KADO UNTUK IBU MERTUA 9
Aku memilih untuk mengabaikan pesan dari Mbak Ulfa yang masih sudah pasti akan membuat mood-ku anjlok. Gara-gara dia aku jadi berprasangka buruk terus pada mertua dan ipar. Aku yang selalu dihina dan menjadi bahan perbandingan menjadikanku tidak percaya diri dan ternyata membangkitkan rasa percaya diri itu tidaklah mudah.
Seolah otakku ini sudah di-setting sedemikian rupa agar menganggap makhluk bernama mertua dan ipar menyeramkan.
Aku tersenyum melihat foto dan video kebersamaan dengan para ipar. Seingatku, aku tidak punya foto satu pun kebersamaan dengan Mbak Ulfa dan Ibu serta bapak.
"Wah cantik sekali gamis ini," seru ibu.
Wanita yang sudah melahirkan suamiku itu merentangkan gamis berwarna coklat yang merupakan kado hadiah ulang tahun dariku. Ah, aku malu mengatakan kado itu dariku karena pada kenyataannya uangnya dari ibu. Anggap saja ibu titip.
Mbak Divya meraih gamis itu dari tangan ibu. " Kado dari siapa ini, Bu?" tanyanya seraya mengusap gamis itu.
"Ini kado dari Ines,"
Buru-buru aku menunduk saat wanita bermata teduh itu melirikku. Dalam hati aku terus berdoa semoga ia tidak bilang pada para ipar kalau sudah memberiku uang seperti bayanganku kemarin.
"Coba dipakai, Bu!" kata Mbak Nirma.
Dia lalu dengan antusias membantu ibu memakaikan gamis itu. Setelah itu Ibu berputar-putar layaknya anak kecil yang baru saja mencoba memakai baju baru hingga semua orang yang ada di ruangan itu tertawa.
"Duh, cantiknya gamis ini. Bahannya juga adem. Nyaman banget di kulit. Terima kasih, ya, Nes," kata Ibu. Kebahagiaan tidak dapat ia sembunyikan dari raut wajahnya.
Aku tersenyum kecut. Ibu begitu berlebihan dalam menjaga harga diriku di depan anak yang lain, tetapi perasaanku malah semakin tidak enak. Aku ingin mengangguk dan mengakui kalau gamis itu hadiah dariku tapi kepalaku terasa berat.
"Oh ini dari Ines. Wah, pintar sekali Ines memilihkan gamis yang cocok untuk Ibu. Lihat, bisa pas banget gitu. Nggak kebesaran maupun kekecilan. Terima kasih, ya, Nes," kata Mas Akbar.
Perasaanku semakin tidak karuan. Telingaku terasa panas mendengar pujian dari mereka yang sebenarnya tidak pantas kudapatkan.
"Kalau kayak gini aku jadi nggak perlu khawatir meninggalkan ibu di sini karena ada Ines yang begitu pengertian," kata Mbak Divya.
Aku tidak tahan lagi mendengar mereka yang bersahutan dalam memujiku.
"Duh kayaknya hanya aku sendiri yang nggak ngasih kado untuk Ibu," kata Nella. "Gimana mau ngasih. Aku kan nggak punya penghasilan. Masa iya aku minta uang ke ibu terus dibelikan kado? Nggak lucu, ah,"
Deg!
Aku merasa tersentil mendengar ucapan gadis yang merupakan anak bungsu di rumah ini. Hatiku terasa dicabik-cabik. Jantungku berdegup kencang, dan telingaku terasa berdenging.
Apa mungkin gadis yang pembawaannya selalu ceria itu tahu kalau ibu memberi uang kepadaku agar aku bisa membeli kado dan ucapannya itu sengaja untuk menyindirku?
Aku benci dengan perasaan ini. Kebaikan mereka sudah tidak diragukan lagi, tetapi kenapa aku masih saja belum bisa berpikiran positif?
Aku menggeleng. Tidak, ucapan Nella itu pasti hanya kebetulan dan tidak bermaksud untuk menyindirku. Dia memang belum punya penghasilan karena tidak bekerja, bukan?
Ayolah, Nes. Jangan negative thinking terus.
"Bukan hanya kamu yang nggak ngasih kado kok, Nel." Aku meringis. "Aku juga."
Dada ini terasa plong sekarang. Iya, lebih baik aku jujur. Perkara pandangan para ipar nanti itu dipikir belakangan.
"Lho, bukannya gamis itu darimu, Nes?" tanya Mbak Divya dengan tatapan menyelidik.
Aku menggeleng lemah. "Bukan, Mbak. Ibu salah."
Dahi Ibu berkerut. "Salah dari mana, Nes? Jelas-jelas ini kado darimu."
Di atas meja yang diberi taplak motif bunga-bunga itu terdapat dua buah kado yang belum dibuka. Lalu Ibu mengambil satu yang dibungkus rapi dengan kertas kado bermotif batik dan menunjukkan pada kami. "Ini dari Divya."
"Iya, dan ini dariku," sahut Mbak Nirma. Wanita yang posisinya sama denganku itu mengambil kotak yang lain yang berwarna biru dan diberi pita cantik di bagian atasnya.
Ibu tersenyum. "Kalau ini dari Divya dan yang itu dari Nirma, tentu saja yang sudah dibuka tadi dari Ines. Kadonya hanya ada tiga karena Nella nggak ngasih."
Aku menunduk dan memainkan jari tanganku sendiri. Mataku terasa berat seolah dipenuhi gumpalan-gumpalan air yang siap meluncur dan tumpah ruah.
"Iya, itu memang kado dariku, tetapi uangnya dari Ibu." Aku berkata dengan suara serak karena menahan tangis.
Setelah kata-kata itu berhasil kuucapkan dengan susah payah, aku tidak berani mendongak untuk menatap semua orang. Entah apa yang ada di pikiran mereka saat ini. Aku pasrah.