Bukan pura-pura

1048 Words
KADO UNTUK IBU MERTUA 10 Setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Begitu juga dengan para ipar yang sore ini akan berangkat kembali ke kota menjalani aktivitasnya seperti biasa. Mbak Divya terlihat cantik memakai gaun panjang polos warna ungu muda dan pashmina warna senada. Wanita itu tersenyum cerah seraya merentangkan tangan untuk memelukku. Bau harum parfum yang lembut begitu menenangkan saat aku berada dalam pelukan kakak ipar. Dia berbisik. "Aku titip Ibu, ya, Nes. Kalau ada apa-apa hubungi aku dan ingat, jangan minder lagi. Ayo, bangun kepercayaan dirimu setinggi mungkin." Aku mengangguk. Mataku berkedip-kedip untuk menahan gumpalan air yang siap meluncur. Entah sudah berapa banyak air mata yang tumpah sejak kedatangan para kakak ipar. Namun, ini adalah air mata kebahagiaan bukan kesedihan seperti saat berada di rumah bersama ayah ibu dan Mbak Ulfa. Tidak lupa Mbak Divya juga meminta anaknya yang terlihat menggemaskan itu untuk menyalamiku. Oh, lagi-lagi aku teringat dengan ponakanku--anak Mbak Ulfa yang hingga berusia tiga tahun, aku belum pernah menyentuh apalagi menci umnya dengan gemas karena selalu dilarang oleh sang ibu. Lalu pergantian dengan Mbak Nirma yang juga terlihat cantik dengan setelan panjang berwarna hijau. Penampilannya semakin sempurna dengan hijab di kepalanya. Ah, aku jadi minder di sini karena hanya aku yang belum menutup aurat dengan sempurna. Semoga suatu saat nanti aku bisa seperti para kakak ipar yang istiqomah mengenakan hijab. Jika dengan Mbak Divya dan Mbak Nirma saling berpelukan, berbeda dengan kakak ipar lelaki--Mas Faris dan Mas Akbar. Dengan keduanya aku hanya mengangguk dan menangkupkan tangan di d**a. "Ibu, jaga kesehatan, ya." Mbak Divya mencium tangan ibu yang berlanjut dengan pelukan hangat. Matanya berkaca-kaca, seolah enggan untuk meninggalkan wanita yang sudah melahirkannya itu. Dadaku menghangat menyaksikan perpisahan antara ibu dan anak. "Nggak usah khawatir, Vi. Sekarang ada Ines yang menjaga Ibu." Ibu mengurai pelukan anak perempuannya yang nomor dua itu, lalu membingkai wajahnya. Bu Mila tersenyum manis. Ia mengusap pipi Mbak Divya yang basah serta membetulkan letak jilbab sang anak yang sebenarnya sudah rapi. Mataku berkedip-kedip. Seketika bayangan ibu saat aku berpamitan akan pulang kembali berkelebat di kepala. "Bu, aku mau pulang." Aku mendekati ibu yang sedang sibuk dengan ponselnya. "Mau pulang, ya, pulang aja. Nggak ada yang melarang," jawabnya dengan tetap fokus pada layar ponsel entah sedang apa sehingga tidak mau diganggu. Aku mengulurkan tangan hendak menyalaminya, tetapi ia bergeming dan membiarkan tanganku menggantung di udara. Aku mendesah pelan, "Bu?" "Iya, mau pulang, kan? Ya udah sana pulang!" "Aku hanya mau salim dan cium tangan Ibu," ucapkan dengan bibir bergetar. Wanita yang sangat kuhormati itu mengulurkan tangan tanpa menoleh. Gegas aku meraih dan menciumnya meski ibu sama sekali tidak peduli karena ia masih asyik dengan layar di depannya. Hatiku meratap pilu. Ibu, tidak kah kau sedih saat anak perempuanmu ini harus pulang ke rumah suaminya? "Ayah di mana, Bu?" aku celingukan mencari keberadaan lelaki yang merupakan Cinta pertamaku itu. "Mau apa mau cari ayahmu? Tidak mau ngasih uang, kan?" jawab ibu Ketus. Aku menelan ludah dengan susah payah. Ibu benar, aku mencari Ayah bukan untuk memberinya uang seperti saat masih bekerja di pabrik dan belum menikah. Namun, saat aku datang sudah membawa satu kardus berisi sembako untuk ibu dan sudah pasti ayah juga ikut menikmatinya. Aku mengusap air mata dan tersenyum melihat Mas Ramzi yang sudah menungguku di atas motor. Aku menghela napas panjang dan menghembuskannya lalu kembali fokus dengan para ipar yang sudah siap memasuki mobil. "Aku titip Ibu, ya, Ram," kata Mas Faris pada Mas Ramzi seraya menepuk pundaknya perlahan. "Iya, Mas. Aku pasti akan menjaga ibu dengan baik. Insya Allah." "Oh, iya aku tunggu kabar baik darimu, ya," kata Mbak Divya. Tanpa basa-basi ia mengusap perutku yang masih rata ini. "Sebentar lagi kita akan kedatangan keluarga baru." Aku dan Mas Ramzi saling pandang. Suamiku itu menatapku tajam seolah menghujam jantungku. Duh, dengan adanya para ipar yang baik ini rasa cintaku padanya semakin bertambah besar. Aku dan Mas Ramzi tersenyum lalu menjawab serempak. "Aamiin." "Kalau sudah sampai langsung kabari Ibu, ya?" Ibu menatap ke dalam mobil yang kacanya masih terbuka. "Iya, Bu," jawab Mas Akbar yang sudah siap menyetir. "Jangan lupa makan dan istirahat yang cukup. Jangan kerja terus!" "Salat jangan sampai lupa!" Aku tersenyum mendengar pesan khas Ibu untuk para anak dan menantunya padahal seingatku tadi sudah bilang seperti itu, tetapi sekarang diucapkannya lagi. Kami melambaikan tangan saat mereka kendaraan roda empat mulai berjalan perlahan meninggalkan halaman. Kami baru masuk ke dalam rumah setelah mobil menjauh dan perlahan menghilang di tikungan. *** Seulas senyum terbit di bibirku saat melihat status Wa Mbak Divya yang diberi keterangan [Selamat tinggal kampung halaman. Aku akan selalu merindukanmu, terutama Ibu] Wanita itu mengunggah foto pot bunga dari tanah liat berisi bunga mawar merah yang sedang mekar. Foto itu diambil di teras rumah ibu. Setahuku, Mbak Divya memang jarang membuat status yang menunjukkan apa yang dia punya, bahkan aku sama sekali belum pernah melihat rumahnya seperti apa. Selain karena aku belum pernah ke sana juga Mbak Divya tidak pernah memajang di media sosial padahal kata Mas Ramzi rumahnya sangat megah. Beralih dari status WA Mbak Divya, aku teringat pesan Mbak Ulfa yang menumpuk. Kakak perempuanku itu pasti mencak-mencak saat melihat pesannya belum berubah menjadi biru hingga sekarang. [Ines] [Angkat teleponku, woy] disertai emot monster hitam bertanduk mengeluarkan asap. [Sedang sibuk apa, sih, sampai nggak sempat angkat teleponku?] [astaga! Baru jadi tukang bakso aja belagu]] [Angkat, Ines] dengan emot marah yang berjejer-jejer. Dalam bayanganku Mbak Ulfa sedang kesal lalu berjalan dengan menghentakkan kaki cukup keras atau bisa juga ponselnya langsung dibuang. Namun, sepertinya tidak karena masih ada pesan lagi. [Sombong] [Menyebalkan sekali] [Sedang ada acara apa sampai pakai seragam segala] Kepo amat dia. [Ya ampun ni anak tetap nggak mau angkat teleponku. Hanya menjadi tukang bakso aja sok sibuk. Bagaimana kalau nanti punya restoran besar dan punya banyak cabang? ] Aku mengucap Aamiin setelah membaca pesan yang satu ini. Anggap saja Mbak Ulfa sedang mendoakan kesuksesan untuk adiknya ini. [Kalau dekat sudah kujambak kamu, Nes. Aku nggak terima kamu abaikan kayak gini!] Astagfirullah, ngeri sekali. [Ines, ayo katakan padaku kalau kamu juga hanya pura-pura bahagia!] Dahiku berkerut membaca pesan ini. Mataku fokus pada kata juga. Apakah ada orang lain yang ia anggap hanya pura-pura bahagia? Kuhela napas panjang sebelum menekan tombol telepon yang ada di atas pesannya. Aku perlu menjelaskan kalau aku tidak pura-pura bahagia. [Halo, Mbak]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD