“Lho, ini bukannya sarapan, Mas? Kenapa dikasih ke aku, aku nggak—” Miura tentu tidak sebodoh itu untuk tidak membaca situasinya, dua piring yang ada di meja makan itu jelas untuks Aya dan Rizal, bukan untuk tamu yang memang tidak diundang sepertinya. “Makan. Saya ngopi aja udah cukup sebenernya. Bikin dua porsi nasi goreng itu karena Aya pasti nggak akan makan kalau cuma sendiri. So, jangan sungkan dan habisin. Saya malah seneng lihat orang makan masakan saya.” “Eh… Mas Rizal yang masak ini? Wah keren! Sejak kalian nikah aku bener-bener baru tahu soal ini lho. Abis Aya nggak pernah cerita…” Miura berseru heboh, terlihat sudah tidak sungkan lagi. Aya tersenyum melirik sahabatnya. “Itu karena kita udah lulus, Mi. Nggak banyak waktu buat ngumpul kayak masih di kampus dulu. Semuanya udah s

