“Saya ....”
“Jangan coba-coba mendekati anak saya, ya!” Jiro dipandangi sinis oleh Radi.
“Pak ... Yuki mau ngomong sama Bapak.” Yuki mengalihkan pembicaraan agar tak terjadi ketegangan di antara ayahnya dan Renjiro.
“Hmm!”
“Pak, Yuki mohon ... Yuki gak mau menikah sama Pak Chris. Yuki gak mencintainya, Pak.”
“Zaman sekarang tu, nikah gak perlu cinta, Yuki! Yang penting tu ini!” Radi menggoyang-goyang ibu jari dan telunjuknya yang berarti “uang”.
“Pak, insyaallah Yuki bisa bantu ekonomi keluarga kita stabil lagi. Percaya sama Yuki, ya? Yuki juga udah punya calon suami. Dia lelaki yang Yuki sayangi, Pak.”
Renjiro memandangi Miyuki yang sedang berlutut di depan kursi roda ayahnya. Kedua tangannya bertopang di atas paha. Dalam keadaan seperti itu, air mata Miyuki kembali meluncur deras.
Bisa dirasakan oleh Renjiro bahwa Yuki benar-benar tidak ingin dijodohkan oleh sang ayah. Ia juga berpikir, apa ia pantas menjadi suaminya? Atas dasar apa? Pada kenyataannya, pertemuan mereka saja baru pertama kalinya ... dan itu benar-benar keputusan paling impulsif yang pernah dibuatnya.
Keputusan menikah bukanlah hal yang mudah. Bukan hanya ucapan aku terima nikahnya di hadapan penghulu; bukan hanya tanda tangan di atas sebuah buku kecil berisi perjanjian; bukan tentang semewah apa resepsi pernikahan. Melainkan sebuah ikrar yang terdengar sampai langit dan ... bertanggung jawab atas kehidupan-kehidupan baru di masa yang akan datang—bukan hanya di dunia, tetapi alam lain setelah ini.
“Maksud kamu, dia calonnya?” Radi menunjuk tepat di depan d**a Renjiro.
Miyuki mengangguk. Ia juga tidak tahu apakah keputusan itu benar dan tepat untuknya ... yang Miyuki tahu bahwa ia menolak keras menikahi pria tua itu.
Ia tidak peduli sekaya atau semapan apa Chris. Namun, untuk jadi istri kelima bukanlah harapannya. Belum lagi, tidak jelas agama apa yang dianut oleh Pak Chris dan keempat istrinya. Bisa-bisa, kelak ia jadi makin menjauh dari Tuhan-nya. Miyuki tidak mau hal itu sampai terjadi.
“Berapa gaji kamu?!”
Pertanyaan Radi membuat Miyuki dan Renjiro tersentak. Sesaat mereka saling beradu tatap.
Renjiro sangat melihat jelas kegelisahan di wajah Miyuki, terutama saat gadis cantik itu menggigit bibir bawahnya. Dengan pertanyaan Radi seperti itu sudah dipastikan bahwa itu sebuah penolakan.
“Saya tidak akan tanya di mana kamu bekerja. Karena itu semua tidak bisa menjadi patokan. Jadi, saya akan langsung saja, berapa gaji kamu dalam sebulan? Dan berapa upah yang bisa kamu beri untuk Miyuki dan keluarga saya!”
“Upah, maksudnya, Pak?”
Radi hanya menyengetkan kepala dan menaikkan sepasang alisnya.
“Emmh, begini, Pak.” Renjiro mendekat untuk berbicara lebih sopan dan baik-baik. “Saya akan menikahi Miyuki. Dan saya berjanji akan bertanggung jawab untuk memenuhi hidup Miyuki Nameera sepenuhnya. Saya pastikan Miyuki tidak akan kesusahan.”
“Cukup! Lebih baik kamu pulang!”
“Saya mohon deng—
“Kamu cuma beralasan saja, padahal sebenarnya gaji kamu gak seberapa dan kamu gak bisa menanggung hidup kami sepenuhnya! Dasar Gak Tau Diri!”
“Bapak ....” Kekesalan Miyuki meradang. Ia tidak mau sampai menyakiti hati Renjiro karena pria itu sudah berusaha membantunya.
“Pulang, saya bilang!” Gelagar suara cangkir membentur lantai yang berlapis ubin merah tua—pecah dan berserakan.
Radi melempar cangkir yang terbuat dari kaca itu, padahal masih berisi sedikit air s**u jahe. Isinya tumpah dan berceceran di dekat kaki Renjiro.
Renjiro pun sedikit menyingkir dari posisinya karena terkejut, sedangkan Miyuki masih diam di tempatnya. Kedua tangannya menutup telinga yang tertutup kerudung. Suara isak tangisnya terdengar makin jelas di telinga Renjiro. Pasti hatinya sangat terguncang kala itu.
Karena begitu geram, Radi membelokkan kursi rodanya dengan kasar, kemudian masuk ke rumah meninggalkan Miyuki dan Renjiro berdua.
“Maaf, Miyuki.”
Wajah gadis itu terhalang kedua tangannya. Renjiro mendekat, menatapnya iba.
“Gapapa, Jiro. Maaf aku udah melibatkan kamu dalam masalahku. Miyuki menghapus air matanya dan kembali menatap Renjiro.
“Aku—
“Sekarang kamu tahu, kan, gimana putus asanya aku? Gimana aku gak bisa nolak rencana Bapak?”
Renjiro bergeming. Ia tak berani dengan sengaja menyentuh Miyuki. Padahal, ia sangat ingin melindunginya, menghapus air matanya, bahkan memeluk tubuhnya ... meski Miyuki bukan siapa-siapanya.
***
Tiga hari berlalu semenjak awal pertemuan Miyuki dan Renjiro. Miyuki bekerja di sebuah toko. Toko di daerah pasar yang menyajikan aneka ragam kue dan camilan.
Ia bekerja dari pagi sampai sore. Gajinya pun tak seberapa, hanya cukup untuk makan sehari-hari keluarganya. Bahkan, untuk membeli keperluannya sendiri pun tak bisa.
Sekilas, bayangan Renjiro melewati benaknya. Kemudian, seulas senyum tersungging di bibir tanpa polesan itu. Namun, semuanya hilang, musnah ketika bayangannya berganti sosok Pak Chris.
Miyuki segera mengguncangkan kepala agar bayangan itu segera lenyap.
“Assalamu’alaikum.” Sapa seorang wanita yang sudah berumur, tetapi parasnya masih begitu cantik sempurna. Tak ada gurat yang jelas terlihat di sekitar wajahnya. Bibirnya pun tampak lembut dengan pemulas bibir yang mengilat.
“Wa’alaikumussalam.” Miyuki yang sedang sibuk merapikan kue-kue, menoleh ke arah wanita itu. “Eh, Ibu Zoya. Selamat pagi.”
Senyum terukir di wajah cantiknya. “Yuki, kuenya seperti biasa, ya?”
“Baik, Bu. Aku siapkan dulu, ya.”
Sementara tangan Yuki bergerak dengan lincah memasukkan kue-kue ke dalam dus, Zoya mengeluarkan beberapa lembar kertas uang tunai berwarna biru.
Zoya adalah pelanggan tetap di toko kue itu. Setiap hari Jumat Zoya rutin menyumbangkan aneka macam kue ke masjid untuk orang-orang yang selesai melaksanakan ibadah salat Jumat dan juga untuk pengajian yang dilaksanakan setelahnya.
Terkadang juga ia memborong jika ada acara mendadak atau membagikannya ke panti asuhan.
Zoya bukan orang baru. Orang-orang sangat mengenalnya karena ia merupakan sosok yang baik hati dan lemah lembut.
“Ini uangnya. Terima kasih, Yuki. Assaalamu’alaikum.”
“Terima kasih kembali, Bu Zoya. Wa’alaikumussalam.”
Sepulang bekerja, Miyuki harus menempuh jarak yang lumayan jauh dengan berjalan kaki. Jika dilalui dengan angkutan umum, ia harus berganti angkutan sebanyak dua kali karena lokasi rumahnya berada di tempat yang tanggung.
Pikirnya, daripada harus menghabiskan banyak ongkos angkutan umum, lebih baik ia berolahraga dengan kakinya sampai rumah.
Melewati sebuah jembatan, ia juga mengingat seseorang yang sudah menolongnya. Namun, Miyuki tidak ingat bagaimana Renjiro bisa menemukan dan membawanya ke rumah sakit.
Karena pertemuan singkat itu, ia lupa menanyakan banyak hal kepadanya.
Di jembatan yang sama, Miyuki menghentikan laju kakinya. Ia berdiri di balik jembatan dengan tas lusuh yang digantungnya di bahu.
Seseorang tiba-tiba menembus pandangannya dari dari samping.
“Huh!” Ia terkejut. “Jiro?”
“Kamu mau bunuh diri lagi?”
Miyuki menggeleng pelan dan kembali menatap jalanan yang dipenuhi kendaraan di bawah jembatan. Sejarak mata memandang terlihat pegunungan yang tergambar jelas. Langit sangat cerah sore itu. Pemandangannya di sekitarnya pun menjadi jernih dan indah.
“Enggak. Aku baru pulang kerja.”
“Miyuki, mau ... ikut aku sebentar?”
“Ke mana?”
“Gak jauh dari sini ada tempat makan. Bisa kamu temani?”
“Tapi, aku gak bisa lama-lama.” Ia melirik jam tangan mungil yang melingkar di lengan kirinya.
“Aku janji gak akan lama,” ujar Renjiro.
Renjiro membukakan pintu penumpang dan menunggu Miyuki masuk. Setelah itu, Jiro masuk dan duduk balik kemudi. Setelah menginjak pedal gas, Renjiro memutar kemudi dan berbalik arah ke tempat yang dimaksud.
Tak lama, tak sampai sepuluh menit mereka sampai. Rumah makan dengan arsitektur modern dan terbuka. Di setiap sudutnya dipenuhi pot yang berdiri tanaman-tanaman hijau.
Di atasnya juga bergelantungan dedaunan yang ditata rapi. Suara musik akustik mengalun indah, menemani para pelanggan menghabiskan hidangan.
Setelah mendapatkan meja, mereka memesan menu. Tak banyak, hanya empat macam: dua makanan dan dua minuman.
“Gimana rencana bapakmu?”
Miyuki menghela napas dengan kasar. “Aku gak punya pilihan.”
“Kamu benar-benar gak mau menikah dengan lelaki pilihannya?”
“Jiro, kalau kamu tau dia orang seperti apa, kamu juga pasti akan menolaknya mentah-mentah. Siapa yang mau menikahi pria tua dan dijadikan is—
“Selamat sore, Miyuki-ku.” Suara berat yang baru saja melintasi mereka, menyapanya.
Miyuki dan Renjiro pun serempak menoleh. Keterkejutan Renjiro melebihi Miyuki saat melihat sosok Pak Chris secara langsung.
“P-Pak Chris?” Miyuki terhenyak. Baru saja beberapa detik kemudian ia membicarakan nama itu, orangnya tahu-tahu muncul di antara mereka.
Chris dan Renjiro saling mengadu tatap. Entah apa arti dari setiap tatapan mereka yang begitu serius itu.
‘Ini yang namanya Pak Chris? Pantas aja Miyuki gak mau menikahinya,’ batin Renjiro.
“Chris,” ucapnya. Tangannya terjulur hendak berjabat tangan dengan Renjiro.
“Renjiro.”
Mereka berjabatan tangan dengan saling segan.
“Kalian berdua saja? Boleh saya bergabung?”
“Hah?” Lagi-lagi Renjiro dan Miyuki terkejut.
Beruntung seseorang memanggil Chris dari kejauhan. Sementara itu, Chris hanya menjawabnya dengan gerakan tangan.
“Waah, sayang sekali saya sedang ada pertemuan di sini.”
Chris hendak melangkah. Namun, sebelum itu, ia memegang tangan Miyuki yang menelungkup di atas meja. Ibu jarinya mengusap-usap punggung tangan Miyuki. “Nanti kita makan berdua, ya, Miyuki-ku.”