Flash back 1tahun lalu
Kala itu aku tengah mempersiapkan libur semesterku, untuk libur tahun ini aku memilih menghabiskan masa liburku kembali ke indonesia karena sudah hampir 2 tahun aku tidak menemui papa dan mama, sebulan sebelum liburan aku sudah mengabarkan kepulanganku dan tentu itu di sambut bahagia oleh papa dan mama mengingat aku anak bungsu yang paling di sayangi.
Setibanya di bandara kak camelia langsung memelukku dengan bahagia karena Cuma aku adik kesayangan satu satunya
“ 2 tahun di london membuat kami lebih cantik dari aku dek” ungkapnya kepadaku
“ gimana ngak cantik kak, tamanku bule semua kalau aku butek bisa jadi bahan ejekan mereka dong” jawab ku sambil bercanda
“ Sudah pintar kamu sekarang ya, kita langsung pulang sekarang yuk papa dan mama sudah nungguin kamu” ajak camelia kepada adik semata wayangnya sambil menarik tanganku dengan cepat.
Ku ikuti langkah kaki kak camelia, rona bahagia terukir jelas di wajahnya, kakak kesayanganku yang selalu menjadi pembela dan mengikuti semua ke inginanku. Hingga kami tiba di rumah besar yang sudah lama tidak ku datangi, rumah dengan sejuta kenangan yang membuatku selalu merindukannya selama berada di london.
Di depan pintu sudah berdiri mama dan papa yang siap menyambut kedatanganku
“ mamaaaaaaa!” teriakku sambil berlari ketika turun dari dalam mobil, langsung ku peluk erat tubuh wanita yang masih terlihat muda itu, bahkan bisa di bilang kami ini bukan anak dan ibu melainkan kakak beradik
“ ayu rindu mama!” ucapku di pelukannya
“ sama papa kamu ngak rindu yu?” tanya papa sambil menatap ke arahku yang masih memeluk mama
Ku lepaskan pelukanku dengan mama dan berbalik memluk tubuh pria yang masih berdiri dengan kokoh itu “ Ayu juga rindu papa, rindu sangat sangat, bahkan tak terkira seberapa besar rasa rindu itu” ungkapku sambil memeluk papa.
“ ngomong ngomong kenapa sekarang kami tambah tinggi, terakhir kita bertemu kamu masih segini papa” ucapnya sambil menunjukkan seberapa tinggiku dulu
“ hhhmmm,, papa jangan becanda deh, kalau setinggi itu aku masih duduk di bangku sekolah dasar” ucapku dengan bibir yang di manyunkan
“ kita masuk sekarang” ajak mama dengan lembut dengan merangkul tubuh kakak bersamanya sedangkan aku bersama papa
Kebahagiaanku tak terhingga saat ini, tidak dapat ku ungkapkan dengan kata kata bagaimana caranya meluapkannya, kehangatan yang 2 tahun lamanya ku rindukan bahkan sempat menari nari di kala aku sedang melamun di kampus.
“ Bagaimana kuliah kamu?” tanya papa ketika kami berempat sudah memulai untuk makan malam bersama
“ lancar pa, doakan aku secepatnya lulus ya pa, biar aku bisa bangun usaha bersama papa, kita bikin usaha itu berkembang pesat” seruku dengan semangat menggelora
“ Kamu fokus dulu aja kuliahnya, jangan mikir ke bisnis dulu setelah selesai baru kita rencanakan dengan mateng” jawab papa dengan senyum dan kata kata lembut dan bijaksana seperti biasanya
Ku tunjukkan senyum lebarku kepada papa yang memberi motivasi untuk terus membuat semangat belajaku meningkat dengan harapan 1.5 tahun lagi aku akan lulus.
“ kakak juga punya kabar bahagia” seru kakak dengan tatapan penuh kebahagiaan ke arahku
“ Wow sepeetinya aku datang dengan banyak kabar bahagia!” seruku dengan senyuman manis “ apa beritanya kak, cepat katakan aku penasaran” pintaku sambil menghentikan niatku untuk menyendukkan lauk lauk ke dalam piring.
Camelia tersenyum malu malu “ aku akan segera menikah dengan seseorang spesial” tuturnya dengan senyum merekah
Ku angkat sebelah alisku “ sejak kapan kakak punya pacar kok aku ngak tau ya?” tanyaku dengan penuh rasa penasaran
“ Setahun yang lalu, papa dan mama juga sudah mengizinkan untukku menikah dengannya, dia pria baik, hangat, dan yang paling aku suka dia kaya” ungkap camelia dengan semangatnya
“ Kalau kaya aku sudah tau, kakak kan memang sukanya sama yang kaya, lihat deh semua mantan kakak dari zaman sekolah semuanya pasti dari kalangan orang kaya, jadi aku sudah biasa mendengarnya kalau kakak nikah dengan pria sederhana baru aku terkejut” jawabku dengan santainya sambil mengambil lauk pauk yang ada di atas meja makan itu.
“ besok kalau dia ada waktu akan aku kenalkan sama kamu, aku yakin kamu pasti setuju kalau aku dengannya, banyak yang bilang sih kami itu pasangan serasi” ungkap camelia kembali kepadaku sedangkan papa dan mama hanya menjadi pendengar setia obrolanku dan kak camelia.
“ nanti lanjut ceritanya, sekarang kalian makan dulu ngak baik makan sambil bicara” sela mama di tengah tengah obrolan kami yang lagi seru serunya
“ iya, ma” jawabku dan kakak secara bersamaan
Kami berempat pun menikmati makanan yang di hidangkan di atas meja makan itu bersama sama.
“ kenyang” ucapku dengan memegang perut yang sudah terisi penuh
Ku lirik ke arah papa yang sedang menggeleng ke arahku “ di london kelakuan kamu seperti itu ya?” tanya papa sambil menjewer telingaku
“ sakit pa” ringisku dengan mengelus telinga yang masih terasa bekas jeweran papa “ aku bukan anak kecil lagi pa” ucapku membela diri
“ memang kamu bukan akan kecil, tapi kelakuan kamu itu masih seperti anak kecil” jawab papa kemudian papa pun berdiri dari tempat duduknya berjalan menuju ruang tv untuk bersantai
1 bulan berlalu, setelah kepulanganku begitu banyak hari hari indah yang ku di lalui bersama keluarga, bahkan seminggu ini aku sibuk menemani kakak mempersiapkan hari pernikahan yang rencananya akan di gelar 2 minggu lagi tapi sayangnya sampai hari ini aku masih belum bisa berjumpa dengan calon kakak ipar yang akan menjadi suami dari kak camelia
“ kamu kapan kembali ke london?” tanya nya kepadaku ketika aku melihat lihat beberapa gaun pengantin
“ Setelah pernikahan kakak” jawabku dengan santainya
“ Cepat sekali, tidak bisakah sedikit di perlambat agar kamu bisa mengenal calon suami kakak dengan baik” pintanya sambil memperbaiki tatanan baju pengantin yang sudah di kenakannya
Ku lirikkan mataku ke arah kakak, tampak dia perputar putar memperhatikan penampilannya di depan kaca, “ bagaimana dek, cantik ngak?” tanyanya
Ku perhatikan kakak dari atas sampai bawah “ cantik kak, kakak seperti bidadari dari khayangan” pujiku dengan tersenyum lebar
Ku perhatikan kembali beberapa gaun pengantin berwarna putih yang berjejer dengan rapinya “ ko aku sedikit ngeri melihat baju baju ini, apakah semua wanita nantinya akan menikah? Batinku
“ hai, kanapa bengong” tegur camelia dengan memukul pundak adiknya itu
“kamu memikirkan pernikahan juga ya” ejeknya kembali sembari tertawa kecil
“ Ihh, ngak gitu juga kak, aku malah berpikir tidak akan menikah” ucapku dengan menghadap ke arak kak camelia
“ karena kamu belum punya pacar, coba deh kamu punya pacar pasti kamu juga ingin menikah dan menggunakan gaun pengantin ini!” ujar camelia “ oh iya, kok tiba tiba aku terpikir bukannya selama ini kamu tidak pernah pacaran ya dek!” Tutur camelia sembari melihat ke arah ayudia
Ku tarik nafas dan ku buang kasar “ aku tidak tertarik mempunyai hubungan seperti itu kak, aku mau menggapai cita citaku dulu!” ungkap ku kepada kakak yang masih berdiri di sebelahku.
“ Aku sih ngak heran, kamu kan kutu buku karena itu lah kamu bisa dengan mudah masuk ke universitas di london sedangkan aku jangankan di london yang di indonesia saja langsung di tolak” cecarnya “ sungguh nasibku tidak seberuntung kamu tapi untungnya aku nikahnya sama orang kaya jadi walaupun ngak kerja keras aku tetap bisa menikmati kemewahan” ungkapnya dengan bangga
Ku dengar semua ocehan kakakku sambil menggeleng dan tersenyum kecil “ apa dia benar benar kakakku, wataknya dan watakku benar benar bertolak belakang” gumamku
“ Sekarang kita mau kemana lagi kak? Pertanyaan yang ingin dari tadi aku tanyakan karena kakiku sudah pegal mengikuti langkahnya seharian ini.
“ Pulang, aku capek” jawab camelia
Aku bernafas lega “ akhirnya pulang, kakiku juga sudah lelah dari tadi” kulangkahkan kakiku keluar dari butik itu, sembil menunggunya didepan pintu butik ku perhatikan setiap jalanan panjang dan kemacetan bahkan suara klakson kendaraan terdengar dimana mana. Pemandangan yang sudah lumrah terjadi apalagi di jam jam pulang kerja, ku perhatikan dengan seksama semua pengendara hingga mataku tertuju pada sebuah gerobak bertuliskan siomay yang sedang berhenti di pinggiran jalan Seketika perutku langsung berdendang sensasi makanan itupun sudah terasa di lidahku
“ Aku menginginkan itu!” gumamku, kulangkahkan kaki ini menuju ke seberang jalan melewati kendaraan yang sedang ramai berlalu lalang bagaikan menyebrangi sungai dengan banyaknya buaya di dalamnya batinku hingga perlahan aku sampai di depan gerobak siomay itu.
“ mas bikinkan aku 1 porsi ya, makan disini saja” pintaku kepada penjual siomay itu.
“ tunggu sebentar ya, mbak” jawabnya
Sebelum mendudukkan tubuhku di bangku kecil itu ku langkahkan kaki menuju pedagang kaki lima untuk membeli sebotol air mineral, karena tenggorokan yang sudah kering bagaikan berada di gurun pasir.
Setelah mendapatkan sebotol air mineral ku dudukkan tubuhku di kursi kecil yang sudah si siapkan mamang penjual siomay
Glek glek
“ ahh,, segarnya” batinku setelah meneguk separuh botol air mineral itu.
“ Ini mbak siomaynya” ucap mas itu sambil memberikan sepiring penuh siomay di dalamnya
Ku ambil piring itu dari tangannya “ terima kasih” ucapku sambil tersenyum kepadanya.
Bakso, tahu, aneka sayuran di siram dengan kuah kacang di atasnya sungguh menggiurkan, baru melihatnya saja sudah membuat air liur menetes. Dengan tidak sabarnya ku lahap satu persatu siomay yang ada dipiringku hingga siomay itu habis tanpa sisa yang tersisa hanya piring dan sendoknya saja.
“ Ini mas uangnya ambil saja kembaliannya” aku pun berjalan kembali menyebrangi jalanan yang semakin ramai saja di penuhi oleh pengendara motor dan mobil, setelah berhasil menyebrang ku langkahlan kaki menuju ke butik tempat semula aku meninggalkan kakak, dari kejauhan ku lihat dia sudah berdiri di depan mobil sambil melipat tangannya di d**a dengan wajah cemberut
“ kakak” sapaku ketika sudah berada tidak jauh darinya.
Camelia mbalikkan badannya “ kamu dari mana saja sih, aku nungguin dari tadi!” kesal camelia kepada ayudia.
“ maaf kak tadi aku makan siomay di sebrang sana”
“ Kamu tau ngak tadi mas revan sempat kemari sebentar ingin berkenalan dengan kamu, ehh kamunya ntah kemana menghilang karena menunggu lama dan dia harus menemui orang jadinya dia pergi” omel camelia
“ maaf kak habisnya siomay itu menggoda baru aku membaca judulnya saja sudah membuatkku meneteskan air liur” ujarku sambil memgang tangan kak camelia
“ sudahlah kita pulang sekarang saja, lain kali akan aku kenalkan kamu dengannya” ucapnya sambil berjalan masuk kedalam mobil
Aku pun juga ikut masuk ke dalam mobil miliknya.
1 minggu kemudian
Malam ini kami semua di panggil papa untuk duduk bersama di depan tv, aku yang sedang asiknya menonton sambilenonton siaran berita sembari menunggu kehadiran kak camelia
“ dimana kakak kamu?” tanya papa dengan wajah serius
“ masih di kamar, sebentar lagi dia turun pa” jawabku sambil menikmati cemilan yang aku pegang.
“ selamat malam semuanya, tumben sekali papa minta kami berkumpul disini” ucap camelia sembari merebut cemilan dari tangan adiknya
Akupun mengambil kembali cemilan yang di rampas kakak dari tanganku
“ Ada hal serius yang ingin papa sampaikan”
Aku dan kakak seketika terdiam, aku melirik ke arah kakak begitupun dengannya, ku beri isyarat kepadanya namun dia hanya mengangkat bahunya, aku pun kembali menatap ke arah depan lebih tepatnya ke manik mata papa, tatapan penuh dengan kesedihan terukir jelas dari wajah pria yang sudah berumur itu.
“ apa yang serius, pa?” tanya camelia memecah keheningan yang sempat terjadi sesaat
“ perusahaan kita berada di ambang ke bangkrutan!” ucapnya
“ Bangkrut? Bagaimana mungkin? Bukannya semuanya baik baik saja selama ini?” begitu banyak pertanyaan yang di lontarkan oleh camelia kepada papanya.
Papa menarik nafasnya “ Orang kepercayaan papa menghianati papa, dia membawa kabur semua uang perusahaan dan menjual beberapa aset yang papa punya, papa juga tidak mengerti kenapa bisa seperti itu!”
Aku terkejut mendengar ucapan papa namun aku hanya bisa diam karena aku pun tidak tau harus berbuat apa
“ sekarang kita harus bagaimana?” tanya camelia lagi dengan wajah yang penuh dengan amarah
“ Ada investor yang akan menginvestasikan uangnya di perusahaan kita, tapi dia mengajukan sebuah syarat” Ujar papa sembari menatap kearah ku
Perasaanku sudah mulai tidak enak, karena tatapan itu seperti tatapan sebuah penyesalan “ Dia meminta papa untuk menjadikan salah satu diantara kalian sebagai istrinya”
“ Apa?” pekikku dan kak camelia secara bersamaan
“ Aku akan menikah dengan mas revan, ngqk mungkin aku menikah dengannya” jelas camelia
“ Aku masih kuliah dan aku belum ingin menikah!” jelasku tidak mau kalah memberi alasan
“ papa sudah mempertimbangkan semuanya, karena perusahaan itu penting buat kita apalagi yang kita punya Cuma rumah ini, kalaupun rumah ini di jual untuk membayar karyawan itupun tidak akan cukup, setelah papa bangkrut rumah kita terjual kita akan tinggal dimana?” Ungkap papa “ jadi papa sudah putuskan akan menikahkan kamu, ayudia denganya,”
Ddduuqar
Seperti terkena sambaran petir dan badai secara bersamaan ucapan papa membuat seluruh tubuhku lemah tak berdaya
“ kamu bisa melanjutkan pendidikan walaupun telah menikah, papa sudah katakan kepadanya” jelas papa dangan wajah memohon kepadaku
“ Aku tidak mau!” ucapku kemudian berdiri dari dudukku dan berlari menuju ke kamar, ku banting pintu kamar itu dengan keras dan menguncinya.
Dengan penuh emosi ku ambil semua baju baju dan memasukkan semuanya kedalam koper
“ Aku tidak ingin menikah, aku akan pergi jauh dari sini! Bagaimana mungkin aku menikah di umur 19 tahun!” marahku
Ku ambil tas yang berisi dompet dan semua berkas berkas penting di dalam sana, ku lihat buku tabungan yang ku miliki tabungan dari uang jajan yang selama ini aku sisakan
“ cukup untukku bertahan hidup” gumamku “ tapi aku akan pergi setelah semuanya tidur”
Tok
Tok
Terdengar suara ketukan pintu dari luar sana
“ Dek buka pintunya, kakak mau bicara!” ucap seseorang dari luar sana.
Aku hanya diam tanpa menjawab sepatah katapun. Jangankan untuk menemuinya menjawabnya saja aku enggan
Aku tidak mempedulikan panggilan dan gedoran dari luar kamarku, hingga suara itu perlahan menghilang dan tidak terdengar suara siapapun.
Ku baringkan tubuhku di kasur empuk itu, mataku menatap kelangit langit kamar, hingga mataku lelah dan tertidur dengan sendirinya.
Saat terbangun ku lirik jam kecil yang terletak di atas nakas, sudah menunjukkan pukuk 04:00, akupun segera bangkit dan membuka pintu, ku langkahkan kakiku perlahan lahan mencoba memperhatikan situasi saat ini
“ sepi” akupun mengambil semua barang barang yang sudah ku siapkan dan berjalan perlahan menuruni tangga, hingga tiba di depan pintu aku bika perlahan pintu besar itu, dan segera menutupnya kembali.
“ Maaf ma, pa, kak camelia aku tidak ingin menikah, cobalah untuk mengerti suatu saat nanti aku akan kembali” ucapku ketika sudah berada di luar pagar rumah mewah itu.
“ kakak maafkan aku, aku menyayangimu karena Cuma kamu kakak terbaik yang aku miliki, jangan membenciku untuk keputusan yang aku pilih ini” air matapun meluncur tanpa hambatan dari pelupuk mata ayudia.