Napas pagi terasa lebih dingin dari biasanya, mungkin karena keberadaan suami sedang di tempat lain. Embun tipis membasahi kelopak bunga, sementara angin tipis menyisir s sudut rumah saat aku membuka jendela. Kubiarkan hawa berebut masuk, sembari berharap bahwa aku bisa sedikit mendapatkan ketentraman. Usai sarapan kuantarkan anak-anak ke mobil jemputan, lalu aku kembali masuk untuk membereskan meja makan. Ting. Bel pintu berdenting dari monitor yang terlihat dari dapur aku bisa melihat bahwa yang datang adalah ibuku. Aku berlari ke pintu untuk menjemputnya, kubuka dan kusambut uluran tangannya lalu mengajak beliau masuk. "Kau sendirian?" "Iya." "Apa dokter Widi berangkat pagi-pagi?" "Dia tidak menginap di sini." Aku berusaha tersenyum tapi Ibuku malah memandang diri ini dengan

