“Gina?” “Mas Anwar?” Mereka saling menatap satu sama lain, keterkejutan mendominasi mereka berdua. Gina sudah tidak tahu kabar Anwar sejak memutuskan meraih cita-citanya, bahkan komunikasi mereka terputus dan membuat dirinya menerima lamaran Fierly. “Apa kabar?” tanya Anwar terlebih dahulu. “Baik, mas sendiri? Lama juga kita loss contact, padahal mas janji akan hubungi tiap saat dan nyatanya...” “Maaf, aku dengar kamu juga sudah menikah. Apa ini anakmu?” Anwar menatap Putri yang berada di trolly yang dijawab dengan anggukan kepala “Bagaimana kalau kita bicara? Melepas kangen.” “Baiklah, aku selesaikan belanjaan dulu.” “Aku tunggu di depan.” Pertemuan yang sangat tidak direncanakan, mereka bahkan tidak saling berhubungan sejak Gina memberikan kabar pernikahannya. Gina sendiri tida

