Bagian 43 - Festival Olahraga

1688 Words
Karena rencana licik Yoo Rin dan desakan kedua orang tuanya berakhirlah Yo Han dan Bitna mengikuti festival olahraga yang diadakan perusahaan. “Wah,” seru Bitna menatap para karyawan yang hari itu mengenakan pakaian olahraga. Mereka terlihat antusias mengikuti festival olahraga. Ini mengingatkan Bitna pada festival olahraga yang diadakan oleh sekolah setiap musim panas. “Jadi acara ini selalu diadakan setiap tahun?” Bitna menoleh pada Yo Han yang duduk di sampingnya. Mereka sedang duduk di bangku penonton dalam gedung olahraga. “Ya, ini acara tahunan. Diadakan setiap musim panas dan musim dingin,” jawab Yo Han setengah malas. Dari raut wajahnya pria itu sama sekali tak terlihat antusias. Tentu saja karena dia dijebak oleh Yoo Rin. Yo Han memang suka olahraga, tapi tidak yang seperti ini. “Soal kejadian di ruang makan beberapa waktu lalu.” Bitna menoleh, menatap Yo Han. Tiba-tiba saja atmosfer di sekitarnya terasa tidak nyaman karena Yo Han kembali membahas kejadian di ruang makan. Apa dia mulai sadar? Apa terlihat terlalu kentara? Batin Bitna. “Aku tidak bermaksud apa-apa, itu hanya kecelakaan yang tidak di sengaja, aku cuma ingin kau tidak salah paham saja.” Bitna menarik napas lega. Ternyata Yo Han tidak memikirkan hal yang ia pikirkan. Pria itu masih tidak menyadari perasaannya. “Oh, aku sudah melupakannya,” ucap Bitna kemudian. Walaupun sebenarnya tidak. Bagaimana bisa dia melupakan kejadian yang mirip adegan dalam drama atau film itu? Sampai sekarang Bitna masih mengingatnya dengan jelas. Bagaimana wajah Yo Han saat itu dan tatapan matanya, Bitna ingat semuannya. “Baguslah.” Yo Han melirik ke sekitar. Ia tahu dirinya memang sering menjadi pusat perhatian. Dia adalah salah satu dari pria terseksi di KL Cosmetics. Ke mana pun Yo Han melangkah pasti banyak mata yang menatap kagum ke arahnya. Tapi kali ini berbeda, orang-orang menatapnya karena kehadiran Bitna di sampingnya. Ini pertama kalinya Bitna muncul sebagai istrinya di depan para karyawan. Terlebih baju olahraga pasangan yang mereka kenakan menarik perhatian orang-orang yang hadir di sana. “Kau yakin kita harus memakai pakaian ini? Bukankah ini terlalu norak?” Yo Han menunjuk pakaian olahraga berwarna biru yang ia kenakan. “Mau bagaimana lagi ibunya yang memaksa, bahkan pakaian ini adalah pilihan ibumu,” sahut Bitna. Seung Ah sengaja menyiapkan baju olahraga pasangan itu untuk mereka. Warna biru untuk Yo Han dan merah muda untuk Bitna ditambah tulisan 'husband' dan 'wife' di masing-masing kaos olahraga itu. Memang sedikit norak, tapi jika mereka menolak memakainya, Bitna takut membuat ibu mertuanya sedih dan kecewa. Sebenarnya dia merasa senang-senang saja memakai pakaian pasangan seperti ini. Rasanya mereka benar-benar terlihat seperti pasangan yang romantis. “Wah, Yoo Rin eonni!” seru Bitna saat melihat Yoo Rin berjalan ke tengah lapangan di bawah sana dan kemudian naik ke atas podium. Kakak iparnya itu terlihat anggun, elegan dan berwibawa. “Bukankah kakakmu sangat cantik.” “Yah dia memang cantik.” Harus Yo Han akui Yoo Rin memang memiliki paras yang cantik, selain itu Yoo Rin juga memiliki tubuh yang bagus. “Tapi sayangnya dia agak tidak waras.” Kedua alis Bitna berkerut, ia menatap suaminya bingung. “Tidak waras?” “Bukankah Yoo Rin terlihat sangat sempurna? Wajahnya cantik, badanya bagus, cerdas dan punya karier yang matang untuk wanita seusianya. Laki-laki yang mendapatkannya pasti sangat beruntung, bukan?” Bitna mengangguk setuju. Yoo Rin memang terlihat sempurna. Di usianya kakak perempuan Yo Han itu telah memiliki segalanya. “Dia mendeklarasikan diri bahwa tak akan pernah menikah.” Mata Bitna terbuka lebar. “Tidak akan pernah menikah?” “Katanya pernikahan itu hubungan yang merepotkan. Dia tidak mau orang baru masuk dalam kehidupannya dan mengusik zona nyamannya. Bukankah dia wanita yang aneh?” Bitna menatap Yoo Rin yang saat sedang memberikan sambutan di atas podium. Menurutnya Yoo Rin bukanlah orang yang aneh. Memang apa salahnya tidak menikah. Itu bukanlah sebuah kejahatan. Bitna sedikit mengerti kenapa Yoo Rin tidak mau orang asing masuk dalam kehidupannya dam mengusik zona nyamannya. Karena jika kau mengizinkan orang asing masuk dalam kehidupanmu itu artinya kau harus siap dengan berbagai risiko. Entah itu kebahagiaan atau mungkin juga penderitaan. Bitna tahu Yoo Rin hanya tidak mau terluka jika dia membuka pintu hatinya untuk orang lain. Wanita itu sudah merasa nyaman dengan keadaannya seperti ini. Yoo Rin tak perlu membawa orang lain masuk ke dalam kehidupannya dan mengacaukan semuanya. *** Festival olahraga tahunan yang diadakan oleh KL Cosmetics ini punya beberapa cabang olahraga yang dipertandingkan, di antaranya lari jarak 100 meter, lari estafet, lari halang rintang, lari berpasangan dengan tiga kaki, tarik tambang, dan berbagai macam lomba lainnya. Karena festival ini sifatnya untuk menghibur karyawan maka banyak lomba yang diadakan tidak berkaitan dengan olahraga. Setiap divisi dalam perusahaan akan mengirimkan perwakilan mereka dalam setiap lomba. Dan Divisi yang memenangkan lomba paling banyak akan memenangkan hadiah utama, yaitu hadiah voucher belanja sebesar satu juta won untuk setiap anggota. Selain hadiah utama masih banyak hadiah lain yang diberikan untuk pemenang lomba. Ada tv, kulkas, mesin cuci, laptop, ponsel hingga satu set kosmetik milik KL Cosmetics. Bitna tampak antusias menyaksikan para karyawan di bawah lapangan sana bersaing untuk menjadi pemenang. Melihat mereka mengingatkannya pada masa-masa sekolah. Dia dulu juga sesemangat itu setiap kali sekolah mengadakan festival olah raga di musim panas. Giliran Bitna dan Yo Ham turun ke lapangan untuk bertanding. Mereka mengikuti lomba lari berpasangan dengan 3 kaki. Kaki kanan dan kiri mereka di ikat menjadi satu, jadi dalam lomba ini mereka sangat membutuhkan kerja sama yang baik. Yo Han melingkarkan tangannya ke bahu Bitna, lalu menarik gadis itu agar lebih mendekat padanya. Walaupun awalnya terlihat tak tertarik mengikuti lomba, tatapan mata Yo Han saat ini terlihat berapi-api. “Kau pegang pinggangku dengan erat,” perintah Yo Han. Bitna diam tak bergeming. Dirangkul Yo Han seperti ini membuatnya mulai gugup. Oh Tuhan, haruskan dia gugup di saat seperti ini? Dengan jarak sedekat ini mungkin saja Yo Han bisa mendengar detak jantungnya yang mulai beraksi. “Bitna kau dengar aku?” “Oh? Ya.” Bitna dengan cepat melingkarkan tangannya di pinggang Yo Han. Ketika jemari lentik Bitna menyentuh pinggang Yo Han, gadis itu bisa merasakan otot-otot tubuh Yo Han. Bisa Bitna bayangkan bentuk tubuh di balik kaos itu pasti sangat seksi dipenuhi oleh otot. Bitna menggelengkan kepala saat pikiran-pikiran kotor mulai masuk ke dalam otaknya. Mereka akan berlomba dan dua harus fokus. “Ingat aku benci kekalahan, apa lagi dikalahkan Yoo Rin. Kita habisi dia yang sudah menjebak kita dengan licik.” Yo Han melirik tajam ke arah kakaknya yang berbaris di samping mereka. Yoo Rin juga mengikuti lomba ini bersama sekretarisnya. Kakak Yo Han ini memiliki jiwa kompetisi yang tinggi. Jika tubuhnya memungkinkan Yoo Rin akan berpartisipasi dalam semua lomba. Bitna melirik Yo Han. Bisa dia lihat mata Yo Han berapi-api menatap garis finis yang ada jauh di depan sana. Bitna menelan ludah, Yo Han terlihat berambisi untuk menang. Gadis itu lalu melirik kakinya yang diikat bersama kaki Yo Han. Bitna tidak yakin bisa membantu Yo Han memenangkan lomba ini. Dirinya sangat payah dalam olahraga. “Bersedia.... Siap....” Dorrr Setelah suara letusan pistol semua peserta lomba bergegas berlari dengan pasangan mereka. Awalnya Bitna kesulitan menyamakan langkahnya dengan Yo Han hingga membuat pria itu kesal karena Yoo Rin berhasil mendahuluinya. “Kenapa kau payah sekali???” omel Yo Han “Sudah aku bilang, kan aku ini payah dalam olahraga.” Sempat bertengkar, Yo Han kemudian membatu Bitna dengan memberi arahan. Kerja sama keduanya membaik dan berkat itu mereka bisa menyalip Yoo Rin dan menempati posisi pertama. “Kita berhasil,” seru Yo Han dan Bitna bersamaan. Keduanya lalu berpelukan, tapi setelahnya mereka bergegas melepaskan diri satu sama lain dengan canggung. Brukk... Karena terburu-buru melepaskan diri, Yo Han dan Bitna lupa jika kaki mereka masih terikat. Berakhirlah mereka jatuh dengan posisi Yo Han hampir menimpa Bitna. Yo Han memandang Bitna yang berbaring di bawahnya. Lagi-lagi mata cantik milik gadis itu mengalihkan fokusnya dan membuat Yo Han terpana. Bahkan pria itu sama sekali tak mendengar sorakan karyawannya. Para karyawan yang ada di lapangan dan bangku penonton bersorak melihat adegan itu. Menurut mereka Yo Han dan Bitna terlihat sangat romantis. Mereka seperti menonton adegan dalam drama romantis di dunia nyata. “Kalian jika ingin bermesraan atau melakukan adegan romantis , lakukan di apartemen kalian! Jangan di sini, menjijikkan,” cibir Yoo Rin sambil menatap sebal ke arah Yo Han dan Bitna. Cibiran Yoo Rin itu langsung mengembalikan kesadaran Yo Han. Pria itu bergegas mencoba berdiri, tapi lagi-lagi jatuh karena kakinya yang masih terikat dengan kaki Bitna. “Sial,” umpat Yo Han pelan. Ia kemudian meminta bantuan seorang staf untuk melepaskan tali ikatan di kakinya dan kaki Bitna. “Kau tak apa-apa?” Yo Han mengulurkan tangannya pada Bitna setelah dia berhasil berdiri. Gadis itu masih dalam posisi berbaring dengan tubuh yang kaku. Rasanya jantung Bitna ingin melompat keluar. Gadis itu lantas menarik tangan Yo Han dan berusaha berdiri. Namun, saat Bitna mencoba berdiri gadis itu kembali terhuyung dan jatuh. “Ah.” Bitna mengerang saat merasakan sakit di pergelangan kaki kirinya. “Kakimu sakit?” Yo Han berjongkok dengan panik lalu melihat pergelangan kaki Bitna. “Sakit?” tanya Yo Han saat ia menyentuh pergelangan kaki kiri Bitna, membuat gadis itu kembali mengerang kesakitan. “Sepertinya kakimu terkilir.” “Sepertinya memang begitu.” Bitna kembali mencoba menggerakkan pergelangan kaki kirinya dan rasa sakit kembali terasa di sana. Sepertinya kaki Bitna terkilir saat ia jatuh bersama Yo Han tadi. Bitna memandang Yo Han yang berjongkok di depannya. Pria itu tampak khawatir sambil memeriksa pergelangan kaki kirinya. Meskipun kakinya terasa sakit, melihat Yo Han yang khawatir seperti ini membuat Bitna tak merasakan sakit. Ada perasaan lega sekaligus senang mendapati Yo Han ternyata mengkhawatirkannya. Yo Han segera menyemprotkan spray pereda nyeri yang diberikan oleh seorang staf ke kaki Bitna agar rasa sakit di kaki gadis itu berkurang. “Masih sakit?” tanya Yo Han. Bitna mengangguk dengan raut wajah kesakitan. Melihat raut wajah Bitna, Yo Han segera menggendong istrinya itu ala bridal style. Refleks Bitna mengalungkan tangannya ke leher Yo Han agar tidak terjatuh. “Siapkan mobil, kita ke rumah sakit sekarang,” perintah Yo Han pada Seung Min. “Baik.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD