Untuk beberapa hari ini aku menikmati diriku, mengagumi diam-diam. Dari sini aku akui betapa sosoknya sangat menutup diri, jika bukan karena hari itu sampai hari ini pun aku tidak akan tahu ada sosok setampan itu di Damitry.
Akseyna.. adalah kegilaan ku akhir-akhir ini, meskipun jarang bertemu ataupun intesitas bertemu kami tak sebanding dengan lainnya. Tetap saja setiap pertemuan kami adalah satu hal yang paling berkesan.
Hanya saja...Masuk bulan Desember, keanehan mulai terjadi.
satu persatu.. Aku tidak tahu bagaimana namun sosoknya selalu berkaitan dengan keanehan yang kurasakan.
"Aneh banget ga sih?? dia setampan itu tapi tak ada satupun orang yang memperhatikannya. Rheaa ada apa denganku sih?" kata Yura menatap ke dalam kelas ruang musik. Hari ini kelasnya memiliki jam di ruang musik, namun karena ruang musik masih digunakan oleh senior mereka makanya mereka menunggu diluar
"siapa lagi sih??
"Kak Akseyna, siapa lagi?"
Rhea menghela napas nya lelah, "hmmm kak Akseyna memang tampan, gue pun akui.. cuman Ayura Rosetta yak! Minggu depan kita udah ujian lohh"
Yura hanya mengangguk, namun tatapannya masih kedalam kelas itu. "Makanya ga ada waktu memikirkan cinta-cintaan, dari pada sakit karena cinta, nilai jelek adalah hal paling mengerikan." tambah Rhea, namun jelas segala perhatian Yura hanya pada lelaki di dalam sana. membuat Rhea berbalik dan bersandar di dinding.
"eh" Yura melihat lelaki itu berdiri dan akan pergi, membuat Yura lantas menegakkan tubuhnya
"Gue ijin bentar dehh" jawab Yura bergitu melihat lelaki itu berjalan menuju pintu keluar. ruang Musik memiliki dua pintu, yaitu pintu masuk yang terletak di sisi depan dan pintu keluar di belakang kelas.
"Ijin ke toilett kalau lama bilang mencret dehh" bisiknya pada Rhea yang menatap sahabatnya tak percaya.
Gila ya itu Anak!! Gila banget!
"Yuraaa astaga, padahal ini pertemuan terakhir pak Naro loh sebelum ujian Minggu depan.. astaga"
sedikit menoleh Yura tersenyum kikuk, "apa boleh buat, gua ga bisa tahan" jawabnya, Rhea menggeleng melihat tingkah sahabatnya itu.
?
"Tunggu aku mau bicara!" seru Yura namun lelaki itu tak ada niatan untuk berhenti dan berbicara dengannya.
"Kak Akseyna, tunggu Yura mau ngomong bentar astaga."
Beberapa orang menatapnya risih. Meskipun begitu Yura tak memperdulikan pandangan aneh tersebut, ia terus saja berjalan mengejar Akseyna hingga ruangan paling sudut dan tanpa sadar..
Aku memasuki ruangan itu, ruangan yang asing, berasa familiar dan tentunya telarang tersebut. Aku melewati batas, namun tak ada seorang pun disana begitu aku masuk.
Sepi. Aku jelas melihatnya masuk kedalam ruangan ini, dan bagaimana bisa tiba tiba ruangan nya tidak terkunci? Siapa Arkeyna sebenarnya, bagaimana bisa dengan mudah lelaki itu masuk ketempat ini dan menghilang.
Yura merasakan suasana seakan sedingin musim dingin, angin datang entah darimana padahal jelas Yura berada di diruangan pengap milik seseorang di masa lalu, ruangan tertutup dan tanpa ventilasi apapun dan terlihat mengerikan.
Lantas darimanakah asal angin itu?
Dan kemana dia?
Yura tak menemukan sosok itu, ia akan berbalik pergi namun sosok itu sudah berada di depannya.
Yura terkejut bukan main, bagaimana bisa- "Astaga Naga!! Kamu bisa sulap!! Kok sekarang bisa di luar?"
"Apa yang kamu lakukan disini Kim Yura?" tanyanya dingin, dia tak membentak hanya saja dari sorot matanya ia seolah tak menyukai keberadaan Yura dalam ruangan yang di sebut beberapa orang sebagai tempat angker dan penuh kutukan.
"Kau bahkan melihatku mengikuti mu!" ujar Yura.
"Apa? Lihat apa?" tanya lelaki itu sedikit marah .
"Sekarang kamu keluar!!" perintahnya tanpa bantahan...
Apa aku pernah mengatakan ini?
Aku adalah Kim Yura, semua yang menjadi pusat perhatianku dan aku menyukainya, semua itu adalah milikku. dan aku tak akan merasa sakit hati hanya untuk satu bentakannya.
"Ini bukan wilayah kamu" peringatnya dan dia pergi meninggalkan Yura masuk kedalam ruangan itu.
"Ini juga bukan wilayah kamu kok!!" jawab Yura, "Heyy!!!" Yura berteriak kala lelaki didepannya tidak mau mendengarnya.
Bagaimana bisa dia memperingati ku sedangkan dia saja melanggar!
"Kak Akseyna tunggu dulu!!" dan dalam sekejab berubah.. "kak ak-
"Kak Akseyna?"
Yura seakan berada di dimensi berbeda, ia menatap gadis yang kini tiba tiba saja berada di depannya.
Dan...
BUGGHH..
Seorang pria memukul wajah tampan itu keras, "Itu peringatan!!" katanya tajam lalu berlalu.
"Seto, kamu sadar ga sih dengan apa yang baru saja kamu lakukan?!" jerit gadis itu kesal, berdiri menahan lelaki itu marah.
"Hanya sedikit menyadarkan nya Asmara, sekarang saya harap dia sadar atau Seto tidak bisa mengendalikan diri dan datang kemari, kau tahu Mara. Raka berusaha menahan Seto datang kemari" kata lelaki itu, menatap kearah lelaki yang kini menyentuh pelipis yang tak biru. Bian menghela napas panjang, "Tidak apa-apa Asmara, jangan membenciku. Kau tahu pukulanku seperti kapas ga ada rasa." katanya menenangkan gadis yang kini sudah ketar ketir di sisi lelaki yang dipukulinya itu, lalu berlalu ke luar ruangan.
Akseyna tidak mengucapkan sepatah katapun namun sorot matanya yang lemah menatap keberadaannya.
"lihatlah, siapa yang salah wilayah saat ini" jawab lelaki itu menatapnya, hanya menatap dirinya dan...
Yura melotot, "aw!" Yura menyentuh dadanya dan jatuh terduduk.
Aku mengeluh, jantungku berdetak kencang. dan perih, tubuhku panas, sangat panas. Dan lelaki itu sama sekali tak mau membantuku, siapa dia sebenarnya! Hari itu terlepas bagaimana tubuhku yang melemah setiap detiknya, keheranan ku lebih kepada apa yang terjadi saat ini dan siapa sebenarnya sosok Akseyna. aku yakin dengan sejelasnya bahwa sama sekali aku tidak bermimpi.
Dan...
"KIM YURA!!"
"KIM YURA!! KAU TIDUR DI KELASKU!!" bentakan Itu membuat kesadarannya kembali.
Yura menatap wajah garang didepannya...
"Eh pak?"
"Jam berapa kau tidur tadi malam, sampai harus tidur dikelas saya juga? kau tidak tahu, ini hari terakhir, ada banyak kisi-kisi yang perlu kamu pelajari? bapak tau Yura kamu jenius, tapi dengan melakukan hal ini artinya kamu tak ada perhatian sama sekali sama materi ini, dan itu berarti kamu tidak menghargai saya mengajar disini"
aku kenapa disini?
"ha?" Yura tampak linglung menatap ke sekitarnya, bagaimana bisa dia berada di kelas ketika ia sadar dirinya mengikuti Akseyna dan berakhir kesakitan di dalam ruangan terlarang itu.
"ha?? kau masih mengantuk Ayura?"
"ya? Yura lo kenapa sih? itu pak tanya kamu loh!" bisik Rhea membuat Yura sepenuhnya sadar.
"Maaf pak" kata Yura menatap pria paruh baya yang sudah berada di hadapannya.
"Dan kenapa matamu sembab?"
"Maaf pak aku sedang memiliki masalah keluarga " jawab Yura yang langsung membuat guru itu terdiam.
Helaan napas terdengar, "Ini kelas terakhir sebelum kamu ujian Minggu depan, jadi perhatikan baik-baik!"
"iya pak."
Tapi tetap aku kebingungan, sebenarnya apa yang terjadi disini?
???
"Bisa-bisa nya lo tidur di kelasnya Pak Aji Yura, lo taukan dia itu pelit sama nilai!! lo bisa bermasalah serius" ujar Rhea mendekatkan bangkunya.
"gue blank sumpah, tadi seharusnya ga seperti itu!"
"ga seperti itu bagaimana sih?" tanya Rhea bingung.
"Hari ini seharusnya kelas musik kan? gue ijin ke toilet. Itu sebenarnya gue ke ruangan terlarang mengikuti kak Akseyna!"
"kelas musik?"
Rhea menatapnya pucat, "lo GA ada apa-apa kan Ra?"
"apa? kenapa?"
"Kelas musikkan udah selesai dari seminggu yang lalu, Bu Hana kan juga udah sampaikan itu, kita ketemu sama dia di ujian praktek Minggu depan. hari ini ga ada kelas untuk kelas musik."
Rhea masih menatap Yura, "yang artinya kamu memang bermimpi"
"Dan Yura, apa sebelumnya lo pernah kesana? maksud gue ke ruang terlarang di lantai ini?"
"Sekali cuman ga sampai masuk"
Rhea memejamkan matanya tak percaya, "jangan berurusan sama tempat itu lagi, atau orang yang berkaitan dengannya. Yura jika mimpi lo tentang tempat itu, berarti lo sedang ga baik-baik saja!"
"sudah ahh itu cuman mimpikan" kata Yura.
"sekali Yura maka lo ga akan bisa keluar, jadi jangan pernah kesana!"
aku tidak tahu
karena mimpi ini saja ku pertanyakan.
"Aku capekkk, aku mau pulang cepat!" seru Yura meraih tasnya.
"Dimas lebih baik dari pada Akseyna"
Yura menatap kearah Rhea, "apa tadi lo bilang Rhee?"
"apa?"
melihat kebingungan yang sama di wajah Rhea, Yura menggeleng. "tidak jadi"
Yura akan meraih tasnya, namun Rhea menahan tangannya. "Tunggu dulu lo enggak mimpi-mimpi macem-macem kan?"
"Macem-macem seperti?"
"Sekolah ini runtuh karena gempa, lalu lo pulang sendirian karna mau selamat sendiri supaya bisa diwawancara dan masuk tivi"
Yura berdiri tanpa menjawab sahabatnya, "enggak sama sekali"
"Ya, okehla. Wajah lo juga sangat pucat, pasti guru izinin."
"lo kira gue becanda apa"
"ya enggak juga sih"
"Gimana mau gue antar?"
"Tidak perlu" dan Yura berjalan pergi.
Ada beberapa keganjilan, Yura ketakutan... Kesedihan berlebihan.. Apa yang terjadi barusan seolah nyata. Ada sesuatu yang berkaitan dengan dirinya, yang tidak pernah ia ketahui... Akseyna membuatnya jatuh hati, namun sosok lainnya membuat hatinya sedih dan merasa dalam bahaya.
Mimpi seperti itu menjadi sangat sering, dan apakah ini karena aku kelelahan?
>>>
To be continue?