Menyaksikan semua yang terjadi, aku hanya bisa terpaku, tertegun dan bingung. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanya mimpi yang akan berakhir setelah aku terjaga, tapi tidak, rupanya, adegan suamiku berciuman dengan wanita lain nyata di depan mata. Kamera ponselku menyala, merekam semua kejadian itu.
"Mas!"
Semua orang teralihkan, mereka kaget dan salah tingkah mendapati seorang wanita berjilbab dengan air mata membasahi pipi. Kontan suamiku langsung melepas pelukan dari selingkuhannya dia panik dan mencoba mendekatiku. Sementara teman temannya langsung tertegun dan tegang.
"Syifa, ka-kau di sini?" Suamiku turun dari kursinya dan coba mendekatiku.
"Apa yang kau lakukan?" tanyaku dengan bibir gemetar, entah kenapa dari semua dialog yang coba berlomba dan ingin terlontar dari mulutku, entah kenapa, hanya itu yang bisa keluar. Aku ingin langsung mengamuk dan menjumpainya tapi aku tak punya tenaga untuk melakukan itu, gelombang kejut dan tidak menduga perbuatannya, membuatku sulit memilih kata kata.
"A-aku bisa jelasin."
"Hah?" aku langsung tertawa, sembari menahan kegetiran hati dan kesedihan yang entah darimana datangnya ini, rasanya buruk sekali, tertusuk, kecewa dan sedih luar biasa.
"Apa yang mau kamu jelaskan, semuanya sudah jelas!" jawabku, tapi aku tidak berteriak, percuma aku berteriak, satpam akan mengusirku karena dianggap menggangu kenyamanan pengunjung lain. Teman teman Mas Widi terdiam, pun wanita yang pakai setelan Dior itu, dia diam saja sambil memutar mutar gelas Wine. Dia nampak kaya, sombong dan punya dukungan.
"Rupanya kehidupan di rumah tak bisa membuatmu sepenuhnya bahagia. Rupanya, ini sisi dirimu yang kau sembunyikan dariku. Kupikir kau baik, ternyata kau munafik!" ucapku sambil bersurut mundur dan memutuskan pergi.
"Syifa, tunggu!"
Kulangkahkan kaki setengah gontai berusaha menghapus air mata tapi tak bisa, kujejakkan langkah melewati lautan manusia yang sedang larut dalam dentuman musik. Mereka bergoyang, berjingkrak dengan pasangan mereka, saling berpelukan, bergembira dan tertawa sementara diriku baru saja dihantam gelombang kenyataann pahit yang mengerikan.
Sesampainya di depan kelab, aku sudah tak kuasa lagi untuk berjalan, tubuhku seolah jadi berat dua kali lipat, langkah kakiku terasa lengket di lantai marmer yang berkilauan. Aku terduduk di tangga masuk kelab, mencoba menahan air mata tapi tidak bisa. Kesedihan ini buruk, rasa syok barusan membuat ubun ibunku jadi panas, dadaku bergemuruh, darah ini seolah mendidih, tapi tak ada yang bisa kulakukan, marah dan mengamuk akan mempermalukan diriku sendiri. Alhasil, aku tergugu, menangis tanpa peduli bahwa orang-orang memperhatikan diri ini.
Mungkin aneh seorang wanita berjilbab panjang menangis tersedu di depan tangga kelab malam, apakah yang terjadi? Orang-orang akan mulai berasumsi.
Aku menangis dan tidak tahu harus bagaimana, sensasi syok membuat tubuhku gemetar. Ingin rasanya kembali ke dalam dan mengamuk lalu memecahkan botol wine ke kepala suamiku, lantas kulukai mereka yang sudah mempengaruhi dia untuk terbiasa bergembira di klub malam dan berselingkuh, tapi semua perbuatan itu akan berujung dipenjara. Sungguh, Ini memalukan.
Sudah kukatakan kalau dia adalah lelaki yang agamis, tawaddu, lembut dan selalu membimbing keluarganya berlandaskan aturan agama. Bisa-bisanya, dia punya sisi lain yang sungguh berlawanan dengan sosok yang ia tunjukkan di rumah. Dia terlibat pergaulan bebas, bergaul dengan orang-orang yang tidak mempedulikan norma dan adab, bergaul dengan orang yang terlampau bebas tanpa memperdulikan dampak untuk masa depan dan keluarga.
Dokter Okan kurasa bukan lelaki baik-baik yang normal, pasti dia yang sudah mempengaruhi suamiku untuk mulai datang ke klub malam dan bergembira lalu minum-minuman keras tanpa peduli akibatnya. Dan bodohnya lagi, kenapa suamiku mau mau saja diajak seperti itu.
"Syifa!"
Sentuhan tangan suamiku menyentuh bahu ini, aku yang langsung sadar bahwa ia di belakangku langsung mendongak dan menatap lekuk wajahnya dengan cermat.
"Syifa maaf...." Hanya itu yang bisa ia ungkapkan dengan lirik di tengah hiruk pikuk orang yang lalu-lalang masuk dan keluar tempat hiburan itu.
"Tidak Mas, ini sudah terlalu jauh."
"Syifa, aku khilaf..."
"Sungguhkah?" Aku terus dibuat tertawa oleh kenyataan yang seperti komedi sekaligus tragedi ini. Lucu tapi miris dan menyakitkan, Aku ingin meraung dan menumpahkan semua kesedihan ini, tapi aku terlampau malu pada orang-orang yang memperhatikan, juga malu pada umurku.
"Ayo kita pulang sehingga kita bisa bicara di rumah."
"Untuk apa? Apa kau pikir semua penjelasan yang akan kau sulam dengan kebohongan akan kupercayai? Tidak Mas! Apa yang terlihat itulah dirimu yang sesungguhnya!"
"Syifa, Tolong jangan marah-marah di sini aku sungguh malu...."
"Kalau kau malu kembalilah ke dalam dan berpesta dengan teman-temanmu abaikan Kak keberadaanku dan anggap saja aku hanya gelandangan yang terdampar di sini, jangan hiraukan aku!"
"Syifa, jangan membuatku sedih."
"Hahaha, Jadi kau ajak perduli dengan kesedihan dan rasa malumu di hadapan orang lain. Bagaimana dengan perasaan istrimu yang kaget dan kecewa dengan semua perbuatan yang kau lakukan ini. Kau ... terlibat pergaulan bebas dan mabuk-mabukan, kau juga berselingkuh. Aku harus bilang apa bahwa semua sifat buruk itu sudah lengkap dalam dirimu."
"Aku dan Rani hanya teman."
"Teman tapi mesra?"
Tidak, Aku tidak suka terlibat percakapan di tempat menjijikan ini, aku harus pulang dan menenangkan diriku. Aku harus kembali!
Dengan setengah tertatih dan kepala yang sudah pusing, serta tubuh yang gontai, Aku berusaha mengumpulkan tenaga untuk bangkit dan pergi ke lokasi parkir untuk mengambil motorku. Kucoba menuruni tangga meski bayangan kekaburan sudah ada dia mataku, aku tidak bisa menatap dengan jelas seakan-akan semuanya buram dan pemandangan ini seperti berada di dalam air.
Brak!
Aku tersungkur ke lantai paving sementara orang-orang langsung terkesiap menatapku. Mas Widi tentu saja sikap langsung meraih tangan ini dan mencoba membangunkan.
"Tidak suamiku!" Aku langsung menjerit!
"Tidak, jangan bantu aku... Kembalilah ke dalam dan berpesta dengan selingkuhanmu!"
"Tolong jangan berteriak, aku bisa malu!"
"Jangan dekati aku sehingga tidak turun harga dirimu dan kau merasa malu lagi pula aku tidak mau disentuh oleh lelaki yang kotor dan menjijikan!" Entah tenaga yang datang dari mana Tapi aku langsung berlari meninggalkannya, naik ke atas motorku lalu meluncur pergi kembali ke rumah mertua.
Entah apa yang akan dilakukan mas Widi, kalau dia punya malu dan perasaan dia pasti akan berpamitan pada teman-temannya dan langsung menyusulku, tapi jika tidak, Andai Dia tidak berani menghadapi diri ini mungkin sementara waktu dia akan menjauhkan diri.
"Ya Allah, akan dari mana aku memulai menata hati dan mencoba meredakan sensasi kemarahan yang kini bergejolak di hatiku?"
*
Sesampainya di rumah mertua waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, rupanya ibunya mas Widi sudah menantiku di ruang tamu. Dia nampak gelisah dan saat melihatku datang dengan mata yang sudah basah, ibu mertua langsung tegang dan bertanya padaku.
"Apa yang terjadi?"
"Apa ibumu baik baik saja?"
"Iya baik, ibu, maafkan saya, saya harus pulang sekarang."aku langsung pergi ke kamar anak-anak dan membangunkan mereka lalu mengemasi pakaian anak-anakku.
"Tapi apa yang sebenarnya terjadi kenapa kau yang berencana untuk menghabiskan air pekan dengan ibu tiba-tiba mau pulang apa ibu melakukan sesuatu yang membuatmu sakit hati dan kesal."
Mendengar pernyataan ibu mertua aku langsung menghentikan melipat pakaian dan memasukkannya ke dalam tas.
"Ada sedikit masalah dan aku harus pulang."