"Kamu tahu, kini aku menjadi bahan ejekan Putri lain karena putusnya hubungan pertunanganku dengan Gale. Aku tidak lagi nyaman berada di pesta apapun, dan Gale juga tidak lagi peduli. Dia hanya senang menggunakanku lalu pergi begitu saja. Saat melihatmu, aku langsung tahu bahwa kamulah korban berikutnya. Aku mohon janganlah terlalu percaya pada Gale, Fie. Dia bahkan tidak pernah mengatakan padaku bahwa ia telah memilikimu," ucap Victoria sedih.
Fie, menegang ditempat duduknya. Jadi saat ia menjadi b***k, Gale telah bertunangan dengan orang lain?
Fie tahu Gale memang menyembunyikan sesuatu. Tidak mungkin Gale akan begitu lama membiarkan statusnya kosong saat Fie menghilang.
Namun, bukankah Gale selalu bilang bahwa dia mencintainya?
"Bohong...." bisik Fie pelan. Dia bahkan melupakan tatakrama yang harus ia lakukan saat berhadapan dengan seorang Putri kerajaan setelah itu.
Mata Victoria memandang sedih Fie. " Kamu pikir aku tega membohongimu Fie? Aku hanya mengatakan kebenarannya di sini. Coba kau pikir, kenapa Putra Mahkota seberkuasa dia butuh waktu delapan tahun untuk mencarimu? Aku bersamanya untuk beberapa tahun belakangan ini, dan tidak pernah sekalipun dia membicarakanmu Fie. Aku tidak mau kamu merasakan rasa sakit yang sama sepertiku, dia adalah pria terjahat yang pernah kutemui sampai sekarang."
Tidak ada kebohongan dalam tatapan mata Victoria. Hati Fie mulai dilanda keguncangan, antara harus mempercayainya atau tidak.
Tapi memang benar, kenapa tidak ada yang menyelamatkannya saat ia menjadi b***k? Delapan tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menyelamatkan keluarga elit seperti dirinya.
Kegs juga tidak menyinggung apapun mengenai penculikannya. Apakah semua orang mencoba untuk menyembunyikan kebenarannya dari Fie?
Andai saja Fie tidak melupakan ingatannya, mungkin ia bisa mengetahui sesuatu.
Dada Fie rasanya begitu sesak, langkahnya mendadak gontai, segera pergi dari balkon tanpa mengatakan apapun tidak peduli Ruby dan pengawal lainnya mulai mengejar dari belakang.
Bruk
Langkah Fie baru terhenti ketika ia bertabrakan dengan seseorang, seseorang yang terkejut saat melihat lelaki menawan itu kini menangis kecil begitu bertatapan dengannya.
Pria itu adalah Deen, yang bingung harus melakukan apa ketika tunangan sahabatnya kini menangis tanpa dia tahu apa penyebabnya.
"Viscount Fie!"
Tidak butuh waktu lama sampai Ruby berhasil mengejarnya. Dia segera waspada, saat melihat Fie tengah menangis dihadapan Deen yang dia tahu merupakan teman dekat dari Raja mereka.
"Um.... Viscount, apa yang kamu lakukan malam-malam begini? Kau tahu, kau akan membuatku berada dalam masalah jika terus menangis seperti itu," ujar Deen cangung.
Fie mendongkak, mata merahnya cukup ampuh untuk membuat Deen terkejut untuk sesaat. Wajahnya terlalu murni, namun kini terlihat sakit entah karena apa.
"Ma-maafkan aku....... Aku, ugh-"
Kedua tangan Fie secara refleks menutupi mulutnya yang begetar hebat. Pandangannya mendadak buram, sebelum tubuhnya jatuh kedalam pelukan Deen.
****
"Kumohon sadar lah Fie...."
Fie membuka matanya ketika suara yang tidak asing lagi mengusik matanya yang terpejam. Siluet yang tidak asing duduk disamping tubuhnya, menyalurkan rasa hangat melalui tangan Fie yang dia pegang.
Melihat Fie telah sadar, Gale tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya dan bergegas mencium tangan Fie dengan rasa syukur.
"Sudah kubilang jangan terlalu lama berada diluar Fie. Kau hampir membuatku berteriak ditengah aula saat Ruby melapor bahwa kau pingsan setelah berlari keluar."
Raut wajah Gale berubah, sedikit kecewa dan bingung tercetak di sana.
"Apa yang terjadi Fie? Kau berjanji akan duduk dengan diam di balkon. Ruby bilang kau bersikap aneh setelah bicara berdua dengan Victoria. Apa dia mengatakan sesuatu padamu?"
Fie tidak menjawab pertanyaan Gale begitu saja. Ia terdiam cukup lama, dan Gale masih setia menunggu agar tidak mengejutkan Fie.
"Kenapa baru sekarang?" lirih Fie pelan.
"Kenapa kau baru menemukanku sekarang Gale? Kemana kau saat 'aku' hidup selama delapan tahun sebagai b***k? Kenapa kamu tidak menemukanku lebih cepat? Apa yang terjadi dengan statusmu sebagai Putra Mahkota selama aku menghilang? Kenapa kamu berusaha menyembunyikan fakta pentingnya dariku dan menciptakan kenyataan ini?! Kenapa aku tidak bisa mengingat apapun?!"
Gale tersentak saat mendengar Fie tiba-tiba meninggikan suaranya. Apalagi saat pemuda itu mencoba untuk melukai dirinya sendiri, Gale segera berteriak panik mengundang perhatian pengawal dan dokter yang tengah berjaga diluar kamar. Mereka segera masuk, terkejut melihat Rajanya tengah kesusahan menahan Fie yang semakin mengamuk.
"Mengapa aku masih hidup dan tidak mengingat apa-apa?! Kenapa kau harus memanggilku kembali Gale?! Biarkan aku mati! Aku ingin bertemu dengan Ayahku sekarang juga! Kau pembohong! Aku benci pembohong sepertimu Gale!" jerit Fie tidak terima. Ruby berinisiatif membantu Gale menahan Fie yang semakin berontak, sementara Dokter bekerja untuk memasukan obat pemenang ke dalam tubuh Fie.
Perlahan rontaannya mulai menghilang, digantikan dengan tangis pilu dari tubuh yang mulai melemah.
"Aku lelah Gale...... Aku hanya ingin tidur dan bangun dengan Ayah disamping tempat tidurku..... Aku ingin pulang..."
Fie jatuh tertidur setelah itu, bersikap seperti tidak terlihat begitu frustasi sebelumnya. Semua orang tetap menahan hembusan nafas mereka, seolah badai asli akan datang setelah Fie tetidur dan diselimuti dengan hati-hati oleh Gale.
"Ruby."
Ruby mendongkak hormat, sedikit terkejut melihat aura gelap dan keinginan membunuh yang begitu kuat keluar dari tubuh Gale.
"Jangan bergerak satu langkahpun keluar dari ruangan ini sampai Fie kembali sadar. Minta satu dokter untuk menemanimu berjaga. Dan kalian," tunjuk Gale pada pelayan yang biasa melayani Fie.
"Layani Ruby dan dokter dengan baik selama Fie tertidur. Kalian semua tidak diijinkan membuat keadaan Fie semakin parah atau aku akan memenggal kepala semua dari kalian. Salah satu dari kalian, cepat panggil Jendral Kegs dan bawa dia kehadapanku," titah Gale mutlak. Seorang pengawal segera berlari keluar dari ruangan bernuansa berat tersebut, memanggil Sang Jendral yang tengah berbincang dengan pahlawan militer lainnya.
"Kamu, bawa lah Putri sialan itu kehadapanku sekarang tidak peduli berapa banyak orang yang harus pasukanmu bunuh. Beritahu semua negara apa yang akan terjadi jika mereka berani menganggu calon ratuku," tegas Gale dingin begitu Kegs datang dan memotong saat dia hendak memberi salam.
"Laksanakan Yang Mulia."
Mengerti situasi, Kegs segera pergi untuk mengumpulkan pasukannya dan menimbulkan keributan di aula istana.
Mata Gale memandang sendu Fie yang masih terbaring lemah, sedikit miris saat melihat Fie mulai berkeringat dingin dalam tidurnya.
Dia mendekat, memberikam kecupan singkat di bibir dan menyingkirkan poninya yang mulai basah oleh keringat.
"Lakukan tugasmu sebagai Dokter atau aku akan memenggal kepalamu," ancam Gale sebelum keluar dengan langkah besarnya.
****
Mata Fie terbuka saat sadar banyak orang duduk mengelilingi tempat tidurnya. Sebelumnya itu kacau sekali, pikiran Fie begitu tertekan sampai ia mengeluarkan kata-kata yang seharusnya tidak pernah ia ucapkan. Saat bangun pikirannya sudah mulai merasa tenang, dan memutuskan untuk bicara baik-baik kepada Gale.
Dia tidak bermaksud mengatakan hal tersebut, apalagi sampai membuat Gale memasang wajah seperti sebelumnya. Bagaimanapun Gale lah orang yang merawatnya dengan penuh perhatian, terlepas dari benar atau tidaknya perkataan Putri Victoria.
Saat Fie mencoba bangun, yang pertama panik adalah Ruby dan Dokter yang biasa merawatnya, diikuti oleh Ratu Ernest yang ternyata juga duduk di dekatnya.
Dengan perlahan mereka membantu Fie duduk, sementara Fie begitu malu telah membuat mereka begitu khawatir akan kecemasannya.
"Di mana..... Gale?" tanya Fie ragu. Biasanya Gale adalah pria pertama yang ia lihat saat membuka mata. Rasanya.... Aneh saat Gale menghilang disaat Fie ingin bertemu dengannya.
Apakah Gale marah? Fie begitu khawatir akan hal tersebut.
Ratu Ernest memegang tangan Fie hati-hati, menyalurkan kehangatan seorang Ibu yang tidak pernah Fie rasakan.
"Fie sayangku... Bagaimana keadaanmu sekarang? Tidurlah lagi, Gale akan datang saat kau terbangun nanti," ucapnya lembut.
Fie memandang sekitar, dan tahu ada yang salah saat melihat wajah pucat semua orang.
"Di mana Gale, Ibu Ratu? Aku harus meluruskan sesuatu dengannya sekarang juga!" desak Fie tidak sabaran. Ia segera bangkit dari tidurnya, berjalan keluar dengan pakaian kemarin yang belum diganti.
Matahari bersinar dengan cerah, namun lorong istana tampak sepi dan sangat mencekam, menambah rasa takut dalam diri Fie. Di belakangnya, Ratu Ernest berjalan mengikutinya diikuti oleh Ruby, para pelayan, dan beberapa penjaga. Mereka meminta Fie untuk berjalan lebih lambat, agar penyakitnya tidak kembali kambuh dan menyebabkan mereka kehilangan kepalanya masing-masing.
Fie tiba di ruang tahta, dan terkejut saat melihat ketegangan yang tengah menyelimuti ruangan tersebut. Seluruh tamu masih disana, walaupun baju mereka telah diganti dan wajah mereka semua tidaklah baik.
Di depan Gale yang tengah duduk angkuh dikursi tahtanya, berlutut Victoria dengan tangisnya yang tidak mau berhenti.
Kemarahan Fia yang sempat padam kembali tersulut begitu saja, menyebabkan tubuhnya secara otomatis berlari membantu Victoria untuk bangun dari posisinya.
Ibarat api disiram bensin, wajah Gale semakin gelap seiring bangkitnya ia dari kursi tahta.
"Fie, menyingkir sekarang juga. Hukuman untuknya adalah dicambuk 100 kali sesuai hukum yang berlaku di negara ini. Tidak peduli dia Putri Kerajaan sekalipun," desis Gale tajam.
"Kamu tidak bisa melakukan ini padaku Gale! Kaulah yang telah mempermalukanku atas pembatalan pertunangan kita! Kakakku tidak akan tinggal diam-"
"MAKA BIARLAH DIA TAHU APA YANG TELAH AKU LAKUKAN PADAMU! BIARKAN CALON RATUKU TAHU APA YANG SEBENARNYA TERJADI DIANTARA KITA!"
Badan Fie seakan membeku saat itu juga. Gale, anak manis yang dulu selalu menempel padanya kini berubah menjadi pria dewasa yang dingin, membentak seorang Putri tanpa takut sedikitpun.
Kemana Gale yang selalu tersenyum dihadapannya? Mungkinkah ini semua adalah salahnya?
Grep
"Gale...." panggil Fie pelan. Tubuhnya secara refleks memeluk Gale yang tengah marah. Ia rela membuang semua harga dirinya jika itu berarti Gale dapat kembali seperti dia yang dulu.
Gale tidak mengatakan apapun, terdiam seperti batu tanpa balas memeluk Fie seperti biasa.
"Maafkan Victoria, Gale. Aku berjanji akan mendengarkan semua penjelasanmu setelah ini, namun sekarang biarkan semua tamumu kembali ke negaranya masing-masing. Kamu tidak boleh begini Gale..." nasihat Fie takut-takut. Gale masih terdiam di tempatnya, sebelum sepasang lengan kekar membungkus pinggang Fie dengan hangat.
"Atas keinginan Ratuku, aku akan mengembalikanmu ke negaramu sendiri sekarang juga. Dan untuk tamu lain, aku harap ini bisa menjadi pelajaran yang berharga untuk semuanya" ancam Gale dingin. Semua orang ingin bekerja sama dengan negara Demore, mengingat sumber dayanya yang melimpah baik alam maupun manusia. Raja Demore yang sekarang pun, Gale bukan lah Raja bodoh yang akan mengingkari ucapannya. Memperlakukan seorang Putri Kerajaan seperti Victoria secara tidak terhormat, maka jelas-jelas Gale telah siap untuk kemungkinan perang.
Para tamu mulai bubar saat Gale telah selesai berdiskusi dengan mereka. Banyak dari mereka tidak mempersalahkan apa yang baru saja terjadi, biasanya didominasi oleh negara-negara kuat dengan pemimpin yang licik.
Fie tidak bicara apapun sampai akhir pertemuan. Dia hanya terus tersenyum canggung memanggapi sapaan formal duta dari berbagai negara. Yang Fie yakini ialah, tangan Gale sedari tadi terus menggenggam erat tangannya hingga Fie tahu, urusan mereka belumlah selesai sampai di sini.
Sore hari mereka baru selesai melayani para tamu, dan kembali ke kamar Fie diantar oleh Gale sendiri.
Mereka berdua hanya diam selama perjalanan, bahkan Fie bingung apa yang harus ia bicarakan dengan Gale saat ini.
Ruby juga, dia malah sengaja berjalan dibelakang dan memberi jarak bagi mereka untuk berdua, sampai Fie tiba dikamarnya dan mulai memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.
Fie terkejut sekaligus sedikit takut, saat Gale masih diam menunggunya di kamar sambil menatap taman depan kamarnya.
Fie berjalan pelan kearah Gale, sedikit kaku saat tangan rapuhnya memegang tangan Gale yang begitu besar.
"Maafkan perkataanku kemarin...... Aku hanya sedang bingung dan-"
Grep
Gale bergerak untuk memeluk Fie erat. Tangannya memberi isyarat agar Fie berhenti bicara, sementara Gale mengganti posisi mereka hingga Fie duduk dikursi sementara Gale berlutut di depannya.
"Aku, aku tidak memiliki hubungan apapun dengan wanita itu Fie. Memang, dulu negaranya dengan negara ini ingin menjalin hubungan, dengan pertunangan kami sebagai pengikatnya. Namun aku jelas-jelas menolak pertunangan itu. Aku masih terus mencarimu, mana mungkin aku mengkhianati orang yang telah mengorbankan hidupnya dengan bertunangan dengan orang lain? Aku bersumpah demi negaraku aku hanya mencintaimu Fie," jelas Gale pelan. Matanya menampakan aura kesungguhan yang luar biasa, sementara tangannya terus memegang erat tangan Fie.
"Pukul saja aku Fie. Caci aku sampai kau puas. Tapi kumohon, jangan pernah kau katakan tentang membenciku atau lelah dengan dunia ini. Kau boleh mengambil segalanya dariku, namun jangan keberadaanmu yang paling kujaga. Aku rela melakukan segalanya, asal itu bukanlah melepaskanmu seperti dulu. Delapan tahun aku putus asa dalam mencari jejakmu. Akh putus asa saat mencoba menghentikan kehancuran keluargamu dengan umurku yang baru mencapai 14. Aku selalu bermimpi tentang bagaimana kau diculik dan menyesal karenanya. Aku rela mati demi dirimu Fie, tapi kumohon janganlah kau mengatakan bahwa ini merupakan saatnya kau menemui Ayahmu. Aku merasa bersalah, namun tidak akan kuijinkan kau menghilang lagi Fie."
Sebelum Fie sempat mengatakan apapun, Gale kembali berucap panjang. Wajahnya memerah menahan tangis, tercetak jelas bahwa dia terlihat sangat putus asa sekarang.
Gale berdiri, mencabut pedang emas yang menggantung dipinggangnya dan menyerahkan pedang itu pada Fie.
"Aku telah gagal sebagai tunanganmu. Bunuh dan siksa aku Fie, namun janganlah benci aku setelah itu. Aku....... Hanya ingin kamu bahagia Fielona Donnes Hayden."
Trang
Tubuh bergetar Fie jatuh pada pelukan Gale. Ia menangis seperti anak kecil disana, lebih buruk daripada saat ia mendengar kabar bahwa Ayah kesayangannya telah tiada.
"Kamu bodoh Gale! Hiks, jangan katakan mati semudah itu... Mana bisa aku membunuh orang yang amat kucintai?" tangan Fie memukul keras d**a Gale yang ia sandari, menangis keras tanpa mau menghentikan pukulannya.
"Hanya keluarga ini lah yang aku miliki sekarang! Jangan....... Pergi Gale.... Aku tidak sanggup melihatmu pergi dariku.... Aku kalap saat tahu kemungkinan kau akan pergi meninggalkanku.... Aku egois Gale..... Aku ingin kau untuk selalu menemani diriku sekarang dan selamanya..." isak Fie kesal.
"Jadi..... Kau kini hanya memiliki aku bukan?"
Wajah terkejut Gale berubah menjadi kebahagiaan saat Fie menyatakan perasaannya. Ada perasaan bahagia saat Fie bergantung padanya, hidup hanya memilikinya saat ini.
Mata merah Fie memandang Gale kesal. Tangan rampingnya lagi-lagi memukul d**a Gale keras, walaupun tidak seberapa melihat perbedaan kekuatan keduanya. Wajah khawatir Gale berubah menjadi cerah, tidak ada lagi jejak kesedihan semenjak Fie tampak sudah memaafkannya.
Dengan sigap Gale bergerak untuk menggendong Fie dan menidurkannya di tempat tidur. Perlahan penghuni diluar kamar menghela nafas lega saat melihat bahwa Gale tidak lagi memanggil mereka karena Fie mengamuk. Orang yang sedang kasmaran memang berbeda, mudah bertengkar dan mudah pula memaafkan.
Walaupun pertengkaran 'kecil' mereka tanpa sadar telah membakar bendera perang yang baru tanpa mereka sadari.
To be continued