Perang Yang Pecah

1529 Words
"Ruby, apa Gale pagi ini mengunjungi kamarku?" tanya Fie untuk kesekian kalinya. Kakinya melangkah gelisah disekitar kamar, setelah dilarang oleh Dokter untuk kelelahan karena beberapa hari belakangan terlalu stress dan lupa meminum obatnya. Fie kembali demam sehari setelah ia berbaikan dengan Gale, dilarang keluar kamar sampai keadaanya benar-benar baik. Tiga hari Fie akhirnya membaik, namun Gale masih belum mengunjunginya untuk satu kalipun. Ruby berusaha meyakinkan Fie bahwa Gale hanya sedang sibuk mengurus urusannya sebagai Raja dan belum sempat mengunjungi Fie, walaupun pemuda cantik itu terus menerus tidak percaya pada ucapannya. Dari jendela kamarnya, Fie berkali-kali melihat jumlah tentara meningkat daripada saat ia baru pertama kali sadar. Mereka semua berseragam lengkap, dan tidak jarang beberapa dari mereka membawa senjata berat yang akan diangkut entah kemana. Senjata itu hanya akan dikeluarkan jika Demore sedang dalam situasi perang, dan tidak ada satu orangpun didalam istana yang mau menjelaskan Fie akan hal ini, sekalipun dia adalah Ratu masa depan Demore. Fie tidak tahan lagi. Ia akhirnya keluar setelah berhasil mengancam semua orang dikamarnya dan Ruby agar bisa beranjak keluar dari ruangannya. Dibelakang Fie, barisan pengawal dan pelayan berjalan patuh mengikutinya di lorong istana yang tengah ramai. Kaki rampingnya akhirnya sampai di aula istana, dimana Gale tengah berdiri di didepan meja besar bersama Jendral-jendral yang dia punya. Mereka semua berhenti bicara begitu melihat Fie memasuki ruangan, diiringi dengan tatapan terkejut dari wajah Gale. "Ada apa ini? Apa Demore akan berperang?" tanya Fie khawatir. Gale melirik seluruh pelayan Fie seakan mengancam mereka, sementara objek ancaman hanya bisa menundukan kepalanya siap menerima hukuman. "Gale, katakan padaku. Apa kita benar-benar akan berperang?" lagi-lagi suara Fie memecah keheningan. Gale berjalan kearah Fie dan mengusap wajah memerah itu pelan, memperlakukannya seperti barang rapuh yang bisa pecah salah sedikit dia menyentuhnya. Fie tetap bertanya dengan keras kepala, memaksa Gale untuk mengatakan yang sebenarnya. "Kerajaan Obeich mengibarkan bendera perang untuk negara kita. Mereka sudah mulai melakukan invasi pada daerah-daerah perbatasan dan dengan sengaja memprovokasi kita. Kerajaan Demore akan berperang sebentar lagi. Jadilah Ratu yang baik dan tetaplah diam di istana bersama Ibuku. Aku harus turun tangan langsung di medan perang dan akan kembali dengan membawa kemenangan," ujar Gale serius. "Tidak!" Fie menepis tangan Gale kasar. Wajahnya semakin memerah menahan tangis, menyebabkan semua penghuni aula bergegas mundur teratur dan menunggu di luar untuk memberi privasi. Kemarahan Viscount Fie bukan lah sesuatu yang bisa mereka lihat seperti menonton pertunjukan. Fie adalah calon ratu masa depan Demore, walaupun belum resmi menikah dan mengumumkan jabatan yang dimilikinya. "Tidak Gale! Jangan berperang! Jangan tinggalkan aku sendiri...... Aku harus ikut denganmu," raung Fie keras. Ingatan saat Gale memberitahunya bahwa sang ayah meninggal di medan perang membuat Fie takut Gale akan merasakan hal yang sama. Gale mungkin kuat sekarang, ditambah dengan kerajaan makmur yang ia perintah. Namun, itu semua tidak membuat Fie merasa tenang saat mendengar kata medan perang keluar dari mulut Gale. "Aku ikut denganmu Gale! Jangan tinggalkan aku disini!" lagi-lagi Fie menjerit. Ruby yang selalu sigap segera berlari untuk memanggil dokter, saat Gale memberinya isyarat bahwa ada sesuatu yang salah dalam diri Fie. "Jangan mendekat! Gale, aku lebih baik mengigit lidahku jika kau benar-benar pergi tanpaku! Aku takut Gale...... Hiks, aku benar-benar takut.." isak Fie keras. Dokter yang hendak memberinya obat tidur mengurungkan niatnya, karena Fie terus saja memeluk erat Gale dan enggan untuk melepaskannya. Gale juga tidak bisa berbuat banyak, apalagi Fie mengancam lebih nekat dari kemarin. "Gale....." rengek Fie lagi. Tangannya yang bergetar menunjukan bahwa ia belum bisa menerima kenyataan bahwa ayahnya telah meninggal di medan perang. Kedua kata itu cukup menimbulkan trauma yang membekas dihati Fie, ditambah ia juga menghilang saat perang tengah berkecamuk di Demore waktu itu. "Aku juga seorang laki-laki Gale..... Aku berjanji tidak akan menyusahkanmu selama perjalanan atau selama perang.. Kumohon.... Ajak aku Gale..." pinta Fie memelas sambil menangis kecil. Gale tahu, Fie benar-benar akan nekat jika kali ini Gale tidak menuruti keinginannya. Tapi, bagaimana bisa Gale membawa Fie ke medan perang? Bukan hanya dia yang ketakutan saat mendengar kata 'medan perang'. Gale tidak takut pada seribu musuh jikalau itu untuk Fie, namun hatinya akan bergetar takut jika Fie ada bersamanya di medan perang. Fie diculik karena melindungi Gale saat itu, bagaimana bisa dia jatuh ke kesalahan yang sama lagi setelah delapan tahun terlewati? "Gale!" rengek Fie lagi. Fie semakin panik saat melihat Gale malah melamun bukannya menjawab pertanyaannya, membuat hati Fie semakin gelisah takut jika saja Gale merencanakan sesuatu di belakangnya. Kegelisahan Fie terhenti saat Gale balas memeluk erat tubuhnya. Bibir itu mendarat di pucuk kepala Fie, mengelus pelan pundaknya untuk memberi kenyamanan. "Fie..." "Apapun yang akan kau katakan aku akan tetap ikut bersamamu Gale," potong Fie lemah. Gale menghela nafas sekali lagi. Bahkan Ayah Fie saja tidak bisa menolak jika Fie sudah keras kepala seperti ini. Apalah dia yang tunangannya? "Berjanji lah bahwa kau akan tetap dikereta sepanjang waktu, dengan Ruby di sampingmu. Beritahu aku jika ada yang salah, dan jangan bantah aku saat itu. Aku akan membuat perang ini aman untukmu Fie," ujar Gale lemah. Wajah Fie yang awalnya sedih langsung berubah sedikit tenang. Dia tetap menolak saat Gale memintanya kembali ke kamarnya untuk tidur dan malah memaksa untuk tetap bersama Gale. Dokter bilang ada beberapa waktu dimana Fie mungkin menjadi sedikit tidak masuk akal, akibat stress dan hilang ingatannya. Gale maklumi itu, dia sudah bertekad untuk mencintai Fie seperti apapun ia sekarang. Para Jendral hanya termenung melihat kemanjaan Fie di pangkuan Raja mereka. Fie tidur dengan wajah sedikit memerah akibat menangis sebelumnya, sedangkan bibir indahnya kadang kala bergumam akibat gelisah. Gale ada untuk mengelus pelan rambutnya, membisikan kata-kata manis agar Fie tidur kembali. Rapat tersebut berlangsung dengan tenang dan tanpa sedikitpun gangguan, karena Gale telah mengancam siapapun tidak berhak melihat wajah off limit Fie, jika tidak ingin melihat murkanya. Semua orang menurut, walaupun banyak Jendral nakal yang sesekali melirik ke arah ciptaan menawan tersebut. Selesai rapat, Gale menggendong Fie kembali ke kamar dan menyelimutinya. Setelah dirasa cukup, Gale kembali keluar untuk membicarakan masalah keikutsertaan Fie pada Ibunya. Keamanan Fie menjadi prioritas utama, lebih tinggi dibandingkan keamanannya sendiri. Gale tahu Fie tidak bisa beladiri sejak kecil, apalagi mengangkat senjata. Tubuh lemahnya tidak mengijinkan Fie berlaku layaknya lelaki biasa, kekurangan atas imbalan tubuhnya yang indah seperti permata. Gale kembali ke kamar Fie saat hari sudah malam, takut jika Fie kembali mengalami mimpi buruk dan berteriak memanggil Gale. Dan benar saja, saat Gale masuk Fie sedang menangis kecil sambil memeluk erat bantal besarnya. Ruby terlihat berusaha menenangkannya, dan segera membungkuk saat dia melihat Gale masuk. "Istirahat lah Ruby. Besok adalah hari besar untuk kita semua, ada baiknya kau pamit terlebih dahulu pada kakakmu. Aku tahu Jade sebenarnya mengkhawatirkanmu," saran Gale tulus. Ruby mengangguk dan segera keluar ruangan, meninggalkan Gale dengan Fie berdua didalam kamar. "Kamu... Tidak berencana meninggalkanku kan?" lirih Fie pelan. Bahkan saat baru bangun tidurpun, wajah Fie masih tampak menawan dengan mata merah terangnya. Gale duduk disamping tubuh Fie, mengusap sayang wajah muram tersebut sambil tersenyum lembut. "Laki-laki sejati tidak akan mengingkari ucapannya. Dan kau juga, jangan mengingkari janjimu selama perjalanan nanti." Fie sedikit tenang, tangisnya telah berhenti dan kepalanya menempel erat di bahu Gale. Sejak kecil Fie memang senang bermanja ria, baik dengan Ayahnya maupun Gale sendiri. Kedua orang tersebut memiliki tempat yang begitu spesial di hati Fie. Gale lega begitu melihat Fie telah tidur kembali. Dengan hati-hati dia baringkan lagi tubuh Fie untuk dia selimuti dan dicium keningnya seperti biasa. Langkah Gale untuk keluar kamar terhenti saat sepasang tangan bergetar memegang ujung mantelnya dengan erat. Fie bangun kembali, saat merasa bahwa Gale akan pergi meninggakannya. "Jangan pergi..... Tidurlah bersamaku malam ini Gale" pinta Fie memelas. Lagi-lagi Gale mengalah, dia bergerak kembali untuk membuka mantel dan mahkotanya dan masuk kedalam selimut bersama dengan Fie. Begitu Gale berbaring, sepasang tangan indah segera melingkar dipinggang Gale dan memeluk erat dirinya. "Dulu kamu yang selalu begini kepadaku, disaat Ayahku membacakan cerita jika kau menginap di rumahku," jelas Fie pelan. Gale ingat dengan jelas bahwa dulu mereka memang selalu tidur bersama jika Gale ada waktu untuk mengunjungi tunangan kecilnya tersebut. Mereka tidur berpelukan dibawah selimut saat Viscount Bruce dengan sabar membacakan mereka cerita. Masa indah itu ternyata Fie masih mengingatnya, walaupun kini tercampur rasa sakit saat Fie kembali mengingatnya. "Sekarang haruskah aku membacakanmu sebuah cerita Fie? Aku sudah berjanji padamu bukan, akan menggantikan semua tugas Ayahmu dan merawatmu dengan seluruh kekuatanku. Aku mencintaimu Fie." Hanya gumaman yang didengar oleh Gale. Lelaki tersebut menengok untuk menemukan bahwa lelaki di sampingnya kini tidur dengan nyeyak sambil terus memeluk erat dirinya. Gale balas memeluk tubuh kecil Fie, sangat cocok ditangannya saat ia membungkus tubuh lemah tersebut. Gale mencium bibir Fie lembut, tidak lama karena dia tidak mau Fie bangun kembali dan membuat pria tersebut kesulitan tidur. Mereka harus berangkat pagi sekali besok, sementara istana akan dikelola Ratu Ernest selama mereka pergi dibantu oleh Jade. Gale hanya perlu tidur sekarang, sebelum memikirkan bagaimana caranya membuat Fie aman dalam medan perang. Tidak ada rasa aman 100% jika mereka dalam medan perang, dan Gale harus memastikan bahwa kemungkinan 100% itu bisa dia buat. Fie adalah hidupnya, tidak bisa ia bayangkan jika Fie lagi-lagi sampai terluka dibawah perlindungannya. Gale menyatukan kening mereka sebelum tidur, sebelum membisikan kata-kata manis yang membuat keduanya tidur dalam kenyamanan. To be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD