"Jika kau mau melakukan apapun untuk menyelamatkan dia artinya kau sudah sangat mencintainya."
"Tidak aku tidak mencintainya. Aku hanya tidak ingin dia hancur akibat kesalahanku, ini salahku."
"Jadi kau bersalah telah merayunya dan dia dengan tidak sadar menerima cintamu!" Aku menanyakannya dengan sini karena mana mungkin seseorang berselingkuh di luar kesadaran.
"Aku memang salah, aku khilaf dan aku berjanji tidak akan mengulangi hal itu." Sekonyong-konyong Mas widi langsung menjatuhkan diri dan memeluk lututku. "Maafkan aku, tolong jangan buat sesuatu yang akan kusesali seumur hidup, Aku tidak ingin kita berpisah sehingga anak-anak menderita."
"Jadi kau dan dia hanya bersenang-senang?"
"Iya," jawabnya menggangguk pelan.
Entah apa yang harus aku katakan dan hendak apa sikap yang kuambil. Suamiku sudah meraung menangis memeluk lututku, sementara aku yang masih belum terima dengan kenyataan ini, pastinya, tidak mampu untuk segera memaafkannya.
"Aku tidak bisa memaafkanmu secepatnya," ucapku sambil meninggalkan dia yang masih berlutut di lantai.
Entah apa yang dia lakukan setelah kutinggalkan dia ke kamar, sehabis mandi aku tidak lagi menjumpai mobilnya terparkir di garasi.
Mungkin dia sudah berangkat ke rumah sakit.
Pertanyaannya sekarang siapakah wanita bernama Rani itu, Apakah dia adalah seorang dokter ataukah teman alumni kuliahnya. Wanita itu nampak seperti orang kaya yang punya segalanya.
Apakah yang telah menjadi sebab sehingga wanita itu mau berselingkuh dengan suami orang, Apakah ia tidak bahagia dengan dirinya yang cantik dan kaya, ataukah suaminya tidak memberinya kebahagiaan yang pantas.
Oh ya, aku lupa membahas tentang transaksi di m-banking. Aku harus bertanya! Tapi kalau aku bertanya, itu sama saja dengan menghilangkan bukti, sebaiknya aku diam saja. Chat di m-banking itu, suatu hari akan kuperiksa untuk membuktikan apakah mereka benar-benar sudah berhenti berhubungan atau masih saja. Aku tidak akan membahasnya.
Rencanaku sekarang adalah pergi mencari tahu tentang alamat dan keluarga wanita itu. Akan kutemui suaminya, akan kuhancurkan hidupnya seperti dia menghancurkan kepercayaanku kepada Mas Widi. Boleh jadi aku akan memberitahu kelakuan mereka atau mungkin aku yang balik menggoda suaminya. Tidak, opsi kedua tidak usah. Kalau aku menggoda, berarti aku dan wanita bernama Rani itu sama saja.
*
Aku pergi ke rumah sakit, mengantri di poli psikologi, di mana Dokter Okan sedang bertugas. Saat namaku dipanggil dan aku masuk ke ruangannya, lelaki setengah wanita itu, seperti terperanjat dan hendak terlonjak dari kursinya.
Dia langsung syok dan pucat melihat diriku yang menatapnya sambil memicingkan mata. Lelaki itu salah tingkah begitu aku terpaku berdiri di pintu sambil menatapnya dengan tajam.
"Eh, ka-kamu, Mbak sy-syifa...."
"Ya aku...."
"Apa kamu tidak salah masuk poli?" Ucapnya sambil melirik plat nama ruang poli kejiwaan.
"Tidak, kurasa aku sudah gila sejak kejadian semalam."
"Oh, be-begitu ya." Lelaki yang dulu ku nilai tegas dan kekar itu ternyata sadar juga dengan apa yang telah ia lakukan. Sepertinya ia merasa bersalah hingga gesturnya sangat ketakutan.
Aku langsung duduk di hadapannya Dan meletakkan tanganku di atas meja, melihat tatapan mataku yang terus meremehkannya lelaki itu nampak makin salah tingkah.
"Beritahu aku, di mana alamat wanita semalam."
"Aku tidak tahu."
"Aku yakin kau tahu, dan kurasa kau juga yang telah mengenalkannya pada suamiku."
"Tidak mereka kenal sendiri!"
"Katakan padaku, siapa wanita itu."
"Untuk apa kau cari tahu, lagipula, aku ini lagi kerja, kalau kamu memang ada keluhan katakan sekarang, karena ada banyak pasien di belakangmu."
"Cukup katakan siapa wanita yang berkencan dengan suamiku sebelum video kalian berpesta akan kuunggah di sosial media. Bukan cuma nama baik suamiku yang tercoreng tapi kau juga yang sudah mendukung perselingkuhan itu!"
"Astaga..." Lelaki itu tertawa kaget sambil menatapku, tapi ia menelan ludah dengan takut.
"Aku yakin banyak rahasia kelam tentang dirimu yang tak mau kau ekspos, kalau aku cari tahu, aku pasti akan mengumumkannya."
"Kau gila ya, kenapa kau seret aku dalam kerumitan rumah tanggamu?"
"Kau duluan yang menyeret suamiku. Sekarang katakan, siapa wanita itu?!"
"Aku tidak tahu, yang aku tahu di bekerja untuk stasiun radio dan penyiaran kota ini, suaminya adalah owner-nya."
"Jadi wanita itu pengusaha?!"
"Cari tahu saja sendiri. Tidak semua orang yang sempat minum-minum dengan kami kuketahui latar belakang dan detail kehidupannya, aku juga sibuk. Aku ke bar untuk cari hiburan bukan untuk mengoreksi kehidupan orang."
"Lihat saja kalau aku tahu kalau kau punya andil dalam hubungan mereka, aku akan menghancurkanmu," desisku, usai mengatakan itu aku segera beranjak meninggalkan ruangannya.
"Tak kusangka, kau mengerikan!"
"Hanya karena aku terlihat cupu, tidak berarti aku tidak tahu apapun."
Kututup pintu tempat dokter itu praktek, lalu beranjak pergi. Aku tahu, dia pasti akan beritahu suamiku kalau aku datang, aku tak takut.
Aku berencana untuk pergi mencari keberadaan suami wanita semalam, akan kuungkap semua keburukan ya di hadapan keluarganya. Terlalu, kalau suami dan pihak mertuanya masih mau memaafkan dia yang berselingkuh.
Oh ya, kenapa aku tidak mencari si Rani itu langsung?
Tidak, itu tidak akan kulakukan, untuk apa aku yang merupakan istri sah pergi mensejajarkan diriku dengan pelakor. Kalau kami bertemu, lantas apa yang akan kami bahas, apa aku akan menyiapkan diriku untuk bergelut dengannya? tidak, aku tidak akan buang waktu.
Lebih baik, kutemui suaminya dan bicara pada lelaki itu langsung.
(Kudengar kau datang ke rumah sakit.)
Aku membuka pesan w******p yang dikirim suamiku saat baru saja berhenti di sebuah kedai untuk membeli minuman, suasana tarik dan berdebu membuatku haus.
(Kenapa?)
(Apa yang kau lakukan?)
(Tidak ada.)
Entah kenapa sejak aku tahu dia berselingkuh tidak ada lagi ungkapan romantis atau kesopan-santunan yang ingin kutunjukkan, aku benar-benar kehilangan respek pada Ayah anak-anakku.
(Di mana kau sekarang! Lebih baik kau kembali ke rumah dan fokus mengurusi anak-anak.)
(Hei, aku mungkin seorang ibu rumah tangga yang patuh tapi aku tidak bodoh. Sekarang aku putuskan untuk memberikan perlawanan alih-alih aku diam saja dan pura-pura tidak tahu.)
(Memangnya apa yang akan kau lakukan! Sudah kubilang jangan lakukan apapun!)
(Aku bukan bonekamu dan kau tidak berhak menyetir keputusanku. Sebentar lagi aku akan menemukan jawaban untuk semua pertanyaan dan lihatlah efek kehancuran yang kau sebabkan)
(Sudah kukatakan, jangan libatkan siapapun dalam urusan rumah kita)
(Mau tak mau, mereka sudah terlibat.)
Selama ini, aku sudah terlalu banyak diam, terlalu patuh, hingga tak pernah tahu apa yang terjadi di luaran sana. Tapi, aku tidak bodoh, sejak tahu segalanya, aku memutuskan berubah.
Aku bertekad, siapa yang menyakitiku, akan dapat balasan pedih.
Next lagi, atau stop! ?