Bagian 41 - Mata Yang Cantik

1930 Words
Bitna sedang mengeluarkan semua barang-barangnya dari dalam koper. Mereka sampai di Seoul satu jam yang lalu. Setelah merasa cukup beristirahat Bitna memutuskan untuk membongkar kopernya, memilah pakaian yang harus ia cuci. Bitna terdiam selagi mengeluarkan pakaiannya dari dalam koper. Ia teringat bagaimana Yo Han menyanyikan lagu pengantar tidur untuknya semalam. Bitna menyentuh pipinya yang tiba-tiba menghangat. Mengingat kejadian semalam membuat pippinya berseri-seri. Meskipun Yo Han menyanyikan lagu anak-anak untuknya, tapi menurut Bitna hal itu tetaplah romantis. “Sadarlah Kim Bitna.” Bitna menampar pelan pipinya. Dia seharusnya tak boleh seperti ini. Selalu tersipu dengan hal-hal yang Yo Han lakukan untuknya. Jika terus seperti ini akan sangat membahayakan dirinya. Lama-lama dia tidak akan bisa menahan dan menyembunyikan perasaannya. Tok tok tok “Ada apa?” tanya Bitna setelah membuka pintu kamarnya. Yo Han berdiri di depan pintu sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana. “Kau tak lapar?” Bitna menyentuh perutnya. Benar sejak pesawat mereka mendarat di bandara Incheon sampai sekarang mereka belum makan apa pun. “Iya.” “Mau pesan makanan atau makan di luar?” “Makan di luar saja.” “Oke. Kau siap-siap, aku ambil kunci mobil dan dompet.” “Ya.” Bebarapa menit kemudian Bitna dan Yo Han keluar dari apartemen dan masuk ke dalam lift. Yo Han menekan tombol menuju basement, tempat mobilnya terparkir. Pintu lift terbuka begitu mereka sampai di basement. Yo Han dan Bitna berjalan menuju ke mobil Yo Han. Mobil SUV berwarna putih itu terlhat bedebu karena ditinggal selama hampir 10 hari. Yo Han masuk dan duduk di balik kemudi lalu memasang sabuk pengamannya. Bitna duduk di sampingnya. “Mau makan apa?” Bitna diam lalu beripikir, 8 hari di Paris membuatnya merindukan masakan Korea. Sebenarnya banyak masakan Korea yang ingin dia makan. “Tteokkbokki, bagaimana?” Yo Han menggangguk setuju. Setelahnya pria itu menginjak pedal, melajukan mobilnya meninggalkan gedung apartemen mereka. Mobil SUV berwarna putih milik Yo Han melaju membelah jalanan Gangnam yang cukup padat malam itu. Bitna menatap keluar jendela. Tak peduli betapa indahnya kota Paris, baginya tempat ternyaman adalah Korea. Bitna menurukan kaca jendela di sampingnya. Ia kemudian sedikit menjulurkan kepalanya keluar. Sambil memejamkan mata Bitna merasakan embusan angin malam yag menerpa wajahnya. Dia benar-benar merindukan negara ini. “Kau mau kepalamu lepas karena tertabrak truk yang menyalip,” ucap Yo Han melirik Bitna sekilas. Sambil merengut Bitna menarik kembali kepalanya masuk ke dalam dan menutup kaca jendelanya. “Apa kau anak kecil yang baru pertama kali naik mobil?” Yo Han kembali mengomel. Bitna berdecak, lalu menatap sebal ke arah Yo Han. “Aku hanya ingin menghirup udara Seoul.” “Yang kau lakukan tadi bisa membuatmu kehilangan kepala!” “Dasar menyebalkan,” gumam Bitna. Yo Han melirik Bitna. “Kau bilang apa tadi?” “Bilang apa?” sangkal Bitna. “Telingamu bermasalah?” “Apa katamu?” Bitna menjulurkan lidah mengejek Yo Han. Yo Han menatap Bitna tak percaya. Mereka baru saja pulang dan gadis itu sudah berusaha mengajaknya bertengkar. Yo Han menyentuh pelipisnya, lalu menghela napas berusaha meredam amarahnya. Dia sedang lapar jadi tak punya tenaga untuk meladeni Bitna. Pria kemudian menginjak pedas gas, membuat mobilnya melaju lebih cepat membelah jalanan malam itu. *** Bitna menjatuhkan pantatnya ke atas sofa ruang tamu. Perutnya terasa sangat penuh. Tteokkbokki yang mereka makan tadi benar-benar enak. “Apa kau ini babi? Bagaimana bisa tubuh sekecil itu bisa menghabiskan seporsi tteokbokki, gimbab, odeng, dan ramyeon?” Bitna mendelik menatap Yo Han. Pria itu baru saja menyebutnya babi? Dengan cepat Bitna melempar bantal di sofa ke arah pria itu. Buk.... Bantal itu mendarat tepat di wajah tampan Yo Han. Membuat pria itu menatap nyalang ke arah istrinya. “Kau mengajak berkelahi?” “Siapa suruh kau menyebutku babi.” “Kau memang mirip babi, kan? Bagaimana bisa seorang gadis makan sebanyak tadi—” Buk... Sebuah bantal kembali mendarat di wajah tampan Yo Han. “Yakkk!!!” teriak Yo Han. “Apa???” Bitna balas berteriak. Kedua saling bertatapan kesal. Bitna tak menyangka jika Yo Han menyebutnya babi. Memang apa salahnya jika dia makan sebanyak tadi? Dia hanya kelaparan karena belum makan apa pun setelah menempuh perjalanan jauh dan memakan waktu yang lama dari Paris menuju Seoul. Yo Han menggulung lengan kaos yang di pakainya, membuat Bitna menatapnya bingung. “Apa yang kau lakukan?” “Memberimu pelajaran.” Saat Yo Han hendak berjalan ke arahnya, Bitna dengan sigap berdiri dari sofa lalu berlari menjauh sebelum Yo Han berhasil menangkapnya. “Kau mau memukulku?” tanya Bitna tak percaya. “Iya, kemari kau! Bagaimana kau bisa melempar suamimu dengan bantal ha?” Tubuh Bitna tiba-tiba berdesir saat Yo Han menyebut kata suami. Pria itu benar-benar menganggap dirinya sebagai seorang suami, padahal pernikahan mereka hanya kesepakatan di atas kertas. “Kemari kau!!!” Bitna kembali melangkah dengan cepat saat Yo Han kembali mendekat dan hampir menangkapnya. Dia memang cukup gugup saat Yo Han menyebut dirinya sebagai seorang suami, tapi Bitna tidak mau tertangkap begitu saja. Selain tidak mau dipukul Yo Han, Bitna tidak mau pria itu mendengar suara detak jantungnya yang sekarang mirip kereta kuda yang melaju dengan cepat. “Berhenti Kim Bitna!” Bitna tidak menghiraukan ucapan Yo Han. Gadis itu justru mempercepat langkahnya menghindari Yo Han yang mengejarnya. Kedua orang itu mirip kucing yang sedang mengejar seekor tikus. Sungguh kekanak-kanakan, mereka saling mengejar hanya karena kata babi. “Ohh...” Kaki Bitna tersandung kaki kursi di meja makan, membuat tubuh gadis itu kehilangan keseimbangan dan akan jatuh. Hap Tangan Yo Han terulur memegang tangan Bitna. Mencoba menarik tangan gadis itu agar tak jadi mencium lantai marmer di bawah kaki mereka. Brukkk... Keduanya berakhir jatuh bersama dengan posisi Yo Han yang hampir menimpa Bitna. Bahkan bibir keduanya hampir saja menempel satu sama lain. Bitna menatap Yo Han yang wajahnya yang saat berjarak begitu dekat dengannya. Gadis itu begitu terpana melihat wajah tampan Yo Han. Sorot mata yang tajam, hidung mancung, garis rahang yang begitu tegas. Bagaimana bisa Yo Han setampan ini? Apa saat menciptakan pria ini Tuhan sedang dalam suasana hati yang baik? Selain kepribadian Yo Han, semua yang ada dalam diri pria itu terlihat sempurna di mata Bitna. Bukan hanya Bitna yang terpana, Yo Han juga begitu. Sesuatu tiba-tiba menarik Yo Han saat ia melihat wajah Bitna dari jarak sedekat ini. Yo Han baru sadar jika Bitna memilik mata yang begitu indah. Warna manik mata cokelat di bagian luar dan bercampur dengan hitam di bagian dalamnya. Bisa Yo Han rasakan sesuatu berdesir dalam dirinya saat ia mengagumi betapa indahnya mata Bitna. Jantungnya mulai berdegup kencang saat ia semakin terpana dengan kecantikan istrinya. Dia tahu Bitna memang memiliki paras yang cantik, tapi Yo Han tak pernah tahu jika kecantikan gadis itu bisa begitu mengalihkan perhatiannya. Bukk Bitna mendorong tubuh Yo Han menjauh darinya. Lalu setelahnya Bitna buru-buru menyingkir dan masuk ke dalam kamar, meninggalkan Yo Han yang terkejut dengan apa yang baru Bitna lakukan. Gadis itu mendorongnya hingga jatuh terjungkal. Bitna menutup pintu kamarnya rapat-rapat, tak lupa dia juga mengunci pintu itu. Setelahnya gadis itu bersandar di pintu sambil memegang dadanya. Jantung berdegup sangat kencang. Bahkan suaranya mirip kereta kuda yang melaju dengan cepat. “Bagaimana ini?” Bitna memegang kepalanya lalu jatuh terduduk. Dia yakin pasti Yo Han bisa mendengar suara detak jantungnya tadi. Jantungnya berdegup sangat kencang mirip suara kereta kuda, pasti Yo Han bisa mendengarnya. Bitna beralih menyentuh kedua pipinya. Rasanya sangat hangat. Gadis itu buru-buru berjalan ke arah meja rias. “Matilah aku,” rutuk Bitna saat melihat pantulan wajahnya di cermin. Wajahnya berubah merah merona mirip kepiting yang baru saja direbus. Gadis itu lalu melirik ke arah pintu. Di luar terdengar sangat tenang. Mungkinkah Yo Han sudah kembali ke kamarnya? Bitna kemudian berjalan perlahan menuju pintu kamarnya. Ia lalu sedikit mengintip dari balik pintu. Setelah memastikan Yo Han tak ada di luar Bitna kembali menutup pintu kamarnya. Gadis itu lalu berbaring di atas ranjang, menerawang langit-langit kamarnya. Bitna menarik napas. “Bagaimana ini? Dia pasti menganggapku aneh gara-gara tadi.” “Dasar bodoh,” Bitna memukul pelan kapalannya. “Kenapa aku selalu berdebar-debar hanya karena melihat wajahnya?” Bitna merutuk dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia selalu berdebar-debar hanya dengan melihat wajah Yo Han, padahal pria itu tidak melakukan apa-apa. Bitna kembali menghela napas. Sepertinya dia harus menghindari Yo Han selama beberapa hari ke depan karena pasti situasi di antara mereka akan menjadi sangat canggung setelah kejadian tadi. “Oh tidak,” gumam gadis itu saat ia ingat bahwa mereka akan mengunjungi orang Yo Han besok. Dan itu artinya tidak ada waktu untuk menghindari Yo Han. “Bagaimana ini???” *** Yo Han berbaring di atas ranjangnya. Pria itu lalu menyentuh dadanya yang masih berdebar-debar. Berada dalam posisi seperti tadi dengan Bitna membuat jantung pria itu berdegup kencang. Apa lagi saat Yo Han sadar jika Bitna ternyata memiliki mata yang cantik. Saking cantiknya tatapan mata gadis itu sampai membuatnya terpana. Yo Han meraih ponselnya di atas nakas, saat benda itu baru saja berdering. Yo Han menatap layar ponselnya, ada nama Soo Jin di sana. Yo Han lantas menyungging senyum lalu menggeser ikon berwarna hijau dan mengarahkan ponselnya ke wajahnya. Setelah itu Yo Han bisa melihat wajah cantik Soo Jin di layar ponselnya. “Apa perjalanannya nyaman tadi?” tanya Soo Jin. “Iya, maaf belum sempat menghubungimu,” jawab Yo Han, ia sedikit merasa bersalah karena belum sempat menghubungi Soo Jin sejak dirinya sampai di Seoul. “Tidak apa-apa, kau pasti butuh istirahat setelah perjalanan jauh.” Soo Jin tersenyum pada Yo Han. Soo Jin tak pernah berubah. Wanita itu selalu pengertian terhadap situasinya. Soo Jin bukanlah tipe kekasih yang suka mengekang, yang minta dihubungi setiap saat. Dulu pernah mereka sama sekali tak berkomunikasi selama seminggu karena disibukkan dengan tugas kuliah, dan Soo Jin sama sekali tak marah. “Apa kau sakit?” tanya Soo Jin khawatir saat melihat wajah Yo Han. “Tidak, kenapa?” “Wajahmu memerah, kau demam?” Yo Han menyentuh wajahnya. Memang terasa hangat, tapi Yo Han tahu ini bukanlah demam. Ini efek setelah kejadian ia yang hampir menimpa Bitna tadi. “Kau sakit?” Yo Han menggeleng. “Mungkin aku kelelahan setelah perjalanan jauh, kau sudah makan?” “Aku sedang diet,” jawab Soo Jin lesu. “Diet, untuk apa? Tubuhmu sudah langsing dan bagus.” “Aku ada pemotretan dengan salah satu brand terkenal besok, dan untuk itu harus menjaga badan dengan baik.” Yo Han mengangguk mengerti. Yah walaupun tidak sepenuhnya. Dia masih tidak mengerti kenapa para wanita hobi melakukan diet padahal mereka sudah memiliki badan yang bagus. “Kau sudah makan?” “Sudah dengan Bitna tadi.” “Bitna, apa dia baik-baik saja?” Yo Han terdiam lalu melirik ke arah pintu kamarnya. Dia tidak yakin apakah gadis itu merasa baik-baik saja setelah kejadian tadi. Dia agak khawatir jika Bitna berpikir bahwa dirinya tadi hendak berbuat macam-macam. “Ya, dia baik-baik saja. Sekarang dia sedang beristirahat di kamarnya,” jawab Yo Han kemudian. Soo Jin tersenyum menatap Yo Han. “Baguslah kalau begitu.” Yo Han terkesiap melihat Soo Jin menanyakan keadaan Bitna. Setelah mendengar semua ceritanya, wanita itu sedikit mengerti dan memahami alasan dirinya menikahi Bitna. “Di sana pasti sudah malam, cepat tidur besok kau harus ke kantor, kan?” Yo Han tersenyum menatap Soo Jin. “Ya, kau juga jangan terlalu larut nanti tidurnya. Aku mencintaimu.” “Aku juga.” Setelah itu Yo Han menutup sambungan telepon dan meletakkan kembali ponselnya ke atas nakas. Yo Han lalu menatap langit-langit kamarnya. Yo Han mengingat kembali hal yang ceritakan pada Soo Jin kemarin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD