Bunuh diri Massal di Damitry?

1135 Words
"Gue barusan ketemu sama kak Akseyna" kata Yura dengan gembiranya. "kak Akseyna astagaa" katanya lagi membuat Rhea menatap sahabatnya malas. "hoo" "kok ekspresi lo kayak gitu?" Rhea menatap sahabatnya itu dengan senyum terukir dibibirnya, "hanya ketemu kan? meskipun begitu kak Akseyna bukan tipe cowok yang mau pacaran dengan pacar satu kelasnya sendiri" Yura mencebikkan bibirnya, ia sihh dia tahu kalau Yura lagi menjalin hubungan sama Dimas. "Berarti secepatnya gue perlu mutusin kak Dimas" katanya membuat Rhea mukul Yura. "Ya!! lo kok mukul sih??" "Jangan mempermainkan perasaan orang Ra, bisa bisanya ya lo punya pikiran kayak gitu." "kan lo tahu, gue ke kak Dimas kayak gimana!" sahutnya membuat Rhea berdesis, sedikit kecewa dengan cara pemikiran temannya itu. "sudah lah lagi pula kak Akseyna ga segampang yang kamu pikirkan." "iya sulit makanya gue suka dia" kata Yura membuat sahabatnya menggeleng-geleng saja. "kok gue ga pernah dengar nama Akseyna di agung agungkan si Rhee?" "oh itu, ada kok. kamu aja yang ga pernah dengar. kak Akseyna itu tempatnya di sekolah cuman dua, kelas dan perpus. cuman meskipun begitu dia bukan termasuk orang yang pintar juga sih. pintar iya cuman stuck nya itu di peringkat 4 doang. dari kelas satu dia peringkat empat terus. Anehkan?" "dia kelihatan sempurna banget sih tadi" senyum Yura. "ehh sadar astagaa kenapa sih jadi bucin begini. Ingat kak Dimass" "Iyaaa bawelll" jawab Yura... "Ehh Yura lo tadi kemana sih? tadi di cariin sama Bu Wina kesini" "oh udah kok tadi ketemu, gue disuruh ke Perpustakaan, pas di sana ternyata Bu Devika udah ngerjain sendiri. makanya dua jam itu di bawa ke ruangan guru, membersihkan" "yaa memangnya lo habis kemana sih?" "ya itu ketemu sama kak Akseyna di rooftop, katanya kelasnya ga ada guru makanya dia lama banget disana ya gue mah ikut ikut doang." "Bisa bisanya ya kak Akseyna mau diajak duduk bareng sama cewek" Yura mengernyit, "maksudnya?" "kak Akseyna itu ga gampan di dekatin, dia orangnya tertutup tau." "bisa aja dia kayak gitu karena itu gue" kata Yura percaya diri. membuat Rhea berdecak tak tahu harus mengatakan apa lagi pada Yura. Rhea menatap ponselnya. "Masih tanggal 30 November, ini belum saatnya kan?" batinnya. ??? Sepulang sekolah Yura dan Rhea pulang bersama, Rhea di jemput oleh mobil satu hal biasa kok. Rhea memang anak dari keluarga yang sangat berkecukupan, tinggal di perumahan orang kaya. Damitry memang sekolah yang rata-rata siswanya dari keluarga berada, tidak diherankan. "Pak antar ke rumahnya kak Clarisa ya" "baik non" kata sopirnya, Yura menatap keluar jendela hanya sebentar sebelum ia mengalihkan tatapan kembali ke Rhea. "kak Clarisa?" "iya lupa gue jelasin, kak Clarisa itu angkatan pas kejadian itu ada. Dia tahu banyak tentang Damitry" "Rhea lo memang dari dulu tertarik sama Misteri Damitry ya?" "bukan tertarik, lebih ke penasaran dan mencari kebenaran doang sih" Yura mengernyit bingung, "gue dengarnya mencari keadilan tahu ga sih" "hahaha kayak gitu lah, dari dulu gue heran aja alasan bunuh diri massal di Damitry. percaya ga sih itu benar bunuh diri?" "pasti ada alasan kenapa itu bunuh diri bukan pembunuhan." Karena tak ada bukti pembunuhan. tak ada bukti kekerasan. semuanya seolah dilakukan suka rela. namun siapa yang bodoh melakukan hal tersebut? Rhea menghela napasnya seakan menenangkan dirinya "hmmm" drrrt... "tunggu ya ayahku menelpon" kata Rhea dan mengangkat panggilannya. tak terlalu jelas apa yang mereka obrolkan, namun mimik wajah Rhea seakan kebingungan dan khawatir. "Baik pa, Rhee akan cepat kesana"katanya lalu mematikan panggilan itu. Yura mengangkat alisnya bingung penasaran dengan apa yang ayah anak itu obrolkan di telpon. "Gue ternyata harus pulang cepat" kata Rhea dengan khawatir. Yura mengangguk saja. "Pak tolong putar balik ke rumahnya Yura" "baik non" "tidak usah pak!" kata Yura dengan senyum terukir di bibirnya. "Turunin di halte aja pak" tambah Yura. "kok gitu?" "aku tahu kamu buru-buru. gue gapapa, lagipula gue bisa minta tolong orang rumah jemput gue disini" jawab Yura yang di angguki Rhea. "enggak apa apa kah ini?" "iyaa" "maaf ya Ra, ini sesuatu hal yang ga gue prediksi." "santai" kata Yura lalu turun dari mobilnya Rhea. "nggak apa-apa kan ini?" "iya bawel, sana dehh" usir Yura dan di balas wajah sedih oleh Rhea. "hubungi gue ya kalau udah sampe rumah" kata Rhea yang diangguki oleh Yura. setelahnya mobilnya berlalu meninggalkan Yura sendirian di Halte. "kira kira apa ya yang terjadi sama Rhea, kok panik banget" tanya Yura pada dirinya sendiri. nantilah ia tanyakan. Segera itu Yura meraih ponselnya dan menghubungi sopirnya untuk menjemput dirinya. ??? Besoknya, aku terus memiliki keinginan untuk bertemu dirinya. baik itu secara sengaja atau tidak sengaja. pernah suatu hari di jam kedua, aku ijin ke toilet, aku turun ke lantai bawah hanya untuk melewati kelasnya. Pengaturan kelas di Damitry memang berbeda, dimana di lantai bawah adalah milik senior kelas 3, lantai 2 senior kelas 2 dan ada beberapa kelas untuk kelas 1 dan dilantai sepenuh nya milik kelas satu dan beberapa ruang seni dan keahlian. Laboratorium ada di gedung lain tapi masih dalam area Damitry. Di sana aku melihatnya, duduk di bangku dekat jendela. dan kegiatan nya saat guru tidak ada hanyalah memandangi keluar jendela dengan wajah yang sedih. kulihat seperti itu, dia adalah satu hal yang menjadi pusat perhatianku. "eh Ayura.. ngapain disini? cari Dimas ya? eh lo kan pacar Dimas masa ga tahu sih dia ga ada disini. enggak diberitahu? kalian marahan?" Yura tersenyum tipis dan menggeleng. "cuman lewat aja kak, lihat lihat." senior wanita itu hanya mengangguk saja dengan raut wajah yang sedikit menunjukkan ketidak percayaan. Yura menatap ke dalam kelas itu lagi, dan melihat lelaki bernama Akseyna itu menatapnya dengan ekspresi tak terbaca (datarnya). Yura tersenyum tipis lalu kembali menatap senior wanita itu gembira namun penuh hormat. "Kelas kakak bersinar kayak matahari ya" kata Yura dan berlalu. senior ber-nametag Jihan Fahira itu menatap kepergian Yura tak mengerti. "Kenapa Je?" tanya temannya yang ikut keluar begitu melihat Jihan yang mematung. "Itu pacarnya Dimas, aneh bet dah" "aneh?" "iyaa, dia bilang kelas kita secerah matahari" "oh mungkin dia tadi lihat Akseyna sama Julian, maklum kelas kita yang paling banyak punya cogan hahaha" "iyasihh, ehh tapi hati hati. gadis itu kulihat lihat masih belum puas sama Dimas." "ha gimana?" "Taukan kisah serigala dan anak babi? gitu tatapan si Yura kaya serigala mau mangsa cogan di kelas kita gitu." "astaga, udah ahh... ga usah pikirin dia sih.. mending belajar lagi yuk" kata temannya itu membuat Jihan mengangguk. "iya juga sih" jawabnya dan berlalu masuk kedalam kelas. Seperti biasa kelas tiga akan menghadapi ujian akhir sekolah, unbk, uasbn, dan ujian masuk universitas. sehingga anak kelas tiga di Damitry benar benar sibuk belajar. Di dalam kelas itu pun benar-benar hanya memfokuskan diri pada lembar di depannya, beberapa tumpuk buku di hadapan mereka, dan tak ada waktu untuk mengobrol. Hanya Akseyna yang terlihat menikmati waktunya menatap keluar jendela, tak memperdulikan buku yang ada di hadapannya. Tapi apa benar itu Akseyna? kenapa tak ada tanda kehidupan dalam tatapannya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD