Gara-gara kotak bekal, satu sekolah jadi sibuk menggunjing Anka. Katanya, Anka diam-diam naksir Jona selama ini. Berlagak sok dingin di depan orang banyak, tahunya nggak ada beda sama siswi yang naksir Jona.
Anka menutup kedua telinga rapat-rapat sepanjang berjalan di koridor sekolah. Ini bukan hal asing baginya. Dibicarakan banyak orang hanya karena kesalahpahaman. Sebelum-sebelumnya Anka juga pernah dibilang pasang susuk cuma gara-gara banyak cowok yang naksir dia.
Emang kenapa kalau banyak cowok naksir sama Anka? Bahkan Anka dijuluki sebagai cewek paling cantik di sekolah. Cuma karena penampilannya selalu sederhana, alis aja nggak digambar, bibir nggak dioles liptint, tapi bukan berarti Anka jadi jelek dong? Itu kan di mata cewek-cewek yang iri sama Anka. Aslinya mah Anka lebih cantik dari mereka-mereka yang iri.
Di kelas, Anka bersikap biasa. Seolah gosip yang menyeret namanya bukanlah sesuatu yang harus dibesar-besarkan. Kenapa harus marah, kalau antara dia dan Jona memang nggak ada apa-apa. Semisal satu sekolah tahu mereka tinggal satu atap, nggak tahu lagi hebohnya sekolah.
Sepanjang pelajaran dimulai, Anka dan Jona duduk dengan tenang di kursinya. Sembari memerhatikan Guru menerangkan di samping papan tulis, keduanya sibuk mencatat di buku masing-masing. Mungkin karena Jona sama Anka bukan tipe remaja yang suka seradak-seruduk, jadi ya santai-santai aja. Kelihatan banget mereka nggak terganggu. Justru orang yang nggak bersangkutan, jadi gatel pengin nyinyir.
"Lagian Anka cantik kok." Ini jawaban dari sekian banyak orang yang nyinyir sama Anka.
"Mungkin Anka emang tipenya Jona. Sama-sama diem gitu. Cocoklah kata gue." Ada satu lagi yang mendukung Anka.
"Bisa aja Jona nggak suka kali! Apa yang mau dibanggain Anka selain pinter sama cantik? Bergaul sama orang lain aja nggak mau! Coba lo hitung, ada berapa banyak temen dia di sekolah?"
Setan. Yang di atas, ada salah satu jenis setan yang berbahaya.
"Dirana doang," sahut seorang siswi. "Wah! Gue baru sadar, nih! Jona sama Anka, kan, sama-sama deket sama Dirana! Jangan-jangan Dirana yang comblangin mereka berdua lagi!"
Dan nggak lama, Dirana jadi buronan ciwi-ciwi di sekolahnya. Mereka semua sibuk menanyakan soal kedekatan Jona sama Anka. Kebanyakan pertanyaan mereka sama. "Bener Anka naksir Jona?" Udah nggak terhitung berapa banyak orang yang bertanya hal ini.
"Salah!" Kalau bisa, Dirana pengin teriak di depan cewek-cewek kepo ini.
Justru Jona yang naksir Anka!
Tapi nggak jadi dong. Dirana masih sayang nyawa, dan sayang keduanya. Jangan sampai karena mulutnya ember, dia kehilangan Jona sama Anka. Di sekolah ini, yang asyik diajak temenan cuma mereka berdua. Sisanya ya gitu-gitu doang. Cuma sekadar temenan aja.
***
Entah sejak kapan beredar gosip kalau Anka sama Jona resmi pacaran. Nggak tahu orang iseng mana yang berani bikin gosip dan menyeret nama dua murid paling diam di sekolah.
Seketika, seluruh penghuni sekolah pada heboh. Mau cewek, mau cowok, kayaknya kompak patah hati. Yang cewek patah hati karena Jona ada pacar. Dan kelompok cowok, merasa patah hati karena Anka udah punya pacar. Ini kayak jadi peringatan buat para cowok yang masih gencar ingin mendekati Anka, paling nggak, harus cakep kayak Jona.
Hilang kesempatan mereka untuk memiliki Anka...
"Ya ampun, An, gue patah hati banget!" Seorang siswa menyapa Anka di pinggir lorong sambil memeluk dirinya sendiri.
"Sekarang gue tahu alasan lo nolak gue, An. Nggak tahunya inceran lo si Jona. Ngaku kalah gue!" Siswa lain menyahut, nggak kalah dramatis kayak sebelumnya.
Berbeda dari anak-anak cowok, sekumpulan cewek menyambut kedatangan Anka di sekolah dengan tatapan super sinis. Ya nggak berani ngapa-ngapain selain lihatin Anka, sih. Tapi sebagai orang normal, Anka mana nyaman menjadi sorotan banyak orang kayak gini. Ke mana-mana jadi pada merhatiin, pada nyapa sambil senyum-senyum. Ada yang dukung, ada yang sinis, ada juga yang nggak peduli. Hah! Anka harus ngapain?
"Anka, oi!" Sebuah tangan merangkul bahu Anka. Dirana nyengir lebar, berjalan beriringan di samping cewek berambut sebahu itu. "Jona mana? Kok lo sendirian aja?"
Otomatis Anka menoleh ke Dirana. "Kenapa tanya Jona ke gue?"
"Loh, bukannya lo sama Jona pacaran?"
"Di!" Anka tampak geram.
Dirana tertawa terbahak-bahak mendengar nada suara Anka yang kesal. Beberapa hari terakhir, nama Anka sama Jona jadi dibahas di mana-mana. Sampai guru-guru ikutan penasaran kenapa bisa dua manusia jarang ngomong ini bisa sampai pacaran. Okelah, karena mereka berdua sama-sama pendiam, nggak neko-neko sekaligus pintar, nggak jarang jadi banyak yang mendukung. Toh, bentar lagi mereka lulus, nggak ada salahnya kalau emang pacaran.
"Sampai sekarang gue bingung siapa yang nyebar berita beginian." Anka bergumam kesal di samping Dirana.
Dirana menunduk selama beberapa detik, pura-pura menggaruk keningnya. "Orang iseng kali."
"Iseng ya nggak gini juga, Di." Cewek itu mengentakkan kedua kakinya di lantai. "Lo tahu gue nggak ada apa-apa sama Jona, kan? Dia aja nggak pernah suka sama gue."
Bego amat si Anka. Nggak tahu aja seberapa sukanya Jona sama dia. Kadang Dirana nggak habis pikir gitu. Bisa-bisanya Anka kepikiran kalau Jona nggak suka sama dia. Kok, bisa? Padahal dari gelagatnya aja, Jona kelihatan sering canggung gitu kalau deketan sama Anka. Apa Anka yang nggak peka kali ya?
"Gue denger, sih," gumam Dirana, melambatkan langkahnya. "Ada foto lo sama Jona kesebar gitu."
Anka melepaskan rangkulan Dirana. Cewek itu seketika menoleh ke samping. "Foto gue sama Jona?"
Dirana mengangguk-angguk. Dikeluarkannya ponsel dari saku, kemudian membuka galeri foto. "Gue nggak tahu siapa yang nyebar, tapi foto ini muncul di grup."
Anka meraih ponsel milik Dirana. Diamatinya beberapa jepretan foto, entah dikirim dari siapa, yang jelas muncul di grup yang isinya anak-anak SMA mereka. Ada sekitar lima atau enam foto, atau lebih kayaknya.
Pada foto paling atas, Jona kelihatan lagi di toko pakaian. Cowok jangkung itu berdiri di dekat gantungan baju cewek. Jari Anka menyentuh ke foto selanjutnya. Di situ, Jona sedang berdiri di meja kasir dan memberikan dua potong belajaannya. Oh, sebentar. Baju sama celana yang Jona berikan pada penjaga kasir, kayak famillier banget. Anka juga ingat kapan Jona pergi mengenakan kaus putih dan dipadupadankan dengan celana panjang berwarna hitam.
"Muka lo kenapa deh." Ujung jari Dirana menunjuk pipi Anka. "Wah, beneran itu baju yang Jona beli buat lo?"
Kedua mata Anka memejam rapat. Itu baju, kan, sama persis yang dikasih Jona sewaktu Anka nggak sengaja bocor!
"Ada apaan nih? Apa gue ketinggalan sesuatu?"
Anka meringis. "Hmm."
Belum mau menjelaskan ke Dirana cerita yang sebenarnya. Cewek itu malah sibuk membuka foto dari ponsel Dirana satu per satu. Bahkan, Anka menemukan satu foto, yang bisa saja membenarkan gosip di antara dirinya dan Jona. Kalau mereka memang pacaran.
Foto terakhir:
Anka jalan di belakang Jona, dan dia pake baju yang Jona beli.
Kiriman foto terakhir si pengirim, lengkap sama isi pesannya.
Ah, sial.
To be continue---