Something Strange Coming

1327 Words
"Nak kamu serius mau ke sekolah? kamu demam loh ini. mau ayah antar ke rumah sakit saja?" tanya ayah Yura, baru kemarin ayah Yura kembali dari Bandung dan mendapati putrinya yang kembali tepat pukul delapan malam dan habis kehujanan. Membuatnya pagi ini, Yura flu dan sedikit demam. "enggak ayah, Yura mau sekolah." kata Yura membuka pintu namun belum di buka kuncinya sama ayahnya. Yura menatap ayahnya lemas, "ayah" "Kita ke rumah sakit, ayah ga bisa lihat putri ayah satu-satunya sakit dan memaksakan diri seperti ini" ayah Yura tampak begitu cemas dan khawatir namun entah dari mana keras kepala putrinya ini berasal. "Yura sudah minum obat nanti demamnya juga turun lagi pula ini bukan masalah besar yah" "masalah besar bagi ayah kalau kamu kenapa-kenapa, tahu kan Yura ayah ga bisa hidup tanpa kamu" "tapi ayah bisa kok tinggal sendirian tanpa Yura, buktinya ayah selalu keluar kota sendirian tanpa mengajak Yura." Lelaki paruh baya itu melembut, "ayah melakukan itu untuk memenuhi segala kebutuhan kamu. ayah tidak mau anak ayah ini kekurangan apapun. kenapa Yura ga suka ayah pergi jauh lagi?" Yura tersenyum tipis. "Iya ayah yang paling terbaik" Bagaimana tidak, lelaki itu tak hanya menjadi sosok ayah namun ia juga menggantikan peran ibu bagi Yura. Yura tak penah merasa kurang kasih sayang, karena semuanya di dapatkan dari sosok ayahnya. Ayahnya yang bisa menjadi teman dan ibu bagi Yura. Ayah Yura mulai sibuk, ketika Yura SMP kelas tiga. Ayah Yura meninggalkan Yura dengan banyak kemewahan, salah satunya sopir dan seorang pembantu rumah tangga yang benar-benar sangat di percayai oleh mereka. "Jadi kita kerumah sakit ya" Yura menahan lengan ayahnya kemudian dengan sorot mata sedih Yura menggeleng. "Yura mau sekolah" "astaga anak ini, kamu sakit" "Yura baik-baik aja kalau sudah ketemu teman-teman Yura" Mendengar itu ayahnya mulai melembut. "baik, kalau ada apa-apa langsung telpon ayah okey" Yura mengangguk beberapa kali dengan raut wajah yang kesenangan. "Okey!" Yura membuka pintunya dan segera turun. "Ayah hati-hati yah di jalan" lelaki paruh baya itu mengangguk, "iya anak ayah juga harus hati-hati" "Ciap" jawabnya membuat Ayahnya terkekeh. "benar-benar anak itu, mirip dengan mu Je di masalalu" katanya sedih sembari menatap kearah putrinya yang menjauh masuk kedalam pekarangan Damitry. "Tak ada yang berubah dari Damitry Jeya, bahkan setelah 18 tahun berlalu. Auranya masih sama, gelap meskipun itu siang hari." katanya. "Dimasa ini, aku bahkan bisa mengirim putri kita ke luar negeri untuk memperoleh pendidikan yang bagus dan jauh dari masa lalu kelamnya. Namun aku tidak tahu alasan kenapa kamu menulis satu permintaan konyol itu." "Kamu tahu aku tidak bisa tidak mendengarkan mu, Jadi datanglah kemimpiku sekali dan jawablah alasan kenapa kamu ingin aku memasukkan putri kita ke sekolah itu? kalau kamu tahu sendiri, hidupnya tidak akan baik-baik saja jika dia berada disana?" Lelaki paruh baya itu memejamkan matanya sebentar sembari itu mengatur napasnya, lalu menjalankan mobilnya melaju perlahan membelah jalanan di ibu kota. ?? "Sekarang apa lagi Yura?" tanya Rhea malas meladeni sahabatnya itu. "gue udah ga ada kekhawatiran lagi" kata Yura dengan senangnya. "memang apa kekhawatiran lo sih selama ini?" Yura tersenyum, "kemarin aku berspekulasi bahwa kak Akseyna yang kulihat adalah hantu" "lalu ternyata?" Yura tersenyum lebar, "dia manusia kok" Rhea menghela napas berat, "tahu dari mana?" "Ada deh, intinya gue yakin banget dia manusia" "Tapi Hantu itu mir--" ehemmm, "maksud gue lo gak pernah ke ruangan itu kan?" Yura tampak berpikir, "pernah, dalam mimpi. Yang sewaktu gue tidur di kelas itu hari loh" "Mimpi? apa itu dihitung?" "kenapa memangnya Rhee?" "Intinya lo ga usah dekat-dekat sama tempat itu, jangan pernah, meskipun itu darurat sekalipun jangan." "Memang kenapa sih? segitunya?" "Karena itu bunuh diri namanya, kau tahu kematian massal tiga tahun yang lalu? mereka yang tiada hari itu adalah mereka yang melanggar. mereka pernah masuk kedalam ruangan itu dan mempublikasikan sesuatu didalamnya untuk diketahui oleh orang banyak. Dan Yura sekali kau masuk kedalamnya atau sekedar berhubungan dengan ruangan itu. bayangan kematian sudah ada di dekatmu" "setiap orang punya itu kan? takdir kematian masing-masing" potong Yura. Rhea menggeleng, "Ini terlalu jelas Yura, bayangan itu punya waktu dan serupa. mereka yang pernah berhubungan dengan ruangan itu, mereka tak akan pernah bisa melewati bulan Januari, karena Desember sudah lebih dahulu membunuhnya." "itu seolah detak jantungmu tiba tiba mati sebelum Januari tiba seperti itu. Jadi Yura berhenti penasaran untuk satu hal yang sudah jelas-jelas terlarang paham?" "apa se mengerikan itu?" Rhea lagi-lagi menatapnya. "Dan Yura, portal yang kau buka hari itu, mengenai klub Misterius Damitry sudah tidak ada" kening Yura berkerut kebingungan, "iya sudah dihapus?" Yura menghela napas dalam lalu kembali menatap bukunya. "sudah tidak ada, kamu ga pernah buka website itu Yura. Karena sejak 2 tahun yang lalu, Klub itu dihapuskan, bahkan meskipun kau menggunakan VPN. klub itu benar-benar sudah tidak adalagi di internet." Yura tertawa membuat beberapa teman sekelasnya menatapnya heran. Rhea jadi khawatir, "Ra" "tapi hari itu kamu lihatkan aku kasih liat notice nya" Rhea mengerutkan keningnya, lalu menggeleng. "gue hanya dengar lo bicara, lo kasih hp lo sama gue pun itu aku liatnya ga ada blank. terus lo bilang ini kenapa sih websitenya. alasan kenapa lo ga bisa akses itu ya karena websitenya memang udah ga ada" Yura menggeleng tak percaya, "itu berarti gue lagi di permainkan sama setan dong?!!!" paniknya membuat Rhea melotot. "Hushh" "kasih tahu gue deh ini pertama kalinya lo ngalamin hal buruk kayak gini, itu kapan?" tanya Rhea mendekat, suaranya di rendah kan karena memang topik ini tabu di Damitry. "Beberapa Minggu yang lalu, saat itu gue mau ke atap. terus dengar instrumen yang indah banget, suaranya bawa aku ke ruangan kosong itu" Rhea membulatkan matanya tak percaya, "kamu masuk?" Yura menggeleng, "mau masuk cuman di tahan sama pak penjaga sekolah" "untunglah, lagipula yang kudengar pintu itu udah ga bisa di buka semenjak 3 tahun lalu. kuncinya pernah ada katanya cuman tiba tiba hilang." Yura mendesah, "percaya tidak kalau hari itu gue bilang ruangan itu ga kekunci. gue bisa buka dan lihat di dalamnya." Rhea berdecak, "enggak dan ga percaya" Yura ingin bicara lagi namun Rhea udah berdiri, menatap Yura tajam. "Gue ga bohong ketika gue bilang jangan kesana bahaya. nyawa kamu dalam bahaya. Yura dengar gue tahu lo kepoan orangnya. tapi plis berhenti. Kak Akseyna yang lo lihat pun berhenti suka sama dia!" Yura mengangkat alisnya kebingungan, "kok jadi ke kak Akseyna lagi" "pokoknya jangan dekat dekat sama dia, karena kan kamu pacarnya kak Dimas. ingat itu Yura, ini juga untuk keselamatan mu tahu" "gue masih ga paham lo ngelarang gue ini itu untuk apa" kata Yura menatap sahabatnya itu bingung. "Gue ga akan ngelarang itu jika masalahnya adalah gue Ra, tapi ini karena elo makanya kalau bisa berenti sekarang. lo harus lakuin itu." katanya dan berlalu, Yura akan mengejar Rhea namun Hasan datang dan memanggilnya. "kenapa?!" Hasan terkejut bukan main, bagaimana tidak lelaki itu padahal datang dengan wajah bersahabat langsung drop berhadapan dengan Yura. "santaii atuh neng Yura! Orang saya baik-baik manggilnya kok kamu malah nge gass" "Ckk, iya kenapa sih Sann, gue lagi ga mood nihh" "Ga mood boleh, tapi jangan nge gas ke saya juga. Saya itu orangnya introvert atuh" Yura tersenyum lebar, mendekat kepada Hasan. Bukannya senang Hasan malah merinding, "Itu teman kamu kenapa sih" tanya Hasan pada dua orang yang berada duduk di bangku terdepan. "Bilang lo mau apa Hasan, gue ga bercanda ya bilang gue ga mood!" kata Yura tersenyum mengerikan didepannya. "Astaghfirullah. Itu pak Damian manggil kamu ke ruangannya. itu aja, saya mau cabut" katanya dan bergegas berlalu. "bisa bisa nya banyak pemuda suka sama dia, orang tadi mirip sekali sama sikopat" sampai lelaki itu menjauh darinya tak pernah berhenti lelaki itu membicarakan dirinya. mendumel tentangnya dan Yura pastikan dia akan membicarakan dirinya. Yura menghela napas dalam dan berlalu keluar dari kelasnya dan menuju ke ruangan pak Damian. Yura sebenarnya deg degan, paknya mungkin tahu bahwa ia yang masuk kedalam ruangannya malam hari itu. Atau mungkin saja hanya memastikan? Yang perlu Yura pikirkan adalah bagaimana cara meyakinkan pak gurunya itu supaya percaya bukan dia yang melakukannya. Sesungguhnya Yura ga ada bakat untuk berbohong.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD