Ini hari terbaik dalam hidupnya, bagaimana bisa takdir mereka sebaik itu padanya, bisa berduaan seperti ini. Ahh! Yura merasa bersalah sejujurnya dengan Dimas. tapi memang mau bagaimana pun itu, diantara ia dan Dimas belum terjadi apa-apa. Ia pernah sekamar dengan lelaki itu namun dengan baik lelaki itu menjaganya.
Mungkin berciuman sudah mereka lakukan, namun enggan menyentuhnya lebih dalam.
entah kenapa Yura tidak tahu.
Namun Yura bersyukur, karena dengan itu ia bisa membanggakan diri kepada lelaki dihadapannya ini.
bahwanya kamu bisa memiliki ku. dan itu untuk kamu satu-satunya.
Yura membentuk senyum manis di bibirnya, setelah memastikan Akseyna masuk kedalam kamarnya. Yura segera masuk kedalam kamar ayahnya dan menutup pintu itu rapat.
lalu berlari dan melompat keatas ranjang ayahnya.
Ahh kamar ayahnya begitu kuno. hampir semua perlengkapannya sangat klasik. seperti cermin tua, lemari kuno, pencahayaan yang temaram dan gaya ranjangnya yang terkesan klasik.
Namun apa pedulinya, yang Yura pedulikan adalah jantungnya yang sampai sekarang berdebar-debar.
Yura berbaring dengan nyaman, lalu hanyut dalam pikirannya.
Saat bersama lelaki ini jantungku berdebar kencang, apa kah itu berarti kami ditakdirkan bersama?
"Takdir kita tak sebaik itu Yura, maka jangan pilih saya!!!"
Degg!
Yura seketika duduk dari tidurnya dengan raut wajah yang luar biasa terkejut.
Siapa yang mengatakan itu?
Segera Yura menatap kepenjuru kamarnya, hanya saja hening.. Suara hujan terlihat bersemangat. Kilat dan guntur beberapa kali menunjukkan keperkasaannya, membuat kamarnya yang terang-temarang menjadi bercahaya setiap kali ketika petir datang.
Kenapa malam ini begitu menakutkan?
Yura mengubah posisi tidurnya beberapa kali... Dan mulai memejamkan matanya..
Hingga..
Ketika aku membuka mataku, jantung ku berdebar keras.
Aku berada di ruang terlarang.
Aku pernah melihat ini saat membuka pintu itu. aku tak akan lupa, aku ingat!
Sebenarnya apa ini!!!
apakah ini mimpi?
Yura bangun dari tidurnya, menutup mulutnya tak percaya.
Sebelumnya, aku berada di kamar ayahku, tidur di ranjang, kenapa sekarang aku tidur di lantai diruang terlarang?
Yura menggigit lengang tangannya dan yak!! "Kok sakit, berarti bukan mimpi!!" Yura menjadi sangat khawatir, "lantas kenapa aku bisa disini???"
di sela-sela kekhawatiran itu, pintu di buka keras.
Brakk!!!
"Saya benar-benar tidak tahan lagi!!" ujar lelaki itu masuk begitu saja ke dalam ruangan itu bersama beberapa temannya. Wajahnya menunjukkan kemarahan yang luar biasa.
Yura heran kenapa bisa ada seseorang dengan mudah masuk kedalam ruangan itu.
"Seto plisss" kata seorang gadis yang tiba-tiba berjalan kearah lelaki itu, menahannya.
Dan ketika Yura menatap ke sampingnya seseorang disana, dia tampak seperti Akseyna.
"Bukankah saya sudah bilang Narendra!!! Jangan pernah melewati batasmu!!" bentaknya keras menarik kerah baju seseorang di sampingnya dan menantangnya. membuat sosok gadis itu berusaha menahan lengan Seto. "Seto udahhh pliss, semua yang kamu dengar semuanya ga benar."
Hanya saja lelaki itu tersenyum. "Tidak benar bagaimana? Asmara berhenti melindunginya, kamu tidak tahu orang seperti apa dia. Jujur dia tidak pernah benar-benar memikirkan kita sahabatnya." kata lelaki itu menghasut.
"Seto astaga, kenapa sih kamu suka banget kehasut?" marah Asmara membuat Seto menatap gadis disampingnya. dengan mengangkat alisnya sebelah lelaki itu tampak kecewa "Kau akan selalu begitu Mara, saya terlalu sering lupa sedang berbicara dengan siapa. Sebagaimana kamu hanya menganggap Narendra Mara, jujur saya sedikit kecewa padamu"
"Seto pliss berenti. kubilang kamu salah paham"
"Sudah Asmara, berhenti menjelaskan. Orang yang dikuasai emosi mau bagaimana pun meluruskan kesalahpahaman tidak akan pernah mau mendengarkan"
Seto berdecih meremehkan, "Kini aku tahu kenapa orangtuamu membuangmu" katanya, dan entah bagaimana Yura dapat melihat perubahan di muka Narendra seseorang yang sangat mirip dengan Akseyna. "Aku yakin kau tidak akan benar-benar tahu alasannya" kata Narendra membuat Seto menurunkan tangannya.
"Kau terlalu emosional Seto Harji Pranaya, ini alasan kenapa hubunganmu dengan ayahmu tidak akan pernah akur" dan mata itu menggelap.
Buggh...
"Harusnya kau sadar dengan siapa kau berbicara b*****t!!" kesal Seto memukul keras rahang Narendra membuat Asmara memekik menutup mulutnya.
"Seto demi Tuhan kamu akan menyesal melakukan ini." teriak Asmara, namun seolah menulikan perkataan Asmara. Narendra masih saja tersenyum tipis padahal bibirnya sudah berdarah.
"Dan kau harusnya sadar dengan apa yang sedang kau lakukan ini, siapa aku tentunya kau sudah kau sudah tau." katanya tersenyum sinis.
"sial"umpat Seto pada akhirnya.
Dan lelaki itu hanya menjawabnya dengan senyuman, dan melepaskan tangan Seto dari lehernya. Seto tiba tiba tertawa, dan menatap kearah Narendra yang sudah duduk di kursinya kembali.
"Kau tahu siapa yang lebih menyedihkan dari kita berdua?" pertanyaan dari Seto membuat Andra membalasnya dengan senyuman. "Kau tahu jawabannya... Narendra Mahesa" senyum itu begitu mengerikan di wajah tampan nya. Dan entah kenapa sosok Seto malah seakan menangkap sosok Yura yang berdiri kikuk menatap pemandangan aneh di hadapannya.
Dan saat itu juga tiba-tiba Yura di tarik dari dunia itu, dan
Bughh...
Yura terjatuh dari ranjangnya keras..
Yura melihat ke sekitarnya, apa ini..
Aku kembali ke kamar ku kembali
Dan bayangan seperti apa itu??
Untuk pertama kalinya ia dihadapkan pada seorang yang bernamakan Narendra Mahesa. sosok ya yang mungkin saja tidak bisa ku bedakan dengan Akseyna.
Yura naik ke kasur nya kembali, dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut.
Hari ini sangat dingin
Dan bayangan seperti apa yang dialaminya baru saja?
"Kau tahu siapa yang lebih menyedihkan dari kita berdua?" pertanyaan itu tiba-tiba mengalun begitu saja...
Suaranya, kenapa begitu familiar...
Siapa sebenarnya dia.. sosok Seto yang bertengkar dengan Narendra di mimpinya?
Dan penglihatan semacam apa sih itu?
Yura merasa pusing sekali,, Mungkin ia kelelahan, Yura mengistirahatkan tubuhnya dan mencoba memejamkan matanya, saat Yura membuka matanya Yura terperanjat, duduk di ranjangnya. Saat itu yang terjadi adalah gelap, bahkan ketika ia membuka matanya. tak ada sama sekali pencahayaan.
Biasanya ketika lampu tiba-tiba mati di kamarnya, sebuah lampu otomatis dari arah dinding ranjangnya akan menyala, di kamarnya ayahnya berbeda.
Guntur bergemuruh dan bersautan dengan petir yang cahayanya masuk kedalam kamar.
"Kau harusnya tak seperti ini Yura"
Yura seolah mendengar suara itu berada di disampingnya, membuatnya was was. is yakin is sendirian di kamar itu. masa ia ada hantu. apa ini bentuk penunjukan hantu-hantu yang tidak ia percayai keberadaannya?
"Siapa sih itu? jangan nakut-nakutin dong" Yura seolah meraba-raba kesisinya Namun tak ada seorangpun.
"Usir dia!"
ia memekik kalah suara itu begitu dekat dengan telinganya. Jantung Yura berdebar kencang.
"Kau lebih berharga dari apapun, dia pasti akan mengerti!"
Dan Yura menutup telinganya rapat-rapat...
"Kau ada... Baik hari itu maupun hari ini" seruan itu lagi terdengar, membuat Yura ketakutan.
"Kau harus memilih Ayura Rosetta" kata itu, dan ..
"Save me!!" Yura sekejab membuka matanya dan Ia kembali keruangan terlarang itu... itu sebuah kilasan masalalu, namun dia lagi lagi ada disana, hanya saja ia tidak terlihat.
Lagi?
Dingin, ini pasti karena musim dingin. Gelap dan suram. Ruangan itu tak secerah sebelumnya. Membuat Yura menatap kesekitarnya dan tatapannya terjatuh pada seorang lelaki yang sedang terkapar di lantai ruangan itu, wajahnya penuh luka hingga tak mampu dikenali.. Dia mengerikan... Baik wajah dan takdirnya...
Dan melihatnya jantungku seakan di iris, dan anehnya tanpa mengetahui siapa itu aku malah menangis.
"Kau tahu siapa yang lebih menyedihkan dari kita berdua?" suara lelaki tiba-tiba terdengar, membuat Yura menatap kesekitarnya. namun nihil Yura tak menemukan siapapun di ruangan itu.
Yura berjalan kearah tubuh itu sesegukan. "Kamu siapa sih?? apa kamu yang panggil aku kesini? tolong jangan ganggu aku" mohon Yura. dan lelaki itu berusaha menatapnya dengan lemah, mata itu menghipnotis dirinya, siapa dia... "Save.. me Yura" lirihnya dan..
~to be continued ?
don't forget "like" and "Comment" guys hehehe?