"Dokter Raffa!"
Suara lantang itu membuat Raffa terperanjat, sejenak terlepas dari konsentrasi pada laporan yang sedang dibacanya. Ia melirik asistennya, Lian, dengan tatapan kosong.
"Apakah ada yang kurang jelas dengan laporan ini, Dok?" tanya Lian, namun Raffa tak menanggapi. Ia menarik kembali masker medisnya, dan segera melangkah menuju Amanda dan Kean yang sedang berbicara dengan seorang perawat.
"Aduh, Suster, kenapa tanya-tanyanya gak nanti aja? Teman saya sudah gak sadar diri!" Amanda geram, wajahnya memerah.
"Teman Anda sudah ditangani di dalam, Mbak. Tapi saya perlu data pasien untuk keperluan administrasi dan ..."
"Saya sudah bilang, namanya Almira Putri Zalea. Data lainnya ada di tasnya. Kami buru-buru ke sini, jadi gak sempat ambil barang dia!" Amanda memotong, suaranya meninggi.
Raffa mengamati Amanda dengan tatapan tajam sebelum mengarahkan pandangannya ke pintu ruang UGD yang masih terbuka. Tanpa banyak bicara, ia melangkah masuk.
"Dokter!" panggil perawat, tapi Raffa tak menghiraukan.
"Tangani dulu keadaan pasien, baru minta keluarganya urus administrasi!" perintah Raffa dengan nada tegas, wajahnya mengeras.
Saat Raffa mendekati Mira, ia tertegun melihat wajah pucat gadis itu. "Kenapa dia pucat sekali?" tanyanya pada perawat yang baru saja mengecek tekanan darah Mira.
"Tekanan darahnya sangat rendah, Dok!" jawab perawat.
"Segera pasang infus dan lakukan tes hemoglobin!" seru Raffa, kini sibuk memeriksa Mira.
"Denyut nadinya sangat lemah," gumam Raffa, cemas. "Berapa Hb-nya?"
"Hanya 5mg/dl, Dok." Raffa tersentak mendengar jawaban itu.
"Astaghfirullah, segera lakukan transfusi!" titah Raffa.
"Tapi, stok darah golongan B positif tidak ada, Dok!" ucap perawat.
"Hubungi PMI dan keluarganya. Cari yang golongan darahnya sama!" perintah Raffa.
"Baik, Dokter!" Perawat itu buru-buru keluar dari ruang UGD.
Raffa menatap lekat wajah Mira, penuh pertanyaan. "Kenapa bisa seperti ini," gumamnya.
"Dokter!" Amanda dan Kean tiba-tiba masuk, wajah mereka cemas.
"Kata suster, teman saya butuh donor darah?" tanya Amanda.
"Kalian siapanya pasien?" tanya Raffa.
"Sahabat, Dok. Dia gak punya keluarga, tinggal di panti asuhan!" jawab Amanda.
Deg. Jantung Raffa berdetak kencang, firasatnya benar. "Dia tinggal di panti?" tanyanya lagi.
"Iya, Dok. Sekarang dia tinggal di apartemen lelaki sialan itu!" Amanda menggeram kesal.
"Eh... maaf, Dok. Maksud saya, sekarang dia tinggal di apartemen, tapi sering dipaksa jadi pendonor buat si vampire!" Raffa makin bingung.
"Dek, jelasin yang bener biar dokternya gak bingung," tegur Kean.
Amanda menarik napas dalam-dalam, matanya memandang sendu Mira yang masih tak sadar. "Sahabat saya ini selalu dipaksa jadi pendonor darah untuk perempuan bernama Eve. Katanya punya penyakit talasemia jadi butuh donor seumur hidup!"
"Saya tahu soal itu. Tidak masalah jadi pendonor, tapi harus memperhatikan kesehatan dan jangka waktu, minimal tiga bulan sekali," jelas Raffa.
"Masalahnya, dia terlalu sering donor darah, belum dua bulan sudah diminta lagi," lanjut Amanda.
"Pantas saja. Setelah ini, dia tidak bisa jadi pendonor lagi," gumam Raffa, menatap Mira dengan perasaan campur aduk.
"Dek, antar Abang temuin pria sialan itu. Dia harus berhenti memaksa Mira jadi pendonor!" seru Kean.
"Kita bahas nanti, Bang. Sekarang biarin Mira sembuh dulu, kita gak bisa ikut campur urusan rumah tangga Mira!" Amanda mencoba meredam situasi, tapi ucapan itu membuat Raffa terkejut.
"Teman Anda sudah menikah?" tanya Raffa, penasaran.
"Sudah, Dok. Tapi, gak ada yang tahu soal pernikahannya termasuk keluarga suaminya," jawab Amanda.
Raffa terdiam, mencoba mencerna informasi. "Maaf, Dok, gak seharusnya saya cerita masalah pribadi sahabat saya, tapi saya gak mau dia terus seperti ini," ujar Amanda, matanya sudah berkaca-kaca.
"Tak apa. Saya akan kembali jika suster sudah mendapatkan donor darah untuk sahabat Anda," ucap Raffa, berusaha menenangkan dirinya yang sudah dikuasai emosi karena informasi yang ia dapat dari Amanda.
"Baik, Dok," sahut Amanda, lemah.
Raffa keluar dari ruang UGD dengan wajah marah, tangannya terkepal erat. Di benaknya, berbagai pikiran berputar, semakin besar rasa penasarannya kepada gadis yang baru saja dia tangani. Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Jeff tidak melaporkan apa-apa kepadanya sejak kemarin. Pria itu hanya mengatakan bahwa gadisnya sering pergi dengan sang adik.
Amanda berdiri di sisi tempat tidur rumah sakit dengan tatapan penuh duka, matanya tak lepas dari wajah pucat Mira yang terbaring tak sadarkan diri. "Wajahnya Mira pucat banget, Bang," bisiknya dengan suara yang hampir tak terdengar.
Kean mengangguk, matanya yang biasanya penuh semangat kini terlihat suram. "Iya, pantas aja dari kemarin Abang lihat dia pucat. Andai golongan darah Abang sama," jawabnya dengan nada putus asa, menatap iba ke arah gadis yang sudah lama dia kagumi.
Amanda menghela napas panjang, kegelisahan jelas terpancar dari wajahnya. "Kalau golongan darah aku juga sama, kita nggak perlu cari pendonor lain," keluhnya pelan.
Suasana hening sejenak, hanya suara monitor yang mengukur detak jantung Mira yang terdengar. Lalu, seorang suster masuk ke ruangan dengan langkah cepat, membawa Mira ke ruang perawatan intensif.
"Apa masih belum ada pendonor, Sus?" Amanda bertanya dengan nada cemas begitu mereka tiba di ruang perawatan.
Suster itu menatap Amanda dan Kean dengan wajah serius. "Kami sudah menghubungi PMI, tetapi golongan darah B positif hanya ada satu kantong darah. Sedangkan pasien membutuhkan dua hingga tiga kantong darah."
Kata-kata itu seperti petir di siang bolong bagi Amanda dan Kean. Keheningan menyelimuti ruangan, hanya suara mesin-mesin medis yang terdengar.
"Bang, gimana kalau nggak ada lagi darah buat Mira?" suara Amanda bergetar, penuh kekhawatiran yang tak mampu ia sembunyikan.
Kean menatap adiknya dengan tatapan tegas. "Jangan ngomong gitu, Dek. Mira pasti dapat donor darah lagi. Abang akan coba hubungi teman-teman Abang, siapa tahu ada yang punya golongan darah sama."
Amanda hanya bisa mengangguk pelan, berharap ada secercah harapan. "Semoga, Bang," bisiknya, matanya tak lepas dari Mira yang kini sedang dipasangkan alat transfusi darah oleh suster.
Kean segera mengeluarkan ponselnya, jemarinya lincah mengetik pesan kepada teman-teman dan para pekerja di rumahnya. Setiap panggilan telepon, setiap pesan yang dikirimnya membawa harapan baru, meskipun kecil. Ia bahkan rela menawarkan imbalan kepada siapa pun yang bersedia menjadi pendonor bagi Mira.
Keheningan ruangan itu terasa semakin mencekam, namun di tengah kegelisahan itu, terselip secuil harapan. Harapan yang menggantung di antara doa-doa Amanda dan Kean, serta perjuangan mereka untuk membuat Mira segera sadar dan sembuh.
Tatapan Amanda berkilat penuh harap. "Dapat, Bang?" tanyanya, suaranya hampir berbisik, namun tak bisa menyembunyikan ketegangan yang membungkus setiap kata.
Kean menelan ludah, menatap adiknya dalam-dalam. "Abang belum tahu, tapi ada empat orang teman Abang yang bersedia cek darah dan jadi pendonor. Semoga golongan darah mereka cocok," jawabnya dengan nada yang berusaha terdengar tenang, meski hatinya gelisah.
Mata Amanda melirik ke arah Mira yang terbaring lemah. "Jangan bilang ke Mira soal tadi aku cerita masalah Mira dengan suaminya ke Abang dan dokter," bisiknya. Kean menghela napas panjang, merasakan beban yang tak kasat mata menekan dadanya.
"Waktu Abang dengar semua itu, Abang mau langsung datangi mereka dan hajar habis lelaki sialan itu!" geram Kean, amarahnya membara di ujung suara.
"Jangan, Bang!" Amanda memohon dengan suara bergetar, matanya kembali menatap iba ke arah Mira. "Kalau Abang benar-benar menemui mereka dan membuat masalah, aku takut mereka mencelakai Mira. Selama ini hubungan Mira dan Arvan memang nggak baik."
Kean mengepalkan tangan, merasakan cemburu yang menggerogoti hatinya. "Abang pengen tahu kenapa Mira mau aja menikah sama laki-laki seperti itu!" serunya, tak bisa menyembunyikan rasa sakit yang tersembunyi di balik amarahnya. Sesuatu dalam dirinya meronta, ingin memahami, ingin melindungi, tapi yang ia temukan hanya kebingungan dan rasa sakit yang Mira rasakan.