2. Undangan

1013 Words
Reuni? Aku berpikir sejenak. Apa ada yang bisa aku banggakan di reuni tersebut? Karier? Aku masih bekerja sebagai staf marketing di perusahaan orang. Suami? Jangankan suami, pacar saja tidak punya. Anak? Dari mana dapat anak, kalau belum punya suami? Kepalaku menggeleng. Bibirku mengerut. Nyaris tidak ada yang bisa aku banggakan. Aku mendesah pasrah. Tadi pagi aku mendapat undangan reuni lewat email. Aku yakin bukan hanya aku saja yang dapat email itu. Danar dan Giko pasti dapat juga. Mereka pasti akan menggeretku ke sana. Kalau mereka sih enak ada yang bisa mereka banggakan. Giko menampu jabatan manajer personalia di perusahaan ini. Dia juga pasti tidak akan membawa tangan kosong ke reuni itu. Sementara Danar? Meskipun jomlo, setidaknya saat ditanya bekerja di mana, dia bisa menjawab dengan bangga. Aku menarik napas panjang dan mengembuskannya kasar. Sebenarnya ada satu alasan kuat yang bisa membawaku ke sana. Namun ... tanganku bergerak menekan kursor laptop dan masuk ke akun instagram. Miris, seorang wanita berusia akhir dua puluhan sepertiku masih saja stalking akun seseorang yang belum tentu mengingatku. Dan yang lebih miris daripada ini, orang tersebut sudah memiliki keluarga bahagia. Kenapa aku bisa bilang begitu? Ya, karena di usia muda dia sudah memiliki dua anak, rumah dan kendaraan yang nyaman, serta pekerjaan yang mapan. Jujur, setiap dia posting tentang keluarganya aku iri membayangkan kehangatan mereka. "Bukannya itu Tama, Win?" Astaga! Aku buru-buru meng-close akun instagram mendengar suara itu. Aku memutar kursi dan melihat Danar sudah berada di dekatku. "Tadi itu Tama, 'kan?" tanya Danar lagi. Aku meringis lantas mengangguk. "Eh, lo dapat undangan reuni nggak?" tanyaku mengalihkan pembicaraan. Semoga Danar tidak bertanya soal Tama lagi. "Iya, dapat. Giko barusan nelpon gue. Tanya mau datang atau enggak." Danar meletakkan sebuah map ke mejaku. "Tolong cek, ya." "Terus lo mau datang?" Danar mengedikkan bahu. "Gue ngikut kalian aja." "Kali aja kan di sana lo bisa dapat jodoh. Eh btw, dia itu satu sekolah dengan kita 'kan?" Maksudku adalah cewek yang tidak bisa bikin Danar move on sampai sekarang hingga dia betah menjomblo. "Iya. Tapi udah masa lalu juga." Danar mengibaskan tangan. "Kali saja dia masih jomlo, Dan." "Dengar-dengar sih begitu. Tapi nggak penting juga." "Masa sih?" Aku menatapnya jail. Lelaki berperawakan tinggi itu terkekeh. "Udah, kerja. Nanti soal reuni dibahas pas makan siang aja." Danar kembali beranjak ke ruangannya. "Psst! Psst!" Aku tahu itu suara desisan dari kubikel di sebelahku. Tempat si Arin. "Apa sih, Rin?" tanyaku mulai membuka dokumen yang tadi Danar bawa. "Jodohin gue sama dia napa sih, Win." Arin masih dengan permintaan yang sama seperti kemarin. "Susah kalau dia mah. Hatinya udah beku kayak es di kutub Selatan." "Es di kutub Selatan juga ada yang udah mencair, Win," sambut Arin. Dia masih belum percaya si Kulkas susah diketuk pintunya. "Kalau Giko aja gimana? Dia pasti lebih gampang." Giko pasti mau kalau ngedate sama Arin, dan minta sama dia untuk kencan sama cewek itu semudah membuka telapak tangan. "Pak Giko? Nggak ah." Arin bergidik. "Lah kenapa? Dia ganteng, tajir lagi. Anak bos, Rin." "Ganteng sih ganteng. Tapi ya ampun! Dengar-dengar cewek satu divisi pernah dia kencani. Gila nggak tuh?" Aku menoleh melihat Arin. "Masa sih? Gue kok nggak tahu soal itu, ya." "Sudah jadi rahasia umum ke-playboy-an anak bos besar itu. Tajir, ganteng, tapi kalau sana sini mau ya sori sori to say aja. Gue masih mau panjang umur. Jatuh cinta sama laki-laki kayak Pak Giko pasti bikin gue mati muda." Tawaku pecah. Ya Tuhan, ternyata ada juga cewek yang anti sama si Giko. "Jangan ketawa aja. Gue beneran minta tolong sama lo buat comblangin gue sama Pak Danar. Sosoknya suamiable banget." Arin menangkupkan kedua tangan seraya terpejam. Aku memutar bola mata. Suamiable dari mananya? Memang kalau sudah kepincut tai kucing juga bakal dianggap jimat. *** Aku melihat Giko melenggang memasuki kantor divisi marketing. Jam makan siang padahal kurang lima belas menit lagi. Kenapa manusia itu sudah menyambangi kantorku? Mentang-mentang anak si bos jadi begitu kelakuannya. Dia langsung menyambangi kubikelku seperti biasa. "Jam makan siang masih lima belas menit lagi btw," ujarku seraya mengepak kertas dan menjepitnya dengan clip paper. "Tau gue, Win. Nggak ada kerjaan di kantor jadi sekalian aja ke sini." Mata Giko mulai jelalatan. Dia melirik Arin di kubikel sebelah. "Rajin amat sih, Arin," sapanya kemudian. Matanya berkilat-kilat mirip kucing garong liat ikan asin. "Iya, Pak." Arin terdengar menjawab dan tersenyum singkat sebelum fokus kembali ke layar laptopnya. "Makan siang bareng mau enggak?" tanya Giko mulai masang jerat. "Enggak deh, Pak. Makasih. Saya udah ada janji makan siang," tolak Arin sadis. "Win, ada bethadine enggak?" tanya Giko tiba-tiba padaku. Aku mengernyit heran. Habis ngajak makan siang orang kok malah minta betadine. "Buat apaan sih?" "Buat ngobatin luka hati gue akibat penolak Arin." Giko memegangi d**a sebelah kirinya seraya berakting kesakitan. "Lebay lo!" semburku. Lalu beranjak menuju ruangan Danar. Giko tampak duduk di kursiku sambil terus ganggu Arin saat aku hendak membuka handle pintu ruangan Danar. "Giko udah ada di sini tuh, Dan," kataku begitu masuk, lalu meletakkan proposal yang aku bawa ke meja Danar. "Mana? Kok nggak ke sini?" Danar membuka halaman pertama proposal itu. "Tuh di luar lagi godain Arin. Kelakuan kalau belum dapet, pantang menyerah. Heran gue tobatnya kapan itu anak." Aku bergerak duduk di kursi depan meja Danar. Danar terkekeh. "Itu kan hobi dia. Kalau udah hobi susah diilanginnya." Aku bergidik. "Jangan sampai gue punya laki kayak dia." . Danar menjeda kegiatannya membaca proposal dan melirikku. "Jangan ngomong gitu. Nanti kalau kamu jatuh cinta sama dia repot." Aku mendelik tak terima. "Gue jatuh cinta sama dia? Gue pasti salah minum obat." Danar tertawa dan menggeleng. "Siapa tahu kan? Kan kita nggak tahu besok lo bakal jatuh cinta sama siapa?" Aku tertegun. Danar benar. Jatuh cinta itu misteri. Tidak bisa direncanakan sebelumnya. Kadang hal yang tidak dinyana-nyana malah bisa bikin kita jatuh cinta. Namun, kalau itu Giko? Astaga! Pertama, aku udah kenal lama Giko, jadi sudah tahu boroknya. Kedua, track recordnya sudah buruk di mataku perihal asmara. Gila, aku tidak mau menyodorkan diri kepada lelaki yang rajin ganti pacar seperti ganti celana dalam setiap hari. Seperti kata Arin bisa-bisa nanti mati muda sambil berdiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD