinta Kak Arvan yang dulu, yang aku kenal sejak kecil. Orang pertama yang memberi aku coklat dikala aku sedih ketika aku dibully, bukan Kak Arvan yang sekarang. Aku berharap bahwa Kak Arvan yang sekarang menjadi suamiku bukan Kak Arvan yang dulu agar aku tidak membenci sosok Kak Arvan yang aku kagumi sejak kecil," jawab Mira dengan mata berkaca-kaca. "Ini alasanku menolak Kak Kean. Aku belum benar-benar selesai dengan masa laluku dan aku tahu rasanya memiliki tapi tidak dicintai itu sakit. Aku gak mau melakukan itu sama Kak Kean karena hati aku masih terbelenggu dengan Kak Arvan yang dulu," lanjut Mira, suaranya semakin lemah. Amanda menggenggam tangan Mira lebih erat. "Iya, Mir. Aku ngerti." Ucap Amanda sambil tersenyum. "Aku dukung apapun keputusan kamu." "Terima kasih," sahut Mira, matanya mulai kembali berbinar. "Masih mau jadi sahabat terbaik aku kan?" tanya Mira dengan harap-harap cemas. "Tentu," jawab Amanda, lalu memeluk sahabatnya erat-erat. Keduanya berharap persahabatan mereka akan semakin erat dan tak terpisahkan. *** Jam sebelas malam, Mira melangkah masuk ke apartemen Arvan. Kegelapan pekat menyambutnya, seolah menyembunyikan sesuatu di balik bayangan. Dia tahu betul, Arvan tidak pulang—pasti kembali menginap di apartemen Eve. Dengan tangan gemetar, Mira meraba-raba dinding mencari saklar lampu. Begitu lampu menyala, dia tersentak. Di ambang pintu kamar, Arvan berdiri dengan tatapan dingin dan tajam menusuk. "Beberapa hari ini kamu sering berangkat pagi sekali dan pulang larut malam!" seru Arvan, matanya seperti bara yang siap menyulut api. "Aku banyak pekerjaan dan sedang banyak tugas kuliah," jawab Mira sambil meletakkan tas di atas meja. Tanpa menoleh lagi, dia berjalan menuju dapur, mengambil segelas air untuk menenangkan diri. "Bukan pergi kencan dengan seorang pria?" tuding Arvan dengan nada mengejek. "Bukan urusan, Kakak," sahut Mira dingin, enggan meladeni. "Aku ini suami kamu, Mira. Jadi—" "Suami?" Mira tertawa sinis, suara tawanya memecah kesunyian yang menyesakkan. "Kakak salah minum obat?" ejeknya, nadanya penuh kebencian. "Mira!" Arvan mulai geram, wajahnya memerah. "Kenapa Kakak marah? Bukankah selama ini Kakak tidak pernah menganggap aku sebagai istri? Hanya aku yang menganggap pernikahan ini serius, hanya aku yang berusaha memenuhi kewajibanku sebagai istri, sementara Kakak tidak pernah memperlakukan aku dengan baik," suaranya bergetar, mencoba menahan perasaan yang semakin memuncak. "Aku tidak suka kamu melanggar aturanku!" teriak Arvan. "Kakak tidak suka ketika aku melanggar aturan Kakak, tapi Kakak bersikap seenaknya sama aku. Apa itu adil?" Mira tak mampu lagi menahan amarahnya, suara teriakannya menggema di ruangan. "Aku selalu berusaha memenuhi semua kewajibanku sebagai istri. Apa Kakak sudah memberikan hakku sebagai istri, selain tempat tinggal yang seperti penjara ini? Apa Kakak memberikan nafkah lahir dan batin untukku?" Mira semakin berapi-api, matanya berkaca-kaca. "Tidak sama sekali, Kak!" bentaknya, membuat Arvan terdiam. "Aku tidak masalah Kakak belum bisa memberikan nafkah lahir dan batin untukku. Tapi aku hanya mengharapkan sikap baik dari Kakak. Sedikit saja, Kak," lanjut Mira, suaranya mulai melemah diiringi isak tangisnya. "Jika itu yang kamu mau, aku akan memberikan uang untuk—" "AKU GAK BUTUH UANG KAKAK!" teriak Mira, lalu mengambil dompet dari tasnya dan melemparkan uang itu ke arah Arvan, uang kertas beterbangan, melambangkan hancurnya harapan dan kepercayaannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD