14

1127 Words
Tok ... Tok. Tak sadar, karena begitu sedih dan lelahnya hati ini, hingga aku tertidur sambil memeluk putriku. Waktu menunjukkan pukul 02.00 malam saat pintu kamar diketuk oleh suamiku. Aku terjaga dan langsung menatap pintu yang ternyata sudah aku kunci sejak tadi. "Buka pintunya Syifa." "Tidak," jawabku lirih. "Syifa, aku harus bicara...." "Gak usah Mas, aku capek, besok aja," jawabku. Aku khawatir pembicaraan dalam keadaan tidak berpikir dengan jernih akan menimbulkan pertengkaran dan keributan. Aku tidak bisa menangis dan menjerit di rumah ibu mertua terlebih ini sudah tengah malam, aku harus menahan kemarahan dan sakit hatiku hingga besok kami bisa bicara berdua saja di rumah. * Entah di mana suamiku tertidur tapi aku terbangun di pukul 06.00 pagi dan langsung menyiapkan anak-anak untuk pergi sekolah, ini hari Sabtu, rencananya kami merupakan pulang di hari Minggu tapi karena peristiwa tadi malam yang begitu menyakitkan aku jadi berpikir untuk pulang hari ini saja. Saat keluar dari kamar bersama anak-anak yang sudah rapi, kulihat ibu mertua sedang masak nasi goreng di dapur sementara suamiku tidur di sofa ruang tv berselimutkan jasnya semalam. Sepertinya ibu mertua yang sakit hati tidak hendak menyelimuti putranya dari hawa dia ingin penyejuk ruangan. Biasanya ibunya mas Widi sangat penuh perhatian dan kasih sayang, tapi hari ini berbeda. "Selamat pagi ibu." Seperti kebiasaanku aku langsung mendekat dan mencium pucuk kepalanya serta punggung tangannya. Ibu mertua sangat menyukai kebiasaan itu dan sering sekali menceritakan pada keluarga dan sahabat-sahabatnya bahwa aku adalah menantu yang selalu memuliakan mertua. "Apa kau lapar? ibu sudah siapkan nasi goreng sosis." "Terima kasih. Aku berencana untuk pulang pagi ini ibu, aku akan mengantar anak-anak ke sekolah dan langsung pulang." "Kau tidak jadi menginap sampai hari Minggu? "Tidak, Bu." Tak mampu lagi menjawab aku hanya menggumam pelan, terlalu banyak menangis membuat mata ini pedih dan suaraku serak, aku juga jadi pusing dan lesu, seakan tubuhku tidak bertenaga lagi. "Tidak Bu, kurasa aku tidak enak badan, beristirahat di rumah akan baik." "Bukannya di sini lebih baik, Nak? Ada ibu yang akan menjemput dan mengajak anak-anak bermain sementara kau bisa istirahat dan tidur." "Hatiku sedang tidak nyaman ibu, aku butuh waktu untuk berpikir sendiri dan tempat terbaik adalah rumahku." "Baik, kalau begitu." Ibu tidak bisa menahanku meski beliau berusaha meyakinkan diri ini untuk bermalam satu malam lagi. Kami sudah selesai sarapan saat mas Widi terjaga dari tidurnya, melihat anak-anak yang sudah rapi suamiku menyapa mereka. "Eh, anak anak ayah, kalian sudah siap ke sekolah ya?" "Iya Ayah, apa ayah akan mengantar kami?" "Tentu, sekalian aku akan mengantar bundamu pulang." "Tidak usah, aku naik taksi saja!" Jawabku dingin, entah kenapa sejak semalam aku sudah tidak mau lagi menatap wajahnya, aku jijik dan benar-benar sakit hati. Mungkin kalau orang lain sakit hati masih bisa memaafkan tapi kalau aku sudah kecewa... Sulit sekali untuk meredakannya. "Pulangnya barengan saja supaya kau bisa berhemat ongkos taksi," ujar Ibu mertua. Demi menghargai perasaannya aku hanya diam saja. * Setelah berpamitan pada ayah yang duduk di kursi roda dan mencium tangan ibu mertua, aku dan anak anak naik ke mobil suami. Saat hendak naik mas Widi sigap membukakan pintu, sementara aku hanya menatap dirinya dengan jijik. Sikapnya yang santai dan seolah tidak terjadi apa-apa membuatku geram dan dendam padanya. "Ayo masuk, kenapa kau memandangku seperti itu?" "Aku penasaran sudah sejauh apa kau menipuku," desisku sinis. "Sudahlah...." "Sepertinya aku risih dan jijik naik mobil ini, aku yakin anak setan itu sudah pernah duduk di jok, di mana aku sering duduk," gumamku pelan, berusaha agar ibu mertua yang menyaksikan kepergian kami tidak tersinggung. Lelaki itu mendengkus meninggalkanku, beralih pada anak anak yang juga minta dibukakan pintu. * Mobil kami meluncur di jalan aspal dengan mulus, setelah sampai di sekolah anak-anak, suamiku menurunkan mereka lalu menciumi kedua putra dan putri yang ia banggakan. Setelah mengantarkan mereka ke gerbang, dia kembali ke mobilnya dan masuk ke jok yang ada di sampingku. Melihat diriku yang memasang wajah kebencian lelaki itu hanya menghela nafas sambil kembali mengemudikan mobilnya tanpa mengatakan apa-apa. Entah apa yang akan terjadi di rumah serta bagaimana aku akan mulai mengungkapkan kekecewaanku, tapi sepertinya, jika dia memantik kemarahan maka aku benar-benar akan mengamuk. * Sesampainya di rumah lelaki itu langsung bergegas ganti baju, ia sepertinya terburu-buru untuk berangkat ke rumah sakit. Pesta semalam membuatnya bangun terlambat, kuyakin dia sekarang sedang pengar, pusing dan setengah mabuk. "Aku pergi dulu ya, kita bicara setelah aku pulang dari rumah sakit." "Tidak usah repot repot, aku akan mengemasi semua pakaianmu dan mengirimkannya ke rumah ibumu, kau tidak usah pulang ke sini karena aku tidak mau serumah lagi denganmu." Dia yang tadinya buru-buru mengemasi tas kerja serta printilan miliknya, kaget dan langsung menghentikan kegiatannya. "Jangan begitu Syifa, kau Lebih baik mengamuk dan memukuliku dibandingkan kau mengusirku dengan cara seperti itu. Lagipula ibu dan ayah akan stres melihat rumah tangga anak mereka berantakan. Bisakah kita selesaikan semua cara ini dengan dewasa dan berpikir dingin." Aku yang tadinya mau cuci piring langsung menghentikan kegiatanku dan berbalik menatapnya dengan tajam. "Dewasa dan berpikir dingin katamu? Kau sendiri sudah sejauh apa kedewasaanmu? Apa berpesta di saat istri sedang pergi dan berselingkuh adalah sebuah kedewasaan?" "Tidak, aku keliru." "Aku bisa saja memintamu mengakhiri hubungan sehingga aku bisa melupakan semuanya dan rumah tangga kita baik-baik saja. Tapi seperti yang kau.... lihat jika kaca sudah pecah maka sulit sekali menyatukan kepingan-kepingan itu menjadi utuh kembali." "Hatimu kan bukan kaca." Dia meremehkanku. "Hatiku lebih rapuh," jawabku sambil tersenyum, sesakit apapun hatiku aku harus tetap tenang. Kemarahan dan amukan akan membuat diriku menyesal, lagi pula aku juga tidak akan bisa berpikir dengan jernih. "Karena sekarang aku sudah tahu hubunganmu bagaimana kalau kau mulai mempublikasikannya dan memperkenalkan wanita itu pada keluargamu. Kulihat dia wanita yang kaya dan berkelas, keluargamu tidak akan keberatan menyetujui penyatuan kalian." "Tidak Syifa, itu tidak mungkin!" "Kenapa?" "Rani sudah punya suami!" "Hah, Jadi kau mau mengencani istri orang?!" "Ya, maaf, aku ... itu hanya kebetulan, itu kesalahan," ucapnya menunduk. "Kau tahu hukuman apa bagi pezina yang sudah menikah?" "Iya aku tahu." "Dan kau mengabaikannya...." "Maaf." Ah, aku benar benar sesak nafas dengan kenyataan barusan. Aku terperangah dan gejolak yang ada di dalam dadaku seakan dibuat panas kembali dengan perkataannya yang mengaku bercinta dengan istri orang. "Sudah sejauh apa hubunganmu? apa kalian sudah tidur bersama!" "Tidak!" "Tidak mungkin, pria dan wanita dewasa yang sudah punya pasangan kemudian memutuskan untuk berpacaran, mana mungkin hanya main cinta cintaan lewat SMS dan telepon!' "Tolong jangan lebarkan asumsimu ke mana-mana!" "Siapa wanita itu! Di mana alamatnya!" Ujarku mendesak. "Jangan ganggu dia, tolong...." "Hubungan kalian bukan cuma menghancurkan rumah tangga kita, tapi juga menghancurkan rumah tangga wanita itu." Aku menjawab sambil menertawai kebodohan suamiku. "Aku akan melakukan apapun tapi tolong jangan rusak dia...." Kalau mas Widi mau melakukan apapun demi menyelamatkan reputasi wanita itu artinya dia sudah sangat mencintainya. Ah, aku lemas mendengarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD