Lamaran

1447 Words
“Abi kenapa terima lamaran dia?” Gina masih tidak percaya dengan kenyataan yang baru saja terjadi, kedatangan Fierly kerumah dengan alasan melamar langsung disetujui, padahal kedua orang tuanya tahu jika dirinya saat ini sedang menjalin kasih dengan senior sahabatnya. “Abi nggak mau menghalangi jodoh anak,” ucap Ranu, abinya. “Abi kan tahu kalau aku hubungan sama Mas Anwar, terus ini gimana?” Gina mengusap wajahnya kasar. “Bukannya kamu selama ini sama Fierly? Abi nggak tahu secara Anwar nggak pernah kesini, beda sama Fierly yang sering kesini.” Ranu memberikan alasan. Gina tahu jika selama ini lebih banyak bersama dengan Fierly, semua itu tidak lain karena dia teman dekat pacar kakak perempuannya. Fierly datang kesini bersama Darwin untuk kencan dengan kakaknya, Erlin. Kakaknya kencan otomatis mengajak dirinya jika memang tidak ada acara, biasanya mereka akan berpisah dan secara otomatis Gina akan bersama dengan Fierly. “Kamu putus aja sama Anwar,” ucap Dewi yang tiba-tiba membuka suara. Gina menatap tidak percaya melihat bagaimana kedua orang tuanya menganggap semuanya mudah, mengusap wajahnya kasar dan memilih ke kamar. Tidak akan mendapatkan hasil apa-apa karena lamaran Fierly sudah diterima orang tuanya, kedatangan keluarga Fierly yang tiba-tiba sempat membuat orang tuanya terkejut. Kenyataan sekarang dirinya dan Fierly akan menikah, tapi bukankah kedua kakaknya belum menikah dan itu otomatis bisa saja pernikahannya gagal. “Nggak bisa gitu, mi. Memang umi nggak mikirin perasaan Mas Anwar?” Gina menggelengkan kepalanya. “Kalau gitu bilang sama Anwar buat melamar kamu sambil bawa orang tuanya.” Ranu berkata dengan nada tegasnya. Gina membuka mulutnya “Mana bisa Mas Anwar lakuin itu, bi. Sekarang dia lagi magang kerja di restoran jadi fokusnya kuliah dan cepat lulus.” “Kalau gitu terima tawaran Fierly, lagian akhir-akhir ini abi lihat kamu lebih banyak keluar sama Fierly daripada Anwar.” Ranu tetap dengan pendiriannya. “Abi harus paham kalau usia Mas Fierly dan Mas Anwar itu beda, jadinya fokus juga beda.” Gina masih berusaha memberikan alasan “Lagian sejak kapan abi jadi otoriter begini?” Gina beranjak dari ranjangnya dan keluar dari kamar, langkahnya menuju ke kamar kakak perempuannya tapi terhenti saat mendengar suara dibawah. Melihat dari atas tampak kedua orang tuanya berbicara serius dengan kakak perempuannya dan sang kekasih, Gina mengernyitkan keningnya melihat pemandangan itu dengan cepat turun ke bawah. “Kamu dilamar sama Fierly? Anwar gimana?” pertanyaan Soni menghentikan langkah kaki Gina yang akan kebawah. “Mas tahu darimana?” tanya Gina penasaran. “Mbak Erlin sama Mas Darwin diminta nikah cepat.” Gina membuka mulutnya tidak percaya mendengar fakta yang disampaikan Soni. “Mas Darwin masih kerjain skripsi, mas?” Gina mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya. “Kamu kaya nggak tahu abi aja,” ucap Soni malas “Memang Fierly nggak bilang mau lamar?” Gina menggelengkan kepalanya “Kalian sering keluar, kan? Kamu juga beberapa kali ketemu sama orang tuanya Fierly.” “Ya, tapi nggak ada pembahasan kearah sana.” Gina melangkahkan kakinya ke sofa yang ada di lantai atas, langkah Gina diikuti Soni dari belakang. Menyandarkan diri di sofa dengan memejamkan matanya, Gina memang ingin menikah muda tapi bukan dengan cara seperti ini. Semua serba mendadak bagi dirinya, Fierly bahkan tidak mengajak diskusi. “Aku udah tahu kalau Fierly mau lamar kamu.” Gina membuka matanya mendapati Darwin duduk di sofa lain. “Kapan memang ngomongnya? Aku aja nggak dikasih tahu.” Gina menatap tidak terima dengan informasi yang diberikan Darwin. “Beberapa hari lalu, waktu itu aku kira bercanda. Fierly setelah bicara sama aku tiba-tiba minta buat ngajak Erlin bicara tentang niatnya itu, dari situ aku yakin dia serius sama kamu.” Darwin menambahkan informasinya. “Kenapa nggak bilang?” tanya Gina kecewa. “Kami mengira dia sudah bicara sama kamu, tapi ternyata langsung bawa orang tuanya.” Darwin menjawab sambil mengangkat bahu. “Cowok begitu itu serius sama kamu, bagus dong.” Soni mengatakan pendapatnya. “Mas dan mbak gimana? Diapain tadi sama abi?” tanya Gina tidak peduli dengan kata-kata Soni. “Kami menikah terlebih dahulu, tahun depannya baru kalian berdua. Fierly sudah setuju dengan itu, tapi kemungkinan bukan tahun depan kalau Fierly sudah nggak tahan.” Darwin mengedipkan matanya. Gina memejamkan matanya kembali setelah bersandar di sofa, tidak menghiraukan pembicaraan ketiga orang yang ada disekitarnya. Semua serba mendadak dan Gina tidak tahu harus bagaimana, terlebih semua sudah disetujui kedua orang tuanya. Dunianya sekarang sudah tidak baik-baik saja, jika dibandingkan kedua kakaknya Gina masih belum siap untuk menikah. Usianya masih muda ditambah dirinya masih kuliah, walaupun tinggal skripsi. “Gin, kamu nanti kerja?” suara Erlin membuyarkan lamunan Gina yang memilih hanya menganggukkan kepalanya “Naik apa? Bareng sama kita, nggak?” “Aku mau ke rumah Indira nanti malam, dia nitip donat.” “Jangan lupa kabari Fierly, gimana-gimana dia sekarang calon suami kamu.” Soni memberikan peringatan yang hanya diangguki Gina. “Mas Darwin kan masih ngerjain skripsi, terus gimana? Mbak Erlin tinggal sidang, dikit lagi wisuda.” Gina menatap kedua orang yang menjalin hubungan. “Abi nggak masalah, tapi aku bilang dulu sama orang tua. Sebenarnya memang usul abi benar secara nggak boleh lama-lama, dosa yang ada. Lagian pacaran setelah menikah jauh lebih enak, kamu nanti sama Fierly juga begitu.” Darwin mengedipkan matanya kearah Gina yang langsung memutar bola matanya malas. “Kamu masih kepikiran Anwar? Memang masih hubungan?” tanya Erlin penasaran. “Apa sekarang penting hubunganku sama Anwar? Abi saja sudah terima lamaran Fierly, gimana bisa aku tolak.” Gina menjawab lemas “Aku kamar dulu, lumayan istirahat.” Meninggalkan ketiga orang di ruang istirahat, tujuannya kembali kedalam kamar untuk membaringkan tubuhnya dari pikiran-pikiran yang sudah menumpuk setelah lamaran. Semua serba mengejutkan, tidak ada niatan dari dirinya untuk menghubungi Fierly. Menatap jam dimana tampaknya masih ada waktu untuk bersiap, beranjak dari ranjang untuk siap berangkat kerja di restoran donat ternama. Keluar dari kamar, langkahnya terhenti mendapati Fierly duduk di tempatnya tadi bersama dengan Darwin dan Erlin. Gina tidak melihat keberadaan Soni, tampaknya kakak laki-lakinya itu ke toko bersama dengan orang tua mereka. Gina melangkahkan kaki kearah ketiga orang tersebut dengan fokus yang berbeda, memilih duduk di sofa tunggal dan menatap Fierly yang juga menatap kearahnya. “Mau berangkat sekarang?” tanya Fierly membuka suaranya yang diangguki Gina “Aku antar.” “Nggak usah, mas. Aku bisa naik motor.” Gina menolak halus. “Motornya dibawa Dedi, katanya ada tugas di rumah temannya.” Gina menatap tajam kearah Erlin yang membuatnya terkejut. “Mbak kan tahu kalau aku kerja sore, kenapa dikasih ke Dedi?” Gina mengerucutkan bibirnya. “Abi yang kasih, kamu sudah ada Fierly juga ini. Sana berangkat sama Fierly keburu telat.” Gina yang tidak ingin berdebat memilih mengikuti kata-kata kakak perempuannya, Fierly mengikuti dari belakang tanpa mengeluarkan suaranya. Membuka kunci mobil dan Gina langsung masuk kedalam, tidak mempedulikan Fierly yang ada dibelakangnya. Selama perjalanan tidak ada yang membuka suara, salah satu keuntungan sebenarnya tapi Gina ingin bertanya tentang lamaran. “Mas kenapa dadakan sih buat lamaran?” Gina membuka suaranya dengan Fierly fokus pada keadaan jalan. “Lama-lama pacaran dosa, memang kamu mau menambah dosa orang tuamu di akherat nanti? Lebih enak kita pacaran halal aja, daripada nambah dosa orang tua.” Gina menatap tidak percaya dengan kalimat yang keluar dari bibir Fierly, selama ini bersama dengan pria tidak pernah ada yang mengatakan hal itu. Mempertimbangkan orang tua, akherat dan agama. Fierly adalah sosok pria yang memang Allah berikan padanya, sosok yang akan membimbing kedalam ilmu agama yang tidak dipahami. “Kamu juga sudah ketemu keluargaku jadi nggak ada masalah apapun untuk hubungan lebih jauh.” Fierly menambahkan kalimatnya “Kamu terima lamaranku, kan? Aku mau kamu jadi ibu dari anak-anakku dan kita menua bersama.” “Kamu seyakin itu sama aku? Memang sama mantanmu nggak yakin?” tanya Gina penasaran. “Aku nggak mau mengulang kesalahan yang sama, aku berdoa wanita terakhir yang bersamaku setelah mantanku akan menjadi istriku dan kamu adalah wanita terakhir itu.” Fierly mengatakan dengan nada tegas dan tatapan lemhut. “Bagaimana jika di tengah jalan kita nggak cocok?” tanya Gina penasaran. “Banyak waktu kita untuk saling belajar satu sama lain,” jawab Fierly yang kembali fokus dengan keadaan jalan. Gina memilih diam, tidak bertanya lagi. Keadaan mobil menjadi hening, bahkan Fierly tidak menyalakan musik sama sekali. Mengalihkan pandangan dengan menatap dalam Fierly, jantungnya belum berdetak sangat berbeda ketika bersama Anwar. Gina tidak yakin bisa membuka hati untuk Fierly dengan mudah, takutnya menganggap Fierly adalah pelarian. “Aku mau kita menikah setelah aku Lulus,” pinta Gina. “Maaf, aku takut nggak bisa menahan diri sehingga merusakmu nantinya. Biarkan berjalan sesuai dengan rencana, aku memberikan waktu Erlin dan Darwin menikah dan itu bagiku sudah cukup lama.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD