Awas Kamu, Pak Bos!

1150 Words
Dua Minggu. Ya, Malilah yakin dia harus bersabar hanya untuk dua minggu. Setelah itu ia akan terbebas dari mata Hanan yang selalu mengawasi setiap gerak- geriknya dan juga mulut Hanan yang kerap mengomentari setiap pekerjaan dan juga penampilannya. Sungguh, sikap Hanan membuatnya merasa risih. Namun demikin, ada untungnya juga selama Hanan di rumah. Malilah benar-benar fokus mengurus Arumi. Semua makanan tersedia dengan menu yang enak-enak. Bu Ratih, walaupun sikapnya tidak ramah pada Malilah tapi tetap memasak makanan yang istimewa. Tentu saja karena ia ingin asupan gizi dan nutrisi cucunya terjaga melalui ASI yang diberikan Malilah. Hanan juga tidak memperbolehkannya meninggalkan Arumi terlalu lama. Alasannya lumayan masuk akal sih. Wanita yang belum empat puluh hari, dilarang terlalu banyak bekerja, jadi di dekat Arumi saja. Malilah tersenyum mengingat bagaimana dulu dia datang ke rumah itu dengan terpaksa dan berontak. Tapi seiring waktu, Malilah bahkan berusaha mati-matian untuk tetap berada di rumah itu. Ia berusaha menjaga Arumi dengan sangat baik. Apa salahnya mempertahankan sesuatu yang membuat diri merasa lebih nyaman bukan? Bukankah Dimas sendiri yang mengajari bahwa tak baik menolak rejeki? Dirumah itulah rejeki terbesar yang dirasakan Malilah. Rejeki bukan melulu soal uang. Rumah yang nyaman dan bersih, makanan lezat yang melimpah, kesehatan yang selalu terjaga juga merupakan rejeki. Dan anugerah terbesar yang ia rasakan adalah kebersamaannya dengan Arumi Nasha, bayi mungil yang memberi Malilah kehidupan baru. Tapi, bukan hidup bila tanpa masalah. Hidup susah jadi masalah, terlanjur nyaman pun jadi masalah. Ada perubahan drastis yang meresahkan Malilah selama hampir dua minggu di rumah Hanan. Perubahan di tubuh. Ya! Tubuhnya mulai melebar ke samping. Malilah mulai takut bergerak terlalu lincah. Padahal jika Hanan mengeluarkan perintah, ia harus bergerak cepat. Kalau bajunya sobek, bagaimana? "Malilah! Hey! Kok nasinya enggak di makan? Kamu sakit?" tegur Hanan melihat Malilah hanya menyendok sayur saat makan malam. s**u pun tak disentuh olehnya. "Pak Bos, aku ... mulai sekarang aku malam sayur aja ya? Yang lengkap pagi sama siang aja ya?" jawab Malilah membuat dahi Hanan berkerut. "Kenapa?" Hanan menarik kursi dan ikut duduk di samping Malilah yang masih enggan menyendok makanan. "Pak Bos gak liat ya? Baju-bajuku mengecil semua. Aku belum punya uang buat beli baju baru. Mulai sekarang, aku mau diet," terang Malilah malu-malu. Tawa Hanan langsung memenuhi ruang makan, mendengar jawaban Malilah. "Eh, Malilah, dengar baik-baik, ya. Mau bajumu mengecil kek, menyempit kek, mau badanmu melebar, kek. Yang aku tahu kamu enggak boleh diet-diet segala. Mana ada ibu menyusui yang boleh diet. Enggak boleh! Kamu tetap harus menghabiskan makanan dan minuman yang disediakan untukmu!" tegas Hanan sesaat setelah tawanya mereda. Malilah menarik napas resah."Tapi Pak Bos, kalau nanti baju-bajuku sobek gimana?" "Kan masih ada baju nenekku!" "Ih!" Malilah meninggalkan meja makan dan kembali ke kamar Arumi. Melihat Malilah sudah kembali, Bu Ratih yang semula menjaga Arumi langsung meninggalkan kamar. Sampai di depan pintu, ia terheran-heran melihat Hanan masuk membawa piring yang berisi nasi, lauk, sayur dan s**u yang tadi ia siapoan untuk Malilah di dalam nampan. "Loh, belum makan dia?" Bu Ratih mengurungkan niatnya meninggalkan kamar Arumi. "Iya, tapi Mama makan aja di sana. Malilah lagi pengen makan di kamar sepertinya," sahut Hanan menambah heran Bu Ratih. Tapi ia tetap keluar karena perutnya juga sudah keroncongan. Hanan menghampiri Malilah yang duduk dengan menekuk lutut di samping Arumi " ini, Makan!" Hanan meletakkan nampan di depan Malilah. Malilah menggeleng sambil memeluk kedua lututnya erat-erat. "Aku bilang, makan! Ya makan! Habiskan! Jangan sampai Arumiku kekurangan ASI gara-gara ide konyolmu yang mau diet di masa menyusui. Ingat, kamu bukan sekedar menyusui. Tapi kamu sedang bekerja padaku! Ingat! Aku sudah membayarmu!" tegas Hanan. Malilah masih misuh-misuh. Sebenarnya ia memang sangat lapar. Arumi sedang kuat-kuatnya menyedot ASI. Tapi, Malilah benar-benar takut bajunya tak ada yang bisa dipakai lagi. "Malilah!" Hanan menatap tajam padanya yang masih saja enggan menyentuh makanan tadi. Malilah terpaksa meluruskan kedua kaki, kemudian meraih nampan. Dengan malas ia mulai menyendok dan menyuap makanan sedikit demi sedikit. "Nah, iya. Begitu dong. Makan yang banyak. Jangan sampai kamu sakit. Besok jadwal posyandu Arumi. Kita ke Dokter." "Aku akan menghabiskan makanan ini, tapi aku mau tanya sesuatu dan wajib dijawab." "Apa?" Hanan tak sabar. "Pak Bos, kok di rumah terus? Kapan masuk kerjanya? Pak Bos kerja di kantor, kan?" tanya Malilah sedikit sok tahu. Hanan kembali tergelak. "Kenapa memang kalau aku di rumah terus? Kamu gak suka ya?" "Hiiis, bukan gitu Pak Bos," Malilah jadi tak enak hati. Ia mengaduk-aduk makanan dalam piring. "Kukasih tahu kamu kantorku. Kantorku ya di rumah. Bosnya aku sendiri, karyawannya aku sendiri, managernya aku sendiri. Jadi ya .... gak ada cutinya. Aku 24 jam ada di rumah buat ngawasin kamu dan Arumi!" "Mampus!" gumam Malilah dalam hati. Selera makannya hilang total mendengar ucapan Hanan. "Sudah kujawab. Sekarang jangan banyak omong, habiskan makanannya! Nanti kalau aku balik ke sini, sudah harus habis itu semua makanan!" Perintah Hanan sambil melangkah keluar membuat Malilah lemas. "24 jam dirumah banyak duit. Bu Ratih juga enggak kerja. Usaha rumahan gak ada! Fix! Kalau bukan pelihara tuyul, pasti pesugihan dan ilmu hitam! Iiiieeeeew!" Bulu kuduk Malilah meremang seketika. "Aku harus selidiki baik-baik mulai malam ini. Kalau benar Hanan mendapat uang dengan cara haram, aku akan langsung berhenti kerja di sini!" gumam Malilah sambil menyuap nasi dengan terpaksa menghabiskan dengan bantuan air minum. Daripada kena semprot Hanan lagi. Butuh waktu setengah jam bagi Malilah untuk menghabiskan makannya. "Sudah?" Seperti menghitung durasinya makan saja. Hanan langsung datang ketika makanannya habis. "Bagus! Sepertinya mulai besok aku harus mengawasimu setiap waktunya makan. Aku khawatir kamu buang makanannya kalau ditinggal," ucap Hanan sambil tersenyum puas. Mati! Jadi lebih ketat dari sebelumnya. Mau naik berapa kilo kalau setiap makan terus-terusan disuruh ngabisin makanan dengan porsi kuli? "Pak Bos, jangan gitu jugalah! Nanti kalau baju-bajuku gak ada yang muat lagi gimana?" "Bukan urusanku. Yang aku tahu, nutrisi dan vitamin untuk kesehatan anakku terjaga!" "Iya Pak Bos. Aku akan makan semua makanan, tapi enggak perlu dimandorin juga lah," Malilah mencoba merayu dengan suara lembut. "Terserah aku. Ini rumahku. Aku Bosmu! Kenapa jadi kamu yang mau mengaturku?" Hanan memindai wajah Malilah dengan mata memicing. "Pak Bos, laki-laki gak suka kan, perempuan yang ngembangnya kelewatan?" pancing Malilah. "Ya iyalah!" "Kenapa enggak suka?" tanya Malilah lagi. "Enggak sedaplah dipandang mata," sahut Hanan sambil meraih nampan dan bersiap membawa keluar kamar. "Nah, kalau badanku terlalu ngembang ke samping, entar suamiku gak suka lagi, Pak Bos!" Malilah masih berusaha merayu agar Hanan memberinya kebebasan dalam urusan makan. "Ya biarin lah! Mau kamu badanmu ngembang ke samping, ke depan, ke belakang kek. Yang penting kan, aku bukan suamimu!" jawab Hanan acuh dan langsung pergi membawa nampan yang berisi piring dan gelas kotor. "Sialaaaaan! Sepertinya dia benar-benar sengaja bikin aku ngembang. Liat aja, kalau sampai suamiku ninggalin aku dan gak ada yang mau lagi, akan kubuat kamu jadi suamiku bagaimanapun caranya, Pak Boooos!" gumam Malilah dalam hati dengan kedua tangan mencengkram sprey, karena sangat kesal atas sikap Hanan yang tak ingin memberikan sedikitpun celah kebebasan untuknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD