“Ayo, Na... Temenin sarapan aja apa susahnya sih? Gue traktir deh. Gue laper banget nih soalnya.”
“Tapi gue udah makan, Vi... Nggak berlaku juga traktiran lo kalau cuma ditawarin buat pagi ini. Kalau makan siang nanti masih berlaku gue mau deh.”
“Ya elah, ya udah nanti siang makan gue bayarin, pokoknya lo temenin gue dulu sekarang. Nggak enak banget makan sendiri tau!” Vio masih berusaha membujuk, menarik lengan Aya ke kantin yang sebenarnya sudah berada di depan mata mereka.
Ayana menyerah. Yah tidak ada salahnya juga menemani, toh dirinya hanya tinggal duduk di sana, tidak harus melakukan apa pun hanya menunggu Vio selesai dengan sarapannya. Lagipula tadi Vio sudah janji kalau traktirannya berlaku untuk makan siang nanti, kan? Jadi kenapa tidak Aya manfaatkan.
Kedua gadis itu duduk di salah satu meja yang berjajar rapih dan masih legang karena memang bisa dikatakan hari itu masih terlalu pagi untuk mahasiswa lain beraktivitas di sana. Vio bangkit dari duduknya tidak lama setelah meletakkan tasnya di salah satu kursi, kemudian berlalu untuk memesan makanan yang gadis itu inginkan. Selagi Vio pergi memesan, Aya yang duduk sendiri memperhatikan sekelilingnya, hingga pandangan gadis itu kemudian berhenti pada satu objek yang menarik perhatiannya.
“O-oh? Bukannya itu cowok yang waktu hujan kasih payungnya ke kucing di...” Gumaman kecil Aya berhenti, memperhatikan apa yang pria itu lakukan tak jauh dari mereka.
Pria itu masih menggunakan mobil yang Aya lihat sebelumnya, hanya saja yang menarik perhatian Aya tentu apa yang sedang dilakukan pria itu.
“Aduh... Padahal Pak Rizal nggak harus sampe kayak gini loh. Saya bisa sendiri, Pak. Udah Bapak anter aja saya makasih banget.”
“Nggak apa-apa Bu Ama, sekalian juga kok. Lagian kelas saya masih lama.” Pria itu tersenyum, dan dari tempat Ayana berada gadis itu hanya dapat melihat senyumnya.
“Saya nggak tahu deh gimana nasibnya kalau tadi nggak ada Bapak, mobil tiba-tiba mogok dan susah cari tumpangan kalau udah di sekitar kampus. Barang bawaan banyak kayak gini... Makasih ya, Pak Rizal. Ibu bener-bener makasih.”
Senyum ramah pria itu tak putus bahkan hingga pria itu membungkuk dan pamit pergi meninggalkan area kantin, dan lamunan Aya dibangunkan oleh kedatangan Vio dengan menu sarapannya.
“Woi, liatin apa sih? Sampe nggak kedip gitu?”
“O-oh? Nggak kok. Nggak liatin apa-apa.” Aya menggaruk kepalanya, tersenyum canggung mulai mengoceh sesuatu untuk mengalihkan perhatian Vio.
Sejak saat itu Ayana beberapa kali melihat pria itu. Entah bagaimana menurut Ayana sosok pria itu mulai sering muncul di jarak pandangnya. Padahal sebenarnya teorinya bisa jadi bukan seperti itu. Sebelumnya pria itu memang sudah sering berkeliaran di sekitar Aya, hanya saja Aya yang belum menyadari kehadirannya membuat sosoknya tidak terlihat di mata Aya, berbeda dengan sekarang, ketika Ayana jelas sudah memasukan sosok, wajah, figure pria itu dalam benang ingatannya, maka setiap kali melihat sosok itu Aya pasti akan langsung sadar dan memperhatikannya.
Banyak yang Aya dapat dari memperhatikan pria itu beberapa waktu. Dari tebakannya yang salah mengira pria itu adalah salah satu mahasiswa yang ternyata adalah Dosen, ah sebenarnya mahasiswa juga, tapi mahasiswa S3 yang jarang ditemui di antara mahasiswa lainnya. Hingga tahu bahwa pria itu memang suka sekali membantu hal-hal kecil yang berada di sekitarnya juga beberapa hal besar yang terjadi di kampus.
Dari sana juga Ayana mengetahui namanya, jurusannya mengajar, pun apa yang diambilnya untuk gelar doktor. Semuanya Aya tahu dengan proses dalam diam, dengan mengamatinya dari jauh hingga kemudian kejadian yang tak pernah Aya sangka dan duga, kejadian yang begitu mengejutkannya adalah kehadiran Rizal di rumahnya untuk mengajukan lamaran.
Itu... Itu benar-benar sesuatu yang menakjubkan, bukan?
Bagi Ayana, Rizal itu lelaki idaman. Yang ramah, baik, pintar, berwibawa, sopan juga santun. Jadi ketika pria macam itu, yang sebelumnya hanya dapat Aya lihat dari jauh namun tiba-tiba ada di rumahnya, itu seperti serangan dadakan yang membuat Aya berdiri di tempat ketika melihat pria itu ada lebih dekat di jarak pandangnya.
***
“Hhm... Jadi cinta karena terbiasa? Ah, nggak, nggak. Kalau cinta karena terbiasa harusnya kita sama-sama dulu, kan? Kayak temen atau semacamnya.”
“Ish, udah ah nebak cinta-cintanya. Kata Mas Rizal flashback-nya kan pelan-pelan aja. Nggak perlu sekaligus. Pertanyaan aku soal kenapa Mas Rizal bisa datang ke rumah aja belum Mas jawab.”
Rizal menoleh ke sampingnya, menatap Ayana yang memandangnya sampai mendongak karena perbedaan tinggi mereka. Dan kalau dilihat seperti ini, istrinya itu memang benar-benar terlihat lucu dan menggemaskan.
“Oke, kita stop dulu bahas masa lalunya.” Putus Rizal.
Pria itu menunduk, memperhatikan jari-jari Ayana lagi, meraihnya dan menggengamnya erat. Rizal menaruh jari-jarinya di sela jari-jari Aya, yang masih terlihat canggung dan belum terbiasa dengan itu. Aya tahu mereka sedang mencoba dekat, dan dalam waktu dekat Ayana memang harus sudah terbiasa dengan sentuhan Rizal, hanya saja... Untuknya yang memang tidak pernah dekat dengan pria manapun, kecuali sang Ayah yang merupakan anggota keluarganya—setiap hal yang dilakukan Rizal padanya adalah yang pertama yang Aya rasakan dan membuatnya serasa mau mati saja.
Ah, tidak. Jangan mati, tidak boleh mati dulu. Aya baru saja menikah dengan laki-laki idamannya, laki-laki yang sudah menyita perhatiannya selama berbulan-bulan belakangan. Atau... Setahun belakangan?
“Kalau gitu, mau kembali ke kamar hotel?”
“Eh?”
“Eum, atau kamu masih mau jalan-jalan di sekitar sini? Aku sih nggak masalah kok.”
Kembali ke kamar itu artinya mereka akan...? Pagi menjelang siang begini?
Y-ya Aya pernah dengar sih, kapanpun waktunya ada kesenangan dan sensasi yang berbeda ketika melakukannya. Tapi apa memang yang pertama untuk Aya ini harus terjadi pagi menjelang siang hari?
Bukan apa-apa sih, tapi kalau terang seperti ini, ketika matahari membantu sinar yang masuk ke dalam ruangan meski gorden tertutup sekalipun, bukankah akan lebih memalukan untuk Aya me... Akhhhhh!!! Memikirkannya saja membuat Ayana malu bukan main.
“Ay?”
Panggilan Rizal membangunkan Aya dari lamunan.
“Y-ya?”
“Kenapa muka kamu merah begitu? Kuping kamu juga. Kamu sakit?”
Mati sajalah Aya, siang bolong begini memikirkan yang tidak-tidak! Padahal belum tentu Rizal juga memikirkannya. Barang kali Rizal memang hanya ingin kembali ke kamar dan tidur-tiduran, atau tidur yang memang tidur. Atau bahkan mungkin menonton televisi. Berada di kamar hotel bukan berarti harus selalu berkaitan dengan itu dan melakukan itu, kan?
Kalau seperti ini sih bukan Rizal yang agresif, bisa jadi Aya yang justru agresif karena pikirannya sudah lebih dulu mengarah kemana-mana.
“Aya!”
“E-eh? Ya. A-ah maksud aku nggak. Aku nggak sakit kok. Sehat begini kok dibilang sakit. Hahaha.” Tawa Aya canggung.
Gadis itu memalingkan wajah hanya untuk mengeluarksn ringisan dan menyembunyikannya dari mata Rizal, setelah melakukannya baru Aya kembali membalas tatapan pria itu.
“Iya sih, dari tadi kamu kelihatan sehat aja. Tapi aku takut aja kalau kamu memang mungkin tiba-tiba ngerasa nggak enak badan.”
“Hehe, nggak kok.”
“Jadi nggak?”
“He-em nggak kok.”
“Semuanya baik-baik aja?”
Lagi, Aya mengangguk. “Hm, semuanya baik.”
“Terus kenapa muka sama kuping kamu merah? Kamu abis mikirin apa memang?”
“Hah?”
Dahi Rizal berkerut, mulai menatap istrinya itu tajam juga menyelidik.
“Hayo... Mikirin apa? Kamu tadi kayak gitu abis aku ngajak ke kamar loh.”
“A-apa? Aku nggak mikirin apa-apa?!” Aya berusaha menghindari tatapan Rizal, bukan hanya itu, Aya juga tiba-tiba memberikan jarak antara dirinya dan Rizal dengan gerik yang amat canggung yang justru membuat Rizal semakin gencar mencercanya.
“Ayo ngaku, mikirin apa? Aku bisa kok menuhin apa yang ada di pikiran kamu itu.”
“A-apa sih, Mas? Aku nggak mikirin apa-apa!” Seru Aya, bukan hanya memberi jarak, tapi kali ini gadis itu bahkan melarikan diri dengan berbalik dan meninggalkan suaminya dengan berjalan lebih dulu.
Senyum di bibir Rizal melebar, pria itu pun dengan cepat mengejar langkah istrinya yang lumayan jauh di depan.
“Ayyy... Ayo lakuin apa yang tadi kamu pikirin!” Seru Rizal tidak tahu malu.
Mendengar kalimat itu tubuh Aya dengan cepat berbalik, meski masih dengan langkahnya yang kini bergerak mundur. Gadis itu melotot e arah Rizal dengan raut wajah protes nemun juga masih menyimpan malunya.
“Mas! Orang-orang bisa denger!” Protes Aya mengeram, mencoba untuk tetap menahan suaranya namun berusaha agar didengar dan dimengerti oleh Rizal yang masih senyum-senyum tidak jelas beberapa langkah darinya.
Tawa Rizal terdengar lagi, pria itu kali ini tidak menyahut atau menanggapi ucapan Ayana dengan suara, melainkan meraih jari-jari Aya setelah mereka sudah berhadapan, kemudian menarik gadis itu pergi dari sana dengan langkahnya yang lebar-labar.
Oh, ada yang sudah tidak sabar rupanya. Aya, kamu seharusnya tidak harus merasa malu atau apa, karena nyatanya naluri laki-laki itu pada umumya pasti lebih berada di depan dibandingkan wanita. Jadi dari pada khawatir atau malu mengenai isi pikirannya yang dibaca Rizal, Aya seharusnya mengkhawatirkan nasibnya siang ini yang entah akan menjadi seperti apa.