bc

Di Balik Luka Sang Raja Hilang Ingatan

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
dark
contract marriage
family
HE
age gap
fated
friends to lovers
badboy
goodgirl
mafia
gangster
heir/heiress
blue collar
drama
sweet
bxg
city
office/work place
childhood crush
like
intro-logo
Blurb

Tariq selamat dari percobaan pembunuhan, namun kehilangan segalanya. Salma menyelamatkannya tanpa tahu pria itu adalah raja mafia yang sedang diburu musuh paling berbahaya.

chap-preview
Free preview
Bab 1 - Satu Tembakan, Dua Takdir Berbeda
Dor! Satu tembakan memekakkan telinga tepat mengenai ban depan mobil. Kendaraan itu seketika hilang kendali, meluncur liar, lalu terjun bebas ke dalam jurang dalam sebelum akhirnya meledak hebat di dasarnya. "Habis sudah kau," gumam seorang pria berjaket kulit hitam dan kacamata gelap. Sebuah senyum sinis terukir di bibirnya saat menatap kobaran api di bawah sana. Beberapa orang yang berdiri di belakangnya ikut tertawa puas menyaksikan kehancuran itu. "Ayo kita tinggalkan tempat ini. Dia sudah tak bernyawa. Tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Kelompok mereka tak lebih dari sekawanan sapi tanpa pemimpin, dan tak akan berani mengganggu kita lagi," ucap pria itu. Namanya Khalid bin Zaid Al-Zahrani, pemimpin kelompok mafia dari golongan Timur. "Kenapa Tuan tidak sekalian mengambil alih seluruh kekuasaan mereka?" tanya salah satu anak buahnya. "Itu takkan mudah selama Zaid Al-Ghazi, tangan kanan Tariq El-Mansour, masih hidup. Yang terpenting, Tariq sudah lenyap. Itu sudah lebih dari cukup. Mereka takkan sanggup berbuat apa-apa lagi," jawab Khalid dingin. Mereka segera berbalik pergi, meninggalkan lokasi tanpa niat sedikit pun untuk memanggil bantuan atau tim penyelamat. Padahal, di bawah sana, jauh dari pandangan mereka... Di balik rimbunnya dedaunan dan perlindungan bebatuan besar, sesosok pria terbaring mengerang kesakitan. Kepalanya basah kuyup oleh darah. Dengan sisa tenaga yang ada, ia berusaha bangun dan merangkak naik menanjak tebing curam itu dengan sangat susah payah. Kakinya lumpuh tak bisa digerakkan, begitu pula salah satu tangannya yang terasa nyeri luar biasa. Mungkin benturan keras tadi meremukkan tulang-tulangnya. Namun ia tak menyerah. Ia terus merayap, hingga akhirnya berhasil mencapai pinggir jalan raya yang tak terlalu jauh dari tempat ia jatuh. Namun tenaganya sudah benar-benar habis. Tubuhnya tak sanggup lagi bergerak. Ia akhirnya tergeletak tak berdaya di tepi jalan, sekujur tubuhnya tertutup debu, luka, dan darah. * * Di tempat lain, tepatnya di sebuah rumah sakit, seorang gadis berseragam perawat melangkah keluar dari ruang perawat menuju tempat parkir. Jam kerjanya baru saja usai, dan ia ingin segera pulang beristirahat agar esok hari bisa kembali bekerja dengan kondisi prima. Salma El-Fassi—atau yang akrab disapa Salma oleh rekan kerjanya—mengendarai motornya dengan kecepatan sedang membelah jalanan sore yang masih terasa sangat menyengat. Padahal matahari sudah mulai condong ke barat, namun entah mengapa hari ini terasa lebih panas dari biasanya. Saat tiba di jalan yang cukup sepi, langkah motornya tiba-tiba terhenti. Di kejauhan, sesosok tubuh tergeletak tak bergerak di pinggir jalan. Tanpa rasa takut sedikit pun, Salma turun dan mendekat. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat darah yang menggenang di kepala pria itu. Awalnya ia mengira pria itu sudah tiada karena diam seribu bahasa. Namun saat ia mengecek napas dan denyut nadinya, tanda kehidupan masih ada—meski sangat lemah. "Dia masih hidup... Aku tidak mungkin membiarkannya di sini. Tapi bagaimana caranya aku membawanya ke rumah sakit?" gumam Salma bingung. Ia ingin menumpang pada kendaraan lewat, namun jalan ini sangat sepi dan jarang dilewati orang. "Ambulan!" serunya pelan saat teringat layanan di tempatnya bekerja. Segera ia menghubungi bagian gawat darurat, meminta ambulans dikirim ke lokasi, lalu mengirimkan titik koordinatnya. Sambil menunggu, Salma membersihkan luka di kening dan leher pria itu sebaik mungkin. "Siapa kamu... Apa yang menimpamu hingga terluka separah ini?" bisiknya lirih. Tak ada jawaban. Pria itu masih terlelap dalam ketidaksadaran yang dalam. Tak lama kemudian, suara sirine terdengar mendekat. Ambulans berhenti tepat di depannya. Petugas segera menurunkan tandu untuk mengangkat tubuh pria tak dikenal itu. "Sal, kamu ikut ke rumah sakit?" tanya Daud, sopir ambulans yang sudah lama dikenalnya. Salma mengangguk lemah. Ia pun mengikuti dari belakang dengan motornya. Ya Tuhan... Padahal aku sudah sangat lelah dan ingin segera tidur. Mengapa harus ada hal seperti ini yang kutemui? batinnya pasrah. Namun apa daya, sisi kemanusiaanku tak membiarkanku berpaling. Sepuluh menit perjalanan akhirnya mereka tiba kembali di rumah sakit. Korban segera dibawa masuk ke ruang tindakan UGD, sementara Salma diminta memberikan keterangan kepada bagian administrasi. Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Dokter Lina Hanif keluar menghampiri Salma yang tertidur di kursi tunggu karena kelelahan. "Salma..." panggilnya pelan, membuat gadis itu tersentak bangun. "I... Iya Dok. Bagaimana keadaan dia?" tanyanya gelagapan. "Kamu pasti sangat lelah, bukan? Padahal jam kerjamu sudah selesai," ucap Dokter Lina lembut. "Iya Dok... Di jalan pulang aku menemukannya tergeletak begitu saja. Aku ingin membiarkannya lewat, tapi aku juga seorang perawat. Bagaimana mungkin aku mengabaikannya?" jawab Salma sambil menghela napas panjang. Dokter Lina tersenyum tipis lalu menepuk bahu gadis itu. "Kita memang diciptakan dengan hati yang tak tega melihat orang lain menderita, Sal." Wajah dokter itu perlahan berubah serius. "Namun aku harus jujur padamu. Luka-lukanya sangat parah. Ada patah tulang dan luka dalam yang harus segera ditangani. Ia butuh operasi besar jika ingin selamat." Dada Salma terasa sesak seketika. Siapa yang akan menanggung biayanya? Pria itu tak membawa kartu identitas sama sekali. "Aku bingung Dok... Siapa yang akan membayarnya? Dia sama sekali tak memiliki tanda pengenal, aku tak bisa menghubungi keluarganya," ucapnya lirih. "Aku mengerti kebingunganmu, Sal. Menolong itu mulia, tapi biaya rumah sakit taklah murah," sahut Dokter Lina. "Cobalah temui Pak Direktur sekarang. Mumpung beliau belum pulang, tanyakan apa yang sebaiknya kamu lakukan." Salma mengangguk ragu. Ia melangkah gontai menuju ruangan direktur. Di depan pintu ia sempat ragu dan ingin berbalik kembali, namun sialnya tepat saat ia berbalik, Pak Faiz—sang direktur—sedang berjalan mendekat. "Salma? Ada apa? Kamu mencariku?" tanya Pak Faiz setelah melihat nametag di dadanya. "Tidak... Tidak ada apa-apa Pak, maaf mengganggu," jawab Salma gugup. "Pasti ada hal penting sampai kamu datang ke sini. Ayo masuk," ucap Pak Faiz bijak, seolah mengerti kegelisahan gadis itu. Dengan langkah gemetar Salma duduk berhadapan dengannya. "Ada apa? Katakan saja dengan jujur." Dengan ragu Salma menceritakan semua kejadian di jalan, serta kondisi pria yang ia temukan dan kebutuhan operasinya. Di sinilah ia benar-benar merasa tak tahu harus berbuat apa. "Jadi... apa yang harus saya lakukan, Pak? Dia benar-benar asing bagi saya. Tak ada kartu nama, tak ada alamat. Saya tak bisa menghubungi siapapun," ucapnya sambil menunduk. Pak Faiz menghela napas panjang. Ia pun paham betapa sulitnya posisi gadis itu saat ini. "Baiklah Salma. Begini saja. Aku akan memanggil dokter bedah untuk mempersiapkan semuanya. Aku akan menanggung separuh biayanya. Namun, sisanya harus kamu yang tanggung. Dan kamu harus bersedia menjadi penanggung jawab pria ini sampai keluarganya ditemukan atau ia sadar. Bagaimana? Apakah kamu bersedia?" Salma menelan ludah dengan susah payah. Meskipun hanya separuh, ia tahu biaya operasi pasti sangat besar. "Apakah... apakah saya boleh mencicilnya, Pak? Atau dipotong dari gaji saya setiap bulan?" * * Di lokasi kejadian, beberapa mobil hitam berhenti berjejer di tepi jurang. Pintu-pintu terbuka, dan puluhan pria berkemeja hitam turun dengan langkah cepat. Mereka mendekati tepian, menatap ke bawah ke arah kobaran api yang masih menyala hebat di dasar jurang. "Maaf, Tuan... Sepertinya kami terlambat," ujar salah satu dari mereka dengan suara tertahan. Zaid Al-Ghazi—tangan kanan sekaligus orang kepercayaan Tariq El-Mansour—menatap kosong ke arah api yang berkobar. Hatinya diremas cemas yang luar biasa. "Benar katamu... Apakah mungkin Tuan Tariq selamat dari kejadian ini?" gumamnya pelan, namun sarat akan keputusasaan. "Sangat kecil kemungkinannya, Tuan. Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan beliau sekarang," sahut pria lain di sampingnya. "Apakah kita harus segera membalas mereka, Tuan?" tanya seorang anggota dengan wajah penuh amarah. "Belum sekarang," jawab Zaid tegas meski matanya masih tak lepas dari pemandangan mengerikan di bawah sana. "Fokus utama kita saat ini adalah mencari Tuan Tariq. Hidup atau mati, kita harus menemukan beliau. Namun aku berharap dengan segenap jiwa—beliau masih bernyawa. Organisasi ini takkan berjalan tanpa kepemimpinannya." Semua anggota mengangguk paham. Wajah mereka tegang, bercampur rasa khawatir dan dendam yang mulai memuncak. Mereka tahu, musuh mendapat dukungan dari pihak berkuasa, sehingga dengan mudah mereka bisa melancarkan serangan licik ini untuk melenyapkan Tariq. Saat Zaid sedang tenggelam dalam pikiran yang berat, ponsel di saku jasanya bergetar berkali-kali. Ia segera mengangkatnya, meski nomor yang tertera tak dikenalnya. "Halo? Siapa ini?" Suara tawa meledak dari seberang—suara yang sangat ia kenal dan benci. "Selamat sore, Tuan Zaid... Bagaimana rasanya melihat pemimpinmu hancur lebur? Hahaha!" Rahang Zaid mengeras seketika. "Khalid... Apa maumu sebenarnya?" desisnya dengan amarah yang tertahan. "Aku hanya ingin menikmati kehancuran kalian perlahan," jawab Khalid dengan nada penuh kesombongan. "Segala urusan bisnis, baik yang terang maupun yang gelap, akan menjadi milikku. Tunggu saja giliranmu selanjutnya, Zaid."

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
770.6K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.9M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
995.7K
bc

A Warrior's Second Chance

read
369.0K
bc

Not just, the Beta

read
353.7K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook