Selagi Miyuki memperhatikannya, lelaki itu sigap berlari dan menarik lengan Miyuki. Tak dapat menahan, akhirnya Miyuki terjatuh dan lelaki di dekatnya berhasil menangkap tubuh Miyuki. Walaupun ... dirinya juga tertimpa tubuh kurus Miyuki.
Senyap dan tenang. Bukannya beranjak, Miyuki malah terdiam di atas d**a bidang lelaki tersebut. Beberapa detik kemudian, bahunya bergetar. Suara tangis kembali terdengar di balik wajahnya yang tersembunyi.
Lelaki itu pun dibuatnya heran. Ia menerka-nerka apa yang bisa membuat gadis itu begitu putus asa. Bahkan, dua kali ia mendapati gadis itu hendak mengakhiri hidupnya pada rentang waktu yang sangat dekat.
Lelaki itu sengaja berdiam diri dalam posisi terlentang. Di atas lantai kasar dan berkerikil, wajahnya menatap langit yang mulai meredup. Entah gelap karena perbuatan awan setelah menumpahkan air hujan atau karena akan tutup hari berganti malam.
Baju kemejanya ikut lembap terkena pakaian Miyuki yang belum kering. Namun, dengan seperti itu ia berharap semoga bisa membuat gadis itu lega walau hanya sebentar.
Miyuki bangkit dari lantai gedung beralaskan semen kasar. Sebagian tubuhnya yang menimpa lelaki itu juga ikut bangun. Tangan Miyuki sibuk mengeringkan pipinya yang masih lembap bekas air mata.
Lelaki itu pun ikut bangun sambil membersihkan kemeja hitamnya yang kotor.
“Kamu ... udah membaik?” Matanya memandangi Miyuki.
“Kamu ini siapa! Dan kenapa selalu menghalangiku!”
“Kalau kamu jadi aku, apa kamu mau membiarkan aku mati bunuh diri?”
“Kamu bisa pura-pura gak lihat aku! Atau anggap aku gak ada!” Kedua tangan Miyuki menutupi wajahnya.
“Mana mungkin aku gak melihat gadis secantik kamu?” Ia berusaha menghibur Miyuki. Sementara, kedua tangannya saling menepuk agar tak lagi tersisa kotoran.
“Dengar! Kita itu gak saling kenal. Jadi, tolong jangan ikut campur urusanku kalau kamu gak mau terlibat masalah denganku!” Miyuki bangkit berdiri, kembali ke tempatnya berdiri semula—di atas pagar tembok.
“Aku Jiro,” ujarnya yang juga menegakkan diri.
Miyuki tak menggubrisnya. Suara langkah sepatu Jiro menghampiri Miyuki yang hendak naik lagi ke pagar tembok.
“Siapa namamu? Kalau kamu cerita, mungkin aku bisa membantumu.” Jiro mengulurkan tangannya ke arah Miyuki.
“Kamu gak bisa membantuku. Lawanmu gak sepadan.”
Jiro tak menjawab. Namun, kedua alisnya terangkat. Bibirnya pun menarik senyum tipis, menanti tangan halus yang menerima uluran tangannya.
“Sebaiknya, kita bicarakan dulu.”
Enam puluh detik Miyuki berdiri dalam diam, dalam terpaan angin sore. Kelopak matanya menutup. Ia menarik napas dalam-dalam, kemudian melihat Jiro dan berkata, “Kamu ... mau jadi suamiku?”
“Apa?!”
***
“Di mana rumahmu?” Jiro memakaikan mantel di tubuh Miyuki, merapikannya, dan memastikan Miyuki tak kedinginan.
Miyuki tak membalas pertanyaannya. Mulutnya diam seribu bahasa. Namun, sepasang matanya memperhatikan gerak-gerik Jiro.
“Masuklah!” Nada Jiro setengah memerintah setelah membukakan pintu mobil.
Setelah keduanya berada di dalam mobil, Jiro memacu kendaraan beroda empatnya keluar dari rumah sakit.
“Di mana rumahmu? Aku akan mengantarkanmu pulang!”
Miyuki hanya menunduk sambil memegangi kedua ujung ritsleting mantel agar tetap rapat menutupi tubuhnya.
“Kenapa tidak menjawab?”
“Aku tak akan menjawab apa pun kalau kamu tidak bisa membantuku! Dengan kamu mengantarku pulang, itu cuma akan menambah masalahku saja.” Ekspresi wajah Miyuki mengerut. Ia berbicara tanpa mengalihkan pandangannya.
Jiro menghentikan mobil di bahu jalan. “Gimana kalau aku bisa bantu kamu?” Jiro membalikkan badan menghadap gadis di sampingnya. Matanya intens menatap Miyuki.
Dengan keberanian diri yang terbatas, Miyuki mengalihkan wajah ke arahnya. Pandangan mereka saling beradu. Namun, tatapan Miyuki penuh tanya. Detik kemudian ia menggeleng.
“Kamu jangan bercanda! Karena ini tentang hidup dan masa depanku!”
Jiro mengangkat kedua bahu. Wajahnya mendekat, tersenyum, kemudian berucap, “Aku serius.”
Seolah tidak percaya dengan ucapan Jiro, Miyuki menggigit bibir bawahnya.
“Sekarang, beri tahu aku namamu.”
“Eengh ... Yuki, Miyuki Nameera.” Ia menyebutkan namanya perlahan.
Kemudian, Jiro mengangguk-angguk. “Baiklah, Miyuki. Aku Renjiro Tammy. Kamu bisa panggil Jiro.” Jiro kembali menyalakan mesin mobil dan mereka melanjutkan perjalanannya. “Di mana ru—
Miyuki bergeleng-geleng cepat. “Aku gak mau pulang.” Sepasang matanya kembali sayu. Kedua tangannya menarik mantel lebih erat—pertanda ketakutan.
“Hmm ... aku gak tau masalah apa yang kamu punya. Tapi, aku harus tau di mana rumahmu, siapa orang tuamu, dan bagaimana hidupmu ... sebagai seorang calon suami.”
Dengan kepala makin tertunduk, pelupuk matanya berkedip secara perlahan. “Bisa kamu bawa aku ke tempat lain dulu? Aku mohon ... Jiro. Aku tidak bisa pulang sekarang.” Suaranya serak dan bergetar.
Renjiro menghela napas. Setelah memikirkan ke tempat mana ia harus membawa Miyuki, ia pun menyanggupinya.
***
Mobil hatchback hitam memasuki halaman rumah sederhana satu lantai. Meskipun bukan rumah tingkat, tetapi rumah itu memiliki lahan yang luas. Belum lagi lahan pekarangannya yang dipenuhi berbagai macam tanaman.
“Assalamu’alaikum,” ucap Renjiro.
“Wa’alaikumussalam,” jawab seorang gadis muda yang keluar dari kamar berukuran 4x3 meter.
“Miyuki, ini adikku.” Jiro memperkenalkan adik satu-satunya itu.
“Assalamu’alaikum, Kakak ...?”
“Miyuki,” ujar Miyuki menjawab ucapan Narumi yang berbentuk pertanyaan. Ia mengulurkan tangan untuk saling berjabat tangan.
“Oh, Kak Miyuki. Aku Narumi.” Narumi mengembangkan senyum dan Miyuki membalasnya dengan malu-malu.
“Narumi, tolong pinjamkan Miyuki baju kamu. Bajunya kebasahan karena kehujanan tadi.”
“Iya, Kak.” Narumi menuntun arah menuju kamarnya yang tak jauh dari ruang tamu.
Miyuki menatap ruangan seorang gadis yang berusia tiga tahun di bawahnya. Dinding berwarna putih tulang dan beige berpadu menghasilkan suasana kamar yang luas dan elegan.
Tak terlalu banyak barang di sana. Hanya ada perkakas penting seperti tempat tidur, lemari tiga pintu, meja kecil serbaguna yang di atasnya terdapat beberapa alat perias, dan satu set meja kursi yang di atasnya bertumpuk buku-buku dan sebuah laptop.
Namira membuka salah satu pintu lemari, mengambil gamis sederhana berwarna biru dan kerudung dengan warna lebih muda.
“Ini bajunya, Kak.”
“Apa ini tak terlalu bagus, Namira?”
“Tidak, Kak. Kebetulan baju ini jarang aku pakai. Buat Kakak saja, ya?”
Miyuki bergeleng-geleng. “Jangaaan, Namira. Aku pinjam saja bajunya. Nanti aku kembalikan, ya?”
“Serius tidak usah, Kak. Sekali lagi ... baju ini buat Kakak, ya? Aku bakal seneng banget kalo Kakak mau terima.”
Miyuki memegang baju itu. Sebenarnya, ia sedikit merasa malu. Karena menurutnya, baju yang diberikan Namira itu terlalu bagus dan pasti harganya mahal. Itu terlihat dari kualitas bahan, jahitan, model, dan merek yang tampak di bagian samping baju dan kerudungnya.
Berbanding jauh dengan baju yang ia kenakan saat itu, hanya baju murahan yang dibelinya dari pasar.
“Terima kasih, Namira.”
Gadis dengan hijab berwarna cokelat pastel itu mengulum senyum.
“Aku tinggal, ya, Kak, mau buatkan minum untuk Kakak dulu. Kakak silakan bersih-bersih di sini. Kalau mau istirahat juga boleh.” Namira menunjuk ranjangnya yang tertata rapi.
Miyuki selesai berganti pakaian. Ia melipat baju basahnya untuk nanti dibawa pulang. Dipandanginya kamar yang cukup luas untuk hanya seorang gadis.
Beruntung banget, Namira, batinnya.
Kamar itu sangat berbeda jauh dengan kamarnya. Dalam hati Namira ingin sekali memiliki kamar sendiri agar bisa menghiasnya sesempurna mungkin, tetapi kenyataannya, ia harus berbagi ruangan sempit dengan sang adik. Ruangan yang selalu berantakan. Tempat baju-baju bekas pakai adiknya dan buku terdampar di mana-mana.
Tak ingin berlama-lama di kamar itu, Miyuki segera keluar kamar sambil membawa baju-bajunya.
“Udah selesai?”
Ternyata Jiro sedang duduk di ruang tamu, menanti Miyuki selesai berganti busana. Bibirnya melambungkan senyum saat melihat gadis bertubuh kurus yang makin cerah dengan pakaian barunya.
Miyuki hanya mengangguk dan tak berani menatap Jiro. Ia tampak salah tingkah ketika lelaki dengan alis tegas itu memandanginya.
Azan Magrib berkumandang. Suaranya amat jelas terdengar dari rumah Renjiro.
“Diminum dulu, Kak, tehnya.” Namira meletakkan secangkir teh manis hangat di atas meja kaca.
“Terima kasih, Namira.”
“Sama-sama, Kak. Oh, ya. Apa Kakak berhalangan salat?”
Miyuki menggeleng.
“Kita salat berjamaah di masjid, yuk?”
“Boleh.”
Renjiro, Miyuki, dan Namira berjalan bersama ke masjid. Letaknya, hanya terhalang dua bangunan besar dari rumah Renjiro.
Selepas salat Magrib berjamaah, mereka pulang bersama.
“Aku antar pulang, ya?” Renjiro menawarkan diri.
“Tapi, ....” Miyuki menatapnya ragu.
“Nanti kita bicara di jalan!”
***
“Assalamu’alaikum, Pak.” Miyuki mengucapkan salam kepada Radi yang tengah duduk di halaman depan rumahnya. Halaman yang sempit hanya selebar enam keramik berukuran 30 meter persegi.
“Wa’alaikumussalam.” Radi menjawab dengan irama ketus. Apalagi saat matanya melihat seorang lelaki turun dari mobil yang baru saja mengantar putrinya.
Miyuki meraih tangan Radi, mencium tangannya dengan segan.
“Kamu dari mana aja? Pak Chris tadi ke sini mau ketemu kamu.”
“Pak, ke dalam, yuk? Yuki mau ngomong sebentar sama Bapak.” Yuki berusaha bicara baik-baik dengan ayahnya agar tak terdengar Renjiro.
“Ngomong di sini aja!”
Renjiro menghampiri ayah Miyuki, mencoba meraih tangan kurus itu untuk menyalaminya.
“Kamu siapa? Kenapa bisa datang dengan anakku!”