Pertemuan Tak Terduga

1136 Words
Ah, Hanan tak bisa membayangkan bagaimana ia mencari Malilah sambil menggendong Arumi jika itu terjadi. Sementara itu, Arumi mulai tak terkendali. Tubuh mungilnya menggeliat hebat. Suara tangisannya tak terjeda lagi. "Sayyyang, aduuh. Maafin papa, ya. Papa janji enggak akan teledor lagi," sesal Hanan sambil berdiri dan menggoyang badannya, supaya Arumi merasa seperti sedang berada di ayunan. "Aduh, Malilaaah! Kamu dimana sih?" Hanan kembali mondar-mandir sambil menggendong Arumi. Perlahan Arumi mulai tenang. Hanan pun kembali duduk di kursi yang memang disediakan untuk pengunjung melepas lelah. Pikiran Hanan tak bisa lepas dari Malilah. Lelah rasanya menenangkan Arumi ditengah hiruk pikuk pengunjung Mall yang cukup padat. Ia menatap Arumi yang kelelahan dengan raut iba. Sepertinya, Arumi mulai tak bisa jauh dari Malilah. Hanan jadi risau. "Pak Bos!" suara yang sangat familiar terdengar dari belakang. Hanan sontak memutar wajah. Matanya terbelalak melihat Malilah berdiri sambil cengar-cengir menatap kearahnya yang sudah kelelahan menenangkan Arumi. "Makasih ya Pak Bos, bajunya bagus. Aku suka. Dibeliin tiga pasang lagi," ucap Malilah seraya ikut duduk di samping Hanan. Hanan hanya menghembuskan napas panjang. Arumi mulai menggeliat-geliat dan menangis lagi. "Oh, aduh ... aduh. Maaf tayaang, haus ya? Sini, Tayaaang!" Malilah langsung Ya ampuun, maaf ya tayaaang." Malilah langsung mengalihkan perhatiannya pada Arumi yang wajahnya sudah mulai memerah. Hanan menyerahkan putrinya sambil menarik napas panjang sekali lagi. Gondok sekali rasanya! Malilah menyambut tubuh Arumi dan meletakkan paper bag begitu saja di dekat kaki Hanan yang menjuntai. Seolah sudah hapal dengan aroma tubuh ibu ASI-nya, Arumi langsung tenang saat berada didalam pangkuan Malilah. "Maaf ya, Pak Bos. Aku bablas. Tadinya aku cuma pengen nyobain naik tangga yang bisa jalan sendiri itu. Udah sekali nyoba, kepengen lagi. Jadi ya udah, aku naikin semua sampe ke paling atas," ucap Malilah dengan nada riang. Persis anak kecil yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Mall. "Tangga yang bisa jalan sendiri. Eskalator itu namanya," tukas Hanan dengan wajah masam. "Oh, hehehe. Iya-iya. Akan aku ingat, Pak Bos. Eskalator. Es-ka-la-tor!" Malilah mengetuk dahinya sendiri dengan jari telunjuk sambil mengeja nama benda yang baru ia dengar tersebut. "Tapi Arumi pintar kan, ya? Enggak rewel kan? Pintar ih! Tadi aku tinggal diam. Aku datang juga masih diam. Memang anak pintaaar," ucap Malilah sambil menimang Arumi. Arumi merespon dengan mengucek wajah. Malilah tersenyum sumringah menatap Arumi yang merespon ucapannya. Hanan ingin membalas ucapan Malilah dengan omelan. Namun, tangisan Arumi terdengar lagi. Akhirnya Hanan terpaksa menelan rasa kesalnya pada Malilah kembali. "Pak Bos. Sepertinya dia haus. Aku nyusuinnya dimana, ya?" Malilah mengedarkan pandangan ke seluruh bagian Mall. Tidak ada tempat tertutup. "Ikut aku. Ada ruangan khususnya!" ucap Hanan berusaha melawan rasa jengkelnya demi Arumi. Kalau saja enggak ada Arumi. Mungkin Hanan akan menyuruh Malilah pulang sendirian. Biar tahu rasa! Akhirnya mereka bertiga melangkah menuju ruang menyusui. Cukup lama Hanan menunggu di luar ruangan menyusui, akhirnya Malilah pun keluar dengan wajah lega. Arumi juga sudah tidak bersuara lagi. Tak ingin membuat masalah baru lagi, Hanan pun langsung membawa mereka berdua ke Rumah Sakit Ibu dan Anak untuk menimbang berat badan dan berkonsultasi tentang perkembangan Si Kecil. *** Di perjalanan pulang, Hanan berhenti dan memarkirkan mobil mereka di sebuah rumah makan. Sudah waktunya makan siang, sementara mereka belum tiba di rumah. "Kok singgah, Pak Bos?" "Lapar! Gara-gara kamu berulah di Mall tadi, kita jadi kesiangan pulangnya!" "Oooh!" Hanya itu yang keluar dari mulut Malilah. Memang perutnya sudah mulai keroncongan juga, karena sejak tadi sudah beberapa kali Arumi menyusu. Hanan membantu Malilah yang kesulitan keluar dari mobil karena memangku Arumi yang sedang tertidur nyenyak. Tangan kiri Malilahangan terpaksa ia topangkan ke pundaknya. Namun, belum sempat Malilah keluar, Tiba-tiba dari arah belakang bahu Hanan di sepak oleh seseorang. Sontak hal itu membuat Hanan yang tidak siap, terhunyung. "Aaaaaa! Pak Bosss!" pekik Malilah melihat kepala Hanan menyeruduk pintu mobil yang sudah terbuka. Malilah langsung mendekap Arumi kuat-kuat. Cepat-cepat ia menarik kaki, dan meluruskan tubuhnya kembali di dalam mobil. Hanan sendiri berusaha berdiri tegak lalu membalikkan badan, tapi .... Bugghh! Buuuggghh! Lagi-lagi bogem mentah mendarat di wajah Hanan. Hanan yang benar-benar tak siap, mendapat serangan bertubi-tubi, hingga bibirnya mengeluarkan sedikit darah segar. Malilah sendiri tak bisa berbuat apa-apa. Malilah bahkan lebih memilih memejamkan mata sambil mendekap Arumi, supaya jeritan ketakutan tidak keluar dari mulutnya. "Dasar b******n kamu, Hanan! Siapa yang ngijinin kamu pegang-pegang istriku!" Suara seseorang yang sangat tidak asing terdengar di telinga Malilah. Perlahan Malilah membuka mata, dan memberanikan diri menoleh. "Dimaaaas! Apa-apaan kamu, Mas! Jangan main pukul aja kamu!" Malilah langsung panik saat menyadari jika orang yang menghantam Hanan adalah suaminya sendiri. Entah dari mana munculnya lelaki tak tahu diri tersebut. Yang jelas, kehadiran Dimas pasti akan membuat masalah baru untuknya jika Hanan terus-menerus diserang . Beberapa orang yang melihat kejadian tersebut mulai mendekat. Sayangnya, mereka hanya ingin menonton saja. Tak satupun yang mendekat untuk menengahi. "Heh! Malilah! Kenapa kamu jadi membela dia? Apa memang kamu senang tubuhmu di pegang-pegang oleh b******n ini?" tukas Dimas dengan bibir mengerucut. Mencibir .... "Kamu yang b******n. Pengecut! Pecundang! Akhirnya kita ketemu juga!" geram Hanan berbalik mendorong tubuh Dimas yang masih fokus bicara pada Malilah. Giliran Dimas yang tersungkur dan terduduk ditanah. Beberapa orang sudah mulai mengarahkan ponsel. Nampaknya, mereka sangat menunggu momen Hanan dan Dimas benar-benar baku hantam. Belum sempat Dimas bangkit, dua tendangan balasan dari Hanan mendarat di punggung Dimas. Dimas berusaha bangkit untuk melakukan perlawanan. Namun, karena kali ini posisi Hanan lebih siap, ia bisa menguasai keadaan. Hanan baru berhenti menghajar Dimas setelah Malilah menjerit histeris meminta orang melerai mereka, karena Dimas sudah tak melawan lagi. Akhirnya beberapa orang mendekat dan menarik Hanan mundur. Setelah Hanan mundur, beberapa orang membantu Dimas berdiri. Hanan lalu mendekat pada Malilah sambil mengusap sudut bibirnya yang terasa perih. Dadanya masih naik turun menahan emosi. Beberapa orang yang tadi tegang bak menyaksikan pertunjukan laga di panggung mulai membubarkan diri dan kembali ke tempat masing-masing. Malilah menyerahkan Arumi ke tangan Hanan yang masih berusaha meredam emosinya. "Ini, pegang! Aku mau bicara dengan dia sebentar!" Malilah pun langsung keluar dari mobil kemudiab menghampiri Dimas yang sudah kembali berdiri tegak dan menatap penuh dendam pada Hanan yang sudah mulai tenang. "Mas, kamu kemana aja? kenapa kamu bohong? Kamu bilang uangnya habis untuk bayar utang? Kenapa ibu nagih lagi sama aku? Kamu bohong Mas! Sekarang kembalikan uangnya berapapun yang tersisa, buat nebus gelang sama kalung Ibu di pegadaian! Aku kerja cuma sebulan ini," Cecar Malilah saat sudah berdiri berhadapan dengan suaminya. Bukannya menjawab, Dimas langsung memegang kedua pundak Malilah dengan wajah memelas. Tapi, di luar dugaan, Dimas malah menyentak tubuh Malilah ke samping hingga wanita itu terjatuh. Setelah itu Dimas melesat dengan cepat meninggalkan Malilah yang meringis kesakitan. "Maaas! Maaaas! Tunggu! Aku belum selesai bicaraaa! Kembalikan uangnya, Maaaas! Kamu harus bertanggung jawab, Mas!" Malilah berteriak dengan wajah putus asa. Namun, sesungguhnya ia hanya berbicara pada angin, karena bayangan tubuh Dimas pun sudah tak nampak lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD