"Narendra Mahesa" Kata pak Damian membuat Yura saat itu membulatkan matanya tidak percaya. bagaimana bisa guru itu tiba-tiba saja mempertanyakan hal itu.
"Saya tidak kenal dia pak"
"Akseyna Alexander?" kata pak Damian lagi membuat Yura menundukkan kepalanya.
"Saya tahu, tapi dia jarang terlihat. Jadi bisa dikatakan saya tak sedekat itu sampai bapak menyuruh saya kesini hanya untuk bertanya tentang dua orang itu."
Damian menghela napas dalam sebelum memberikan sebuah dua kertas berisikan data nya dan ibunya. Bak pinang di belah dua, mereka sangat mirip.
Yura berdehem, "apa itu termasuk pelanggaran pak? saya mirip dengan ibu saya? apa itu sebuah kesalahan?" tanya Yura menatap pak gurunya penuh tanya.
"Bagaimana ya menjelaskannya." decak Damian. Lalu lelaki itu mengeluarkan satu potret dan menaruhnya di depan Yura. dengan gerakan kepala ia menyuruh siswanya itu untuk melihatnya.
"Banyak hal yang mau saya tanyakan tapi tak bisa saya rangkai, sekiranya kamu mau membantu saya. Tanyakan Yura hal yang ingin kamu ketahui tentang masalalu, karena saya pun berada disana diantara mereka." kata Damian membuat Yura tak bisa berpikir logis.
"Apa dia Narendra pak?" tanya Yura, Damian tersenyum tipis dan mengangguk. "lalu apa kak Akseyna adalah anak dari lelaki ini?" tambah Yura.
Sayang pak guru itu menggeleng, "Narendra tiada ketika usianya masuk 19 tahun, dia tak akan pernah menyentuh seseorang wanita Yura. Akseyna adalah anak dari kakak Narendra."
"Terus kenapa dia bisa meninggal pak?"
Sontak Damian tertawa, "saya tahu kamu sudah mendengar ini sebelumnya, kalau dia tiada dalam kebakaran"
Yura menggigit bibirnya" Banyak pikiran, lalu menatap pak gurunya.
"saya pernah membacanya di satu tempat, atau kupikir itu hanya sekedar mimpi"
"Kamu sudah sejauh itu mengetahui sosoknya Yura, bukankah itu berarti ada yang tidak beres denganmu?"
Yura merasa aneh pada dirinya, gadis itu menautkan tangannya tanda bahwa ia sedang banyak pikiran.
"Terlepas dari mana kamu tahu tentang hal itu, di masa ini tak akan ada yang pernah mau membahas dirinya. Ada banyak hal yang mengerikan Yura dari sosoknya. Jika mau hidup kamu baik-baik saja di Damitry maka jangan penasaran mu mengontrol dirimu."
"Kamu yang sudah membuka pintu itu tak akan pernah selamat. dia ada karena kamu yang memanggilnya. Pintu itu sudah terbuka Yura, dan kau yang membukanya" kata kata itu membuat Yura mengangkat wajahnya menatap kedepannya dan tak melihat pak Damian berada di depannya lagi.
"Pak Astaga!" Yura terkejut karena pak Damian malah berada di samping rak buku.
"kenapa terkejut sekali? apa kau melihat hantu?"
Yura menggeleng, "bapak kenapa disitu?"
"Mau mengambil buku saya, kenapa kamu sepucat itu?"
Yura menghela napasnya berat lalu menatap Damian yang sudah duduk didepannya dalam. "Bapak tahu dari mana saya membuka pintu terlarang itu?"
dan Brakkk..
Buku yang di pegang pak Damian malah jatuh ke lantai. Damian menatap siswa itu terkejut bukan main. "Kamu membuka pintu terlarang itu?"
Yura membulatkan matanya tak percaya, kenapa pak Damian malah menunjukkan ekspresi seperti itu? "Tidak pak!"
"Yura jangan macam-macam, jelaskan pada saya sampai mana kamu"
"Saya tidak membukanya pak kalau tak percaya bilang saja sama pak Harto dia ada sama saya ketika saya hampir membuka pintu di ruang terlarang itu"
Damian masih sangat terkejut membuat Yura berdiri. "Saya pamit pak, saya belum istirahat dan sisa berapa menit lagi sebelum bel kembali berbunyi"
Damian menatap Yura, "Yura, bapak ingatkan sama kamu. Jika kamu tidak bisa membedakan keduanya maka pura-pura lah untuk tak tahu keberadaannya."
Yura menatap pak Damian sekali lagi dengan raut wajah speechless.
Drrrrttt
Ponsel pak Damian kembali berdering, membuat Yura memejamkan matanya sebentar dan tersenyum pada Damian. "kalau begitu saya pamit permisi pak"
Damian mengangguk.
Yura berjalan sengaja ia melewati ruang kelas seniornya itu. menatap kedalam nya lewat jendela. disana sosok Akseyna duduk di bangkunya hanya menatap keluar jendela. Jika kamu tidak bisa membedakan keduanya maka pura-pura lah untuk tidak tahu keberadaannya.
Yura menghentikan langkah seseorang didepannya, "kak apa kakak melihat orang disana?"
Gadis itu menatapnya menilai. "Kenapa? mau kamu sama dia? belum puas sama kak Dimas?"
Yura berdecak dan melihatnya jelas, dia adalah salah seorang twman senior yang ikut mem-bully-nya hari itu. "ha, salah juga sih berbicara sama biawak betina" kata Yura dan segera berlalu menimbulkan reaksi tidak terima dari senior itu.
"Kamu bilang apa tadi? biawak betina?"
"aku ga perlu ulang lagi kan kak? kakak kan udah paham sendiri" kata Yura dan berlalu.
"selama saya ada disini, kamu ga akan baik-baik saja, dengar itu!" kata senior itu kesal, menghentakkan kakinya dan berlalu dengan sumpah serapahnya. "awas saja, dasar junior ga ada hormat-hormat nya sama senior" gerutunya dan menghilang di ujung pintu.
??
"Bagaimana hubunganmu sama kak Dimas Ra?" tanya Rhea begitu duduk di samping Yura, mereka lagi berada di area kantin. Rhea memberikan Yura es teh dan dia menatap sahabatnya itu dengan bertopang dagu.
"ya ga gimana gimana sih" kata Yura.
"dia tahu kalau lo lagi naksir sama kak Akseyna?"bisiknya membuat Yura menghentikan acara makannya, seleranya langsung hilang.
"Rhee gue kembali bimbang sama perasaan gue" kata Yura membuat Rhea mengangguk.
"kali ini apa lagi"
"Kak Akseyna itu mirip sama dia kan?" kata Yura, satu hal yang membuat Rhea membasahi bibirnya lalu menghembuskan napas nya dalam-dalam lalu mengangguk kepada Ayura.
"Dia mirip makanya jangan kelihatan memperhatikannya diam-diam Yura, karena kamu ga tahu apa dia kak Akseyna atau orang lain. mengerti?"
"Jika itu kak Akseyna kau beruntung, namun jika itu bukan dia statusmu berada dalam bahaya. sampai disini mengertikan?"
Melihat sahabatnya yang diam, membuat Rhea juga bimbang. "kamu gapapa kan? ga takut?"
"bagaimana bisa gue takut Rhee kalau hantunya akan semirip kak Akseyna"
Rhea berdecak, "makanya fokus aja sama hubungan mu sama kak Dimas aja, jangan mendua"
"Dimas belum ada rencana pulang kah Yura?"
Yura menggeleng, "tidak tahu, akhir-akhir dia jarang menghubungi ku"
"lo ga pernah hubungi dia? kok ko nunggu di hubungin sih?"
Yura mengerutkan keningnya, "biasa begitu"
Rhea menatap Yura tak percaya, "sekalipun lo nggak pernah lebih dulu telpon dia gitu? chat chat bagaimana?"
"Telpon enggak, kalau chat pernah. udah ahh lo kok kepo sama hubungan gue sama kak Dimas sih"
"kalau gitu fix ya, jangan musingin sesuatu yang bisa buat kamu dalam bahaya"
Yura mengangguk lalu menatap Rhea dalam, "lo mirip sama pak Damian tahu enggak"
"pak Damian?"
"Iya yang bagian kesiswaan dan kedisiplinan itu loh"
"oh pak ganteng itu? kukira pak Jaya"
"ihh bukan"
"sama nya dimana?"
Yura tersenyum miris, "sama-sama banyak tahu tentang ruangan kosong itu. gue ga tahu tapi kalian berdua punya kekhawatiran yang sama sampai hari ini gue ga pernah bisa paham"
"klise lo bisa mati kalau dekat-dekat ruangan itu"
Yura mengangkat alisnya, "kenapa?"
"Yura karena semua yang pernah berhubungan dengan tempat itu ga pernah ada yang selamat. ruangan itu terlarang, sekali lo masuk udah kelar."
"kenapa?"
Rhea mengerutkan keningnya, "kenapa apanya?"
"Kenapa bisa seperti itu? setahuku tak ada namanya hantu yang membunuh manusia, ada tapi hanya menakuti. Hantu itu ga bisa sentuh kita"
"tapi ada kutukan Yura, ruangan itu di kutuk. satu alasan kenapa ruangannya masih ada sampai sekarang dan terbengkalai. Udah ya, ini hal tabu di damitry, seseorang mendengar kita membicarakannya, kita juga dalam bahaya tahu"
Drrrttt..
Ponsel Rhea bergetar membuat gadis itu segera mengangkatnya, "gue kesana dulu ya" katanya dan berlalu dari hadapannya.
"Bahkan setelah mendapatkan beberapa peringatan aku belum mau melupakannya, kapan ya bisa bertemu dengannya lagi, berpapasan begitu. laki-laki ini hans menghabiskan waktunya dalam kelasnya terus"
"aku jadi khawatir" kata Yura dan mulai menghabiskan makanan di depannya.