10. rumah mertua

1025 Words
Aku kembali ke rumah ibu mertua tempat sebelum senja menjelang, kudapati ibu mertua dan kedua anakku sedang bermain di teras. Melihatku datang dengan wajah yang masam dan mematikan motor dengan tegang, ibu mertua segera menghentikan kegiatannya dan bertanya padaku. "Kau dari mana? Katamu kau ingin menghabiskan waktu dengan kami tapi kenapa kau pergi?" "Ada sesuatu yang mendesak ibu. Oh ya, aku akan siapkan makan malam apa Ibu ingin makan sesuatu?" "Ibu ingin makan sate ayam dan rujak kangkung buatanmu, pasti itu enak sekali." "Oh Tentu, akan kubuatkan." Meski panas dalam hatiku atas adegan yang kusaksikan tadi tapi aku tetap berusaha bersikap tenang dan normal di hadapan Ibu suamiku. Dia sendiri menangkap kegelisahan dalam hatiku dengan terus bertanya apa yang terjadi, tapi aku berusaha tersenyum dan langsung beranjak ke dapur. Selagi menyiapkan kangkung dan kacang serta membumbui ayam pikiranku tidak terus bergelayu dan berputar tentang sikap dokter Okan pada dokter Widi. Gesturnya yang gemulai dan bagaimana ia bermanja, benar-benar membuat pikiranku kacau. Ditambah tadi, suamiku juga tahan bertengkar denganku demi membela temannya. Meski dia tidak membelanya terang-terangan, tapi dia menegurku gara-gara aku menegur dokter okan membuatku sungguh tidak terima. Jika mereka adalah sahabat normal maka seharusnya mereka jangan melakukan tindakan seperti itu di hadapan khalayak ramai, meski bercanda. Tapi jika mereka pasangan kekasih aku yakin si gemulai itu akan mulai mengadu dan menangis-nangis manja pada suamiku. Yang aku khawatirkan... Mereka akan janji ketemu di malam hari dan berkencan, gawat, aku tak akan membiarkan itu terjadi. Tring... Kuambil ponselku yang tergeletak di atas meja makan lalu membukanya ternyata itu adalah pesan dari Mas Widi. (Pertengkaran tadi membuatku tidak nyaman aku minta maaf padamu dan aku rasa kita harus bertemu dan bicara.) (Aku sedang di rumah ibu mertua Aku tidak mau merusak momen kebahagiaannya bersama cucu-cucunya.) (Aku ternyata juga tidak bisa berjauhan denganmu, Bagaimana kalau aku menyusul ke sana dan kita habiskan akhir pekan bersama?) (Tidak, Aku ingin menenangkan diriku setelah kemarahan dan sikap kasarku tadi.) (Aku memaafkanmu dan tidak keberatan dengan itu, tapi kita benar-benar harus bicara agar tidak ada kesalahpahaman lagi.) Untuk apa dengan segera dan secepat mungkin ia ingin berbaikan denganku? Apa itu demi meminimalisir rasa curiga dan meredakan kemarahanku, agar aku tidak lantas terus menyelidiki hidupnya? Tidak, tidak, tidak bisa! (Apa kau ingin membujukku agar aku meminta maaf pada sahabatmu.) (Seharusnya begitu kata-katamu yang pedas membuat dia menjadi canggung dan menjaga jarak.) (Apa masalahnya, dia hanya laki-laki dia bukan saudara atau kekasihmu dan kau pun tidak bergantung hidup dengannya. Sesekali menjadi canggung sangat diperlukan.) (Astaga, kami itu adalah rekan kerja yang harusnya bekerja satu tim dan saling mendukung. Apa kabarnya kami harus saling berkoordinasi dalam keadaan tidak saling nyaman.) (Kau dan dia bisa saling bicara dan meluruskan kesalahpahaman, Aku tidak mau terlibat!) Aku menegaskannya lewat balasan pesanku. (Kenapa kau melarangku datang ke rumah Ibuku sendiri? kau ini aneh sekali, Apa kau sedang merencanakan sesuatu atau melakukan hal yang tidak diketahui di belakangku?) Kok dia yang balik curiga padaku seakan-akan sikap manipulatifnya memutar fakta dan membuat diriku terpaksa merasa bersalah?! tidak, aku tidak akan terpengaruh meski dia berusaha memanipulasi pikiranku. (Lalu, kenapa kau mencurigaiku sejauh itu, seakan-akan semua yang kau katakan adalah perbuatanmu di belakangku!) (Apa? apa kau gila, apa yang sebenarnya kau pikirkan, aku mengirim pesan agar kita bisa berbaikan.) (Sudah ya, aku harus masak!) Kumatikan ponselku dan langsung melanjutkan kegiatan, aku enggan berdebat dengannya karena dengan demikian itu akan semakin membuatku panas. Untuk pertama kalinya aku bersikap kasar dan acuh tak acuh pada Mas Widi, aku terlalu marah dengan kejadian tadi, entah karena begitu gelisah karena chat di m-banking itu atau kecemburuan telah menguasai hatiku. Aku menyesal bersikap kasar dan arogan kalau mereka ternyata hanya bercanda. Tapi kalau itu benar, maka aku sudah melakukan hal yang pantas. Mereka harus diperingatkan. * Hingga malam menjelang dan aku telah merebahkan diri di peraduan, siap tidur dengan anak-anak, pikiran ini masih saja tetap kacau. Aku mulai merasa mentalku terganggu karena begitu banyak tekanan dan pikiran serta asumsi-asumsi negatif yang terus berputar dalam benakku. Aku kesulitan mengungkap bukti karena bukti itu ada di ponselnya dan juga aku tidak tahu siapa orang yang berbicara dengan suamiku. Karena tidak mampu meredakan kegelisahan yang ada hingga kuputuskan untuk pergi memeriksa keadaan mas Widi di rumah kami. Terkesan konyol, tapi aku hanya ingin memantaunya dari luar, apa dia tetap ada di sana atau sudah keluar. "Bu, aku titip anak-anak ya, aku ada urusan." "Ada apa malam-malam begini.Kenapa mengejutkan sekali?" Bu mertua yang sedang berguling di depan ruang tv kaget dengan diriku yang mau pergi. "Ibuku tidak enak badan jadi aku akan ke rumahnya sebentar." "Bukannya jauh? Apa tidak sebaiknya ditelepon saja baru besok pagi kau pergi. " "Tidak Ibu aku akan pergi memeriksanya langsung, aku akan mengebut motorku, aku akan kembali sebelum tengah malam." "Tapi itu berbahaya Nak." "Jangan khawatir," balasku. Sekeras apapun ibu mertua menahan kepergianku, tapi aku tetap bersikeras meninggalkannya. Aku sudah tegaskan aku akan kembali dan tidak akan terlambat. * Sesampainya di rumah aku langsung membuka kunci gerbang dari kaget karena mobil suamiku tidak di sana. Pikiranku mulai aneh-aneh dan berasumsi. Aku coba menghubungi ponselnya tapi ternyata ia membalas perbuatanku dengan cara mematikan benda itu. Setelah jawaban dari operator yang mengatakan kalau ponsel tidak aktif, aku langsung mengalihkan perhatianku ke luar rumah, kebetulan ada tetanggaku yang sedang mencuci mobilnya. Memang sudah kebiasaan Pak Rian, tetangga depan rumah, mencuci mobil di malam hari karena siang harinya dia sibuk bekerja sampai petang. "Eh, Mbak Syifa, tumben kelihatan gelisah malam-malam gini?" "Aku sedang menginap di rumah ibu mertua dan hendak mengambil sesuatu ke rumah Pak. Tapi aku tidak menemukan Mas Widi, Apa Anda melihatnya?" "Oh kebetulan aku melihatnya tadi. Sejam lalu, dia dijemput temennya, seorang lelaki tampan berjas abu abu, mereka sepertinya akan pergi main." "Apa mobilnya merah." "Iya betul." Fix, itu dokter Okan. Ada apa Lelaki gemulai itu mengajak suamiku pergi. Apa mereka akan kencan? Tiba-tiba aku menjadi sangat gelisah dan tidak nyaman dengan firasatku. Jantungku terasa terpacu dengan kencang dan rasa penasaran itu semakin membuatku tidak sabar. Aku harus mencari keberadaan suamiku dan menyusulnya agar tidak terjadi sesuatu. Dan yang paling penting aku harus memergokinya agar aku bisa menangkap basah dan langsung menghukumnya. Aku harus mengetahuinya malam ini juga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD