25-Sandaran

1231 Words

Usapan menenangkan itu tidak pernah berhenti sejak aku memilih bersembunyi dalam dekapannya. Bahuku yang sejak tadi bergetar hebat, perlahan mulai kehilangan ritmenya. Air mata yang sejak tadi seolah tidak bisa berhenti, kini mulai menjadi titik-titik tak berarti. Saat ini aku sedikit tenang. Badai yang sempat hadir di dadaku, perlahan menghilang. Hanya sisa badai yang membuatnya masih porak poranda. “Mendingan?” Aku mendengar bisikan lembut itu. Perlahan aku mendongak dan menatap Rafif yang tersenyum lembut itu. Aku mengangguk dan kembali menyandarkan kepala di dadanya. Saat ini aku butuh sandaran karena keguncangan badai itu. “Jangan nangis lagi ya. Aku nggak mau ngeliat kamu kayak gini.” Mataku terpejam. Kilasan kejadian beberapa jam yang lalu kembali menyeruak. Aku kembali membuka

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD