Yura berada di depan ruang guru, menghela napas berat lalu menghembuskan perlahan. lalu memasuki ruang guru tersebut dan berjalan ke arah meja guru walinya.
"Ayura Rosseta kenapa dek?" tanya bu Jiah menatap siswi bimbingannya itu menghadapnya. wajahnya pucat dan terlihat sedikit ketakutan.
"ada apa?"
"saya merasa tidak enak badan Bu, saya ingin izin pulang" kata Yura membuat Jiah mengangguk khawatir.
"kalau merasa tidak enak badan lebih baik pulang istirahat total dirumah, supaya bisa segar besoknya dek"
"iya Bu"
"ada yang mengantarmu?"
Yura mengangguk, "ceritanya saya akan menghubungi sopir saya setelah saya dari sini Bu"
"ya baiklah, mau ibu bantu temani ke depan?"
"tidak perlu Bu, saya cukup kuat untuk kedepan sendirian. saya pamit permisi Bu"
"iya hati-hati"
Yura menghela napas sebelum bangun dari duduknya dan berjalan cepat ke depan dan..
brakk
Yura terjatuh begitu menabrak tubuh guru bagian kemahasiswaan dan kedisiplinan itu membuat guru yang usianya sekitar 40an itu menatap Yura sedikit terkejut.
"hati-hati lah kalau jalan, lihat kedepan supya tidak menabrak orang atau ditabrak"
Yura membungkuk kan kepalanya begitu gurunya memberinya nasihat.
"maafkan dia pak Damian, siswa saya ini lagi sakit jadi cara jalannya saja seperti itu"
mendengar ucapan Bu Jiah, Damian segera melihat baik-baik wajah Yura. dan memang wajahnya pucat pasi dan familiar.
"Siapa namamu?"
Yura tak kunjung menjawab membuat Jiah tersenyum menenangkan. "dia anak wali saya pak, Ayura Rosetta namanya"
"Ayura Roseta?" pertanyaan itu membuat Jiah mengangguk.
"apa ada masalah pak?" tanya Yura, gadis itu memang terlihat sakit.
membuat Damian lantas menggeleng, "Pulang lah kalau mau pulang, wajahmu hanya mengingatkan ku dengan seseorang tapi tidak penting. Temani dia ke depan Bu Jiah jangan sampai terjatuh lagi"
"baik pak Damian" kata Jiah dan memapah Yura dan membawanya keluar gedung sekolah dan duduk di sana,. area menunggu jemputan di daerah Damitry.
"Ibu bisa kembali, sopir saya katanya masih di jalan. siapa tahu ibu ada sesuatu yang mau di selesaikan".
Jiah mengangguk, "betul Dek, saya punya banyak sekali laporan yang perlu di kerjakan karena sudah mau ujian semester. ibu harus segera buat soal."
"Iye buk, saya bisa sendirian disini kok"
"syukurlah, saya pamit ya dik" dan setelah mendapatkan anggukan dari Yura, wanita muda itu segera berlalu. Sedang Yura merubah ekspresi nya, lalu mengeluarkan kunci dari sakunya.
Jika sesuatu membingungkanmu, maka pastikanlah. Hari itu aku membuatnya jauh lebih mudah, percayalah aku tak salah. aku hanya ingin tahu mengenai kebingunganku.
??
Pukul setengah enam aku sudah berada di depan ruang kemahasiswaan, tempat dimana data semua siswa berada. aku tak akan melakukan apapun yang salah, aku hanya ingin tahu, siapa dia dalam mimpiku. dan kebenaran sosok Akseyna itu sendiri.
Setelah membuka kunci aku diam-diam masuk kedalam sana, didalam ruangan itu masih ada sebuah ruang dimana tempat data siswa di simpan. diruangan itu ada banyak lemari dan dokumen yang di pisahkan sesuai angkatan. Aku menuju ke angkatan 22, memeriksa satu persatu dokumennya. aku duduk dilantai dan mencari nama itu secepat yang ku bisa.
Name: Akseyna Alexander
Birth: September, 1 2005
Betul ini dia wajah yang kulihat, dia benar sosok Akseyna dan bukan hantu. Yura tersenyum tipis, lalu mengembalikan dokumen itu pada tempatnya. lalu berjalan ke lemari paling ujung. disana tertulis angka 2004-2006, berbentuk buku tahunan.
Yura membawa tiga buku itu dan memeriksanya. Buku tahunan 2004, disana Yura terkejut akan beberapa hal bahwa ia mirip dengan seseorang bernama lengkap Ayujesa Hermawantiyo.
Yura tersenyum miris, bahwa ia baru tahu satu fakta. Bahwa itu adalah ibunya, Ayujesa wanita kesayangan ayah. Dia ternyata hidup dimasa kelam Damitry.
Yura tak menemukan apa-apa di buku tahunan ibunya, makanya ia berpindah ke buku tahun 2003. ketika di buka, Yura terperangah menatap wajah wajah disana.
"waw banyak banget visual di angkatan ini"
"Aji, Mahesa, Yoga, Seto, Angkasa, wahh boleh juga"
"Ini Bian orang yang kulihat di mimpiku" decak Yura menatap potret lelaki itu.
Namun hal yang membuatnya terdiam adalah sosok Narendra Mahesa. orang yang dicarinya malah fotonya tidak ada.
Setiap foto angkatan pun, gambarnya selalu dicoret. Apa yang memang terjadi? kenapa seseorang malah seakan menyembunyikan sosok Narendra dimasa ini pun tak ada seorangpun yang membahasnya?
Yura akan melakukan pencarian lagi namun ia mendengar seseorang membuka pintu ruangan utama pak Damian, membuat Yura dengan cepat mematikan senternya dan mengembalikan buku tahunan itu ditempatnya.
Jantungnya berdebar kencang mendengar suara langkah yang mendekat.
Yura bersembunyi di balik lemari beberapa langkah dari pintu, supaya nantinya ia bisa keluar cepat kala orang itu masuk kedalam ruangan ini. Yura memasang topinya supaya tidak dikenali.
Kreeeek
Suara pintu terbuka, menambah laju detak jantungnya. "Tunggu dulu Kania, saya merasa ada seseorang masuk kedalam ruangan saya setelah kunci ruangan saya hilang"
"Saya hanya akan memeriksa sebentar baru itu pulang"
Pak Damian pelan pelan memasuki ruangan itu, berjalan melihat setiap sudutnya hingga ketika ia akan memeriksa sisi lemari dimana Yura berada. Seseorang seperti membantunya.
Brakk..
Suara buku jatuh membuat pak Damian segera berjalan ke asal suara. Waktunya Yura keluar dari persembunyian dan kabur, suara langkah membuat Damian sadar dan melihat siluet Yura yang berlari keluar dari ruangan.
"Sudah kukatakan Kania, seseorang masuk kedalam ruanganku."
Damian berlari mengejar Yura, dengan ia masih terhubung dengan seseorang bernama Kania di telponnya. "Bukan pencuri, dia tidak mencuri apapun. Dia hanya seorang gadis yang penasaran."
Sadar ia sudah kehilangan jejak, Damian berhenti. "Kau tahu kejadian 3 tahun yang lalu, saya takut jika gadis itu terlalu penasaran, dia akan berakhir sama seperti mereka."
"Aku akan tahu setelah memastikan besok, biarkan saja dia hari ini" kata Damian dan berlalu kembali ke ruangannya mengambil sesuatu.
Di ruangan itu Damian menatap satu figura dengan sedih. "tenang dan ikhlaskan" katanya lalu ia meraih tasnya lalu berlalu tak lupa ia mengunci rapat ruangannya.
Tak lama dari pada itu seseorang dengan langkah yang tegap berjalan jalan di ruangan itu, lalu duduk di sofa .
Sosok yang mirip dengan Akseyna namun sosok ini sangatlah bercahaya, rambutnya yang lembut dan sedikit panjang, garis rahang yang kuat serta tatapan dingin yang ditunjukkan membuatnya benar-benar berbeda dengan sebelumnya. Aura yang sangat kharismatik dan gelap tampak padanya, duduk dengan arogan dan menatap hanya pada satu objek..
Yaitu figura di atas meja Damian.
Sosok itu tanpa ekspresi diwajahnya hanya menatap pada potret itu. tak ada kata, sulit untuk di jelaskan. keberadaannya saat ini. Di pertanyakan.
Siapa dia? Apakah dia sosok Akseyna yang asli? ataukah sosok yang lain. Potret dimana pak Damian muda bersama sosok Akseyna. apakah itu masuk akal?
Ayura Rosetta.. Jika ini karenamu. maka hentikanlah.
Tak lama dari itu, gelap. Sosoknya menghilang dalam sekejab dan potret itu tiba tiba berubah menjadi potret pemandangan biasa.