BRAK!
Pintu ruangan terbuka lebar dengan suara dentuman keras, membuat Lian yang sedang sibuk di dalamnya tersentak kaget. Raffa, dengan wajah memerah dan napas memburu, berdiri di ambang pintu.
"Ada apa, Dokter?" tanya Lian, kebingungan melihat raut marah di wajah atasannya.
Raffa mengabaikan pertanyaan Lian, langsung merogoh saku untuk mengeluarkan ponselnya. Dia menekan tombol dengan cepat dan menempelkan ponsel ke telinga. Ketika sambungan terhubung, suaranya terdengar penuh ancaman.
"Jeff, kalau dalam sepuluh menit kau tidak sampai di sini, hidupmu selesai!" teriaknya penuh amarah.
Tanpa menunggu jawaban, Raffa memutus sambungan dan berbalik menatap Lian dengan tatapan membara. "Panggil Suster Fina!" perintahnya.
Lian, tanpa banyak kata, segera bergegas keluar mencari suster yang dimaksud. Waktu berlalu terasa lambat dalam ketegangan yang mencekam. Sepuluh menit kemudian, Lian kembali dengan Suster Fina yang mengikuti di belakangnya dengan langkah cepat.
"Sudah dapat donor?" tanya Raffa langsung, suaranya dingin dan tegas.
Suster Fina mengangguk kecil, wajahnya tampak tegang. "Hanya satu kantong, Dok," jawabnya dengan nada penuh kekhawatiran.
Raffa menggeram. "Kenapa tidak dicari lagi!" bentaknya, membuat Lian dan Suster Fina terlonjak kaget.
"Saya sudah memeriksa beberapa orang, Dok. Tapi hasilnya tidak cocok. Bahkan kedua sahabat Mbak Mira menghubungi beberapa teman mereka juga, namun golongan darah mereka belum ada yang sama!" jawab Suster Fina dengan nada bergetar.
Raffa mengusap wajahnya kasar, frustasi. Andaikan golongan darahnya cocok, dia pasti mendonorkannya untuk Mira tanpa ragu.
"Lian, apa golongan darahmu?" tanya Raffa dengan suara bergetar.
"A positif, Dok," jawab Lian, nada suaranya penuh kepasrahan.
Raffa menarik napas dalam-dalam, lalu tiba-tiba Jeff muncul di pintu. "Tuan, ada apa..."
Belum sempat Jeff menyelesaikan kalimatnya, Raffa sudah meninju wajahnya dua kali. Dengan tangan kuat, Raffa mencengkeram kerah kemeja Jeff dan menariknya mendekat.
"Kenapa kau tidak mengatakan apa-apa kepadaku, bodoh!" raung Raffa.
Jeff, terkejut dan kebingungan, mencoba meraih tangan Raffa. "Apa maksud Anda, Tuan?" tanyanya, panik.
"Kau masih pura-pura tidak mengerti, huh!" maki Raffa, mencengkram kerah Jeff semakin erat.
Lian dan Suster Fina hanya bisa berdiri terpaku, menyaksikan amarah Raffa yang membara. Ini adalah hari pertama Raffa mengambil alih kepemimpinan di rumah sakit besar itu setelah ayahnya pensiun, dan mereka kini melihat sisi lain dari Raffa yang belum pernah mereka saksikan.
"Katakan dengan benar, apa gadisku menikah dengan Arvan!" teriak Raffa.
Jeff mengangguk gemetar. "A-anda sudah tahu, Tuan?"
Jawaban Jeff hanya membuat amarah Raffa semakin memuncak. "Sialan kau, Jeff. Kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal," makinya lagi, memukul Jeff hingga wajahnya babak belur.
"Selama ini apa saja yang kau lakukan, huh? Aku memintamu untuk terus mengawasi gadisku, tapi kau membiarkan dia menikah dengan Arvan!" suara Raffa menggelegar, membiarkan amarahnya menguasai dirinya.
Ketegangan terus membara di ruangan itu, menunggu keputusan apa yang akan diambil Raffa selanjutnya.
Raffa menghempaskan Jeff hingga hampir terjerembab. Jeff terbatuk keras, berusaha menghirup udara yang tiba-tiba terasa begitu langka saat Raffa mencengkeram erat kerah kemejanya.
“Cek golongan darahnya!” perintah Raffa tajam kepada Suster Fina, nadanya seperti cambuk yang menghujam.
“Ba-baik, Dok!” jawab Suster Fina tergagap, masih terguncang oleh ketegangan di ruangan itu.
"Jika darahmu bisa menyelamatkan nyawa gadisku, kau selamat, Jeff!" kata-kata Raffa bagai bilah pedang yang menebas keberanian Jeff, membuatnya menelan ludah dengan susah payah.
Jeff hanya bisa pasrah, merasakan penyesalan yang terlambat menggerogoti hatinya. Ia tahu, kesalahan besar telah ia perbuat dengan menunda kebenaran dari Raffa selama ini.
“Mari ikut saya, Mas,” ajak Suster Fina, nadanya lebih lembut, tetapi tetap tegas.
Dengan langkah berat, Jeff mengikuti Suster Fina, berharap darahnya sesuai dengan Mira agar bisa terhindar dari hukuman Raffa yang tak terelakkan.
“Pergi ke bagian administrasi, bebaskan semua biaya pengobatan untuk pasien bernama Almira Putri Zalea!” Raffa berteriak kepada Lian, suaranya bergetar oleh emosi yang meluap.
“Baik, Dok!” Lian segera bergegas keluar, tak ingin memperpanjang ketegangan.
Raffa mengepalkan tangannya erat, kemarahan mendidih dalam dirinya. “Arvan!” gumamnya penuh amarah, tetapi ia tahu saat ini prioritasnya adalah memastikan keadaan Mira.
Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri sebelum melangkah cepat kembali ke ruang perawatan. Di dalam sana, Mira berbaring tak berdaya, dan Raffa harus tetap tenang untuk mengontrol emosinya. Hanya dengan cara itu ia bisa terus memantau keadaan gadisnya.
"Dokter!" Amanda langsung berlari menghampiri Raffa dengan wajah pucat dan mata penuh kecemasan.
"Kenapa teman saya belum juga sadar, Dok?" tanyanya dengan suara gemetar, hampir tidak dapat menahan air mata.
"Mira sangat lemah, itulah yang membuatnya belum juga sadar. Saya akan kembali memeriksa keadaannya," jawab Raffa dengan tenang yang sudah menggunakan masker medisnya. Wajahnya terlihat tegas namun penuh kekhawatiran.
"Dari tadi belum ada golongan darah yang cocok, Dok," ujar Amanda dengan nada putus asa.
"Saya tahu!" jawab Raffa singkat. Fokusnya sepenuhnya tertuju pada Mira yang terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit.
"Tekanan darahnya masih rendah, Dok," tambah Suster Fina, suaranya terdengar cemas.
"Bagaimana dengan golongan darah, Jeff?" tanya Raffa, menoleh ke arah asistennya.
"Cocok, Dok." Raffa menghela napas lega. Setidaknya, dua kantong darah ini bisa membuat keadaan Mira sedikit membaik.
"Setelah transfusi pertama selesai, cek lagi hemoglobinnya!" titah Raffa, suaranya tegas dan penuh otoritas.
"Baik, Dok!" sahut Suster Fina sebelum bergegas keluar ruangan.
Raffa masih terdiam, memandang wajah pucat Mira dengan tatapan penuh kenangan. Gadis itu, yang selalu ceria meski sering dibully karena tubuhnya yang gemuk. Gadis yang telah mencuri hatinya sejak mereka kecil. Gadis yang dia temui ketika orang tuanya mengajak dia ke panti asuhan bertahun-tahun lalu.
"Maaf," bisiknya, hampir tak terdengar, tangannya menyentuh lembut rambut Mira. Perasaan bersalah dan cinta bercampur aduk dalam dirinya, membuat hatinya terasa berat.
Waktu seolah berhenti saat Raffa berdiri di samping Mira. Setiap detik terasa seperti selamanya, menunggu keajaiban yang mungkin datang. Dalam hening itu, hanya suara mesin medis yang terdengar, berirama seperti doa tanpa kata.
"Dok!" Raffa tersentak saat Amanda menerobos masuk ke ruangan, membuatnya cepat-cepat menarik tangannya dari kepala Mira yang tengah ia belai lembut.
"Kenapa?" Raffa bertanya dengan nada datar, namun ada kilatan gelisah di matanya.
"Apa maksud Dokter tanya kenapa? Seharusnya saya yang bertanya bagaimana keadaan teman saya," balas Amanda, bingung dengan sikap Raffa.
Raffa menghela nafas panjang, pikirannya terhimpit oleh kekhawatiran pada kondisi Mira yang memburuk.
"Semoga setelah transfusi, keadaannya membaik," jawab Raffa, suaranya terdengar lelah.
"Semoga saja, kasihan dia, Dok," bisik Amanda, matanya menatap lirih pada Mira yang terbaring lemah.
"Kamu sudah lama berteman dengan dia?" tanya Raffa, mencoba mengalihkan perhatian.
"Sudah, sejak kami SMA," jawab Amanda, suaranya dipenuhi kenangan.
"Jadi, kamu tahu segala hal tentang dia?" Raffa menatap Amanda dengan intens, keningnya berkerut mendengar pertanyaan itu.
"Maaf, kenapa Dokter tanya hal pribadi seperti itu?" Amanda merasa tak nyaman, ada sesuatu yang aneh dari cara Raffa bertanya.
Raffa mengalihkan pandangannya, gugup terlihat jelas di wajahnya. "Saya hanya ingin tahu seperti apa pertemanan kalian," katanya berusaha santai.
"Oh," Amanda menanggapi singkat, mencoba memahami maksud tersembunyi di balik pertanyaan itu.
"Semoga sebentar lagi teman Anda sadar," ucap Raffa, suaranya bergetar sedikit.
"Semoga, Dok," jawab Amanda pelan, matanya tak lepas dari wajah pucat Mira.
Raffa keluar dari ruangan, menuju tempat Jeff yang masih menjalani proses pengambilan darah. Wajahnya serius, pikirannya terfokus pada hal yang harus segera ia selesaikan.
"Setelah ini, kita harus bicara, Jeff," kata Raffa dengan nada tajam, membuat Jeff terdiam dan hanya bisa menurut pada instruksi Raffa. Jeff menyadari suatu yang lebih besar sedang terjadi, dan dia sangat yakin itu tidak akan baik untuknya.