Tapi, jika dipikir-pikir ucapan Fania ada benarnya juga. Keduanya sama-sama diam, sampai Arumi selesai menyusui dan mulai tertidur. Fania langsung mengangkat Arumi kembali ke pangkuannya. "Karena Arumi sekarang lebih banyak sama aku, jadi ... pekerjaan dapur yang lain saja kamu kerjakan. Nyiapin makanan, nyapu, nyuci! Ngepel!" perintah Fania sebelum meninggalkan kamar dengan suara tegas. "I-ya ... nyonya!" "Satu lagi! Kamu jangan coba-coba mencuri kesempatan untuk bisa dekat dengan suamiku!" kecam Fania. Meski perintah Fania mengarah ke tuduhan yang menyakitkan, tapi tak ada jawaban terbaik yang bisa Malilah berikan, selain anggukan. *** Di kamar Hanan, Arumi kasak-kusuk di tempat tidur. Gestur tubuh bayi mungil itu nampak gelisah. Padahal hari sudah larut. Fania pun mulai terpejam

