Gengsi atau ....

1383 Words
Hari Posyandu akhirnya tiba juga. Malilah bingung karena tak ada baju bagus. Pasti Hanan akan protes lagi dengan penampilannya. Lama Malilah mematut diri di depan cermin, menatap pantulan wajah juga penampilannya. Berulang kali ia menepuk kedua belah pipinya yang nampak semakin membulat. Ia berdiri, dan memutar tubuhnya sekali lagi. Ah, dari segala sisi semua anggota tubuhnya memang nampak melebar. Tak banyak lagi baju-bajunya yang bisa ia kenakan lagi. "Siapkan saja hatimu Malilah, Hanan pasti menghinamu lagi. Sabar ... sabar ... sabar ...." Malilah berbicara dengan bayangannya sendiri di cermin. Setelah memantapkan hati, Malilah membalik badan menghampiri Arumi. Ia tersenyum menatap bayi mungil yang sudah siap sedari tadi. Malilah bersyukur karena bayi mungil itu sangat pintar. Dia rewel hanya saat mengantuk dan lapar. "Anak cantik, ayo kita posyandu. Kita timbang-timbang dulu berat badannya .... ," ucap Malilah sambil mengangkat tubuh Arumi lalu menciuminya. "Bismillah!" Malilah menarik napas panjang, lalu melangkahkan kaki keluar kamar. Dengan langkah ragu ia menghampiri Hanan yang sejak tadi menunggu mereka di ruang tamu. "Kami sudah siap, Pak Bos," ucap Malilah sembari menyiapkan telinga. Pasti Hanan akan menghina bajunya lagi. Hanan pun menolehkan wajah. Seperti biasa, ia menguliti Ibu ASI putrinya tersebut dengan matanya. Malilah menahan napas sejenak, mempersiapkan diri dan hati untuk mendengar kalimat pedas lagi dari mulut Hanan. Tapi, sampai Malilah menghembuskan napas kembali, tak terdengar sepatah kata pun dari mulut Hanan. Ia langsung berdiri dan melangkah menuju pintu. "Lah, langsung jalan nih kita, Pak Bos?" Malilah mengekorinya. Hanan berhenti lalu membalik badan. "Emang mau ngapain lagi? Apa masih ada yang ketinggalan?" "Oh, ehm ... enggak. Itu ... itu ... tumben aja." "Tumben apa?" Mata Hanan memicing menatap Malilah. "Yaaa ... itu! Tumben, Pak Bos enggak ngomelin penampilanku dulu." Malilah berkata jujur dengan suara yang semakin mengecil. "Minta diomelin?" Hanan membulatkan bola mata. Malilah mundur sambil menggeleng. Hanan menarik napas dalam, lalu menghembus dengan cepat. "Bosan juga aku komentarin kamu! Kamu omelin sampe berbusa mulut juga enggak ada perubahan!" gumam Hanan sambil berbalik dan melanjutkan langkah menuju keluar. Malilah cemberut mendengar ucapan Hanan. Ia mempercepat langkah dan mensejajarkan diri dengan majikannya. "Pak Bos! Kan sampai hari ini aku enggak ada pegang uang sepeser pun. Bagaimana bisa ada perubahan. Pak Bos enak, kalau baju jelek, kekecilan, tinggal beli! Sedangkan aku ...." Malilah tiba-tiba ingin menangis. Hanan kembali menghentikan langkah dan menatap Malilah dengan napas tertahan. "Eee, Malilah! Aku membayarmu untuk menenangkan dan menyenangkan anakku. Bukan untuk menceritakan drama hidupmu. Sudah, masuk mobil! Jangan cengeng!" tukas Hanan seraya melangkah menuju pintu mobilnya yang sejak tadi sudah ia siapkan. Malilah mengusap sudut matanya dengan lengan, kemudian melanjutkan langkah. Andai Malilah memiliki uang, ia akan memilih membawa Arumi sendiri dengan menaiki angkot atau taksi online yang lewat. Berada di dekat Hanan hanya membuatnya makan hati. "Woy! Malah bengong. Cepat naik!" Malilah terkesiap. Tahu-tahu pintu depan mobil Hanan sudah terbuka. "Ka-mi duduk di de-pan, Pak Bos?" tanya Malilah ragu-ragu. "Iyalah. Aku sama Arumi duduknya harus sejajar. Kalau kamu sendiri, duduknya ya di belakang aja. Ntar dikira apa lagi," sahut Hanan cuek sambil pindah ke pintu sebelah. Malilah mencebikkan bibir sambil masuk ke dalam mobil. Hanan mulai melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang. Malilah sendiri asik berbincang-bincang dengan Arumi di sepanjang perjalanan. Sampai akhirnya Hanan membelok ke sebuah tempat. Malilah memajukan badannya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. "Posyandunya di sini?" tanya Malilah dengan dahi berkerut. Meski keseharian Malilah hanya akrab dengan pasar sayur, tapi ia tahu jika saat ini mereka berhenti di sebuah pusat perbelanjaan yang bernama Mall. "Bukanlah!" sahut Hanan singkat. "Terus, ngapain Pak Bos ngajak aku ke sini?" "Tunggu sebentar disini. Aku ada keperluan." Hanan melepas sabuk pengaman, lalu keluar dari mobil. "Kami gak boleh ikut masuk, Pak Bos? Boleh ya?" Malilah ingin sekali masuk ke Mall besar tersebut. Selama ini Dimas hanya mengantarnya berbelanja di pasar tradisional saja. Itu pun hanya untuk membeli kebutuhan dapur. Malilah hanya tahu pusat perbelanjaan tersebut dari cerita para tetangga saja. "Gak usah! Takut Arumi rewel nanti di dalam, aku gak bakal lama kok," tolak Hanan cepat-cepat menutup pintu, membuat Malilah kembali mengerucutkan bibir karena kecewa. Hanan benar-benar melakukan segala sesuatu sesuai keinginannya sendiri saja. "Awas aja kalau dia berlama-lama di dalam. Apalagi kalau sampe Arumi rewel!" *** Sekitar dua puluh menit kemudian, Hanan kembali keluar menenteng lima buah paper bag berwarna cokelat muda. "Ini!" Hanan menyodorkan tiga paper bag pada Malilah begitu duduk kembali di dalam mobil. "Buatku, Pak Bos?" tanya Malilah sumringah. "Iya!" Rasa kesal di hati Malilah seketika menguap tanpa bekas. Malilah tersenyum menyambut dan langsung membuka paper bag tersebut dengan sebelah tangannya. "Baju? Waaah! Pak Bos beliin aku baju? Makasih, Pak Boss!" ucap Malilah senang sekali. Ia tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Malilah tahu, harga baju di Mall dan di Pasar jauh berbeda. Begitu pun dengan kualitasnya. "Heem. Tadinya mau belikan Mama aja. Tapi karena ada diskon gede-gedean. Sejenis promo gitulah. Ambil dua stel pakaian diskon tujuh puluh persen, ya sekalianlah ambil enam paket!" jawab Hanan entah benar atau hanya karena gengsi mengakui jika sesungguhnya memang ingin membelikan Malilah baju. "Ini gratis kan, Pak Bos? Maksudku ... enggak nambah utangku, kan?" Malilah tiba-tiba melepas tangannya dari paper bag tersebut. "Heeeem! Nanti kalau kusuruh bayar, kamu nangis lagi. Bikin bising ditelingaku aja," sahut Hanan tanpa mau menatap wajah Malilah. Malilah kembali menarik bibir. Terserah saja Hanan mau bilang apa. Yang penting Malilah sudah dapat baju baru kualitas Mall, dan yang terpenting gratis ... tiiss ... tiiss! Sudah lama ia memimpikan hal itu. "Sini Aruminya!" Hanan menyodorkan tangan. "Kenapa?" Malilah berpaling heran. "Sekarang kamu yang turun, biar dia sama aku. Kamu masuk Mall, cari toilet. Terus ganti baju burukmu itu sama yang baru aku kasih ini!" Hanan melirik paper bag yang berada di samping Malilah. "Ih, Pak Bos. Ini kan belum dicuci? Masa langsung dipakai?" protes Malilah. "Aduh. Itu bersih kok. Dari dalam lemari kaca. Cepatan sana. Biar kita cepat bawa Arumi posyandu, udah siang nih!" desak Hanan. "Ta-tapi Pak Bos. Aku belum pernah masuk ke Mall. Nanti kalau aku tersesat, bagaimana?" tanya Malilah polos, membuat Hanan tertawa lebar. "Memangnya ini hutan? Tinggal cari aja tulisan toilet, masuk, ganti. Kalau pintu keluar ada dimana-mana. Udah, turun sendiri sana!" Malilah mengangguk lalu menyodorkan Arumi ke pada Hanan yang kembali turun dari mobil untuk mengambil alih putrinya. Akhirnya Malilah memberanikan diri masuk ke bangunan besar tersebut seorang diri. *** Cukup lama Hanan menunggu sambil memangku Arumi. Sudah hampir setengah jam. Malilah belum keluar-keluar juga. Mendadak Hanan jadi kepikiran. Ia meraih ponsel mencoba menghubungi Malilah. Namun, yang menjawab panggilan Hanan adalah ibunya sendiri. Rupanya ponsel Malilah tertinggal di rumah. "Udah cengeng, ceroboh lagi," gerutu Hanan sambil menyimpan ponsel ke sakunya. "Jangan-jangan dia gak nemu toiletnya? Atau jangan-jangan dia bikin masalah di dalam, kakinya kejepit eskalator misalnya? Waduuuh!" Buru-buru Hanan membawa Arumi keluar dari mobil, lalu menyusul Malilah ke dalam. Arumi mulai menggeliat-geliat dengan gestur gelisah. Dengan sangat terpaksa Hanan melangkah menuju toilet wanita dilantai dasar. Hampir lima belas menit Hanan berdiri seperti seorang penjaga toilet. Puluhan pasang mata menatapnya dengan berbagai sorot. Ada yang menatap Arumi yang mulai menangis dengan wajah iba, ada juga yang melirik Hanan dengan raut heran. Hanan tak perduli. Ia hanya ingin cepat menemukan Malilah. Namun, entah berapa orang yang keluar masuk toilet, tak nampak batang hidung Malilah. Hanan akhirnya meninggalkan toilet dan beralih mencari keberadaan Malilah dengan berkeliling di lantai dasar. Tak nampak juga keberadaan Malilah. Terpaksa Hanan membawa Arumi naik ke lantai atas. Di lantai atas pun Hanan mendapatkan hasil yang sama seperti di lantai dasar tadi. Sudah tiga lantai yang ia putari. Malilah tak kunjung terlihat. Hanan duduk dengan lemas di kursi kayu yang disediakan sebagai tempat beristirahat bagi pengunjung Mall. "Aduuh, Lila. Kamu dimana sih? Arumi sudah mulai rewel niih!" gumam Hanan dengan perasaan risau, melihat wajah putrinya mulai memerah. Tubuh mungil Arumi pun mulai berontak di dalam gendongan Hanan. Hanan kembali berdiri dan membawa Arumi menuju eskalator yang mengantar pengunjung ke lantai empat. Di dalam hati Hanan muncul sesal, kenapa tadi membiarkan Malilah seorang diri memasuki Mall. Hanan tidak menduga, hal itu membuatnya merasa sangat kesulitan. Hanan baru menyadari, jika sebenarnya kehadiran Malilah lebih penting daripada baju-baju kusamnya. Kepala Hanan mendadak nyeri, apalagi Arumi mulai menangis. Bagaimana kalau Malilah salah memilih jalan keluar dan akhirnya tersesat? Bagaimana kalau Malilah hilang dan meninggalkannya bersama Arumi yang tengah menangis dipusat perbelanjaan ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD