Pigeon and Story

1747 Words
Yura sedang berada di lapangan, lebih tepat tidur berbaring di rumput dan menatap langit yang luas di atasnya. Ada banyak pikiran yang mengganggunya, terlebih itu pada kisah seseorang yang sudah tiada lama dengan seniornya Akseyna yang begitu sulit ditemui. Tapi apa hubungannya dengan dirinya? Jika ia melupakan masalah ini apa kah ia akan baik-baik saja? Yura meraih ponselnya dan menelpon seseorang, Yura menaruh ponselnya di dekat telinganya dan mulai berbicara dengan seseorang itu. “kok udah ga pernah kasih kabar?” tanya Yura sedikit cemberut begitu panggilannya terhubung. “Kak Dimas udah ada orang ya yang kakak suka disana? Sampai telpon Yura saja kakak ga sempat” Terdengar kekehan diujung sana, “kan ada Dean, bukankah dia melaksanakan tugasnya dengan baik?” tanyanya membuat Yura menghela napas berat melihat seseorang wanita dengan anteknya berjalan di koridor dengan dagu yang ditinggikan dan jas almameternya yang sangat di banggakan. Yang dalam artian mereka sedang dalam tugas, entah tugas apalagi itu. Mungkin saja rasia atau kedisplinan? “Sebenarnya mereka lagi apa sih? Maksudku inikan lagi jam istirahat masa mereka tetap make jas almameter?” “Siapa?” “Yaa itu Dean” Sekali lagi kekehan renyah itu terdengar, “sebenarnya Dean lebih disiplin dari pada saya Ra, jadi berhati-hatilah.” “Aku tak akan melanggar kak” “Iya tahu, makanya hati-hati. Jangan sampai dihukum” Yura cemberut, dan memainkan pasir. Tidak ada topik yang ingin ia katakan, menimbulkan keheningan Panjang.”kak” “hemm kenapa Ra? Kukira kamu sudah matikan telponnya” “Mau kumatikan telponnya kak?” “Jangan… jadi mau tanya apa?” “Ini tentang kak Akseyna, satu kelas kakak kan?” “Kenapa tanya dia?” Nadanya yang biasanya lembut di telinga Yura menjadi sedingin es saat ia membahas mengenai Akseyna “dia misterius banget ya kak?” “Memang, jadi baiknya jangan dekati dia.” “Tapi kenapa kak” “Jangan dekati Yura, berhenti penasaran, ini untuk kamu aman Yura” “Tunggu, apa ini alasan kenapa kak Akseyna selalu merasa sendirian di damitry?” tanya Yura membuat Dimas menghela napas berat. “Bukan begitu?” “jadi alasannya apa? Ini bukan kakak aja lo yang bilang, tapi udah banyak dan pak Damian juga mengatakan hal sama” “Yura ini untuk kebaikan saja?” “Kebaikan, jujur Yura bingung maksudnya apa?” “Yura ada beberapa hal yang seharusnya kamu ga pertanyakan dan cukup terima saja itu untuk kamu aman saja di Damitry. Apalagi kamu masih awal.” Katanya Lelah. “Satu alasan ka, kenapa aku harus menghindari kak Akseyna” Terdengar helaan napas diujung sana, “saat ini saya tidak bisa berbicara banyak, karena issu ini bukan main-main bahayanya. Tapi Yura, Akseyna dikelasku seharusnya tidak ada. Jadi anggap seperti itu setidaknya smpai bulan Januari.” Lalu Dimas memutuskan panggilannya secara sepihak. Yura mau berteriak, bukannya tambah enjoy setelah berbicara dengan Dimas malah ia semakin frustasi saja, “Haruskah kuputuskan Dimas saja?” tanyanya pada dirinya sendiri, Yura berdiri dan The keatass kebentangan langit yang cerah, menghela napas berat dalam-dalam dan membuangnya lalu berbalik, menatap keatap Gedung Damitry. Dan disana lah tatapannya terpaku pada seseorang yang mempesona yang juga menatapnya. Yura tak dapat dengan jelas melihat ekspresinya, namun dia bersinar diterpa cahaya matahari, dia seputih s**u dan Yura enggan mengalihkan tatapannya. Sebenarnya alih-alih percaya pada hantu, aku lebih percaya pada ada kekerasan di sekolah ini, di damitry. Jadi ap aini ada hubungannya denganmu? Akseyna? Atau Narendra memang ada? Yura lalu berlari menuju Gedung Damitry, bagaimanapun ia harus berbicara. Yura tipe orang yang tidak bisa diam Ketika dalam situasi sangat penasaran. Makanya hal seperti ini wajar untuknya. Sejak awal Yura memang tak percaya ada hantu di Damitry, sangat tidak percaya. Karena memang sejak kecil ia tak pernah melihat Namanya hantu. Meyakini bahwa ada hantu yang menyerupai manusia dan mampu berkomunikasi seringan itu apakah bisa ia percaya? Makanya ia tidak akan percaya kalua seorang yang ia temui diatap itu adalah merupakan hantu. Tidak mungkin. Yura berlari menuju lantai paling atas hingga langkahnya dipaksakan berhenti, dagunya diangkat menatap pada sosok yang indah diatas sana, napasnya memburu cepat. Setiap detiknya, tak ada keinginan untuk berpaling karena seperti magnet yang sangat kuat menahan Yura untuk tetap beradu tatap dengannya. Seorang pria berseragam sekolah lengan sebatas siku, kulitnya putih bak porselen, rambutnya tampak Panjang dan halus dan tatapannya yang lembut. Entah kenapa melihat itu lagi Yura merasa sedih dan mendamba. Lelaki itu mengalihkan tatapannya ke depan dan berjalan perlahan, mendekat kepadanya, dan “Larimu cepat juga” pujinya dan berlalu, pujian itu membuat Yura tersadar. Dan berbalik menatap lelaki itu. “Kak Akseyna” panggil Yura yang membuat Langkahnya berhenti. Menatap kearah Yura dengan senyuman tipisnya. “Aku mau bicara” “Bisa namun jangan disini, aku tunggu kamu di bangku paling sudut dekat jendela di perpustakaan setelah kelasmu” “Ha?” “Atau kamu mau menunggu setelah bulan januari?” tanya lelaki itu yang membuat Yura mengedipkan matanya tak percaya. “Kak” “saya pergi dulu”katanya dan benar-benar berlalu di hadapannya. Yura duduk di tangga dan memikirkan berbagai kaitannya. Dan sosok Akseyna sendiri hingga Rhee memanggilnya. “Yuraaa ngapain sih loh disitu? Aneh banget kayak orang patah hati tahu gak” katanya membuat Yura mengembungkan pipinya sebal. “lo yang ga mau terus terang sama gue Rhee makanya gue jadi gini” Rhea menghela napas lelah, “masalah itu lagi ya Ra?”tanyanya yang diangguki Yura. “enggak bisa ya lo diam aja, anggap ga pernah tahu apa-apa?” “ga pernah tahu apa Rhee?” “Ga pernah tahu keberadaan kak Akseyna ada di Damitry?” Yura menggeleng keras, membuat Rhea menghela napas panjang, “kamu cari masalah” “makanya jelasin kenapa aku harus mengacuhkan dia” Rhea menggadeng tangan Yura dan membawanya pergi. Sudah cukup, aku tidak tahan lagi. Mereka berdua berjalan melewati koridor, menuruni tangga, dan menuju kearea belakang Damitry. Satu tempat tersepi di Damitry. Ada masalah di Damitry… Sebuah masalah yang cukup rumit Alasan kenapa semua orang diam. Alasan kenapa menunggu adalah suatu hal yang baik. Alih-alih mengungkapkan semua kebenaran. Rhea berdiri disana saling berhadapan dengan Yura, menceritakan apa yang membuat Yura selama ini kebingungan. Wajah tak percaya yang dilayangkan Yura kepada Rhea. Cerita ini memang tidak masuk akal. Namun pembenaran nya sulit di acuhkan. Semua yang terlibat akan kena kutukan Kutukan darinya yang tiada secara tidak adil. Dan akan tiada sebelum bulan Januari. Kisah yang disampaikan Rhea Dulu, ada seorang siswa yang sangat tampan, ketampanannya mengalahkan para dewa yang ada. Bukan berlebihan tapi begitulah sajak yang pernah kudengar tentangnya. Tak hanya itu dia luar biasa jenius, kehebatannya bahkan saat itu akan membawanya ke Eropa untuk bertanding, Dia satu-satunya mendapatkan undanga istimewa dari salah satu orang besar disana. namun jelas dia tidak datang, karena sesuatu lebih dahulu merenggutnya. Namanya Narendra Mahesa namanya, lelaki yang memiliki karisma yang kuat dan tatapan yang mempesona. Lelaki yang bahkan mengalahkan para aktor yang ada di negeri ini, yang katanya kelak jika hari ini dia bisa hidup, maka dia telah menjadi orang yang sangat sukses. Narendra itu anak unggul Indonesia yang meninggal secara tidak wajar, makanya sampai hari ini sosoknya masih ada disini berkeliling di setiap sudut Damitry penasaran dan tak jarang bisa melukai. Kabarnya menjelang hari-hari kematiannya, dia ada disini dan membunuh siapapun yang melihatnya karena begitulah. Yang mampu melihatnya adalah orang istimewa yang secara tidak langsung ada kaitan dengannya di masa lalu. Mungkin bukan kamu tapi keluargamu dahulu padanya. Pernah seseorang merekam Ruangan kosong dilantai tiga Damitry, dan yang terjadi semua yang berhubungan dengannya tiada secara mengenaskan disatu tempat yang sama di Damitry, itu adalah bunuh diri massal yang sekali lagi dirahasiakan oleh Damitry. Seperti kematian Narendra mereka yang tiada hari itu juga diperlakukan sama. Dan sampai hari ini memang sulit mendapt kabar apakah ditahun-tahun setelah kejadian bunuh diri massal itu terjadi masih ada korban tapi yang jelas. Ditahun ini adalah tahun kita. Dan misteri akan terungkap kebenarannya. “Apalagi yang mau kau tahu Yura?” “Tunggu ini terlalu tiba-tiba Rhee” Rhea menggeleng, “Aku sudah memulainya Yura, dan sulit untukku berhenti. Karena kita ketemu hari ini, maka akan kutakan semuanya. Apa yang mau kau tahu Yura, tentang kebingunganmu, semuanya. Aku akan beritahu semua yang kutahu kepadamu.” Hari itu aku melihat yang tidak biasa dari seorang Rhea, seperti seseorang yang sudah terlanjur masuk basah bukannya berhenti untuk berteduh malah gadis itu masuk lebih dalam, membuatnya basah terselamatkan. “Sekali lagi Yura, tak ada yang perlu di khawatirkan dari masalah ini, kecuali dirimu sendiri. Tolong dengarkan aku sekali saja, Jika kau mencari Akseyna, Akseyna yang sebenarnya jangan saat ini, jangan di bulan ini, Bulan di mana Narendra tiada. Narendra bukanlah orang jahat, namun bukan berarti kau bisa ikut campur. Jangan mendekati apapun yang berhubungan dengannya. Karena seseorang yang baik tak selamanya baik Yura, makanya jika orang yang kau cari benar Akseyna.. bisa saja Akseyna yang kau temui itu bukanlah Akseyna sebenarnya. Akseyna dan Narendra adalah dua hal yang berbeda, namun jelas diakui keduanya memiliki wajah yang sama. Orang-orang mengakui ini, dan ada dalam peraturan Damitry. Dalam pasal kedua. Akseyna Alexander ada namun diluar kelas dia tiada. Baik tatapan dan interaksi lainnya di hilangkan. Melanggar berarti mengundurkan diri. Ini kesalahan Damitry, seharusnya Akseyna Alexander memang tidak ada, namun untuk beberapa alasan yang tidak ku ketahui dia sosoknya tiba-tiba ada dan menjadi bagian dari Damitry High School. Satu yang perlu kamu ketahui dan terpenting, bahwa pasal dua dalam peraturan Damitry tersebut bersifat kiasan. Bahwasanya arti mengundurkan diri tersebut bisa saja berarti dihilangkan, menghilang dan tiada." “atau dalam kata lain, jika kau melanggar semuanya… kau akan tiada. Dan ini jelas seperti itu, ada bukti dan: Rhea menggenggam tangan sahabatnya lembut, “Kumohon Yura, untuk melupakan semuanya. Kau akan baik-baik saja, jangan membuat dirimu dalam bahaya” Yura tak bisa berkata-kata, membuat Rhea memeluk sahabatnya itu erat menenangkan, “Kau sahabatku Yura, makanya aku berharap keselamatanmu. Jadi tolong berhenti penasaran lagi.” Bisiknya. Semua yang terlibat akan kena kutukan.. Namun pernahkah mendengar sesuatu. Suatu cerita, seorang pengurus di klub misterius Damitry, yang menjadi satu-satunya orang selamat. Dan tentunya ia tak seberuntung itu. Ia hanya diselamatkan, seseorang mengorbankan diri untuknya, atau tak sengaja melakukannya. Hari itu di tanggal 27 Desember, seseorang memberitahu rerinciannya. Seseorang mengabarkan cerita ataupun bisa jadi membuat kisah tentang menghilangnya Narendra. Ia diselamtkan namun seseorang itu tidak. Ini yang terjadi, kebenaran yang kuceritakan. Satu kisah di musim dingin yang terlarang untuk diceritakan. Aku telah ceritakan. Aku tidak tahu bagaimana aku kedepannya, namun kuharap Tuhan melindungi dirimu. Ayura Rosetta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD