9. luka hati

1055 Words
Merasa panas hati dengan adegan suamiku digoda lelaki, bukan wanita, aku jadi tak sabar lagi, kemarahanku memuncak, aku geram dan sudah tak bisa mengendalikan diri. Aku bangun dari posisiku, turun menjejaki tangga yang jaraknya sepuluh meter lalu segera menghampiri dokter Widi. "Suamiku ...." Aku mendekat sambil langsung bergelayut di lengannya, aku tersenyum pada suamiku yang terkejut dengan kedatanganku tapi di saat bersamaan aku juga mendelik pada si hombreng. "Suamiku, sepertinya kau jadi bintang hari," ucapku pura pura manis. Suamiku yang dipanggil demikian merasa terkejut dan heran, dia pasti merasa aneh dengan sikap istrinya yang tiba tiba datang dan bermanja. "Kau kenapa?" bisik Mas Widi, "bukannya kau di rumah ibu." "Kangen sayang ... Rupanya aku ga bisa jauh jauh dari kamu," balasku sambil menatap matanya, suamiku tersenyum, tapi ia merasa canggung. Entah malu pada rekan sejawatnya atau malah tak enak pada pasangan lelakinya. Meski hanya asumsi kalau mereka punya hubungan, tapi rasa marah dihatiku tak bisa kutahan. Aku cemburu dia dekat dengan wanita, tapi kalau sampai ia berselingkuh dengan pria maka aku akan membunuhnya. "Dih, mesranya," ucap lelaki tadi. Namanya dokter Okan. "Wajar dong, kan saya istrinya, yang gak wajar itu kalau orang lain dekat dekat dan bilang kangen. Dia suami saya Dok." "Iya."Dokter tadi menimpali sambil memaksakan senyumnya. "Gimana Sayang apa kau senang? Aku bangga kau berhasil menang dan dielu-elukan semua orang, wanita-wanita tergila-gila padamu." "Tapi kau yang paling utama," jawabnya sambil melirik lelaki tadi, sikap mereka mencurigakan dengan saling kode pandang mata dan senyum aneh. Sepertinya kalau lelaki itu benar-benar selingkuhan suamiku maka dia pasti akan sangat cemburu dan meraung-raung dalam tangisan kekesalannya. "Oh ya, sayang, apa rekanmu ini sudah menikah?" "Belum." "Kenapa Dok?" "Belum ketemu yang cocok aja," jawab dokter itu dengan senyum tipis, jangan-jangan dia tidak menikah karena tidak berhasrat dengan wanita dan malah menunggu suamiku menduda, amit amit. "Oh ya, Dok. Kalian seperti akrab sekali dan layaknya saudara ya, main pegang-pegang aja." "Eh, itu kami lagi bercanda...." "Bisa ya, pegang pegang ga pake risih?" Aku sudah tidak mampu menahan diri untuk bertanya, langkah keberatan Dan sakitnya hatiku kalau mereka benar-benar adalah pasangan selingkuh. "Bu-bukan begitu..." Dokter tadi agak panik dan merasa tidak nyaman dengan pertanyaanku sementara aku terus menatapnya dengan tajam. "Kurasa kontak fisik antara sesama lelaki adalah sesuatu yang aneh dan tidak nyaman dilihat. Aku harap anda tidak mengulanginya meski itu bercanda karena akan menciptakan asumsi yang tidak nyaman, apalagi di sini sangat ramai," ucapku dengan ada penegasan, suamiku nampak tidak nyaman dengan perkataanku pada dokter Okan, tapi aku tidak peduli. "Lho, memangnya kami ngapain." "Aku tahu kalian sedang bercanda tapi saling merangkul dan saling menyentuh sangat terlihat canggung." "Apa kau cemburu padaku sahabat suamimu?" Tanyanya. "Tidak, dan tidaklah pantas aku mencemburui laki-laki , tapi kalian harus menjaga diri karena kalian adalah figur dan panutan juga, seperempat dari orang-orang yang ada di kota ini mengenal kalian sebagai dokter yang selalu mereka temui di rumah sakit, jadi tolong jaga diri kalian." Kurasa aku sudah cukup dengan perkataanku aku tidak perlu bersikap melampaui batas atau sampai menyakiti perasaan orang lain, jika mereka memang bercanda dan itu normal bagi mereka mungkin aku harus merasa bersalah tapi jika mereka punya hubungan maka lelaki tadi harusnya sudah malu dengan perkataanku.. "Sepertinya istrimu salah paham Dok," ucap dokter Okan sambil melirik suamiku. "Uhm, mungkin...." "Siapa yang tidak berasumsi kalau melihat kalian bercanda berlebihan. Aku harap itu tidak terulang lagi," ucapku sambil mengajak suamiku meninggalkan dokter Okan. Meski aku bisa bersikap santai meski setengah perjalanan hidupku adalah komedi, tapi ada saatnya aku bisa bersikap begitu tega. Kadang ada bagian drama yang sangat menyedihkan menggelayuti perasaanku dan tidak bisa membuatku menahan air mata, tapi aku tetap sabar dan berusaha terlihat baik-baik saja. Meski aku adalah wanita yang baik dan casual, tapi untuk kasus tertentu aku bisa jadi tegas dan kejam. "Kau ini kenapa sih?" ucap suamiku saat mengambil tasnya dan bersiap pergi, "Kenapa kau tiba-tiba hadir di tempat ini dan melakukan konfrontasi pada sahabatku, perkataanmu tadi membuat situasi tidak nyaman dan mau tidak mau memaksaku untuk minta maaf pada rekan sejawatku." "Kenapa kau harus minta maaf, dia bercandanya berlebihan dan bersikap seakan-akan kau adalah kekasihnya. Apa kau pikir itu perbuatan yang pantas? Apakah kau akan mengulang perbuatan kaum homoseks yang sudah diazab Allah di zaman nabi Luth?!" "Ya ampun, astaghfirullah, kau ini kenapa? Aku ini normal." "Kalau begitu, aku tidak akan membiarkan ada celah yang akan membuat orang lain mencela keluargaku, terlebih aku tidak akan membiarkan harga diri suamiku tercoreng. Apa kau sadar bahwa semua yang kulakukan untuk kebaikanmu?!" tanya aku dengan tatapan tajam! Suamiku terkejut dan berusaha mendesahkan nafasnya dengan kencang sambil tertawa kaget, tapi di luar semua itu dia tetap tidak senang lirikan matanya terus tertuju pada Dokter tadi yang nampak duduk bergeming di sebuah bangku sambil menatap suamiku. "Tetap saja menuduhku menyukai sesama jenis adalah tuduhan yang berlebihan apalagi kau sampai-sampai mencurigai sahabatku sebagai pasanganku! Apa kau gila, itu menjijikkan sekali." "Hah!" Aku mendengkus sambil tertawa, bisa-bisanya dia bilang kalau perbuatannya menjijikkan padahal dia melakukannya. Responnya kepada sikap dokter Okan yang manja, membuatku berkesimpulan kalau dia memang menyukai pria itu. Aku lihat faktanya. "Kenapa kau tertawa sinis." "Kalau tidak ada yang aneh maka seharusnya kau mencegah sentuhan fisik dan sikap manja temanmu, bukanlah itu memalukan." "Kami hanya bercanda perkataanmu yang kasar membuat hubungan kami akan renggang mungkin dari sekarang, temanku itu akan menjaga jaraknya denganku karena khawatir dengan tuduhanmu." "Aku tidak peduli?" "Kenapa kau tiba-tiba arogan dan galak sekali padahal kau istri yang baik, penuh kelembutan dan pengertian. Ada apa denganmu, apa yang merasukimu?!" "Aku tidak senang dengan gestur seperti tadi." "Tapi tetap saja mencemburui laki-laki tidak masuk akal ada banyak wanita yang coba merebut perhatianku tapi kenapa kau tidak marah! Kenapa hanya lelaki tadi yang kau cemburui,.apa otakmu sedang baik-baik saja!" "Jadi kau pikir aku gila!" Aku berteriak padanya untuk pertama kalinya sehingga membuat lelaki itu terpenjahat dan kaget bukan main, sialnya, orang-orang memperhatikan kami. "Jaga dirimu sehingga aku tidak akan berasumsi macam-macam! Aku sudah baik menjagamu dan anak-anakku jadi jangan buat aku merasa menyesal melakukan itu!" "Hei, Jadi kau merasa rugi mengurusku sebagai suamimu! Tunggu, katakan!" Pria itu mencoba mengejarku tapi aku yang sudah bosan dan sakit hati lantas meninggalkannya dan pergi naik motorku. Aku jijik dan sudah kehilangan kesabaranku. "Tunggu...." Pria itu terus mengejarku sampai di luar lokasi parkir, tapi sudahlah, biarkan aku pergi menenangkan diriku sebelum kami bisa bicara dengan baik-baik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD