Aku berjalan menuju terminal bus, ini pertama kali dalam hidupku menginjakkan kaki di stasiun, akuembuang jauh jauh keraguan dan bersikap santai agar tidak ada hal buruk menimpaku, aku tidak terpikir ingin kemana yang penting tidak berada di kota ini, hingga aku menaiki salah satu bus dan berjalan membawaku meninggalkan kota kelahiran dan kota dimana aku tumbuh besar.
“ goodbye, I will comeback one day!” gumamku
Akupun menutup mataku sejenak kemudian menarik nafasku kasar, dalam hitungan jam kebahagian yang aku miliki berubah menjadi luka.
Berjam jam lamanya aku berada dalam bus itu, subuh telah kembali lagi menjadi subuh, aku melirik jam tangan yang ada di tangan kiriku, jam tangan hadiah dari papa ulang tahunku tahun lalu yang di kirimnya ke london, Cuma jam tangan ini lah yang aku bawa dari semua pemberian papa, Bukan karena aku ingin menjualnya karena harganya yang terbilang mahal namun aku ingin menjadikan ini kenang kenangan di kala aku merindukannya. Aku mengambil bungkusan cemilan yang sempat aku beli di saat bus berehenti beberapa jam yang lalu.
Aku tatap lekat lekat bungkus cemilan itu, “ pertama kalinya aku tidak berselera dengannya, padahal ini cemilan kesukaanku” ujarku.
Aku pun melihat ke luar jendela, dan memperhatikan jalanan yang masih gelap dan sunyi, matahari yang masih belum memperlihatkan wajahnya, aku terkejut dari lamunanku ketika seseorang menyentuh lenganku, aku pun menoleh ke arah wanita muda yang berada di sebelah ku sembari tersenyum.
“ Mbak mau kemana?” tanyanya kepadaku
Aku terdiam sesaat memikirkan kemana tujuanku, aku sendiri saja tidak tahu ingin kemana “ aku,, aku,, “ jawabku dengan bingung
Wanita itu pun menatap lekat ke arahku dengan wajah kebingungan “ kenapa mbak bingung mau kemana?” tanyanya lagi
“ Aku tidak punya tujuan, setelah pemberhentian terakhir bus ini aku akan mencari tempat tujuanku” jawabku dengan polos dan tentunya sopan.
Wanita itu memelotot ke arah ku “ bagaimana mungkin kamu tidak punya tujuan, kehidupan luat itu berbahaya apalagi bagi kita kaum hawa, di tambah mbak yang kebingungan” ucapnya dengan tegas
Aku pun terdiam sejenak, aku harus apa selama ini aku hidup di dalam sangkar keluarpun aku selalu menggunakan supir semuanya serba ada di rumah papa yang membuat aku tidak perlu repot repot keluar rumah.
“ ikut aku saja!” ucapnya yang membuatku langsung menoleh ke arahnya.
Aku masih tidak menjawab hanya menatap ke arah wanita yang diduk di sebelahku dan aku tidak tahu kapan itu terjadi dari awal perjalanan kursi itu kosong tanpa penghuni, ada keraguan di dalam hatiku antara menyetujui dan tidak
“ setidaknya ikut dengan ku kamu akan aman!” serunya kembali.
Aku tidak menjawab, hanya menganggukkan kepala sembari tersenyum tanda menyetujuinya, walaupun setengah hatiku masih ragu namun aku mencoba meyakinkan hati kalau semuanya akan baik baik saja.
“ apakah tempat tinggal kakak masih jauh?” tanya ku untuk merobohkan keheningan yang terjadi di antara kami.
“ sekitar 1 jam lagi! Namun perjalanan setelah ini akan menempuh 3 jam perjalanan menggunakan Angkutan umum lainnya!” jelasnya
“ waw, lumayan jauh!” ucapku sembari menghadap ke arah wanita itu
“ benar, disana desa terujung, tidak ada lagi desa lainnya” jelasnya kembali “ kalau aku boleh tau siapa namamu?” tanyanya dengan sopan dan senyum segaris yang terukir dari wajahnya.
“ Ayudia biasa di panggil ayu, dan kakak?” tanya ku balik karena tidak mungkin aku tidak tahu dengan nama orang yang akan ku ikuti.
“ Soraya tapi kamu bisa panggil aku sora!” Jawabnya
Aku mengangguk dan tersenyum kepadanya, selama 1 jam perjalanan kami menghabiskan waktu untuk saling bercengkrama ria, dia begitu ramah dan humoris mampu membuatku melupakan sejenak kesedihan yang baru saja ki alami, hingga bus berhenti di sebuah stasiun sora pun memintaku untuk segera turun dan mengikuti langkahnya, aku hanya mengikuti perintahnya hingga sora membawaku ke sebuah tempat.
“ Tunggu disini aku akan kesana dahulu” perintah sora
Aku pun menunggunya di kursi panjang yang sudah tersedia disana, lumayan lama aku menunggu hingga pikiranku pun melayang jauh, aku berpikir kalau dia meninggalkanku di stasiun itu. Kegelisahanku mulai menghantui setelah ku lihat ke arah jam tangan, sudah hampir 40 menit dia meninggalkanku disini sendirian.
“ Kemana dia pergi!” batinku
Akupun segera berdiri dari dudukku dan berjalan mencari cari keberadaan sora, dengan jantung yang sudah kembang kempis aku celingak celinguk layaknya anak yang kehilangan induknya.
Tiba tiba sebuah tangan menyentuh pundakku, membuatku nyaliku mulai menciut aku pun segera menoleh dan memdapati kalau sora telah berada di hadapanku.
“ kenapa disini, aku tadi mencarimu disana?” ucap sora sembari menunjuk ke arah tempat dudukku tadi
“ Aku cariin kakak, karena lama tidak kembali aku pikir kakak sudah pergi meninggalkanku” ucapku dengan nada manja yang biasa ku tunjukkan di hadapan kak camelia.
“ Maaf, tadi aku mencari ini” sora menunjukkan sebuah spidol kehadapanku.
Akupun mengernyitkan kening “ untuk apa spidol itu?” tanya ku dengan penasarannya.
Sora menarik tanganku membawa kembali aku duduk ketempat semula aku menunggunya, masih dengan wajah yang bingung aku menanyakan kembali kegunaan spidol itu. Dan di jawab dengan ramah dengan sora.
“ Kamu terlalu cantik, di desaku tidak ada wanita secantik dirimu di tambah warna kulit seputih ini aku takut kalau nanti laki laki disana akan terus menatapmu, bahkan bisa melakukan hal yang tidak tidak, jadi aku membeli spidol ini untuk membuat wajahmu menjadi jelek sepertiku” ungkapnya dengan senyum segaris yang selalu di tunjukkannya.
“ Kakak tidak jelek, kakak cantik bahkan aku merasa kita sama” aku berucap dengan rasa tidak enak.
“ Aku juga akan melakukan hal yang sama, setiap aku pulang ke desa aku akan memakai riasan yang jelek agar mata mata pria tidak memandangku dengan penuh nafsu” ungkap sora “ Dan sekarang aku harus memakai riasan jelek ini setiap hari karna aku cuti panjang dan tinggal di desa dalam waktu lama” jelasnya dengan tidak semangat.
Aku pun di buat penasaran dengan penuturannya, begitu banyak tanda tanya yang muncul di pikiranku ingin sekali aku menanyakan alasan dia melakukan hal itu namun ku urungkan mengingat kami yang baru kenal dan tidak pantas rasanya menilik lebih jauh kehidupan pribadinya.
“ aku membenci berada di desa itu, tapi mau bagaimana lagi disana tempat ku kembali pulang masih ada nenek disana yang tinggal seorang diri” ungkap sora lagi kepadaku.
Aku pun menarik nafas panjang, rasa penasaran sudah tidak bisa lagi ku tahan " bolehkah aku bertanya?" tanyaku dengan sopan kepada soraya