"Masalah apa? Apa semua yang kau alami tidak pantas kau beritahu pada mertuamu?"
Begitu ibu mertua mendesakku aku sudah tidak tahan lagi untuk menangis di hadapannya. Aku tahu bahwa tidak boleh diri ini menangis di hadapan anak-anak hingga membuat mereka khawatir dan heran, tapi sumpah, aku tidak pernah menyiapkan diriku untuk peristiwa hari ini. Aku jadi bingung harus mengambil sikap seperti apa dan menata hatiku yang baru saja dihantam gelombang dan hancur berkeping keping.
Aku kalut dan kehilangan semangatku, aku bahkan tak mampu menghentikan tangis yang terus berderai di mata ini.
"Ada apa Syifa!" Ibu mertua langsung mendekat dan membawa diri ini ke dalam pelukannya. Aku yang terduduk di sisi tempat tidur langsung memeluk pinggang ibu dan meraung tersedu sedu, tentu saja wanita paruh baya berhati lembut itu menjadi panik dan heran.
"Apa yang terjadi anakku, kenapa kau sedih sekali, apa semuanya baik, apa yang terjadi pada ibumu?"
"Bukan tentang ibu, tapi tentang suamiku."
"Kenapa dia?"
Aku tak bisa menjelaskan selain hanya memperlihatkan foto yang sempat kuambil di klub malam tadi. Foto ketika suamiku merangkul pinggang wanita yang ia sebut Rani itu.
"Ini siapa?"
"Itu Mas Widi, dia pergi ke klub malam dan minum-minum kemudian berkencan dengan wanita lain."
"Hah, sungguhkah?"
"Aku juga tidak percaya ibu!"aku menggeleng lemah sambil menutup tangan di wajah aku tidak mampu lagi mengendalikan kesedihan yang terus membuncah di hatiku.
"Tunggu! Biar Ibu telepon Widi!"
Ibu mertua bergegas mengambil ponselnya lalu pergi menghubungi putra semata wayangnya. Aku sendiri sudah tidak tahu harus bagaimana, entah aku harus beri tahu orang tuaku juga atau sabar dulu untuk mendengar penjelasan suamiku. Tapi, jejak kesalahan itu terpampang di depan mata dan dia tidak bisa mengalah karena aku dengan jelas memperhatikan dia berciuman dengan wanita itu.
"Halo, widii..."
"Iya Bu."
"Dimana kamu, pulang sekarang!"
"Aku dalam perjalanan menuju ke rumah ibu," jawab suamiku yang terdengar suaranya dari ponsel mertuaku.
"Cepatlah, mau harus bicara!"
"Iya Bu."tidak bisa disembunyikan kalau ibu mertua nampak tidak sabar menunggu dan kesal juga dengan apa yang baru aku utarakan.
"Tenaga dirimu Jika dia terbukti dan mengakui perselingkuhannya maka Ibu tidak akan mengampuninya," ucap Mertuaku sambil menepuk-nepuk kedua bahuku,
"....tolong tenangkan dirimu dan hapus air matamu itu."
Wanita itu beranjak meninggalkanku sementara kedua anakku hanya menatap diri ini dengan heran. Kupaksakan untuk menghapus air mata dan tersenyum meski mereka bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
"Tidak apa apa, tidurlah lagi."
*
Setengah jam kemudian suamiku sudah sampai di depan rumah ibu mertua, suara mobilnya langsung terdengar dari lokasi parkir. Ibu mertua mendatangi ke kamar dan memberiku isyarat agar kami keluar ke ruang tamu.
"Kau darimana?" Tanya ibu begitu suamiku masuk. Memperhatikan penampilannya dari atas ke bawah membuatku benar-benar tidak mengira bahwa dia bisa berubah sekeren dan semodis situ. Dia pakai celana seperempat sampai atas mata kaki, kemudian sepatu flat dan sebuah jas yang menunjukkan kalau dia seperti seorang pengusaha muda, jam tangan mewah yang melingkari pergelangan tangannya benar-benar menunjukkan status sosial suamiku yang berusaha ia tinggikan.
"Aku pergi ke acara temanku!"
"Jangan berdusta! Ibu tahu semuanya! Apa yang kau sembunyikan!"
Aku terdiam mendengar teriakan ibu mertua yang seperti petir di tengah malam. Wanita paruh baya itu melotot pada anak semata wayangnya sementara mas Widi yang ketakutan langsung menghamburkan diri dan bersujud di kaki sang ibu.
"Widi minta maaf Bu!"
"Apa yang kau lakukan ke mana semua ilmu dan adab yang telah ku ajarkan! Apa aku telah sia sia berjuang untuk mendidik dan membesarkanmu?"
"Aku hanya baru kali ini ibu ...."
"Tidak, tidak mungkin baru kali ini kalian benar-benar berpesta dan terus menegak minuman, jika kau baru melakukannya sekarang, pasti kau sudah mabuk Mas! Tapi sepertinya kau terbiasa."
"Syifa,tolong... Jangan memperkeruh suasana, kau akan membuat Ibuku membenci anaknya sendiri!" ucap Mas Widi mencoba membela dirinya dan menyudutkan diriku.
"Cukup! Katakan padaku siapa wanita berbaju pink ini!"
"Dia teman!"
"Tidak mungkin!"
Plak!
Ibu mertua langsung menampar suamiku dengan tamparan yang terdengar keras. Mas Widi sendiri hanya bisa diam sambil memegang pipinya yang merah.
"Apakah kau ingin mengulang perbuatan ayahmu di masa lalu menyakitiku!"
Aku terkejut mendengar perkataan ibu mertua barusan, Mas Widi langsung meneteskan air mata begitu ibunya bilang menyakiti dirinya.
"Tidak Bu!"
"Mati-matian aku mempertahankan rumah tangga demi kebahagiaan dan kelangsungan hidupmu, kini kau mengulangnya kembali dalam rumah tanggamu?! Apa kau gila!"
"Tidak Bu, aku hanya ...."
"Jangan menjawabku!"
Plak!
Sekali lagi ibu mertua menampar suamiku, air mata meluncur dari pipinya sementara emasku ini yang takut pada ibunya hanya bisa mendongak dengan bola mata berkaca-kaca.
"Ampun Bu...."
"Ampun?! Ampun apanya? Kenapa kau tega sekali mencoreng kesetiaan istrimu, Kenapa kau menipu pengabdiannya. Apakah ini yang telah kuajarkan padamu dari kau kecil! Bukankah aku selalu bilang bahwa kau harus jujur dan jangan pernah jadi penghianat!'
"Iya, Bu, maaf!"
"Widi, ibu kecewa sekali!" Ucap wanita itu yang langsung menjatuhkan dirinya di kursi lalu menangis sambil menutupi wajahnya. Wanita itu meraung, Mungkin suara tangisannya terdengar oleh sang suami yang kini terbaring dalam keadaan sakit karena stroke di kamarnya.
Ya, ayah mertua terserang stroke dan lumpuh sebelah kiri badannya sejak 2 tahun lalu. Aku dan ibu mertua bahu membahu merawat ayah, hingga sekarang kondisinya sudah agak membaik. Tapi tetap saja, lelaki itu tidak bisa bangun kecuali dibantu.
"Bu, aku keliru!" Suamiku kemudian mendekat kemudian menjatuhkan kepalanya di atas lutut ibunya.
"Ibu mertua mengabaikannya dan berpaling, wanita itu tidak bisa membendung air mata kekecewaannya sementara aku berdiri terpaku mengingat bagaimana kejadian di kelab malam, adegan ciuman suamiku terus terulang-ulang di depan mata seperti video yang dimainkan.
"Mungkin aku memaafkanmu... Dari semua orang yang ada di sekelilingmu, mungkin hanya hatiku yang tidak akan pernah berubah untukmu. Tapi bagaimana perasaan istrimu!"
"Aku juga minta maaf padanya....."
"Apa menurutmu maaf saja sudah cukup anakku! sungguh memalukan sekali perbuatanmu, andai ada dua pilihan yakni aku harus minum racun atau menyaksikan kau mempermalukanku! aku lebih memilih pilihan pertama."
"Jangan Bu."
Mas Widi menangis di pangkuan ibunya sementara aku yang sudah tidak kuasa lagi meninggalkan mereka dan masuk ke kamar di mana anak-anak tertidur dengan pulas. Kupeluk putriku Farisa sambail mencoba menahan air mata dan rasa sesak di hatiku.
Sekuat apapun menahannya air mata ini terus meleleh di atas bantal, sementara di ruang tamu suamiku dan ibunya bertangi-tangisan. Mati-matian dia minta maaf tapi ibu mertua terus saja mengoceh dan memarahinya.